My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Menghilang




Flashback,


Malam sebelum nya Dave menghabiskan waktu untuk minum-minum dengan Mike hingga tengah malam. Ketika ia sudah merasa cukup mabuk, Dave pun mengakhirinya dan kembali ke kamar Lisa.


Di sana ia lihat istrinya tengah terbaring dengan wajah yang begitu damai. Hanya ketenangan yang terlihat dalam tidurnya. Dave pun berjalan sangat pelan berusaha untuk tidak menimbulkan suara.


Dia tidak ingin tidur istrinya terganggu, terlebih setelah sadar dari koma Lisa kerap mengalami kesulitan untuk tidur. Bahkan ketika di rumah sakit, wajahnya selalu terlihat tidak nyaman dan gelisah saat tidur.


Perlahan Dave merangkak naik ke atas ranjang berukuran king size tersebut. Di tatapnya dengan seksama wajah istrinya dari dekat. Dave merasa sedih, ia begitu merindukan istrinya.


Walaupun ia bersama dengan Lisa setiap hari, namun beberapa hari ini sungguh benar-benar menyiksanya. Ia tidak tahan dengan kenyataan bahwa istrinya sendiri telah melupakannya.


Dave pun menatap ke arah perut Lisa yang tampak rata. Kini, calon bayi mereka sudah pergi dan Dave hanya bisa menghapus sudut air mata nya yang mulai basah itu.


Jauh di dalam hatinya, ia sangat sedih atas kepergian bayi mereka. Bahkan yang jauh lebih membuatnya sedih adalah karena Lisa tidak mengingatnya.


Dengan hati-hati ia pun mendekap tubuh istrinya yang sudah mulai terlelap itu. Ia pun menangis dalam diam sambil mendekap tubuh Lisa.


Dan ikut terlelap tanpa sadar ketika kantuk mulai menyerangnya. Hanya saja sebelum pagi tiba, Dave sudah kembali terbangun. Ia langsung membersihkan dirinya di bawah guyuran air hangat.


Setelah ia telah bersiap dengan pakaian kerjanya, Dave kembali menghampiri istrinya yang masih belum terbangun itu. Ia pun mengucapkan kata-kata pamit pada Lisa yang masih tertidur.


Tidak lupa, Dave pun memberikan kecupan hangat di dahinya juga memberikan ******* kecil di bibirnya. Lisa hampir terbangun karena ulah nakal suaminya itu, namun rasa kantuk mengalahkan nya.


Dave pun berangkat pagi-pagi buta karena memang perjalanan untuk keluar dari pulau tersebut menuju ibu kota adalah sekitar 2 jam menggunakan helikopter.


**


Malam harinya Lisa tampak termenung, sambil menatap ponselnya yang masih tak berdering setelah seharian menunggu. Lisa menjadi kesal sendiri karena Dave tidak juga menghubungi nya.


Tapi dirinya juga terlalu gengsi untuk menghubungi Dave lebih dulu. Sampai tanpa sadar matahari pun sudah beranjak, dan di sambut dengan suasana malam hari yang cukup dingin.


Angin bertiup cukup kencang dan langit malam pun terlihat menggelap menandakan jika hujan akan segera mengguyur pulau. Amy pun bergegas menutup jendela yang masih belum tertutup karena Lisa memintanya.


"Maaf nyonya, sepertinya hujan akan segera turun. Jadi saya harus menutup semua jendela." ujar Amy sembari mulai menutup jendela satu persatu dan menarik tirai penutupnya.


"Oh, ya tentu." jawab Lisa singkat.


"Belum, sepertinya dia sangat sibuk hari ini." ujar Lisa sembari tersenyum berpura-pura sedang tidak kesal.


"Nona, percayalah tuan sangat mencintai anda. Mungkin saat ini tuan memang sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan." jawab Amy menjawab keresahan yang berusaha Lisa sembunyikan.


"Apa maksudmu Amy, aku tidak berpikir seperti itu." kilah Lisa.


"Nona memang tidak berbicara seperti itu, tapi saya bisa melihat dengan jelas dari kedua mata nona jika sebenarnya nona sangat gelisah dengan kepergian tuan." jelas Amy dengan penuh keyakinan.


"Baiklah Amy, kau benar. Aku memang sedikit gelisah. Semenjak aku bangun, setiap saat David selalu menjagaku dan berada di sisiku. Jadi aku merasa sedikit tidak terbiasa ketika aku tidak bisa melihatnya. Padahal, ini baru 1 hari, bagaimana jika ia pergi selama 1 minggu atau bahkan 1 bulan." jelas Lisa mengungkapkan kecemasannya.


Amy tidak langsung memberikan jawaban atas apa yang Lisa ungkapkan dan hanya tersenyum simpul menatap ke dalam mata Lisa.


"Amy, kenapa kau hanya tersenyum menatapku seperti itu?" tanya Lisa dengan wajah sebal.


"Maaf nona, aku hanya merasa senang dengan ucapan anda." ujar Amy dengan jujur.


"Nona, selama anda koma aku bisa melihat dengan jelas jika tuan sangat setia dan begitu mencintai anda. Bahkan semua orang di villa ini pun mengetahui jika tuan sangat mencintai anda nona." sontak saja kalimat yang Amy ucapkan membuat Lisa tersipu.


"Tuan tidak pernah meninggalkan anda, nona. Dia selalu memprioritaskan anda lebih dari apapun. Apalagi tuan sampai membawa anda kemari untuk membantu pemulihan anda lebih cepat. Dan di sini, tuan sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna."


"Kau benar Amy, aku terlalu bodoh dan naif." ujar Lisa.


"Baiklah nona, karena itu sekarang taruh lah ponsel Anda sekarang dan beristirahatlah. Saya akan tidur di sini malam ini, dan jika tuan menghubungi saya akan segera membangunkan anda nona." tawar Amy.


"Baiklah Amy terimakasih." ujar Lisa sembari menggenggam tangan Amy dengan hangat.


Tak berselang lama, Lisa pun mulai terlelap ke alam mimpi. Sementara di kantor, Dave masih sibuk dengan setumpuk berkas yang harus segera ia selesai kan untuk segera memutus kekuasaan Benny dan Harry dari seluruh cabang perusahaannya.


Bahkan ia belum sempat makan siang sama sekali, meskipun Mike sudah menyiapkan nya. Dave hanya ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa secepatnya pulang. Dave pun selalu memberikan instruksi pada Mike untuk memantau perkembangan kondisi Lisa pada dokter Liam.


Ia juga terus memantau semua kegiatan Lisa sedari pagi dengan melihat melalui rekaman cctv di Villa yang sudah terhubung ke ponselnya. Bahkan ia bisa mendengar dengan jelas setiap apa yang Lisa ucapkan dalam percakapannya dengan Amy.


Karena Dave sudah memasang penyadap yang ia hubungkan dengan earphone yang ia kenakan di telinganya. Dave pun tersenyum senang ketika akhirnya mengetahui jika Lisa sangat merindukannya.


Ia menjadi lebih bersemangat untuk segera menyingkirkan Benny dan Harry agar mereka bisa secepatnya kembali dan hidup dengan tenang.