My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Rapuh yang sesungguhnya



"Bisakah aku menemui istriku sebelum operasi? " tanya Dave setelah beberapa saat.


Ia mencoba untuk lebih tenang, setelah beberapa menit. Ada yang lebih penting daripada dukanya saat ini, ia harus melihat kondisi Lisa dengan mata kepalanya sendiri. Ia harus mendampingi istrinya, dalam keadaan sulit ini.


Nick dan Melissa pun mengangguk pelan, setelah memberikan penjelasan mengenai keadaan istrinya mereka pikir Dave mungkin akan lebih berlapang dada ketika melihat Lisa dengan mata kepalanya sendiri.


Mereka bertiga pun bergegas meninggalkan ruangan Nick dan kembali ke emergency room dimana kedua bodyguard bayangan yang sejak tadi berjaga masih berdiri di sana dengan wajah tertunduk.


Dan Mike kini berada di sana, tanpa sungkan ia memberikan pelukan hangat untuk bos sekaligus sahabatnya tersebut selama beberapa saat. Ia bisa melihat dengan jelas jika Dave tengah benar-benar terpuruk dan kacau. Mike ingin mencoba menghibur Dave, tapi kata-kata seakan tercekat di tenggorokannya enggan untuk keluar.


"Saya yakin tuan, nyonya akan baik-baik saja." ujar Mike pada akhirnya membuat dada Dave kembali bergemuruh sesak.


Nick pun menatap memberikan isyarat pada Mike dengan menggelengkan kepalanya pelan. Mike pun mengerti jika mungkin kondisi nyonya mudanya itu dalam keadaan tidak baik.


"Aku akan melihat kondisi istriku dulu." ujar Dave dengan suara parau nya.


Dengan tangan sedikit bergetar Dave memegang ujung gagang pintu bersiap masuk. Ia pun mencoba mengatur nafasnya selama beberapa saat untuk menenangkan hatinya.


Degh,


Pemandangan menyedihkan yang ia lihat pertama kali setelah beberapa langkah memasuki emergency room adalah ketika ia melihat kedua bodyguard yang ia utus untuk mengantar istrinya dalam keadaan sangat parah.


Bahkan beberapa petugas medis tengah mencopot beberapa peralatan yang menempel di tubuh nya. Dave pun bisa mengerti, jika kondisinya sudah tidak tertolong lagi.


"Mike, berikanlah pemakaman yang layak dan kompensasi yang pantas untuknya. Ucapkan permintaan maaf dan terimakasih ku untuk keluarganya juga." titah Dave pada Mike yang berdiri di sampingnya.


"Baik tuan, saya akan segera mengurusnya. " jawab Mike kemudian segera pergi untuk menghubungi seseorang.


"Nick, bagaimana keadaan yang satunya? " tanya Dave sembari menatap lurus ke arah bodyguard yang sedang berbaring dengan mata terpejam dan tubuh di penuhi beberapa peralatan bantu medis.


"Saat ini, dia mengalami koma. Dan kemungkinan kakinya akan mengalami kelumpuhan jika ia tersadar nanti." jelas Nick membuat Dave kembali menghela nafas beratnya.


"Berikanlah perawatan terbaik untuk nya, dan tolong pastikan jika keadaannya akan membaik." ujar Dave.


"Baiklah." jawab Nick lalu menuntun Dave ke tempat dimana Lisa berada.


Melissa pun membuka sebuah tirai yang menutup, dimana seorang perempuan tengah terbaring dengan mata terpejam. Kepalanya terlilit kain kasa, dan salah satu perawat baru saja selesai menggantikan pakaian Lisa yang berlumuran darah.


Dave bisa melihat jelas, bahwa istrinya tampak sangat kacau dengan beberapa luka robek di pipi, hidungnya patah akibat terbentur cukup keras, dan kakinya juga mengalami retak tulang di beberapa bagian.


Lehernya menggunakan penyangga, dan ia harus memakai alat bantu nafas dan alat monitor jantung. Sementara salah satu tangannya terpasang selang infus dan selang transfusi darah.


Air mata kembali lolos dari kedua matanya, kakinya mendadak lemas dan membuatnya hampir tidak bisa berdiri. Tapi Dave tetap mencoba menguatkan hatinya, ia berjalan mendekat ke salah satu sisi ranjang istrinya.


"Sayang, aku berjanji kamu akan baik-baik saja. Bertahanlah untukku hem?" ujar Dave kini mencium lembut tangan istrinya.


"Nyonya Lisa masih dalam pengaruh obat bius tuan, beberapa saat lalu nyonya sempat tersadar dan menanyakan keberadaan anda tuan sebelum akhirnya ia kehilangan kesadarannya kembali." jelas kepala perawat yang sejak tadi menangani Lisa untuk pertolongan pertama.


"Tentu saja Dave, aku akan melakukan yang terbaik. Bahkan aku akan memimpin operasi ini sendiri secara langsung. Beristirahatlah lebih dulu, operasi akan di mulai dalam 30 menit. " jelas Nick membuat Dave bisa bernafas sedikit lega.


Dan Mike pun kembali menghampiri nya untuk mengajaknya beristirahat sejenak sambil mengisi perut di cafetaria rumah sakit. Awalnya Dave menolak, tapi Mike terus membujuknya dan mengatakan jika Dave harus tetap kuat untuk mendampingi Lisa.


Jika Dave lemah, maka bagaimana mungkin Lisa akan bertahan. Satu kalimat itu membuat Dave akhirnya mengikuti saran Mike. Dave memang belum sempat makan siang ketika sedang memimpin meeting tadi.


Bahkan ia juga melewatkan sarapan paginya karena sangat terburu-buru tadi pagi. Setelah menikmati segelas jus kiwi kesukaan istrinya, ia pun memakan sepotong sandwich. Setelah itu mereka kembali ke ruang operasi dimana istrinya kini telah berjuang.


Bahkan Nick menjelaskan jika Lisa harus menjalani beberapa kali operasi untuk patah tulang. Dapat di pastikan nanti selama beberapa waktu, istrinya harus duduk di kursi roda.


Memikirkan semua itu membuat kepalanya nyaris pecah dan di penuhi sesak dalam dadanya. Tiba-tiba ia pun teringat seseorang, ia belum melihat bibi May.


"Mike, aku belum melihat bibi May. Dimana ia? dan bagaimana keadaannya." tanya Dave.


Mike pun hanya bisa terdiam, bibirnya seakan kelu untuk berucap. Nick sudah memberitahu nya perihal bibi May yang tidak bisa tertolong lagi, bahkan ia sudah meninggal di tempat kejadian kecelakaan.


"Mike, kenapa diam saja? bagaimana kondisinya? aku harus memastikannya! " bentak Dave membuat Mike kembali tersadar dari lamunannya.


"Maaf tuan, jenazah bibi May sedang siapkan untuk di makamkan. Bibi May meninggal di tempat kejadian, ia sudah tidak tertolong." jelas Mike kembali membuat hatinya seperti di hantam batu besar.


Dave hanya bisa terduduk lemas mendengarnya, bibi May adalah pengasuhnya sejak kecil. Dave sangat menyayangi nya dan sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri. Karena itulah meskipun ia sudah beranjak dewasa ia terus mempertahankan bibi May.


Dave kembali berduka karena lagi-lagi ia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai. Saat ini ia hanya bisa berdoa jika keadaan istrinya akan segera membaik. Ia benar-benar tidak akan sanggup jika harus kehilangan istrinya juga.


"Mike semayamkan bibi May di dekat makam kedua orangtuaku besok pagi. Aku akan menghadiri pemakamannya secara langsung." ujar Dave dengan parau.


"Baik tuan." jawab Mike tak bisa berkata banyak.


Ia sangat tahu seberapa besar duka dari tuannya saat ini. Selain kehilangan calon bayinya, tuannya juga harus merelakan seseorang yang sudah merawatnya sejak kecil dan sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Dave mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang istrinya, selama beberapa menit Dave hanya terdiam menatap kosong ke arah istrinya. Ia juga tak pernah melepaskan genggaman tangannya semenjak ia kembali dari cafetaria.


Sampai akhirnya beberapa orang perawat dan juga dokter Melissa datang untuk membawa Lisa menuju ruang operasi. Dave semakin mengeratkan genggaman tangannya, berharap Lisa bisa merasakan kehadirannya.


"Maaf tuan David, kami harus segera membawa nyonya ke ruang operasi." ujar dokter Melissa dengan sopan.


"Baiklah, tunggu sebentar." ujar Dave sembari bangkit dari duduknya.


Dave pun mendekap tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, ia pun membisikkan kalimat penyemangat dan kalimat cinta untuk istrinya.


Ia berharap Lisa bisa mendengar dan merasakannya.


"Berjuanglah sayang, bertahanlah demi aku. Jika kamu juga pergi meninggalkan aku, maka aku juga akan mengikuti mu." bisik nya lagi lalu mengecup kening Lisa dengan sayang.