
Alisa Jasmine adalah seorang atlet renang terkenal di negara A. Ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas terkemuka di negara A.
1 Minggu lalu ia telah melakukan wisudanya yang tanpa di hadiri oleh sanak saudara karena ia adalah yatim piatu sejak kecil. Meski begitu Lisa merasa sangat bahagia karena kedua sahabatnya selalu mendampinginya.
Tempat pertama yang ia datangi setelah acara selebrasi adalah panti asuhan dimana ia telah di besarkan. Semua orang menyambutnya dengan penuh sukacita dan tak henti memberikan ucapan selamat untuknya.
Meskipun Lisa tumbuh tanpa kedua orang tua, tapi di panti asuhan itu, ia memiliki anak-anak panti sebagai keluarganya. Dan ibu panti sebagai orangtuanya.
Lisa sangat menyayangi mereka, bagi Lisa mereka adalah bagian penting dalam hidupnya. Kelak suatu hari nanti, ketika ia sukses dan memiliki banyak uang, ia tidak akan melupakan keluarganya di panti.
Mereka adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki selama hidupnya. Di Sanalah setidaknya ia bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang dari semua penghuni panti.
Karena itulah Lisa tidak pernah mau di adopsi dan tetap bertahan di sana sampai ia dewasa. Lisa tumbuh menjadi gadis yang kuat dan bersemangat.
Ia selalu terlihat ceria dan menebar kebahagiaan untuk semua orang. Karena itulah dengan bakat dan keramahan yang selalu ia tunjukkan, membuat setiap orang yang mengenalnya menjadi jatuh hati.
Tidak hanya menjadi selebritas di dunia olahraga air karena bakat yang ia miliki, namun kecantikan Lisa yang begitu alami bisa membuat banyak orang terpesona.
Sore hari itu dengan bahagia ia bermain di halaman belakang panti bersama semua anak panti. Ia pun mulai merasa jika hari itu menjadi salah satu hari terbahagia di hidupnya.
Tidak lupa, Lisa pun memberikan motivasi kepada adik-adiknya itu untuk selalu bermimpi. Karena setiap kesuksesan berasal dari sebuah mimpi.
"Jangan pernah takut untuk mewujudkan mimpi-mimpi mu. Tuhan selalu bersama anak-anak yang baik. Kita hanya harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa mewujudkannya. Percayalah, tidak ada yang sia-sia ketika kita mau mencoba dan berusaha." Ucap Lisa dengan sungguh-sungguh.
Seorang laki-laki yang tengah berdiri tak jauh dari sana pun segera menghentikan langkahnya ketika mendengar kalimat motivasi yang Lisa ucapkan di hadapan puluhan anak-anak panti.
Ia pun menoleh ke sumber suara dimana seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang berwarna kecoklatan tengah duduk di tengah puluhan anak panti sedang berbicara dengan penuh kepercayaan diri dan keyakinan.
Sore itu Dave tengah berkunjung ke panti asuhan tersebut untuk menyerahkan sumbangan yang biasa kakeknya berikan setiap bulan secara rutin.
Dan itu adalah pertama kalinya Dave datang ke sana setelah ia dewasa. Ketika ia masih kecil dulu, kakeknya sering mengajaknya ke panti asuhan tersebut hampir setiap bulan untuk menyerahkan sumbangan atau memberikan bahan makanan.
Tapi setelah ia beranjak remaja, kakek mengirimnya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Dan setelah menyelesaikan kuliahnya Dave baru kembali ke negara tempat dimana ia di lahirkan tersebut.
Sudah 1 tahun belakangan ini kakeknya mulai sakit-sakitan. Tubuhnya kini sudah habis termakan penyakit dan usia. Karena itu segala kegiatan yang menjadi tanggung jawab kakeknya di berikan kepada Dave.
Tidak hanya bertanggungjawab penuh atas perusahaan, tetapi juga hal lainnya. Termasuk memberikan sumbangan secara langsung ke panti asuhan itu setiap bulan secara rutin.
Awalnya Dave menolak permintaan kakeknya tersebut dan meminta agar kakeknya memperbolehkan asisten pribadinya yang mengurus kebutuhan dan dana untuk panti.
Namun kakek bersikeras jika Dave sendiri lah yang harus menyempatkan waktu untuk mengunjungi panti setiap 1 bulan sekali dan menyerahkan sumbangan langsung kepada ibu panti.
Karena tak tega akhirnya Dave pun menyetujuinya dengan sedikit terpaksa. Dan di sanalah kini ia berada, terjebak oleh pesona seorang gadis yang terlihat sangat di cintai oleh anak-anak di sana.
"Ada apa nak David?" Tanya ibu panti yang menyadari jika Dave tengah mematung menatap ke arah halaman belakang.
"Ah, tidak. Hanya saja sudah lama sekali saya tidak datang kesini. Dan suasana panti tidak pernah berubah sama sekali." Kilah Dave karena ia sangat malu terpergok tengah menatap seorang gadis oleh ibu panti.
"Dia Lisa nak, jika kamu masih mengingatnya dulu kalian sering bermain bersama ketika kalian masih kecil." Ujar Bu panti kembali mengenang masa lalu.
"Iya, Lisa telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik bukan?" Tanya Bu panti sembari tersenyum menggoda Dave.
Dave tidak menjawab dan hanya menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya. Benar-benar nyaris tidak terlihat seperti sebuah senyuman.
"Apa kamu tidak berniat menemuinya? Selagi Lisa tengah berkunjung kesini." Ujar Bu panti menawarkan.
" Tidak." Jawab Dave singkat.
"Kalau begitu saya pamit Bu, sore ini saya sudah ada janji." Ujar Dave kemudian langsung berpamitan.
"Terimakasih nak untuk semuanya. Tolong sampaikan juga rasa terimakasih kami kepada kakek mu." Ujar Bu panti.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamit Dave sekali lagi.
Sembari mengemudikan mobil sport berwarna hitamnya Dave bergumam "takdir kita belum terputus." Seraya menyungging senyum penuh arti.
**
Lain halnya dengan Dave yang sudah semakin jauh meninggalkan panti asuhan tersebut, Lisa kini tengah menghibur anak-anak panti sekaligus mengucapkan salam perpisahan untuk mereka.
Karena ada sebuah kompetisi besar di tingkat internasional yang harus ia ikuti, Lisa tidak akan berkunjung selama 2-3 bulan ke depan.
Ia harus benar-benar berkonsentrasi dan menyiapkan diri untuk berlatih lebih keras agar ia bisa mendapatkan gelar juara. Sehingga ia bisa memberikan kebanggaan untuk negaranya jika ia mampu memenangkan kompetisi tersebut.
Dengan langkah penuh semangat ia memasuki sebuah flat sederhana berukuran kecil. Tapi itu terlihat lebih baik daripada ia harus tinggal di jalanan.
Beruntung ia mempunyai tabungan dari setiap hadiah yang ia dapatkan ketika ia memenangkan sebuah kompetisi bergengsi ketika kuliah.
Lisa pun menata semua barang-barangnya dengan begitu bersemangat. Seberapa pun sulit kehidupannya saat ini, ia akan selalu bersyukur.
Karena setidaknya ia tidak pernah merasakan tidur di jalanan dan hidup kelaparan. Tinggal di panti asuhan sudah menjadi salah satu keberuntungan baginya hingga ia bisa sampai di titik ini.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan Lisa pun bergegas untuk membukanya. Ia sudah bisa menebak siapa yang akan datang untuk membantunya malam itu.
Ceklek, pintu di buka.
"Can i help you?" ujar seorang gadis bernama Sam yang tak lain adalah sahabat baiknya.
Sementara Cloe yang berdiri di samping Sam tengah mengacungkan sebuah paper bag berukuran sedang, berisi makanan cepat saji untuk makan malam mereka saat itu.
"Oh God, Come in." Jawab Lisa sembari menarik tangan kedua sahabatnya dengan penuh tawa.
Malam itu Lisa membersihkan dan merapikan barang-barangnya di rumah kecil yang telah ia sewa untuk 1 tahun ke depan bersama kedua sahabatnya.
Mereka bertiga sudah bersahabat ketika duduk di bangku sekolah menengah. Dan akhirnya sepakat untuk memasuki universitas yang sama walaupun mengambil jurusan yang berbeda.