
Lisa terbangun dengan senyum mengembang. Suara kicauan burung terdengar jelas memekik di telinganya dengan merdu. Dengan bersemangat Lisa bangun dari tempat tidurnya dan menuju jendela kemudian menariknya dengan gerakan cepat.
Seseorang yang tengah terlelap pun tampak bergumam dengan mata terpejam sembari menarik selimut menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.
"Sayang, ini masih terlalu pagi." ujar Dave dengan suara yang serak dan berat.
Lisa pun hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu berjalan menghampiri ranjangnya kembali dan menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya itu.
Lisa pun mempunyai ide bagus untuk membuat suaminya itu bangun dari tidur lelapnya. Segera ia dekati tubuh suaminya yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat lalu membisikkan beberapa kata di telinganya.
Tidak menunggu waktu 1 detik pun Dave langsung terbangun dari tidurnya dan dengan cepat berlarian ke kamar mandi. Lisa pun tertawa terpingkal-pingkal sembari memegang perutnya.
1 jam kemudian Dave dan Lisa pun tengah menikmati sarapannya di meja makan. Lisa memakan lahap sarapannya sambil tak bisa berhenti tersenyum. Sementara Dave yang merasa di bohongi oleh istrinya itu hanya mengerucutkan bibirnya dengan sebal.
Wajahnya memperlihatkan jika ia sedang benar-benar menahan kesal terhadap istri yang ia nikahi 8 bulan yang lalu itu. Setelah menikah Dave langsung memboyong istrinya itu untuk tinggal di rumah megah keluarga Walton.
Mereka membuat resepsi yang sederhana, sebuah pesta bertemakan outdoor. Pesta tersebut hanya di hadiri oleh sahabat, dan keluarga panti serta kerabat dekat keluarga Walton.
Lisa awalnya sedikit ragu ketika Dave mengajaknya untuk menikah sementara ia sendiri tidak bisa mengingat apapun. Tentang siapa Dave baginya. Tapi Dave selalu merawatnya dengan sangat sabar dan perhatian selama dia di rumah sakit sampai ia kembali pulih.
**
"Sayang, sudahlah. Kau tidak perlu merasa kesal lagi tentang tadi. Aku akan melihat kakek, apakah ia sudah makan dengan baik atau tidak." ujar Lisa segera berdiri dari kursinya untuk mendekati suaminya.
Perlahan Lisa mengecup mesra bibir suaminya itu agar suasana hati Dave segera membaik. Namun Dave tidak akan melepaskan istrinya begitu saja karena telah berani menggodanya di pagi hari.
"Jangan membuatku membawamu kembali ke kamar sayang." bisik Dave di telinga Lisa ketika akhirnya ia melepaskan bibir tipis berwarna merah seperti Cherry itu.
"David, ayolah. Aku harus melihat kakek sekarang." bujuk Lisa agar Dave melepaskannya.
"No! Kau berani memanggil nama ku huh?" ujar Dave sengaja mengecup bibir istrinya tanpa henti.
"Baiklah, baiklah sayang please." ujar Lisa menyerah dengan tingkah konyol suaminya itu.
"Segeralah kembali, aku akan menunggumu." ujar Dave akhirnya melepaskan rengkuhannya dari tubuh Lisa.
Dengan segera Lisa berjalan ke kamar kakek Antoni yang berada di lantai 1. Setiap hari Lisa yang akan merawat dan menyuapinya dengan bantuan 2 orang perawat yang bertugas selama 24 jam di rumahnya untuk mengurus kakek.
Kondisi kakek menunjukan peningkatan setelah ia mendengar Dave berkata jika ia akan menikah. Kakek Antoni begitu bersemangat mengetahui hal tersebut.
Ia langsung menyukai Lisa bahkan pada saat pertama kali Dave membawanya ke rumah. Dave pun menceritakan kepada kakek tentang siapa Lisa sebenarnya yang adalah teman masa kecil Dave dari panti asuhan yang sering mereka kunjungi dulu.
Begitu sampai di kamar kakek, Lisa segera menanyakan bagaimana keadaan kakek Antoni yang baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
"Kakek, bagaimana keadaan kakek hari ini? Apakah sudah jauh lebih baik?" tanya Lisa sembari mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.
"Tidak ada yang lebih baik dari pada hari dimana setelah kau menikahi David nak. Kakek benar-benar sangat bahagia, dan kakek selalu berdoa pada Tuhan agar kalian tidak akan pernah terpisahkan." ujar kakek dengan sungguh-sungguh sembari mengusap lembut punggung tangan Lisa.
"Terimakasih karena kakek mau menerima dan menyayangiku seperti cucu kakek sendiri. Aku sangat bahagia memiliki David dan kakek di hidupku." ujar Lisa jujur.
"Tentu saja nak, kau adalah wanita yang sangat David cintai. Ketika pertama kali kakek melihatmu, saat itu kakek tahu jika kakek bisa meninggalkan David denganmu. Kakek sangat yakin, kau adalah yang terbaik yang telah Tuhan ciptakan untuk menjadi cucu menantuku." ujar kakek tulus.
Walaupun karena kecelakaan beberapa bulan lalu menyebabkan ia mengalami hilang ingatan, tapi dari Dave, ia tahu jika dirinya sudah menjalani hidup yang malang untuk waktu yang cukup lama.
Karena itu Lisa bertekad untuk selalu menjaga dan mempertahankan keluarga barunya ini apapun yang terjadi. Lisa sangat mencintai suaminya dan menyayangi kakek Antoni seperti kakeknya sendiri.
***
Siang harinya Lisa memutuskan untuk membuat bekal makan siang untuk suaminya dan mengantarkannya secara langsung. Ia begitu bersemangat untuk memasak makanan kesukaan suaminya dengan penuh cinta.
Setelah lebih dari 1 jam bertempur dengan alat masak di dapur akhirnya ia bisa menyelesaikan makanannya. Lisa bergegas pergi ke kantor setelah menyiapkan makan siang kakek Antoni dan menyerahkannya kepada suster yang bertugas merawat kakek.
Lisa pergi ke kantor Dave di antar oleh supir pribadi yang telah Dave pekerjakan khusus untuk mengantar istrinya kemanapun ia akan pergi.
Lisa tidak memberitahu Dave jika ia akan datang karena ingin memberikan kejutan. Setelah menembus kemacetan selama hampir 1 jam akhirnya ia sampai di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat megah.
Terkadang Lisa dibuat takjub dengan takdir yang membuatnya bisa menikahi seorang konglomerat di negara A tersebut. Apalagi dengan latar belakang dirinya yang hanya seorang atlet yang pernah mendapatkan medali emas dalam Olimpiade tingkat internasional.
Selain prestasi, Lisa tidak memiliki apapun yang bisa ia banggakan. Ia bahkan tidak memiliki keluarga dan tidak pernah mengetahui siapa orangtuanya.
Setelah mengingat semua itu hatinya menjadi sedikit sedih, ia sangat ingin mengingat semuanya kembali. Namun setelah melakukan berbagai pengobatan dan terapi, ia tetap tidak mengingat apapun.
Yang bisa ia lakukan hanyalah bersyukur atas semua nikmat yang Tuhan telah berikan padanya saat ini. Ia sehat dan sangat bahagia dengan pernikahannya. Lisa telah memiliki segalanya, keluarga yang hangat dan bahagia menjadi berkah terbesar baginya.
Ting,
Pintu lift pun terbuka, ia telah sampai di lantai 28 gedung tersebut dimana hanya terdapat ruangan beberapa petinggi perusahaan dan ruang meeting. Lisa segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Dave.
Sasha yang merupakan sekretaris Dave di kantor pun segera menghampiri dan menyapa Lisa. Wajahnya mendadak terlihat pucat dan kebingungan melihat kedatangan istri dari bosnya itu.
"Nyonya, anda datang? eh Apa kabar nyonya?" tanya Sasha menyapa dengan ramah sekaligus bingung.
"Hai Sasha, dimana suamiku? Apakah ia ada di ruangannya? atau dia sedang ada meeting?" tanya Lisa sembari terus melangkah menuju ruangan suaminya.
"Eh, itu nyonya.. tuan David sedang ada tamu di ruangannya." ujar Sasha membuat langkah Lisa terhenti.
Ia pikir mungkin ia datang di waktu yang tidak tepat. Lisa takut jika ia akan mengganggu pekerjaan suaminya. Ia menjadi bingung sembari memperhatikan kotak bekal makanan yang sedang ia pegang di tangannya.
"Sasha, bisakah kau tolong temani aku di ruang tunggu sebentar?" tanya Lisa akhirnya memutuskan untuk menunggu suaminya selesai.
Dengan sedikit ragu Sasha pun mengangguk dan mengikuti Lisa ke ruang tunggu yang berada tepat di samping ruangan suaminya itu. Sasha pun menawarkan diri untuk membuatkan Lisa minuman, namun Lisa menolak dan berkata jika ia tidak haus.
Lisa pun memutuskan untuk membaca majalah yang ada di atas meja. Tidak sampai 5 menit, seorang wanita berpakaian seksi keluar dari ruangan Dave membuat Lisa terkejut.
Sebelum wanita tersebut keluar terdengar suara Dave berteriak marah dari dalam ruangan. Dan tiba-tiba seorang wanita keluar dari ruangan Dave dengan kesal sambil membanting pintu sambil berteriak frustasi.
Lisa hanya bisa mematung melihat pemandangan tersebut. Wanita yang ia lihat terasa sangat tidak asing, tapi Lisa tidak ingat dimana ia pernah menemui wanita tersebut.
Bergegas ia masuk ke ruangan Dave di ikuti oleh Sasha. Belum sempat Lisa berbicara, Dave lebih dulu berteriak kesal memarahi sekretarisnya itu.
"Apa kau tuli? Kenapa kau membiarkan dia masuk Sasha? Sudah ku bilang untuk mengusirnya jika ia datang kembali kesini! " bentak Dave kesal sembari membanting sebuah berkas ke sembarang arah.
"Siapa itu David? kenapa kau sangat marah?" tanya Lisa dengan air mata menggenang di kedua kelopak matanya.