My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Sebuah kebohongan



Matahari sudah mulai menampakan dirinya, namun kedua mata Dave masih enggan untuk terpejam. Dave akhirnya memilih untuk membersihkan dirinya lebih dulu ke kamar mandi di sebuah ruangan VVIP yang sudah ia siapkan untuk istrinya.


Salah seorang anak buahnya mendekat dan memberikan 2 buah paper bag berisi pakaian ganti untuknya dan juga makanan untuk sarapan paginya. Mike telah mengatur seseorang untuk menyiapkan semua kebutuhan tuannya selama di rumah sakit.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Dave hanya melirik ke arah paper bag berisi makanan yang berada di atas nakas. Tapi sungguh, ia sudah kehilangan selera makannya sama sekali.


Dave pun merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, ia ingat jika harus menghubungi kakeknya. Tanpa menunggu waktu lama kakek langsung menjawab panggilan telepon darinya seakan ia memang sedang menunggu.


"Halo kakek. " sapa Dave dengan tenang.


"Bocah tengik, kemana saja kau sejak kemarin aku menghubungi mu! Dimana cucu menantuku? Kenapa aku tidak bisa menghubungi nya sejak kemarin? Kalian sebenarnya dimana? Cepat katakan!" ujar kakek dengan kesal memarahi cucu kesayangannya itu.


Dave menahan diri dan mencoba menguatkan hatinya. Kondisi kakek nya saat ini tidak memungkinkan untuk mendengar kabar kecelakaan ini. Apalagi belakangan kondisinya tengah membaik, Dave tidak ingin kakek kembali jatuh sakit.


"Oh, ayolah kakek. Bagaimana aku bisa menjelaskannya jika kakek terus berbicara." ujar Dave dengan nada menyebalkan seperti biasa.


"Kami sekarang baik-baik saja, dan sedang berada di California. Lisa mendadak mendapatkan kabar jika salah satu sahabat nya tengah jatuh sakit. Karena itu, kami pergi dengan sangat mendadak kemarin." jelas Dave membuat kebohongan untuk meyakinkan kakeknya.


"Kau yakin tidak membohongiku? lalu dimana cucu menantuku? aku ingin bicara dengannya sekarang." ujar kakek masih ragu.


Firasatnya mengatakan jika sesuatu mungkin telah terjadi. Hatinya benar-benar tidak bisa merasa tenang dan nyaman jika belum memastikan semua nya.


"Kakek Lisa masih tidur, dia sangat kelelahan dengan perjalan kemari dan langsung ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya. Biarkan dia istirahat dulu, okay?" kisah Dave lagi-lagi mencoba meyakinkan kakeknya.


Ia pun mengirimkan sebuah foto dimana Lisa tengah tertidur di atas ranjang berukuran king size. Yang sebenarnya foto tersebut mereka ambil ketika mereka tengah pergi berlibur dan menginap di hotel beberapa bulan lalu.


"lihatlah kakek, aku tidak berbohong bukan?" ujar Dave menahan sesak di dadanya.


"Ya, ya baiklah kalau begitu. segeralah pulang jika urusan kalian sudah selesai. Kakek merasa sepi di sini." jelas kakek dengan suara lebih rendah.


Walaupun masih ada sedikit keraguan di hatinya, namun ia hanya bisa mencoba mempercayai cucunya itu. Entah kenapa kakek sangat merasa khawatir dengan Lisa.


"Baiklah kakek, kalau begitu sudah dulu ya. Aku akan pergi keluar sebentar untuk membelikannya sarapan yang dia inginkan, sebelum Lisa terbangun." pamit Dave seolah-olah ia benar.


"Baiklah, jagalah istri dan calon bayi kalian. Kakek akan menunggu kalian di rumah." ujar kakek membuat hatinya sedikit tercubit.


Bulir kristal terlihat mulai jatuh membasahi kedua pipinya setelah panggilan telepon berakhir. Dave benar-benar berusaha menahan sesak di dadanya.


Sebenarnya ia ingin sekali mengadu pada kakeknya tentang kondisi Lisa saat ini, ia sangat ingin mengadu betapa ia hancur saat ini harus menyaksikan istrinya berjuang antara hidup dan mati.


Bahkan ia ingin memberitahukan jika kini ia sedang sangat berduka karena telah kehilangan calon bayi mereka. Dan bodohnya, saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu keajaiban yang mungkin Tuhan berikan untuk keluarga kecilnya itu.


Tok tok tok,


Tiba-tiba saja suara ketukan di pintu terdengar, membuatnya menghapus air mata dari kedua pipinya dan mengambil nafas panjang sebelum akhirnya mengijinkan seseorang untuk masuk.


"Masuklah." ujar Dave singkat sembari membelakangi arah pintu sambil memasangkan sebuah jam rolex edisi terbatas di pergelangan tangannya.


"Baiklah, aku segera ke sana." ujar Dave bergegas memakai sebuah sweater rajut berwarna biru muda.


Dokter terlihat berjalan keluar ketika Dave sampai, dan tanpa berbasa-basi Dave pun menanyakan perkembangan keadaan istrinya.


"Bagaimana dokter ?" tanya Dave tergesa-gesa.


"Kondisi nyonya Walton sudah lebih baik dari semalam, hanya saja ia masih belum sadar tuan." jelas dokter Bryan sedikit takut memberikan jawaban.


"Apa maksudmu? katakan dengan jelas!" ujar Dave dengan tatapan mengintimidasi.


"M.. maksud saya nyonya mungkin akan mengalami koma untuk sementara waktu." lanjut Bryan menjelaskan.


Degh,


"Apa saja yang kalian lakukan sampai tidak bisa membuat istriku sadar huh?!" ujar Dave kembali menarik kerah sang dokter membuatnya semakin takut.


"Ma.. maafkan kami tuan, kami sudah mengupayakan yang terbaik. Saya benar-benar minta maaf." ujar dokter Bryan menunduk tak berani menatap Dave langsung.


Dave pun langsung melepaskan cengkramannya, sambil menghela nafas kasar.


"Kami akan segera memindahkan nyonya ke ruang perawatan, permisi tuan." ujar dokter Bryan di ikuti beberapa perawat yang tengah mendorong ranjang dimana istrinya terbaring dengan wajah yang terlihat pucat.


Dave pun akhirnya hanya bisa pasrah dengan kondisi yang menimpanya saat ini. Ia pun berjalan mengikuti para perawat dan mencoba mensejajarkan dirinya di samping istrinya itu tanpa lupa untuk menggenggam tangannya dengan hangat.


1 jam kemudian, James pun tiba di rumah sakit dengan di kawal beberapa bodyguard berjas hitam. Mike sudah memberitahu nya dimana ruangan Lisa berada. James merupakan salah satu orang penting di pemerintahan.


Karena itu kedatangannya menjadi hal yang membuat semua orang tampak gaduh. Mereka pun bertanya-tanya tentang tujuan kedatangannya ke rumah sakit tersebut.


Salah seorang perawat di lantai tempat dimana ruangan Lisa berada pun mencoba untuk menuntunnya dan menunjukkan ruangan yang ia tuju.


James tampak menghela nafas pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu kamar VVIP tempat dimana Dave dan Lisa berada di dalamnya.


"uncle James." ujar Dave sedikit terkejut dengan kedatangan sahabat ayahnya itu.


"Tenang lah Dave, aku yakin istrimu akan baik-baik saja. Ia wanita yang kuat dan tangguh." ujar James mencoba menghibur Dave sembari memberikan pelukan untuk menguatkannya.


"Terimakasih uncle, kau benar. Istriku adalah wanita yang kuat dia pasti akan bertahan." timpal Dave dengan mata yang sudah memerah, tetapi ia pun memaksakan sedikit kedua sudut bibirnya itu untuk terangkat sesaat.


"Aku sudah mendengar segalanya, kau tenang saja. Aku akan membantumu untuk menyelidiki kecelakaan istrimu ini. Jadi kau tenang saja, dan fokuslah untuk mengurus Lisa." ujar James membuat Dave semakin lega.


Ya selama ini, ia selalu beruntung karena di kelilingi orang yang baik seperti James dan Harvey. Meskipun ayahnya telah meninggal, tapi mereka berdua tidak pernah meninggalkannya dan selalu mendukungnya di setiap waktu.


James dan Harvey sudah seperti pengganti ayahnya. Dave sangat menghormati mereka dan begitu pun keduanya yang sudah menganggap Dave sebagai putranya sendiri.