
Sepulang dari salon, Lisa lebih banyak diam dan merenung. Keterkejutannya selama ini belum berhenti saat ia meminta Amy untuk menjelaskan kebenaran tentang nya.
Awalnya Amy merasa ragu dan takut karena ia sudah berjanji pada tuannya akan turut menjaga rahasia tersebut demi kebaikan Lisa.
Namun pada akhirnya ia pun menceritakan segalanya karena tidak tega terus berbohong pada orang yang sudah ia anggap sebagai sahabat.
"Jangan katakan pada David, jika aku sudah mengetahui segalanya." ujar Lisa sebelum ia turun dari mobil ketika sampai di depan gedung tempat tinggal nya itu.
Lisa mengunci diri di dalam kamar dan tidak keluar sampai malam hari. Amy pun merasa khawatir karena Lisa sudah melewatkan jam makan malam nya. Karena itu, Amy pun memberanikan diri untuk memanggil majikannya itu.
"Nyonya, apakah anda baik-baik saja? tolong bukakan pintunya, anda sudah melewatkan jam makan malam." ujar Amy sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Lisa dengan pelan.
Tidak ada jawaban selama beberapa menit hingga di ketukan kedua akhirnya Lisa membuka mulutnya dan berbicara.
"Amy, aku tidak lapar. Biarkan aku sendiri saat ini. Aku hanya ingin menenangkan diri tanpa gangguan dari siapa pun."
"Sebentar lagi tuan akan datang, lalu apa yang harus saya sampaikan jika ia bertanya kenapa nyonya tidak makan. Nyonya, pasti Tuan akan curiga, haruskah saya membe." ceklak, suara pintu terbuka memotong ucapan Amy.
" Jangan coba-coba Amy. Ini adalah urusan ku dan suamiku. Akan lebih baik jika kau menutup mulutmu rapat-rapat." ujar Lisa pedas.
Brakk, ia pun kembali menutup pintu kamarnya dengan keras. Seketika Amy di buat terkejut karena ini adalah pertama kalinya ia melihat majikannya itu sangat marah.
Tidak ada kehangatan dan keramahan di wajahnya sedikitpun. Kedua mata yang biasa terlihat teduh itu terlihat berapi-api di penuhi dengan emosi. Gurat kekecewaan nampak begitu jelas tercetak di wajahnya.
Amy kembali melihat ponselnya untuk memastikan apa tuannya sudah membaca pesan yang ia kirimkan atau belum. Dan ternyata pesan tersebut belum terbaca sampai saat itu.
Dengan ragu akhirnya Amy memilih untuk menarik pesan singkat yang ia kirimkan untuk David. Ia berpikir mungkin ini sudah waktu nya Lisa mengetahui segalanya. Ia akan berpura-pura tidak tahu tentang kejadian di salon tadi dan tentang apa yang ia ceritakan pada sahabat nya itu.
~
Lisa merasa benar-benar marah dan kecewa karena telah di bohongi habis-habisan oleh laki-laki yang ternyata adalah suaminya. Ya, walaupun ia belum bisa mengingat segalanya, tapi kini ia telah mengetahui rahasia yang telah Dave tutupi setengah mati.
1 jam pun berlalu, Dave akhirnya tiba di rumah pukul 11 malam. Seperti biasa ketika ia pulang, ia akan melihat dan memastikan keadaan istrinya yang sudah tertidur lelap.
Dengan sangat hati-hati ia membuka kenop pintu kamar Lisa yang tidak terkunci agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu tidur istri tercintanya itu.
Terlihat Lisa telah berbaring dengan mata terpejam membelakanginya. Dave pun berjalan mendekat untuk melihat wajah yang sangat ia rindukan belakangan ini.
Ia tatap lamat wajah istrinya yang sedang terpejam itu dengan seksama. Tangannya bergerak terulur merapikan helaian rambut yang terjatuh menghalangi wajah Lisa dan merapikan nya.
"I miss you, baby.. I miss you so much.. " lirih Dave .
Tidak berlama-lama Dave kemudian bangkit berdiri mendekat ke arah istrinya. Ia kecup pelan puncak kepala istrinya dengan sayang, sembari membelai pipinya yang lembut dan putih bagai kapas.
Deg,
"Sa.. sayang kau bangun?" tanya Dave sembari berusaha menghilangkan keterkejutannya dan bersikap setenang mungkin.
Tidak ada jawaban yang terucap dari bibir berwarna chery itu. Ia hanya diam dan menatap lekat suaminya dengan tatapan tak terbaca. Membuat Dave seketika di landa kegugupan luar biasa yang entah berasal dari mana.
"Istirahatlah, ini sudah malam. Aku akan pergi untuk membersihkan diri terlebih dahulu." ujar Dave berusaha untuk menyembunyikan kegugupan nya.
"Tunggu." ujar Lisa menahan tangan suaminya untuk pergi.
"Ada apa sayang?" tanya Dave sembari mendudukkan diri nya d pinggiran kasur.
"Apa kau tidak merindukan aku?" ujar Lisa sembari merangsek masuk di pelukan suaminya.
"Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini." bohong Dave dengan perasaan bersalah.
Cup
1 kecupan mendarat di bibir Dave dan perlahan berubah menjadi ******* yang memancing gairah Dave naik seketika. Tanpa sadar Dave membalas serangan istrinya dengan lebih menuntut.
Lisa hanya mengikuti apa yang instingnya katakan. Perasaan Rindu yang tiba-tiba saja datang seolah membakar habis gairah di antara keduanya. Setelah sekian lama akhirnya mereka kembali menikmati malam yang panjang dengan bercinta.
Sedikit demi sedikit Dave mulai melepas satu persatu kain yang menempel di tubuh istrinya itu. Ia pun bermain di beberapa bagian tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya.
Hampir setiap jengkal kulit di tubuh Lisa kini di penuhi dengan stempel tanda kepemilikan dari suaminya yang berwarna kemerahan. Dave benar-benar mencumbui setiap inci tubuh istrinya dan tak memberikan celah sedikitpun untuk lolos.
Sekelabat bayangan mulai bermunculan dalam ingatan Lisa. Namun ia memilih untuk tidak memikirkan apapun terlebih dahulu dan menumpahkan semua kemarahannya dengan bercinta. Hingga akhirnya tubuh keduanya sudah tampak polos satu sama lain, Dave pun tersadar ketika hendak memasuki bagian inti tubuh istrinya.
"Sayang.. " panggilnya meminta persetujuan.
Lisa hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Dave yang awalnya merasa ragu, seketika menjadi kembali bersemangat. ******* dan erangan keduanya menjadi nyanyian merdu yang memenuhi ruangan.
Hingga akhirnya mereka pun mencapai puncak kenikmatan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Mereka pun mengulangi aktivitas ranjang mereka kembali setelah beberapa saat.
Sampai akhirnya hampir jam 3 dining hari, Lisa akhirnya jatuh tertidur entah karena hanya mengantuk atau benar-benar lelah setelah percintaan panas mereka yang berulang.
Dave seakan benar-benar menumpahkan semua kerinduannya untuk menjamah sang istri setelah hampir 1 tahun ia menahan diri.
Pertahanannya benar-benar runtuh malam ini, entah lah apa yang akan terjadi esok hari biarlah terjadi, pikir Dave.
Ia pun membawa tubuh istrinya yang terlelap ke dalam pelukannya. Beberapa kali Ia kecup puncak kepala istrinya itu hingga cairan bening perlahan lolos dari sudut mata nya.
"I love you honey, I love you so much." ujar Dave sembari menghirup dalam aroma tubuh istrinya yang sangat Ia rindukan.
Tak berapa lama Dave pun terlelap jatuh ke dalam mimpi yang membuainya dalam dinginnya malam.