
Tanpa terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Setelah perusahaan dalam kondisi stabil dan sudah dalam kendalinya sepenuhnya Dave memutuskan untuk membawa istrinya itu keluar dari pulau.
Mereka tidak kembali ke mansion, melainkan ke sebuah penthouse yang berada di apartemen paling mewah yang berada di tengah kota. Dave juga sudah memberitahukan kakeknya perihal keadaan Lisa yang sesungguhnya.
Awalnya kakek Antoni sempat pingsan, namun beruntung tidak sampai terkena serangan jantung. Apalagi Dave juga memberi tahukan pada kakeknya jika Lisa tidak dapat mengingat tentang apa yang terjadi setelah kecelakaan pertamanya.
Kakek merasa sangat sedih dan ingin bertemu dengan cucu menantu kesayangan nya, namun Dave berkata jika ia masih membutuhkan waktu untuk mempertemukan keduanya.
10 bulan sudah Lisa dalam perawatan dokter Liam, walaupun sudah tidak menggunakan kursi roda tapi Lisa masih membutuhkan bantuan tongkat untuk berjalan. Kondisinya sudah cukup lebih baik, sejauh ini dan dokter Liam bisa memastikan Lisa akan bisa berjalan normal dalam beberapa bulan ini.
Tentu saja Dave sangat senang dengan kemajuan pesat yang di peroleh istrinya tersebut. Ia juga tidak lupa memberikan bonus yang pantas untuk dokter Liam dan para perawat yang selalu mendampingi Lisa.
Walaupun sekarang hubungannya sudah semakin dekat dengan Lisa, Dave belum memiliki keberanian untuk memberitahukan Lisa perihal hubungan mereka yang sebenarnya.
Namun begitu dengan sikap posesif nya Dave terus berupaya menjaga Lisa untuk selalu mengurungnya dalam sangkar emas yang ia ciptakan. Lisa merasa sangat jengah, tapi ia juga sangat sadar jika Dave hanyalah satu-satunya yang ia miliki saat ini yang terus membantu dan mendukungnya.
Tidak dapat ia pungkiri juga, entah kenapa jauh di lubuk hatinya sudah tertanam cinta yang besar untuk pria yang selalu terlihat angkuh di hadapan orang lain itu. Walaupun kini ia menjalani hubungan tanpa kejelasan, tapi Lisa cukup merasa puas masih memiliki Dave di sisinya.
Seperti hari ini, Dave tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan nya yang menggunung. Semenjak mengambil alih semuanya sendiri ia mulai kerepotan untuk bisa sekedar meluangkan waktu untuk pulang tepat waktu.
Bahkan sudah hampir sebulan lamanya ia tidak pernah bisa makan malam bersama istrinya. Setiap ia pulang, Lisa pasti sudah tertidur pulas dan jatuh ke alam mimpinya.
Sampai tak menyadari jam berapa Dave biasanya sampai di Penthouse.
Walaupun begitu ia tetap memperhatikan Lisa melalui orang-orang nya. Di Penthouse hanya ada satu orang pelayan yang tidak lain adalah adik dari mendiang bibi May dan Amy yang menemani Lisa. Ia tahu jika Lisa merasa tidak nyaman dengan banyak orang di rumah. Dan Amy sengaja ia pertahankan agar bisa menemani istrinya saat ia sedang jenuh.
Sementara para bodyguard ia tugaskan untuk berjaga di lantai teratas gedung apartemen tersebut dimana hanya ada kediaman Dave dan Lisa di sana. Dan juga hampir sepuluh orang berjaga di bawah di sekitar lingkungan gedung.
Ia ingin memastikan keselamatan istrinya dengan lebih baik dan tidak ingin kejadian lalu sampai terulang kembali. Dan tentunya itu semua tanpa sepengetahuan Lisa.
Sementara untuk perawatan dan terapinya dokter Liam lah yang akan datang ke Penthouse setiap 1 kali dalam satu minggu. Dave tidak mau mengambil resiko membiarkan istrinya bolak-balik ke rumah sakit ketika ia sedang sibuk seperti ini.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita mencari seseorang yang bisa anda percayai untuk membantu anda mengelola beberapa cabang perusahaan." ujar Mike ketika dalam perjalanan sepulang meeting dengan salah satu klien pentingnya.
David pun tampak terdiam mendengarkan usulan dari asisten pribadi sekaligus sahabat yang sangat ia percayai itu.
"Saya rasa tidak ada salahnya untuk meminta bantuan tuan James dan tuan Harvey. Bagaimanapun juga mereka adalah satu-satunya yang selalu bersama kita tuan."
ujar Mike membuat Dave membuka matanya kembali.
"Kau benar, tapi kau sendiri tahu mereka saja sudah sangat sibuk dengan urusan mereka. Bagaimana aku bisa meminta mereka untuk membantu ku lagi tentang perusahaan." ujar Dave mendadak tidak bertenaga.
"Astaga, kau ini benar-benar bodoh. Aku tidak menyarankan mu untuk meminta mereka menggantikan Si tua bangka Benny, tapi tentu saja putra mereka. Apa kau mendadak menjadi bodoh tuan." ujar Mike dengan kesal mendadak berbicara sedikit kasar membuat kedua mata Dave melotot sempurna.
Selama ini Mike yang terkenal dengan ketenangan dan kesopanannya, namun hari ini Dave kembali mendengar Mike mengomel seperti wanita tua setelah sekian lama.
"Kau?!! "
"Aku ini manusia bukannya robot. Kau pikir aku tidak lelah hanya terus mengurusi urusanmu. Kau itu sudah menikah, apa kau tidak memikirkan ku jika terus seperti ini aku akan mati kesepian sebelum mencapai usia tua." Timpalnya lagi, membuat Dave sedikit kesal namun tidak bisa membantah.
Karena memang selama ini, jika terlihat sibuk maka Mike tentunya akan 2 kali lipat kesibukannya darinya. Sampai-sampai ia pun lupa kapan terakhir kali melihat asisten nya itu terlihat berkencan dengan seorang wanita.
Meskipun kesal, ia juga tidak bisa balik memarahi kekurang ajaran Mike ini. Karena ia sadar, jika Mike sudah seperti itu tandanya ia sudah benar-benar kesal dan tidak mempunyai stok kesabaran lagi di hatinya.
Dave pun hanya bisa mendengus kesal sembari memaki Mike dalam hati sementara Mike menyunggingkan senyum tipis sembari menatap kaca mobil di sebelah nya.
***
Sementara di pinggiran kota lain Kedua lelaki yang kini sudah di depak dari Kerajaan bisnis keluarga Walton itu tengah menyusun rencana licik untuk bisa kembali merebut segalanya dari tangan David.
Walaupun ia sudah kehilangan banyak, namun karena selama bertahun-tahun ia mampu menyelewengkan dana perusahaan yang tidak sedikit mampu membuatnya bisa membangun bisnis ilegal yang jauh lebih menguntungkan untuk nya.
"Lihat saja David, bukan hanya seluruh harta kekayaan mu tapi akan menghancurkan mu dan semua hal yang kamu cintai sampai kamu merasakan sakit yang tak tertahankan. Sampai kau akan memohon sendiri demi kematian mu padaku dan segera melenyapkan mu dari dunia ini." Nampak seringai di wajah Benny sembari merakit sebuah senjata revolver kesayangannya.
Ia dan putranya memilih untuk mundur sementara dan berpura-pura kalah lalu meninggalkan kota. Tentu saja itu hanya akal-akalan nya saja agar bisa menyusun rencana membalaskan dendam terbaiknya.
Tapi Benny juga melupakan seberapa cerdik keponakannya itu. Dave tentu saja tidak serta merta percaya jika pamannya itu mengalah begitu saja dan memilih mundur. Ia telah menempatkan beberapa mata-mata untuk memantau setiap pergerakan yang di lakukan sepasang ayah dan anak tersebut.