
Tidak terasa 1 minggu telah berlalu dengan begitu membosankan. Lisa sedang berjalan-jalan di sekitaran taman belakang Villa dengan di temani oleh Amy yang kini menjadi teman baiknya.
Dan selama itu pula ia di buat sangat rindu dengan sosok suami yang tengah ia lupakan itu. Karena Dave benar-benar sangat sibuk selama itu, ia bahkan hanya menghubungi Lisa selama beberapa kali.
Meskipun begitu, Lisa tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya menunggu. Seperti yang sudah-sudah, Lisa banyak menghabiskan waktunya untuk termenung di depan kolam ikan yang ada di halaman belakang Villa.
Ratusan ikan hias terlihat berlarian di kolam dengan warna warna yang cantik. Sesekali Lisa melemparkan makanan ikan tersebut sembari menyahuti setiap pertanyaan yang di ajukan oleh Amy.
Semakin hari kondisi fisik Lisa semakin baik, walaupun belum bisa berjalan seperti biasa tetapi kondisinya sudah mengalami banyak kemajuan di tangan dokter Liam.
Seperti pagi ini, dimana gifs di tangannya sudah dapat di lepas. Walaupun Lisa masih harus sangat berhati-hati tapi ia sudah bisa menggunakan tangannya untuk melakukan hal-hal kecil.
"Nona, dokter Liam bilang bahwa tidak lama lagi kau akan bisa berjalan." ujar Amy mencoba menghibur Lisa yang terus melamun.
"Ya Amy." jawabnya singkat.
"Apa kau tidak senang nona dengan berita ini?" tanya Amy lagi.
"Tentu, aku senang." jawab Lisa lagi masih dengan wajah datarnya.
Amy pun hanya bisa menghela nafas berat karena merasa gagal dalam menghibur majikannya. Berbagai cara telah ia lakukan selama beberapa hari belakangan ini untuk menghibur Lisa tapi tetap saja ia hanya menghabiskan waktunya dengan termenung setiap hari.
Amy sedikit terkejut melihat sosok seseorang yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka. Ia memberikan isyarat pada Amy untuk diam dan pergi dari sana meninggalkan Lisa.
Karena sibuk melamun, Lisa bahkan tidak menyadari kepergian Amy dari sana. Selama beberapa saat laki-laki berpengawakan tinggi dengan tubuh berotot itupun hanya berdiri di belakang Lisa.
Tiba-tiba saja Lisa tersadar dari lamunannya, mencium wangi parfum yang begitu familiar oleh indra penciumannya. Entah mengapa ia merasa Dave kini tengah berada di sekitarnya.
"Hah, tidak mungkin. Apa mungkin aku terlalu merindukan nya sampai merasa dia ada di sini saat ini." ujar Lisa dengan lesu.
Tentu saja kalimat yang tercetus dari bibir tipis istrinya itu sukses membuat kedua sudut bibirnya tertarik lebar dengan segera.
Dengan tidak sabar Dave pun langsung berdiri di hadapan Lisa sembari tersenyum manis padanya.
"Hah! sepertinya aku mulai gila. Bahkan aku melihatnya di depanku sekarang." ujar Lisa tidak percaya dan bergegas memutar kursi rodanya bersiap pergi.
"Ayo Amy, antar aku ke kamarku. Ku rasa aku sudah hampir gila, bahkan kau terlihat seperti dia sekarang." ujar Lisa tanpa menoleh.
Dave pun dengan cepat menarik kursi roda Lisa yang hendak berjalan dan menahannya.
"Sayang, apa kau tidak merindukan ku?" tanya Dave pada akhirnya membuat jantung Lisa nyaris berhenti sesaat.
"Kenapa kau tega sekali, aku sudah bersusah payah untuk datang kemari dan kau malah mengabaikan aku hum? " tanya Dave lagi sembari berjongkok di hadapan istrinya.
"D.. David? kau kah ini?" tanya Lisa sedikit terbata.
"Tentu saja, ini aku. Lalu menurut mu aku ini siapa? Memangnya siapa yang kau harapkan untuk datang?" tanya Dave lagi berpura-pura marah.
Tanpa menunggu lagi Lisa pun langsung memeluk tubuh laki-laki yang tengah berjongkok di hadapannya itu. Laki-laki yang ia rindukan setiap hari dan ia tunggu kedatangannya.
Dave pun membalas pelukan istrinya itu dan langsung menggendong tubuh Lisa untuk membawanya ke kamar.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu ku berdua denganmu tanpa di ganggu oleh siapapun." ujar Dave sembari menggendong Lisa menuju kamar mereka.
Setelah sampai di kamar, dengan perlahan Dave meletakkan tubuh Lisa di atas ranjang berukuran king size tersebut. Sudah tersaji beberapa makanan dan minuman di meja yang terletak di samping ranjang.
Di sana juga terletak sebuah buket bunga mawar berwarna merah muda yang cukup besar. Dave segera mengambil buket bunga tersebut dan memberikan nya pada istrinya.
"Beautiful flower for beautiful wife." ujar Dave membuat senyuman di wajah Lisa tidak berhenti terkembang.
"No, i'm not. " ujar Lisa menerima bunga tersebut sambil tersenyum.
Ia pikir Dave hanya bercanda dengan menyebut nya sebagai istrinya. Walaupun yang sebenarnya tidak ia ketahui, itu adalah merupakan suatu kebenaran. Tapi Dave tidak ingin menanggapi nya dan mencoba mengabaikan nya.
Ia lebih memilih menarik pinggang ramping Lisa untuk kembali dalam dekapannya. Sudah 1 minggu ini, ia menahan diri untuk tidak kembali ke Villa meskipun ia sangat merindukan istrinya.
Bagaimanapun ia harus menyelesaikan apa yang telah ia mulai untuk menyingkirkan musuh-musuh yang tersembunyi selain Benny dan Harry. Tentu saja, itu semua sangat menyita waktunya selama seminggu ini, sampai ia bisa membungkam semua direksi yang semula berada di pihak Benny.
Setelah memastikan kendali perusahaan telah berhasil dalam genggamannya sepenuhnya barulah Dave bisa dengan tenang untuk pulang dan menemui belahan jiwanya itu.
Sementara Mike yang akan menggantikannya selama 2 hari ia mengambil cuti dan menghabiskan waktunya di Villa dengan Lisa.
Dave bersikap sangat manja pada Lisa, ia bahkan terus berbaring di pangkuan istrinya itu sambil menonton film kesukaan mereka.
Dave sengaja mengulang kebiasaan yang biasa mereka lakukan ketika bersama agar membantu Lisa mengingatnya. Dave tidak akan putus asa dan terus berusaha sampai Lisa bisa mengingatnya kembali.
Waktu berlalu dengan cepat, sampai malam pun telah tiba. Para pelayan telah menyiapkan makan malam untuk mereka, namun tidak ada yang berani mengganggu waktu majikannya itu bahkan sekedar untuk memberitahukan perihal makan malam.
Sampai akhirnya dokter Liam lah yang turun tangan untuk menghampiri pasutri yang tengah saling melepas rindu itu.
Tok tok tok,
"Ada apa? " tanya Dave tanpa beranjak dari pangkuan istrinya."
"Ini dokter Liam tuan."
"Ada apa? " tanya Dave langsung ketika telah membuka pintu kamarnya dan berdiri di hadapan dokter keluarga nya itu.
"Begini tuan, para pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk anda dan nyonya muda. Tapi mereka tidak berani untuk mengganggu, karena itu saya yang datang kemari." jelas dokter Liam mencoba menyembunyikan Kegugupan nya.
"Lantas kau berani?" tanya Dave mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak tuan, saya hanya mengkhawatirkan kondisi nyonya yang masih dalam pemulihan." kisah dokter Liam berusaha memberikan jawaban yang tidak menyinggung Dave.
Dan benar saja, begitu ia menyebut nama istrinya seketika Dave pun langsung luluh di buatnya. Ia segera mengubah ekspresi wajah garangnya itu dan berkata jika mereka akan datang 5 menit lagi.
"Huh! Untung saja aku bisa menjawab dengan tepat!" ujar dokter Liam sembari berjalan menuju ruang makan sembari mengelus dadanya menenangkan.
"Kerja bagus dokter." ujar Amy dan 1 perawat lainnya yang sejak tadi mengintip dari samping kamar mereka.
"Ya, aku rasa kita harus sering-sering menggunakan nama nyonya sebagai perisai untuk menghadapi tuan." ujar dokter Liam sembari tersenyum lebar.