My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Sebuah permintaan



1 bulan kemudian,


Sejak mengetahui kabar kehamilan istri nya Dave menjadi begitu posesif. Tidak hanya melarang keras Lisa untuk beraktifitas seperti biasa ia juga turut menjaga dan menemaninya hampir setiap hari.


Sudah 1 bulan belakangan Dave sangat jarang pergi ke kantor. Ia membawa semua pekerjaannya ke rumah, dan meninggalkan tanggung jawab besar di tangan Mike. Satu-satunya orang yang ia percayai untuk menggantikan dia sementara dalam beberapa meeting penting.


Dave hanya akan Keluar dari rumah ketika hal itu benar-benar mendesak menyangkut proyek penting yang tidak bisa di wakilkan oleh orang lain. Tapi ternyata hal tersebut menjadi angin segar bagi segelintir orang yang diam-diam menjadi musuh dalam selimut.


Terutama seorang Benjamin Claire yang tak lain adalah keponakan dari sang kakek. Saat ini ia menduduki salah satu posisi cukup penting di perusahaan. Diam-diam ia berobsesi untuk menguasai dan menyingkirkan Dave dari perusahaan.


"Dasar anak bodoh!! Apa yang kau lakukan saat ini telah menjadi peluang besar untuk aku bisa segera menyingkirkan mu." ujar Benny dingin sambil tertawa mengerikan dari balik kursi kebesarannya.


"Sepertinya kita harus memberikan hadiah yang istimewa untuk si ceroboh itu dan istrinya pa." timpal sang anak yaitu Harry Claire yang juga bekerja di perusahaan Dave.


"Tentu saja nak, kita akan memberikan hadiah yang akan selalu membekas di ingatannya." ujar Benny menyeringai memikirkan rencana jahatnya itu akan sangat menggoncang hidup Dave dan Lisa.


Flashback,


Selama ini hubungan keduanya memang tidak terlalu baik, karena sepupu dari ayahnya itu selalu berusaha untuk menguasai kerajaan bisnis keluarga Walton.


Begitu pun ketika Alexander Walton yang tak lain adalah papa dari Dave masih hidup. Benny tidak pernah kehabisan akal untuk mengganggu ketenangan keluarga Walton.


Meskipun begitu, papa Alex tidak pernah memelihara kebencian untuk Benny. Terlebih, ibu dari Benny yang tak lain adalah tantenya adalah sosok yang amat sangat papa Alex sayangi.


Karena ibu nya telah meninggal sejak ia beranjak remaja, bibi Ema adalah satu-satunya orang yang bisa menggantikan sosok seorang ibu yang sangat ia rindukan.


Bibi Ema tidak hanya baik hati dan lembut namun ia juga orang yang penuh dengan kasih sayang.


Tapi karena kebaikan dan kelembutan bibi Ema itu yang memantik api kebencian di hati Benny. Tidak hanya merasa Alex telah merebut kasih sayang sang ibu, tapi Benny juga selalu merasa hidup Alex selalu beruntung.


Alex sudah memiliki Segalanya tapi ia tetap merebut kasih sayang dan perhatian ibu nya. Satu-satunya hal berharga yang masih ia miliki. Saat Benny berusia 12 tahun ibu dan ayah nya memutuskan untuk bercerai.


Ayah Benny adalah seorang pemabuk dan penjudi. Setiap hari bibi Ema selalu menjadi korban pelampiasan suami nya itu jika ia kalah ketika sedang berjudi.


Dan semenjak itulah bibi Ema dan Benny kembali ke keluarga Walton. Kakek Antony juga menjamin hidup mereka dan memperlakukan mereka dengan sangat baik. Ia menganggap Benny sama seperti Alex, putranya sendiri.


Tapi entah kenapa Benny tidak pernah merasa puas dengan itu semua. Ia tetap saja tidak bisa menghilangkan ambisi serta iri dengki nya terhadap Alex dan terus memupuk kebencian di hatinya melihat kebahagiaan keluarga Alex.


Dan sampai saat ini meskipun Alex sudah tiada, tapi Benny masih saja menyimpan dendam terhadapnya. Mengingat Alex selalu memiliki segala hal yang ia inginkan tanpa harus bersusah payah.


Bahkan setelah Alex tiada, ia masih tidak bisa mendapatkan segalanya karena keberadaan David. Karena itulah dia selalu berusaha mencari cara agar bisa menyingkirkan David sama seperti bagaimana ia berhasil menyingkirkan kedua orangtuanya.


Benny lah yang menjadi penyebab utama kecelakaan yang menewaskan Alex dan juga istrinya. Namun tidak ada yang mengetahui hal tersebut termasuk David sendiri. Benny telah mengatur semuanya dengan sangat rapi.


Sehingga polisi tidak bisa mencurigai nya atas kecelakaan tersebut dan menganggap bahwa itu hanya kecelakaan biasa bukan karena sabotase dari seseorang.


Ke esok kan harinya Lisa meminta izin pada Dave untuk pergi ke panti asuhan. Sudah hampir 2 bulan ia belum mengunjungi adik-adiknya di sana.


Mereka baru saja terbangun selama beberapa menit yang lalu dan sudah menjadi kebiasaan bagi Lisa semenjak ia hamil, jika ketika bangun tidur ia akan bermanja-manja dengan suaminya di tempat tidur selama 30 menit.


Tentu saja kebiasaan baru istrinya itu menjadi hal yang menyenangkan pula untuk Dave. Karena pada dasarnya Lisa adalah perempuan yang cerdas dan mandiri, sifat manja tentu bukan bagian dari dirinya.


"Apa sayang? katakan apa yang kau inginkan?" tanya Dave lembut sembari mengelus pipi Lisa dengan sayang.


"Aku sudah beberapa bulan ini belum mengunjungi panti, rasanya aku sangat merindukan adik-adikku dan ibu panti. Boleh kah aku pergi ke sana hari ini?" tanya Lisa dengan hati-hati.


Karena semenjak ia hamil, sifat posesif suaminya itu bertambah jadi berkali-kali lipat. Dan terkadang itu sangat menyebalkan, tapi Lisa mengerti jika Dave seperti itu karena begitu mencintainya.


Dave tertegun selama beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan istrinya itu. Ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya untuk mengabulkan permintaan Lisa. Mengingat hari ini ia mempunyai janji penting untuk meeting bersama client yang tidak bisa ia batalkan.


"Haruskah hari ini? " tanya Dave ragu.


"Sayang ayolah, aku sudah sangat merindukan mereka. Aku sangat ingin pergi hari ini.“ ujar Lisa sedikit merengek untuk membujuk suaminya.


" Tapi hari ini aku harus pergi, ada meeting yang tidak bisa aku batalkan. Karena client ini sangat penting untuk perusahaan, ini menyangkut proyek besar." jelas Dave mencoba menjelaskan.


"Tidak apa-apa sayang, aku bisa pergi sendiri. Ah tidak, aku bisa pergi bersama beberapa bodyguard dan bibi May. Bagaimana?" tawar Lisa mencoba membujuk suaminya yang sedikit keras kepala itu.


"Tapi sayang, aku tidak tenang jika meninggalkan mu sendiri untuk bepergian apalagi dalam keadaan seperti ini." jelas Dave mencoba memberi pengertian tentang kekhawatiran nya.


"Ayolah sayang, aku pergi dengan 2 orang bodyguard dan juga bibi May. Tidak akan terjadi apa-apa, aku hanya pergi ke panti selama beberapa jam saja. Aku akan kembali sebelum pukul 3 sore." jelas Lisa mencoba mendebat suaminya kembali.


"Please honey, i will be okay." ujar Lisa kembali sembari mengecup lembut bibir suaminya.


"Ah baiklah, baiklah. Kau memang sangat keras kepala akhir-akhir ini." ujar Dave yang mulai luluh dengan bujuk rayu istrinya itu.


"Benarkah? yeayy.. Terimakasih sayang." ujar Lisa sedikit berteriak kegirangan sambil kembali mengecup bibir suaminya sekilas.


Namun belum sempat Lisa menarik tubuhnya, Dave langsung menahan tengkuknya dan mulai menyesap lembut bibir istrinya yang selalu terasa manis itu baginya. Dave tidak melepaskan Lisa sampai ia benar-benar puas.


"Sayaang." rengek Lisa begitu pagutan mereka terlepas.


Sementara Dave hanya tertawa kecil melihat kekesalan istrinya.


**


1 jam kemudian,


Lisa tengah mengantar kepergian suaminya di halaman rumah mereka. Ia melambaikan tangannya dengan senyum manis yang terkembang di bibirnya. Dave pergi setelah mengatur beberapa bodyguard untuk mengawal Lisa nanti ke panti asuhan.


Entah kenapa hatinya selalu tidak tenang memikirkan keselamatan istri dan calon bayi mereka saat ia tidak ada. Tanpa sepengetahuan Lisa ia menyuruh 2 orang bodyguard lain sebagai bodyguard bayangan untuk mengawasi istrinya.


Ia tidak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi terhadap keluarga kecilnya itu. Walaupun terdengar sedikit berlebihan, tapi Dave ingin selalu memastikan jika istrinya akan selalu dalam keadaan baik-baik saja.