
Dave kini sudah membersihkan dirinya dan berganti pakaian di rumah sakit. Beberapa orang melihat nya dengan tatapan aneh ketika ia tiba di rumah sakit dengan penampilan yang berantakan dan pakaian penuh darah.
Setelah tubuhnya di bersihkan Nick datang untuk mengobati luka di tubuh Dave secara langsung atas permintaan Mike. Ia pun sudah mengetahui perihal Dave yang terlanjur emosi dan pergi untuk menyerang mansion pamannya.
Mike tidak merahasiakan apapun dari Nick karena Nick merupakan orang yang bisa di percaya. Selain sahabat, Nick juga merupakan keponakan kesayangan uncle Harvey.
Harvey memiliki seorang putra di luar pernikahan dengan seorang wanita. Tapi Ia sendiri yang membesarkannya karena wanita yang Ia cintai meninggal ketika melahirkan.
Karena itulah ia memutuskan untuk tak menikah dalam hidupnya. Selain putranya, dia juga sangat menyayangi Nick yang merupakan keponakan kesayangannya.
"Kemarilah, aku akan mengobati luka mu." ujar Nick datar.
Dave pun berjalan menghampiri Nick yang tengah duduk di sofa yang berada di ruangan VVIP tersebut. Sangking mewahnya ruangan tersebut lebih mirip kamar hotel daripada sebuah ruang perawatan di rumah sakit.
Hanya orang-orang penting dan orang terkaya di negaranya yang biasa menggunakan ruangan VVIP tersebut.Ruangan tersebut di ciptakan bukan hanya untuk kenyamanan pasien dan keluarganya.
Tetapi juga untuk menjaga keamanan dan privasi para pemakainya. Dokter dan perawat yang bertugas pun sudah melalui tahap seleksi dan merupakan dokter dan perawat terbaik di sana.
Tidak sampai di situ, rumah sakit milik keluarga Nick tersebut di lengkapi dengan lift terpisah yang di peruntukan bagi penghuni dan pengunjung bangsal VVIP. Sehingga tidak akan bisa di jangkau oleh sembarang orang.
Dave memiliki beberapa luka sayatan di beberapa titik seperti tangan dan bahunya. Pelipisnya juga sedikit terluka ketika ia berhadapan dengan beberapa pengawal Benny tanpa memakai senjata.
Setelah membersihkan luka tersebut dan memberinya obat, Nick pun memasangkannya perban untuk membalut lukanya. Bahkan luka di bahunya harus mendapatkan setidaknya 4 jahitan karena tergores pisau anak buah Benny.
Dave tidak bergeming sedikitpun ketika Nick mengobatinya. Walaupun harusnya ia merasakan sakit ketika di obati, apalagi ketika luka di bahunya itu harus mendapatkan jahitan.
Baginya sakit yang ia rasakan di tubuhnya saat ini tidak sebanding sama sekali dengan apa yang sudah di alami istrinya. Nick hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar ketika selesai mengobati Dave.
Ia tidak ingin berbicara panjang lebar dengan Dave karena ia tahu saat ini situasinya sangat tidak tepat. Bahkan Dave tidak akan mendengarkannya barang sedikitpun untuk apa yang ia katakan.
"Baiklah, selesai. Aku pergi." ujar Nick sembari membereskan peralatannya yang telah ia gunakan tadi.
Tepat sebelum Nick melangkah keluar dari ruangan tersebut Dave pun akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Terimakasih." ujar Dave membuat Nick kembali menoleh sedikit terperangah.
"Daripada berterimakasih padaku, seharusnya kau meminta maaf pada istrimu. Jangan karena tersulut emosi, kau menyesal di kemudian hari. Beruntung uncle Harvey bisa mengirimkan bantuan untuk mu tepat waktu. Jika tidak, mungkin saat ini nasib istrimu menjadi lebih malang lagi. Ia harus menjadi janda bahkan saat ia sendiri pun dalam keadaan koma." ujar Nick begitu menohok.
Ia bersyukur karena bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Nick benar, harusnya ia memikirkan istrinya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan apapun.
Dalam keadaan tidur, Dave terkejut melihat kedua sudut mata istrinya yang telah berhari-hari terpejam itu. Bulir air mata terlihat jatuh dari sudut kelopak matanya yang tertutup.
"Sayang, apa kau sadar?" tanya Dave antusias menghampiri istrinya.
Nick pun yang mendengar perkataan Dave itu kembali dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia segera memasangkan stetoskop di kedua telinganya dan mulai memeriksa detak jantungnya.
Ia juga mengambil senter dari sakunya untuk memeriksa pupil mata Alisa. Dan Nick pun menahan kedua kelopak mata Lisa untuk terbuka untuk memastikan kesadarannya.
"Nyonya Walton, apakah kau mendengar ku? Jika memang ya tolong gerakan pupil matamu ke samping kanan ataupun kiri." dengan perlahan Lisa terlihat menggerakan kedua bola matanya ke kiri dan kanan.
Selain itu Nick pun menggenggam tangan kanannya Lisa dan kembali bertanya.
"Nyonya, bisakah anda mendengar saya? Jika iya anda mendengar, tolong berikan saya tanda.
Lisa pun mulai merespon, ia menggerakkan pupil matanya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana hasilnya? "
"Lisa sudah bisa merespon dengan menggerakkan pupil matanya, artinya dia sudah sadar dan mampu mendengar sekitarnya.
" Teruslah ajak ia untuk berbicara, dan berikan semangat untuknya. Aku sangat yakin jika tidak lama lagi Lisa akan mampu membuka matanya." ujar Nick tersenyum, membuat hati Dave lega.
Kabar baik yang di ucapkan Nick seolah menjadi angin segar bagi hatinya yang sudah terlihat gersang. Dave pun langsung mengambil langkah dengan sigap duduk di samping ranjang istrinya.
Tidak lupa, ia pun menggenggam tangan lembut istrinya itu dan tak henti mengecupnya dengan penuh rasa syukur.
"Semua hasil pemeriksaan istrimu menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Seperti mu yang terus menunggunya, pasti ia juga sedang berjuang sekuat tenaga untuk bisa kembali ke sisimu Dave." ujar Nick sambil menepuk-nepuk bahu Dave pelan.
Setelah itu, Nick pun berpamitan untuk kembali ke ruangannya karena ia masih memiliki banyak pekerjaan.
"Sayang, bangunlah bukalah mata mu. Aku sangat merindukanmu hum." ujar Dave sembari mengecup punggung tangan istrinya.
"Aku menunggu mu, semuanya orang di rumah menunggumu kembali lah.. " bisik Dave lembut di telinga istrinya.