Re: Turning

Re: Turning
Fear and Wrath



30


Shinnichi menatap pemandangan di depannya. Tidak tahu harus berkata apa. Namun, sebuah senyum terpasang di wajahnya. Matanya tidak tersenyum.


“Persetan ini,” ucapnya. Masih tersenyum kaku.


Di hadapannya, lantai ke-97.


Sebuah bidang salju yang luas. Putih sejauh mata memandang. Sebuah badai salju tanpa henti yang terus menggempur siapa saja yang menginjakkan kakinya di sini. Salju yang berterbangan ke sana kemari membuat jarak pandang terbatas.


Angin bertiup kencang. Hampir membuat jubahnya lepas. Salju menerpa wajah Shinnichi. Seolah-olah mengejek pemuda berambut hitam itu.


Siluet pepohonan pinus tumbuh dengan lengang. Memberi ilusi bahwa ia berada di atas gunung tinggi. Realisme yang diberikan dungeon terkadang menakjubkan tapi pada saat yang bersamaan, membingungkan. Kenapa lantai di atasnya penuh dengan lava yang membara sedangkan di sini badai salju yang dahsyat?


“Kau tahu, Schwarz. Kakakmu benar-benar menyebalkan,” gerutu Shinnichi sambil memegangi tudungnya. “Siapa yang membuat lantai salju di bawah lantai api?”


“Jangan mengeluh kepadaku.” Schwarz juga menggerutu. “Aku juga tidak mengerti jalan pikirannya.”


Jika lantai 96 adalah neraka membara, lantai 97 adalah neraka membeku. Shinnichi menghela nafas. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk mengutuk pembuat Dungeon ini.


Mengalah terhadap dungeon, ia memakai kembali topengnya. Melindungi wajahnya dari serangan salju. Salju menghambat kecepatannya, kakinya hampir selalu terbenam setiap kali ia melangkah. Tapi, Shinnichi terus maju pantang menyerah. Ia sudah sampai sejauh ini. Ia terkutuk jika ia berhenti di sini.


“Ugh, sialan.” Shinnichi mencoba menjaga keseimbangannya dan tudungnya agar tidak terbawa angin. Berjalan di tengah-tengah badai memang sulit.


Berhenti di bawah salah satu pohon pinus berukuran sedang, Shinnichi menyentuh batang pohon itu, mencoba mengambil nafas untuk beberapa saat. Pohon itu, entah kenapa, hangat. Shinnichi memiliki dorongan untuk memeluk pohon itu. Namun, sifatnya yang hati-hati menghentikannya. Ia menghunuskan Abyssal Mist lalu dengan lihai, menyayat pohon itu.


“---!?” Pohon itu mengeluarkan suara keras. Cairan oranye yang mirip darah mengalir dari bekas sayatan itu. Dari bawah dedaunan, sepasang tangan kayu keluar dan mencoba menangkap Shinnichi. Kuku tajam dan panjang mengancam nyawanya jika tertangkap.


“Monster!?” Shinnichi berseru sambil melompat ke belakang. Berguling di salju dingin. Dan terbenam di dalamnya.


Pohon itu mengeluarkan warna aslinya. Dari bawah tanah, sepasang kaki kurus dan panjang keluar. Mencegahnya tenggelam di salju dan menyertai penampilannya yang mengerikan. Monster itu mengangkat tangannya. Di kedua telapak tangannya, sepasang mata merah menyala. Menatap Shinnichi dengan tajam. Sebuah lubang bergerigi tajam di bagian bawah batangnya berfungsi sebagai mulut. Getah menetes dari dalam, warna kuning kotornya menodai salju putih murni.


Dari bawah salju, Shinnichi mengaktifan [Appraisal]. Menilai monster itu.


『Spesies : Treant


Level : 76


 


Stats


Agi : 192


Atk : 233


Int : 36


Vit : 247


Skill


[Improved Growth] [Slash lvl.6] [Camoflage]』


Treant. Monster yang mengambil wujud pepohonan. Berkamuflase menjadi tumbuhan yang tak berbahaya, mereka menyergap mangsa yang lengah.


“Treant itu harusnya di area hutan oi!” Sambil memprotes penempatan yang aneh ini, Shinnichi bangkit dari dalam salju. Bubuk putih menutupi kepala dan tubuhnya.


“---!!!” Monster itu kembali mengeluarkan raungan yang tak bisa digambarkan.


Seolah-olah menjadi tanda, pohon-pohon yang lainnya mulai bergerak. Bangkit dari tidur panjang mereka setelah mendengar panggilan makan. Dalam beberapa saat, Treant yang bangun sudah melebihi dua digit.


Shinnichi menelan ludahnya. Saatnya untuk jurus pamungkasnya. Sekuat tenaga, ia berlari ke arah yang berlawanan.


“Kau memang suka kabur ya?” Suara Schwarz terdengar santai. Sudah menduga ini akan terjadi.


“Kau bisa diam tidak? Ini bukan kabur, ini mundur dengan taktis.” Menjawab Schwarz, Shinnichi tidak berhenti menggerakan kakinya. Di belakang, sekitar 20 lebih Treant berukuran 3 meter berlari mengejarnya. Bagaimana Shinnichi bisa berlari lebih cepat dari mereka di salju yang dalam menjadi misteri besar.


“Kekuatan seorang pengecut ya?”


“Oi, aku dengar itu.”


“Kukira kau tidak akan menyanggahnya?”


“Kau dengar aku menyanggah?”


“Benar juga.”


Percakapan santai itu benar-benar tidak sesuai dengan situasi. Namun, meskipun begitu, Shinnichi tetap berlari sekuat tenaga. Para Treant di belakangnya perlahan mulai menyusulnya.


“Uwah!” Shinnichi berhenti. Di hadapannya, sebuah jurang dalam. Untung saja ia melihatnya tepat waktu. “Hampir saja.”


Shinnichi menengok ke bawah. Ia bahkan tidak bisa melihat dasarnya. Shinnichi menoleh ke belakang. Para Treant mulai mendekat. Sangat dekat.


“---!!” Raungan mereka membuat Shinnichi menoleh ke arah jurang. Lalu, kembali ke kumpulan Treant itu.


Shinnichi menghela nafas. “Sial.” Merutuk, ia melompat dengan gaya angsa ke dalam jurang. Menghindari cakaran seekor Treant.


Mereka berhenti di ujung jurang. Namun, karena mereka berhenti secara tiba-tiba, mereka saling dorong mendorong. Terdorong dan kehilangan pijakannya, Treant terdepan jatuh bersama Shinnichi.


. “--!!”


Raungannya memberi ide bagi Shinnichi. Merasakan angin yang bertiup kencang melewatinya, Shinnichi memutar tubuhnya.  Menatap Treant yang jatuh bersamanya, meronta-ronta dengan sia-sia. Mencoba menggapai sesuatu yang dapat menghentikan jatuhnya. Shinnichi sebaliknya. Ia terlihat tenang meskipun jantungnya berdetak begitu kencang sampai-sampai ingin copot rasanya.


Pemuda berambut hitam itu menyentakkan Abyssal Mist. Mengubahnya menjadi cambuk yang terikat di pucuk Treant itu. Shinnichi menarik dirinya ke arahnya. Menghindari tangan dan “mulut” monster itu.


Menungganginya, Shinnichi memotong kedua tangan Treant iru dengan cepat. Kedua tangan Treant itu langsung menghilang ditelan angin. Bersamaan dengan indera pengelihatannya.


Shinnichi mencoba menjaga keseimbangannya. Ia berdiri di punggung monster itu. Mirip seperti seorang penerjun bebas yang memakai ski di kakinya. Sayangnya, Shinnichi tidak memiliki parasut. Ia harus berimprovisasi.


Menggunakan berat badannya, Shinnichi sedikit mencondongkan kepala Treant itu ke depan. Mengantisipasi pendaratan.


POMF! Shinnichi melewati awan yang menutupi pengelihatan. Samar-samar, ia bisa melihat salju di bawah. Sebuah lereng curam, Shinnichi menyiapkan diri.


Buf! Shinnichi dan Treant itu mendarat. Sedikit goyah, hampir menjatuhkan Shinnichi tapi ia masih bertahan. Treant itu kini berfungsi sebagai papan luncur. Menunggangginya, Shinnichi merasakan dorongan adrenalin.


“Woah!” Ia dengan mudah menggerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan mencondongkan tubuhnya ke arah yang berlawanan. Ia melompati sebuah gundukan, mendapatkan lompatan dan waktu udara.


Shinnichi menghindari beberapa bebatuan dan gundukan salju yang terlalu besar. Mencoba untuk tidak kehilangan momentum yang ia dapatkan dalam seluncur impromptu ini. Ia bisa melintasi lantai dungeon ini dengan cepat.


Namun, segalanya memiliki akhir. Sekitar dua menit kemudian, Shinnichi mendapati jalannya dihalangi oleh dinding batu. Tak ada cara untuk melompatinya dengan Treant ini. Shinnichi menekuk tubuhnya.


Beberapa saat sebelum menghantam dinding itu, Shinnichi melompat. Menggunkaan kakinya sebagai pegas dan Treant itu sebagai pijakan, ia melompati dinding batu. Menghindari kematian, namun si Treant tidak terlalu beruntung.


BRAK! Shinnichi bisa mendengar suara kayu hancur saat Treant itu menghantam dinding, membunuhnya seketika. Dan untungnya, Shinnichi mendarat di salju yang lembut.


“Hooh! Hampir saja, hampir saja.” Shinnichi bangkit dari dalam salju. Menggelengkan kepalanya, mencoba membersihkan kepalanya dari salju. Merasa sedikit senang karena bisa berseluncur di atas salju. “Tadi cukup menyenangkan, ‘kan?”


“Kuakui, tadi memang menyenangkan. Tak kukira kau bisa menggunakan seekor Treant untuk hal semacam itu” Bahkan Schwarz yang biasanya begitu serius juga setuju. Sepertinya sisi liarnya mulai muncul.


Shinnichi tersenyum kecil. Ia meregangkan tubuhnya, melemaskan ototnya yang sedikit tegang.


Di hadapannya, bidang putih yang luas. Karena tak ada badai yang mengamuk, Shinnichi bisa melihat bidang putih di hadapannya. Ia berada di dasar lembah yang diselimuti salju. Di sekelilingnya, gunung salju yang menjulang tinggi. Shinnichi terkejut ia selamat jatuh dari ketinggian kurang lebih 60 meter.


Shinnichi memutuskan untuk menelusuri dasar jurang ini. Melepas topengnya, ia mulai berjalan. Entah kemana atau apa yang akan ditemuinya, ia tak tahu.


❂❂❂❂❂❂


Setelah berjalan selama setengah jam, Shinnichi sampai di sebuah danau luas yang membeku. Es tebal menutupi permukaan danau. Mempermudah jalan Shinnichi, namun firasatnya berkata lain. Shinnichi bisa mendengar sesuatu berenang di bawah permukaan air. Sesuatu yang besar.


Shinnichi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak bisa berlari di atas permukaan es begitu saja. Ia tidak akan mengambil resiko yang tidak perlu. Hal terakhir yang dibutuhkannya adalah jatuh ke dalam air dingin yang memiliki hewan besar di dalamnya.


Shinnichi mengambil sekepal salju, membentuknya menjadi bola. Ia membuatnya agak besar dari bola salju biasa.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Schwarz heran.


“Menguji sesuatu. Hup!” Shinnichi mengangkat bola saljunya, seukuran dengan badan manusia salju yang sering ia lihat di internet. Lalu, dengan mudah melemparnya ke tengah-tengah danau.


Boff! Menghantam es, bola salju itu hancur.


“KROA!” Hampir di saat bersamaan, seekor cacing berzirah raksasa menghantam es. Muncul di tempat yang sama di mana bola saljunya mendarat. Di kepalanya terdapat sebuah tanduk biru yang berfungsi sebagai pemecah es. Secepat ia datang, cacing itu langsung menghilang ke kedalaman danau.


“....”


“....”


Meskipun di tengah-tengah salju, Shinnichi bisa merasakan keringat dingin menuruni punggungnya. Schwarz juga tidak mengatakan apa-apa, memiliki pemikiran yang sama dengan Shinnichi. Sudah dapat dipastikan ia tidak akan melewati danau ini dengan cara biasa. Perlukah ia mematahkan bahunya menggunakan meriam raksasa untuk menyebrangi danau ini?


Shinnichi menggaruk-garuk kepalanya. Tak mungkin ia bisa menyebrangi danau ini dalam satu tembakan. Luasnya lebih dari 40 meter. Jika ia melakukan manuver Dardanella itu lebih dari sekali tanpa berhenti, sudah pasti bahunya akan terlepas.


Shinnichi menjentikkan jarinya. “Benar juga!” Sebuah lampu ide muncul di atas kepalanya.


“Apa yang aka-“


Sebelum Schwarz menyelesaikan pertanyaannya, Shinnichi mengeluarkan beberapa buah ungu Methanasian dari [Storage]. Menempelkan bola mana dengan penjedaan aktifasi, Ia melemparnya sekuat tenaga ke atas gunung.


“Oh, tidak.” Suara ngeri Schwarz dapat terdengar.


“Oh, iya.” Suara senang Shinnichi gantian terdengar.


Longsor salju besar. Mengarah tepat ke arahnya. Seperti tsunami yang menelan apa saja di hadapannya. Bergulung dan membawa lebih banyak salju setiap kali ia bergerak. Dari jauh mungkin terlihat indah, namun dari dekat ia terlihat mematikan.


 Untuk pertama kalinya, Shinnichi berpikir bahwa ini bukan ide yang bagus.


“Kau memang sudah gila,” komentar Schwarz.


“Uh... Mungkin.” Shinnichi tidak menyanggahnya.


Shinnichi dengan cepat membentuk Abyssal Mist menjadi perisai besar. Menanamkannya di atas salju, ia bersembunyi di belakangnya.


BRUGG! Longsor itu menghantamnya seperti kereta. “Uwa-!” Perisainya bahkan tidak berguna. Shinnichi dengan cepat tertelan dan menghilang dalam salju tebal. Setelah gempa dan gemuruh yang menyerang lantai 97, kesunyian kembali mengisi. Seolah-olah longsor itu tidak pernah terjadi.


Tiba-tiba, sebuah bilah hitam muncul dari bawah salju. Bergerak-gerak untuk menyingkirkan salju di atasnya.


“Hah!” Kepala Shinnichi muncul dari dalam salju. Penyebab longsor salju itu mengangkat dirinya ke atas. “Uwah, bahaya, bahaya.”


Shinnichi menatap sekitarnya. Tak jauh berbeda dari sebelum longsor. Ia menoleh ke arah gunung yang baru saja diledakannya. Gunung itu hampir menghilang. Menyusut dan tidak terlihat ukuran aslinya.


Keringat dingin menuruni dahinya. Shinnichi bersumpah untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi. Tapi, setidaknya danau di depannya sudah tertutupi salju.


Nasib cacing raksasa itu, Shinnichi tidak ingin tahu. Shinnichi bergegas pergi dari situ, pura-pura tidak tahu. Sementara Schwarz yakin pemuda yang satu ini punya kemungkinan mati karena kebodohannya sendiri daripada karena musuh.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi berjalan menaiki bukit salju kecil. Di mulutnya, sepotong daging Filbrum yang sudah ia makan setengah. Berjalan beberapa jam di tengah-tengah salju membuatnya lapar. Dan karena dingin, ia terus menerus ingin buang air kecil.


Sebelum merubah salju menjadi kuning, Shinnichi melihat sebuah sosok di kejauhan. Terlihat seperti seseorang. Shinnichi sedikit waspada. Sejauh ini, ia belum pernah melihat seorang jiwa di sini.


Shinnichi menyipitkan matanya. Sosok itu berdiri tak bergerak. Dari kejauhan, ia terlihat tinggi dan kurus.


Angin bertiup. Membawa salju ke arahnya. Membuat Shinnichi menutup matanya. Sekejap, sosok itu menghilang, seolah-olah tidak pernah ada.


“Halusinasi?” gumam Shinnichi.


“Tidak. Aku juga melihatnya.” Schwarz menjawab. “Buka matamu lebar-lebar.”


Shinnichi mengangguk. Ia menghunuskan Abyssal Mist dan meningkatkan kewaspadaannya sembari berjalan.


Tak butuh waktu lama sebelum Shinnichi sampai di tempat sosok itu berdiri. Tak ada jejak di salju maupun tanda-tanda bahwa ada seseorang di sini. Di dekat situ, Shinnichi melihat sebuah gua. Gelap, namun memiliki sebuah keteertarikan. Seolah-olah mengundangnya ke dalam.


Shinnichi memberanikan dirinya. Menelan ludahnya, ia masuk ke dalam gua itu. Tak lupa mengalirkan Mana ke dalam batu sihirnya untuk penerangan. Berada di dalam dungeon gelap memang meningatkan indera pengelihatannya di kegelapan, tapi ia masih butuh sedikit cahaya.


Gua itu lebih besar dari perkiraanya. Hampir menyaingi gua yang ada di lantai atas. Lebar 6 meter dan tinggi 5 meter, interior gua terbuat dari es. Es tajam tumbuh di langit-langit dan bahkan samping gua. Memberi istilah dingin yang menusuk tulang sedikit arti harfiah.


Tap. Tap. Tap. Suara langkah Shinnichi menggema. Namun, ada sesuatu yang aneh. Ada sesuatu yang mengikutinya.


Shinnichi menoleh. Kosong. Lenggang.


Meskipun begitu, Shinnichi yakin ada sesuatu yang mengikutinya. Ia bisa merasakan seseorang atau sesuatumenatapnya. Shinnichi bisa merasakan detak jantungnya menjadi lebih kencang.


Shinnichi terus berjalan. Mencoba mengabaikan perasaan waswasnya. Ia harus tenang. Panik di dalam dungeon bisa berarti kematian.


"Schwarz, kau bisa merasakan itu ‘kan?” Shinnichi berbisik. Tak ingin suaranya menjatuhkan potongan es di atas.


“Ah, aku merasakan sepasang mata menatap kita. Menguntit kita.” Schwarz menjawab. Ia berada di dalam kepala Shinnichi, secara tidak langsung, ia juga bisa merasakan emosi, firasat, dan indera Shinnichi. “Hati-hati, serangan tiba-tiba sangatlah mungkin di tempat seperti ini.”


Shinnichi kembali mengangguk.Ia terus berjalan sambil menerangi apa yang ada di depannya. Mencoba tidak melewatkan detail kecil. Apapun itu.


Setelah beberapa saat, Shinnichi mencapai sebuah ruang besar. Gelap, namun luas. Pilar-pilar  besar terbentuk dari es berdiri di sekeliling ruangan. Menjadi penopang langit-langit dan penghias yang berkilauan saat cahaya menyinarinya. Di ujung ruangan, Shinnichi bisa melihat tangga untuk menuruni ke lantai berikutnya.


Mata Shinnichi berbinar-binar. Ia bergegas untuk turun ke lantai selanjutnya. Namun.


Ting. “--!?” Shinnichi mendengar sesuatu menyentuh salah satu pilar es yang dilewatinya. Dengan cepat, ia langsung menoleh ke belakang. Kosong.


Shinnichi menghembuskan nafas. Khayalannya saja mungkin. Ia terlalu paranoid.


Tes. Tes.


Shinnichi mendengar suara tetesan. Bukan dari air, tapi dari sesuatu yang lebih berlendir. Shinnichi membalikkan tubuhnya. Lalu, Shinnichi diam membeku.


Di depannya, di balik sebuah pilar es. Sosok itu berdiri.


Sebuah kepala rusa yang membusuk, meneteskan darah kental. Aroma kematian nan menjijikan keluar dari makhluk itu. Sebuah bangkai berjalan. Mata putih menyala di rongganya, mata gila yang tak berjiwa. Kulit abu-abu pucat membungkus tulang yang menonjol keluar. Menilik dari belakang pilar, makhluk itu memberikan senyum mengerikan yang keluar dalam mimpi terburuk seseorang.


“Eeekekekeke!” Semacam kekehan mengganggu keluar dari makhluk itu. Membuat Shinnichi kehilangan sedikit nyalinya.


Shinnichi mundur selangkah. Batu sihir yang terkalung di lehernya bergoyang sedikit. Kembali membuat makhluk itu terselimuti kegelapan untuk sekejap. Namun, setelah tempat yang sama disorot, makhluk itu menghilang.


Shinncihi menelan ludahnya. Merasakan keringat membasahi tubuhnya. Rasa takut memenuhi tubuhnya. Kakinya juga hampir tidak mampu menyangga tubuhnya.


“A-apa itu....?” Shinnichi akhirnya bertanya setelah beberapa saat.


“Wendigo.” Schwarz mengenali monster itu. “Monster gila yang menghantui mangsanya hingga mereka ketakutan setengah mati dan menyerahkan diri mereka untuk dibunuh. Berhati-hatilah untuk tidak disentuh. Mereka akan merusak pikiranmu..”


"Be-begitu ya.” Mendapatkan sedikit pengetahuan tentang monster itu, Shinnichi menjadi sedikit tenang. Setidaknya itu adalah seekor monster. Yang berarti ia bisa mengalahkannya.


Shinnichi kembali mengumpulkan keberaniannya. Ia memang bukan orang yang paling berani, tapi jika itu tekad untuk bertahan hidup, ia nomor satu. Meyakinkan dirinya, Shinnichi terus berjalan, kali ini lebih lambat.


“Ekekekeke!” Suara tawa Wendigo kembali terdengar. Menggema seperti musik mimpi buruk.


“--!? Di mana!?”


Shinnichi memutar tubuhnya. Mencoba mencari di mana makhluk itu berada. Namun, Wendigo itu terus menghindarinya. Shinnichi bisa mendengar makhluk itu berlari menggelilinginya. Mengejeknya.


Menakutinya.


Shinnichi bisa meraskan nafasnya semakin kencang. Kepalanya mulai pusing. Mentalnya terkuras.


“Ekekekeke!” Suara itu menjadi lebih keras. Memantul dari es. Mempengaruhi kepalanya.


Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati di sini?


Segala macam pemikiran buruk menghampiri Shinnichi. Memenuhi kepalanya.


“Shinnichi! Jangan lengah!” Schwarz mencoba menyadarkannya. Namun, Shinnichi tidak bisa mendengarnya. Ia tenggelam dalam pikiran negatifnya. “Shinnichi!”


Benar. Aku akan mati di sini.


Shinnichi jatuh. Merasakan rasa dingin yang menyentuh tubuhnya.


Tap. Tap. Tap.


“E... Ke.... Ke....” Wendigo semakin mendekat. Tawanya menjadi lebih pelan dan mengerikan.


“Shinnichi! Bangun! Bangun, bocah sialan!”


Aku lapar. Aku ingin makan. Aku dingin. Aku ingin kehangatan. Aku lelah. Aku ingin tidur....


Shinnichi tak bisa berpikir lurus lagi. Ketakutan, kelelahan, kelaparan, semua mempengaruhinya. Terjebak di dalam Dungeon ini. Dipaksa agar terus waspada. Membunuh atau dibunuh. Semua itu memudahkan Wendigoo untuk menyihirnya.


Wendigo adalah makhluk keji. Menggunakan ketakutan dan kelemahan terbesar mangsanya, mereka dengan mudah mendapatkan makan. Bagi Wendigo, hal terlezat adalah daging yang dibumbui ketakutan.


Wendigo mengulurkan lengannya. Tangan kurus dan berdarah. Panjang dan membusuk. Wendigo menyentuh kepala Shinnichi. Ia menggunakan kemampuannya. Kemampuan untuk menunjukkan mimpi terburuk mangsanya.


Mata Shinnichi membelalak. Ia melihat sebuah mimpi. Mimpi terburuknys, terlihat alami dan nyata. Air mata yang keluar langsung membeku, menyayat kulit.


Fiona.


30 (2)


Dum! Sebuah gelombang kejut besar tercipta. Menghempaskan Wendigo ke belakang.


“--!?” Wendigo menjaga pijakannya. Ia memutari Shinnichi. Heran akan kejadian tadi.


Di hadapannya, Shinnichi bangkit. Berdiri dengan pelan. Percikan ungu mirip petir kecil berkelap-kelip meneranginya.


Aura ungu keluar dari tubuhnya, berputar-putar seperti badai yang mengamuk. Rambut hitam sekelam langit malam pemuda itu berubah warna. Kontras, rambutnya sekarang seputih salju murni musim dingin. sepasang rantai muncul dari bayangannya, bergerak dengan kelancaran alami dari sebuah ekor. Matanya bersinar ungu terang. Menusuk Wendigo dengan tatapan penuh kemurkaan.


Petir ungu memberi sedikit cahaya. Menerangi sebagian wajahnya. Singkat kata, wajahnya bukan milik Manusia.


Topeng naga yang tadi dipakainya kini menyatu dengan wajahnya. Warna putih gading memenuhi wajah bagian kirinya, memperlihatkanstruktur tengkorang yang tidak sesuai dengan Manusia. Terlihat seperti milik hewan reptilia. Taring tajam terbuka setiap kali ia bernafas, mengeluarkan uap panas jelas di suhu dingin. Titik ungu yang menusuk itu membuat sang pemuda terlihat tidak alami. Mirip dengan mata sang Iblis.


Pepatah mengatakan “Kelinci tersudut pun menggigit”. Dan saat ini, kelinci itu berubah menjadi hewan buas. Siap membunuh siapa saja yang menghadangnya.


Wendigo menatap pemuda itu tidak percaya. Tak ada mangsanya yang bisa hidup setelah disentuhnya. “KREEEAAA!” Ia meraung berlari dengan keempat anggota tubuhnya seperti seekor tikus yang menjijikan. Ia mengayunkan tangan kirinya. Mencoba mencakar Shinnichi yang tidak bergerak.


Namun, dengan sebuah gerakan cepat, Shinnichi mengayunkan Abyssal Mist. Pedang hitam itu tak hanya memotong tangan Wendigo, kepalanya juga terlepas dari tubuhnya.  Tak membiarkannya begitu saja, kedua rantai yang ada di belakangnya melaju ke depan. Menusuk tubuh Wendigo dan membelahnya menjadi dua. Memuntahkan darah dan lendir menjijikan.


Selesai menghancurkan Wendigo, Shinnichi berjalan menuju tangga. Aura yang mengelilinginya menghancurkan apa saja yang di depannya. Pilar es pecah berkeping-keping, sisa bangkai Wendigo terpotong-potong menjadi ratusan bagian. Setiap langkah yang ia ambil mirip seperti sebuah badai.


“....”


Shinnichi berjalan menuruni tangga. Tidak mengatakan apa-apa. Tidak memikirkan apa-apa. Hanya kemurkaan alami yang tertutupi wajah setengah makhluk mitos itu. Terlihat bengis danbuas.


Saat ini, ia adalah makhluk yang berbeda. Dan ditelan kemurkaan, makhluk itu akan melampiaskannya terhadap penduduk Dungeon ini.


Bencana baru saja datang. Dan selama ia ada, ia akan menghancurkan apa yang ada di depannya.