
Dave memilih untuk mengendarai sendiri mobilnya untuk membawa istrinya yang ingin jalan-jalan. Meski begitu para bodyguard tetap bersiaga dan mengikuti mereka tanpa sepengetahuan Lisa.
Dave tidak ingin lengah lagi dan mengakibatkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada istrinya. Lisa tidak tahu kemana Dave akan membawanya karena sejak pagi Dave tidak mengatakannya.
"Kita akan pergi kemana David?" tanya Lisa memecah hening dalam perjalanan.
David pun menoleh dengan seutas senyum yang menawan membuat Lisa menyadari jika tersenyum semanis itu, Pria di samping nya itu terlihat begitu tampan. Belum lagi dengan postur tubuh atletis dan juga penampilan yang menunjang.
"Sebentar lagi kita akan sampai." ujar Dave sembari mengelus pipi Lisa dengan sayang.
Lisa hanya bisa berdecak sebal lagi-lagi Dave tidak menjawab rasa penasaran nya sejak tadi. Ia memilih untuk melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang di tekuk.
Tidak sampai 20 menit berkendara akhirnya mereka pun sampai. Tidak terasa mereka telah melakukan perjalanan hampir 1,5 jam. Senyum di wajah Lisa terbit begitu saja begitu menyadari kemana Dave membawanya.
"Astaga David, terimakasih." ujar Lisa dengan antusias sambil mendekap tubuh suaminya begitu erat.
"Bukankah ini adalah tempat yang selalu kau ingin kunjungi, Ladang bunga tulip ini sangat luas. Aku tidak ingin kau kelelahan, bagaimana kalau menggunakan kursi roda saja sayang? Atau kau mau aku menggendong mu?" tanya David sambil merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan.
"Kursi roda saja." ujar Lisa begitu bersemangat dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"I love you sweety." ujar Dave dengan tatapan penuh cinta.
"David, aku.. "
"Sudahlah sayang, tidak usah di pikirkan. Aku lebih tahu hatimu yang sebenarnya walaupun tanpa kau ucapkan." ujar David dengan sorot mata sedikit mengembun.
Lisa bisa merasakan jika raut wajah David sedikit berubah dan tak secerah sebelum nya. Tapi entah kenapa rasanya sulit untuk mengucapkan kalimat cinta kepada David seolah ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya.
Padahal selama ini David sudah begitu baik padanya dan selalu merawatnya dengan penuh kesabaran. Bahkan ia memberikan semua fasilitas terbaik untuk nya agar ia merasa nyaman.
Saat ini yang terlintas dalam benak Lisa hanya dia merasa nyaman dan aman berada di dekat David. Tapi untuk menyebutnya sebagai cinta, Lisa masih merasa ragu. Ia takut, jika pada akhirnya ia akan mengecewakan David karena dirinya sendiri salah menafsirkan perasaannya.
Walaupun sejujurnya dulu ia sempat sangat menyukai David, tapi pertemuan mereka dulu sangat singkat. Bahkan sampai sekarang Lisa belum bisa meyakinkan dirinya sendiri apakah David hanya mencintai nya saja atau ada wanita lain seperti dulu.
Ya, perasaan yang baru saja tumbuh dan akan berkembang dulu harus segera patah ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika David tengah bercumbu dengan gadis lain.
Hatinya begitu sakit saat itu, ia merasa telah di khianati walaupun sebenarnya mereka belum memiliki kepastian tentang hubungan yang akan mereka jalani saat itu. Tapi karena itu adalah pertama kalinya dia menaruh hati pada seorang pria.
Maka dari itu, Lisa tidak mau terburu-buru dengan hubungan mereka saat ini. Biarlah saja waktu yang membawanya kemana ia akan berlabuh. Bisa saja hubungan mereka akan berakhir cepat seperti dulu.
Lisa tidak ingin kecewa dan gagal untuk yang kedua kalinya. Dave pun merasa sedikit tercubit hatinya manakala sang istri bahkan tidak bisa membalas ungkapan cintanya.
Dave sangat takut, jika perlahan perasaan Lisa padanya akan memudar seiring ingatan tentang nya yang tak lagi ada. Ia begitu sangat takut kehilangan istrinya, belahan jiwanya.
Mereka jadi bisa lebih bersantai menikmati pemandangan di sana. Dave juga sudah mengirim pesan pada salah satu bodyguard nya untuk menyiapkan peralatan piknik dan juga makanan di sebuah spot yang sudah David tentukan.
Setelah hampir 1 jam berkeliling dan melihat-lihat akhirnya Dave membawa Lisa ke spot piknik yang telah ia siapkan.
"Sebaiknya kita istirahat dulu disini." ujar David sembari mengangkat tubuh istrinya dan memindahkan nya ke atas karpet yang sudah di siapkan.
"David, kapan kau menyiapkan semua ini?" tanya Lisa sedikit terkejut.
"Itu bukanlah hal yang penting sayang, sebaiknya kita makan dulu sekarang." ujar Dave sembari menyiapkan beberapa roti isi daging untuk istrinya.
Dave juga menuangkan segelas jus strawberry untuk Lisa. Terdapat beberapa kotak berisi camilan dan juga buah-buahan yang segar yang sudah di potong dan siap makan.
Tidak ada percakapan lagi di antara mereka selagi menyantap makan siang yang sedikit terlambat itu. Sementara Dave memilih pasta sebagai makan siangnya.
***
Jika Dave dan istrinya tengah asik berpiknik ria di tengah ladang bunga tulip yang indah. Lain halnya dengan Mike yang sejak pagi harus pontang-panting mengurus pekerjaan yang di tinggalkan oleh bosnya itu.
"****!! Lagi-lagi hanya aku yang terjebak di sini sedangkan dia tengah asik bermesraan dengan istrinya. Menyebalkan!" Racau Mike yang saat ini baru tiba di ruangannya setelah bertemu beberapa klien penting dan mengadakan rapat dengan beberapa staff mengurus suatu project.
Hampir pukul 3 sore, Mike baru bisa menyisihkan waktunya untuk menikmati sarapan pagi. Itu pun sambil memeriksa beberapa berkas penting.
Gerakan tangannya terhenti tatkala mendengar dering ponselnya yang berbunyi, begitu melihat nama yang tertera di ponselnya Mike segera menggeser layar untuk menjawabnya.
"Hallo kakek, apa kabar?" tanya Mike.
"Kakek baik-baik saja di sini, Kau sendiri bagaimana Mike? Apa sejauh ini mereka ada pergerakan?" tanya kakek.
"Orang-orang kita selalu mengawasi mereka, kakek tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja." ujar Mike menenangkan kakek Antoni.
"Terimakasih Mike, kau memang selalu bisa di andalkan. Kakek dan David beruntung memilikimu di sisi kami." ujar kakek Antoni bersungguh-sungguh.
"Tidak kakek, justru aku yang beruntung karena bisa memiliki keluarga lagi seperti kalian." jawab Mike dengan tulus.
"Baiklah, apa kau sangat sibuk nak? Kapan kau akan menikah seperti David? Kakek sudah tidak sabar menunggunya." tanya kakek sedikit menggoda Mike.
"Bagaimana mungkin aku bisa menikah kakek, jika cucumu saja tidak memberiku waktu bahkan untuk berkencan." batin Mike menggerutu.
"Sudahlah kakek, tidak perlu memikirkannya. Aku baik-baik saja walaupun sendiri. Mungkin Tuhan masih menyiapkan jodoh terbaik untuk ku." jawab Mike mencoba menghibur tuannya yang sudah seperti kakeknya sendiri.
Mike tidak akan pernah lupa bagaimana besarnya jasa keluarga Walton dalam hidupnya. Bahkan kakek selalu memperhatikan nya sejak ia kecil dan tak pernah membedakannya dengan Dave dalam fasilitas atau pun pendidikan.
Hanya saja Mike sangat tahu diri, dari mana ia berasal. Ia tidak akan melupakan asal usulnya dan juga tujuan hidupnya untuk terus mengabdi pada keluarga Walton. Ayahnya bahkan sampai nafas terakhirnya, selalu mengingatkan nya tentang itu.