
Buku di tangannya tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya saat ini. Lisa hanya sibuk membolak balikan halaman buku di tangannya tanpa minat.
Brukkk,
Ia tutup buku tersebut dengan kasar, nafasnya sedikit terdengar memburu. Berkali-kali Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, berkali-kali juga ia gagal.
Perasaan marah, kesal, dan sakit hati tengah bergumul menguasai hatinya. Ia merasa telah di tipu habis-habisan, walaupun oleh suaminya sendiri.
Apakah David hanya menganggapnya sebagai wanita bodoh yang pantas di perlakukan seperti ini, pikirnya.
"Amy, aku butuh udara segar. Aku ingin pergi ke taman." ujar Lisa sembari berdiri dengan di bantu tongkat di tangan kirinya untuk menopang tubuhnya.
"Tapi nona, saya harus meminta izin dari tuan terlebih dahulu." Jawab Amy dengan memelas.
Lisa pun hanya bisa menghela nafasnya kasar mengiyakan apa yang Amy katakan. Lagi pula jika Ia tidak meminta izin, para bodyguard yang berjaga di depan pasti tidak akan membiarkannya pergi.
"Halo tuan, maaf jika saya mengganggu." ujar Amy ketika Dave sudah tersambung dengannya.
"Bicaralah." ujar Dave singkat.
"Um anu tuan, nyonya ingin meminta izin untuk pergi ke taman di bawah. Um, apakah tuan mengizinkan?" tanya Amy sedikit ragu.
"Kenapa istriku tidak menghubungiku secara langsung? Berikan telponnya." ujar David tidak sabar.
Amy pun segera menyerahkan ponsel di tangannya kepada Lisa yang sudah mendelik tak suka. Namun karena tidak mau membuat suaminya itu curiga, dengan terpaksa Ia pun menerima ponsel tersebut dan berbicara.
"Sayang, kenapa tidak menghubungiku langsung hum?“ tanya David membuat otak kecilnya berpikir keras memberikan alasan yang tidak akan membuat David curiga.
" Tidak David, um ponsel ku entah dimana aku menaruhnya. Aku lupa, lagi pula sama saja bukan?" ujar Lisa berkilah.
"Tapi kan kau bisa menghubungiku langsung dengan ponsel ini?" ujar Dave masih bersikeras.
"Oh ayolah David, ini hal yang sangat spele. Bisakah kita tidak membahasnya. Tolong biarkan aku keluar sebelum aku benar-benar mati karena bosan di sini." ujar Lisa dengan tidak sabar.
"Alisa!!! " sentak David tanpa sadar membuat Lisa terdiam kaku.
"Cukup sayang, aku tidak suka mendengar kau mengucapkan kata-kata itu. Sekalipun itu hanya candaan." ujar Dave lembut setelah beberapa saat.
Dave memandang layar laptop nya yang terhubung dengan CCTV di apartment mereka. Dengan lembut ia mengusap layar dimana terlihat Lisa yang hanya diam mematung mendengarkannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk berkata keras seperti itu." ujar Dave kembali sementara Lisa masih terdiam.
"Maafkan aku David." ujar Lisa pada akhirnya, Ia menyadari ketakutan yang ada di hati suaminya.
Terlihat jelas bagaimana Dave selalu berusaha melindunginya walaupun terkadang sangat berlebihan. Terlepas dari kekecewaannya karena merasa telah di bohongi, Ia pun sangat menyadari seberapa besar Dave mencintainya.
"Maafkan aku sayang, jika kau merasa begitu terkekang dengan semua sikap ku yang terlalu melindungi mu. Bahkan mungkin hal ini membuatmu sangat muak, tapi percayalah semua yang ku lakukan adalah karena aku begitu takut sesuatu yang buruk terjadi padamu." jelas Dave lagi melihat Lisa berusaha menghapus air matanya yang berjatuhan.
"Ya, aku mengerti." ujar Lisa sembari menahan sesak di dadanya.
"Jika kau ingin pergi, maka pergi lah.. Tapi ajak Amy bersamamu." ujar Dave pada akhirnya setelah menghela nafas dengan berat.
Lisa pun sedikit terkejut ketika Dave menyetujui permintaan nya membuat Lisa kembali bersemangat. Dia benar-benar butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya.
David pun hanya bisa tertegun melihat senyuman bahagia istrinya di layar CCTV. Apakah ia benar-benar egois selama ini mencoba mengurung Lisa dalam sangkar emasnya, pikir David. Tapi pemikiran itu, Ia tepis dengan cepat karena semua ini Ia lakukan demi keselamatan sang istri.
Ingatannya kembali pada percintaan panas mereka tadi malam. Ia merasa sangat bahagia, karena itu artinya Lisa sudah bisa menerimanya. Besar kemungkinan istrinya telah jatuh cinta kembali pada nya.
Walaupun Lisa mengalami amnesia, tapi Dave selalu yakin jika dirinya akan selalu menjadi cinta di hidup istrinya. Lisa akan mencintainya sebesar Ia mencintai Lisa.
Tapi di sisi lain ada ketakutan yang sudah tumbuh besar di hatinya jika Lisa akan berpaling darinya.
~
Lisa sedikit berlari tergopoh-gopoh dengan bantuan tongkat di tangannya. Para bodyguard hanya menunduk mempersilahkan nyonya muda mereka lewat begitu saja.
Sementara Amy mengekor mengikutinya di belakang.
Ting,
Suara pintu lift terbuka, memecah senyum di wajahnya dengan tidak sabar Ia segera masuk ke dalam benda kotak persegi tersebut.
Baru 1 lantai turun, pintu lift kembali terbuka memperlihatkan seorang pria berambut Coklat dengan mata berwarna hijau ke abu-abuan. Tubuhnya nampak tegap dan tinggi dengan garis wajahnya yang tegas.
Amy nampak begitu terpukau melihat pria tampan di hadapannya saat ini. Sementara Lisa memilih acuh dan hanya menatap lantai di bawah nya begitu Edzhar memasuki lift.
Sesaat Edzhar sempat tertegun melihat 2 orang gadis yang berada di lift. Salah seorang di antaranya terasa begitu familiar. Tapi Ia seperti melupakan dimana Ia pernah melihat wajah Cantik khas Asia tersebut.
Meskipun Lisa terlihat sederhana dengan Dress tanpa lengan bercorak floral dan sebuah tongkat terlihat menopang tubuhnya, tidak dapat mengurangi aura kecantikan yang terpancar di wajahnya.
Ke 3 orang tersebut nampak terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing hanya menunggu agar lift yang mereka naiki bisa cepat sampai di bawah. Edzhar sesekali mencuri pandang melihat Lisa yang tampak acuh di sampingnya.
Entah kenapa wajah khas Asia tersebut membuat nya betah berlama-lama untuk menatapnya. Walaupun Ia adalah seorang Casanova yang terbiasa berurusan dengan banyak gadis cantik dan seksi, tapi gadis di sampingnya memiliki daya tarik luar biasa menurutnya.
Beberapa saat kemudian pintu lift pun terbuka, akhirnya mereka pun sampai di lobby. Lisa dan Amy bergegas keluar, namun tiba-tiba saja seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun berlarian hendak masuk ke dalam lift dan menabrak Lisa yang hendak keluar.
"Arrgh! " pekik Lisa yang hampir saja terjatuh.
Amy yang berada di depan nya refleks berbalik untuk menolong Lisa namun sudah di dahului oleh Edzhar. Dalam sekejap Lisa sudah berada dalam dekapan Edzhar dengan mata yang tertutup rapat karena takut terjatuh.
Kedua tangan Edzhar sudah melingkar sempurna di pinggang Lisa. Aroma manis dari tubuh Lisa benar-benar membuat nya seperti terhipnotis. Ia menyukai wangi tubuh perempuan yang berada dalam dekapan nya tersebut.
"Ehemm! " tegas Lisa yang mini sudah tersadar.
"Tuan tolong lepas." ujar Lisa dengan dingin namun tak kunjung di hiraukan.
"Tuan." panggil Amy sambil menepuk baby Edzhar membuat laki-laki tersebut terkejut dan melepas tubuh Lisa perlahan.
"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Amy sedikit panik.
"Tidak apa-apa Amy, bantu aku. Ayo kita pergi." ujar Lisa tanpa menghiraukan Edzhar yang sejak tadi menatapinya membuatnya sangat tidak nyaman.
"Tidak adalah yang ingin kau katakan nona Cantik? " tanya Edzhar ketika Lisa hendak bergerak pergi.
"Terimakasih! " ujar Lisa dengan kesal tanpa menoleh sedikit pun.