My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Menyelidiki



Benny dan Harry tengah berpesta malam ini merayakan keberhasilan mereka. Bukan hanya penuh siasat, mereka adalah orang-orang yang sangat licik.


Kepulan asap terlihat hampir di beberapa titik di ruangan tersebut dimana Benny dan juga anak buahnya tengah berpesta pora. Bahkan mereka juga menghadirkan beberapa wanita penghibur untuk menemani dan melengkapi pesta tersebut.


"Dad langkah apa yang akan selanjutnya kita lakukan? " tanya Harry membuat Benny pun menoleh ke arahnya.


"Kita telah membuat David sibuk dengan istrinya, tentu saja langkah selanjutnya kita akan mulai pergerakan kita untuk menguasai perusahaan." ujar Benny tersenyum licik.


"Baiklah dad, mulai besok aku akan mulai membeli beberapa saham untuk mengimbangi saham yang David miliki." timpal Harry dengan senyum menyeringai.


Jangan tanya dari mana uang mereka berasal, karena tentu saja dari kegiatan pencucian uang di perusahaan selama ini. Apalagi ketika kakek Antony masih memegang kendali perusahaan, mereka melakukannya dengan mudah.


Tapi semenjak 2 tahun belakangan David di angkat menjadi CEO perusahaan, pergerakan mereka menjadi sedikit terhambat dan tidak leluasa. Karena David adalah seorang penggila kerja dan dia selalu teliti dalam segala hal.


Beruntung beberapa anak perusahaan sudah bisa mereka kuasai sebelum David di angkat menjadi CEO. Kakek Antony menyerahkan beberapa anak perusahaan dalam kuasanya untuk ia kelola.


"Lalu bagaimana dengan kakek tua itu dad? " tanya Harry lagi.


"Biarkan saja, lagipula dia hidup ataupun mati sudah tidak berpengaruh apa-apa. Yang harus kita singkirkan selanjutnya adalah David. Kitalah yang seharusnya menguasai semua kerajaan bisnis keluarga Walton. Bukan bocah tengik itu! " ujar Benny dengan tatapan mata tajam dan senyum menyeringai.


**


Setelah hampir 6 jam akhirnya pintu ruang operasi pun telah di buka. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan para dokter yang melakukan operasi terhadap Lisa pun keluar.


"Bagaimana dokter? Nick bagaimana keadaan istriku!?" tanya Dave dengan tidak sabar.


Belum sempat Nick menjawab beberapa orang perawat terlihat mendorong ranjang istrinya keluar untuk di pindah ke ruang observasi.


"Sayang." ujar Dave mencoba menghampiri Lisa namun Nick menahan tangannya dan memberikan isyarat agar Dave bisa menahan diri.


"Ikutlah denganku." ujar Nick sembari melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan dengan tempat dimana Lisa akan dibawa.


Walaupun dengan berat hati akhirnya Dave pun mengikuti perintah dokter sekaligus sahabatnya itu. Nick membawa Dave ke sebuah taman yang berada di halaman belakang rumah sakit.


"Nick, please.. " ujar Dave dengan nada memohon begitu mereka sampai di taman tersebut.


"Duduklah dulu Dave, aku ingin membicarakan banyak hal denganmu." ujar Nick yang akhirnya mau tak mau Dave pun menurut.


"Dengarkanlah baik-baik apa yang akan aku katakan." ujar Nick sambil menghela nafas panjang menatap gelapnya langit malam.


Semilir angin di musim semi terasa sedikit menusuk kulit, mengingat saat itu hampir tengah malam.


"Lisa harus di observasi pasca operasi selama beberapa jam ke depan, dan saat ini ia masih akan terjaga sampai besok pagi karena pengaruh obat bius."


"Jika sampai besok pagi kondisi Lisa membaik dan tidak menunjukkan tanda-tanda kegagalan operasi dia akan di pindahkan ke ruang perawatan. Tapi sebaliknya, jika sesuatu terjadi kau harus bisa berbesar hati Dave." ujar Nick dengan putus asa.


Dave yang seketika mendengar ucapan Nick langsung tersulut emosi mencengkram jas putih yang Nick kenakan sembari mengeluarkan tatapan membunuhnya.


"Lisa akan baik-baik saja, aku akan pastikan itu! Dengar Nick, meski kau sahabat ku tapi jika memang kau tidak bisa mengurus istriku dengan baik katakanlah. Aku bisa mencari dokter terbaik di seluruh dunia, untuk menyembuhkannya." ujar Dave dengan suara dinginnya, ia pun menghempaskan tubuh Nick dengan kasar.


Entah untuk ke sekian kalinya, tangis Dave kembali pecah. Bahkan tubuhnya mendadak roboh dan ia hanya bisa meraung-raung sambil memukul dadanya yang sesak.


Kenapa Tuhan begitu kejam padanya, kenapa Tuhan tidak pernah benar-benar membiarkannya bahagia bahkan untuk sekejap saja. Tuhan selalu mengambil semua hal yang ia sayangi, kedua orang tuanya, bibi May, calon bayi mereka, dan mungkin bahkan sekarang haruskah istrinya.


Dave sangat merasa putus asa saat itu, ia tidak ingin kehilangan istrinya. Rasanya ia tidak akan sanggup untuk hidup lagi jika ia harus kehilangan istrinya juga. Semua ini begitu menyakitkan baginya.


~


Sementara Mike saat ini tengah berada di markas. Ia sedang melakukan penyelidikan terhadap kecelakaan Lisa. Sebenarnya selama ini Dave dan Mike memiliki sebuah organisasi rahasia.


Mereka telah mengumpulkan banyak orang untuk di pekerjaan di setiap perusahaannya. Tapi sebelum itu mereka di berikan pelatihan bukan hanya tentang keterampilan dalam bidang pekerjaannya, tetapi juga pelatihan beladiri dan cara menggunakan senjata dengan baik.


Ia sudah mempersiapkan segalanya sebelum memimpin perusahaan. Dave telah banyak mengerti jika dalam dunia bisnis yang besar, ia pasti akan memiliki musuh-musuh yang licik.


Sebenarnya ini semua sudah di mulai sejak Dave masih kecil, karena Alex dan para sahabatnya memiliki ide pembentukan organisasi tersebut. Tapi takdir berkata lain, karena Alex harus meninggal di usia muda.


Karena itu ketika Dave mulai tumbuh dewasa kedua sahabat Alex yang masih hidup dan kini duduk di kursi pemerintahan dan militer negara itu, menemui Dave untuk mewujudkan apa yang belum sempat ayahnya mulai.


Tentu saja karena sampai saat ini pun, mereka berdua tetap percaya jika kecelakaan yang menimpa Alex dan ayah Mike merupakan sebuah kesengajaan. Sayangnya mereka tidak memiliki cukup bukti untuk itu.


Karenanya untuk melindungi Dave dan keluarga Walton mereka sudah sering menemui Dave dan menjelaskan tentang organisasi tersebut. Bahkan mereka akan memberikan dukungan penuh agar Dave bisa mewujudkannya.


Mereka adalah James Gulton dan Harvey John Matteo. Dave dan Mike sudah di latih ilmu bela diri dan cara menggunakan senjata api sejak belia. Bahkan mereka menjalani latihan fisik yang cukup keras layaknya latihan ala militer.


Setelah memberikan perintah pada orang-orang kepercayaan nya, Mike pun segera menghubungi kedua sahabat ayahnya itu. Ia pun meminta bantuan mereka untuk menyelidiki kecelakaan tersebut agar bisa mengetahui siapa sebenarnya musuh yang sedang mereka hadapi saat ini.


"Kau tidak perlu khawatir, akan aku pastikan untuk mendapatkan informasi secepatnya." ujar Harvey dari balik telepon.


"Kita tidak bisa mempercayai polisi meskipun mereka tengah menangani kasus ini. Jangan biarkan bukti penting atau saksi berbicara terlalu jauh pada polisi, karena kita tidak tahu siapa musuh kita. Bisa jadi, polisi itu sendiri pun salah satu bagian dari kekuasaan nya." timpal James yang juga ikut bicara karena saat ini mereka menggunakan panggilan secara konfrensi.


"Baiklah uncle, aku sudah mengurusnya sisanya aku serahkan pada kalian. Dan terimakasih atas bantuannya." ujar Mike dengan sopan.


"Bagaimana keadaan istri Dave saat ini? " tanya Harvey kembali.


"Dia telah mengalami keguguran, dan baru saja menjalani operasi di kepalanya. Kemungkinan saat ini masih belum sadarkan diri. " jelas Mike.


"Baiklah nak, jagalah Dave dengan baik. Secepatnya aku akan kembali ke negara A setelah urusanku selesai. " ujar Harvey.


"Besok pagi, aku akan menemui Dave di rumah sakit. " timpal James.


"Sekali lagi terimakasih uncle, untuk semuanya." ujar Mike tulus.


"Baiklah, berhentilah bersikap seperti wanita. Aku benci laki-laki yang lemah! " ujar James sambil terkekeh pelan.


"Ya, dan selalu ingat pesanku. Jangan jadi pecundang dan penakut! Aku benci dengan laki-laki seperti itu! apa kau mengerti? " tanya Harvey dengan nada membentak.


Namun Mike tahu jika mereka berdua sebenarnya sedang mencoba menghiburnya. Mike sangat tahu, di balik sikap keduanya yang selalu keras mereka memiliki hati yang baik. Bahkan Mike sudah menganggap keduanya seperti keluarga, sama seperti keluarga Walton.