
Lisa terus termenung mengingat apa yang Dave dan Grace lakukan di lift. Kini Lisa sudah dalam perjalanan pesawat menuju kota tempat tinggalnya. Ia tidak pernah mengetahui jika ia dan Dave tinggal dan menetap di kota yang sama.
Pria tampan dan merupakan seorang pengusaha sukses seperti Dave pastilah memiliki kekasih yang sangat cantik seperti Grace, pikirnya. Lisa tahu siapa Grace karena wajahnya sering muncul dalam majalah edisi terbatas maupun televisi.
Mereka terlihat sangat cocok dan serasi, tidak seperti dirinya yang bahkan tidak pantas bersanding walau hanya sebagai teman.
Lain halnya dengan Lisa yang sedang patah hati. Dave begitu bahagia mengingat setiap momen petualangan mereka hari ini. Ia tidak mengetahui jika Lisa telah salah paham terhadapnya karena Grace.
Flashback,
"Lepaskan aku grace." ucap Dave dengan dingin sambil menyentak kedua tangan Grace yang masih bertaut di lehernya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa kau begitu kasar sekarang huh?" tanya Grace sedikit menahan kesal.
Selama mereka menjalin hubungan selama 4 tahun, Dave selalu memperlakukannya dengan baik dan sangat lembut.
Sampai akhirnya 1 tahun yang lalu Dave meminta Grace untuk berpisah dengannya. Tiba-tiba Dave meminta putus tanpa alasan yang jelas menurut Grace.
Tentunya Grace tidak bisa menyetujuinya begitu saja. Karena itulah ia terus menerus meneror mantan kekasih nya itu dan membujuknya agar mereka bisa bersama kembali seperti dulu.
Grace tidak mungkin melepaskan Dave begitu saja, mengingat latar belakang Dave yang merupakan pewaris tunggal keluarga Walter.
Salah satu keluarga terkaya di negara itu yang sudah tentu jika ia lepas, akan ada jutaan gadis menginginkannya.
"David, hubungan kita berakhir karena kau mencoba mengakhirinya seorang diri. Tanpa bertanya kepadaku!" Ujar Grace menjadi sedikit emosional.
Bukannya berhenti, Dave semakin mempercepat langkahnya untuk pergi ke kamarnya tanpa mau mendengarkan ucapan Grace lagi.
Lagipula, walaupun ia mau ia tidak mungkin bisa melanjutkan hubungan mereka karena kakek sudah menentangnya dengan keras sejak awal dan lagi Dave sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Grace. Grace telah melakukan sesuatu yang fatal menurut Dave tapi ia enggan untuk menjelaskan nya.
Entah kenapa kakek sangat tidak menyukai Grace, bahkan sejak pertama kali Dave memperkenalkan keduanya. Tapi setiap Dave bertanya alasannya, kakeknya selalu diam dan tak pernah menanggapinya.
Sesampainya di dalam kamar, Dave segera mengunci pintu kamarnya. Ia takut jika Grace akan nekat mengikutinya sampai ke kamar.
Ia pun segera mengambil ponsel di sakunya untuk menelpon asisten pribadinya itu.
"Mike, datanglah ke kamarku. Jika Grace berada di depan kamarku segera buatlah ia untuk cepat pergi." Ujarnya memerintahkan Mike untuk segera menemuinya.
Tidak sampai 5 menit Mike pun segera mengetuk pintu dan Dave pun langsung membukakannya. MikeĀ segera masuk ke kamar Dave.
"Mike, bagaimana Grace bisa berada disini? Bukankah kau sudah memastikan jika tidak ada yang akan mengetahui keberadaan ku di sini apalagi itu Grace?!" Ucap Dave menahan kesal.
"Maaf tuan, nona Grace mungkin sedang berada di kota ini untuk sebuah pemotretan. Karena itu, ia melihat tuan disini karena ia juga menginap di hotel ini." Jelas Mike.
"**** !! Sudahlah!" Ujar Dave sembari meneguk soda kaleng yang sedang ia genggam.
"Baiklah, segera urus kepulangan ku besok pagi." Ujar Dave memberi perintah.
Ia pun segera berjalan ke arah ranjangnya dan kembali memainkan benda persegi kesayangannya itu untuk menelpon Lisa.
Dave pun menyerah karena tidak kunjung tersambung. Ia pun kembali membuka ponselnya untuk melihat fotonya dengan Lisa yang tadi siang mereka ambil ketika sedang jalan-jalan.
Sembari kembali meneguk minuman bersoda di tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap memegang ponsel yang memperlihatkan potretnya dengan teman masa kecilnya itu.
***
Keesokan paginya Dave di buat terkejut ketika hendak menemui Lisa di kamarnya namun seorang petugas kebersihan mengatakan jika kamar tersebut telah kosong.
Dave pun segera menyuruh Mike untuk menyelidiki kapan Lisa pergi meninggalkan hotel dan ia pergi kemana.
Tidak menunggu lama, Mike kembali untuk membawa informasi yang telah ia kumpulkan untuk di beritahukan kepada bosnya itu.
"Tuan, nona Lisa telah check out dari hotel ini sejak malam dan bisa saya pastikan jika ia sudah kembali ke kota B dengan menaiki pesawat tadi malam." Lapor Mike pada Dave yang membuat Dave cukup terkejut.
Pasalnya sebelum ia berpisah dengan Lisa, ia ingat jika Lisa tidak mengatakan apapun tentang ia akan kembali malam tadi. Bahkan mereka sudah berjanji untuk sarapan bersama.
Dave sedikit khawatir karena sampai sekarang ponsel Lisa tetap tidak bisa ia hubungi. Tanpa menunggu lama Dave memilih untuk segera kembali bahkan tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun.
Ia hanya meminum beberapa teguk air putih sejak ia bangun dan memilih untuk kembali ke kota B menyusul Lisa. Beberapa saat setelah pesawat mendarat di airport, Dave kembali menghubungi nomor ponsel lisa yang masih tidak aktif.
Matahari sudah cukup terik ketika Dave sampai di depan sebuah gedung apartemen yang terlihat sedikit kumuh. Hatinya sedikit terenyuh memikirkan jika Lisa pasti mengalami hidup yang cukup berat setelah keluar dari panti asuhan.
Dave menghela nafas berat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu apartemen sederhana Lisa.
Tok tok tok,
Lisa yang tengah menonton televisi sembari melahap sepotong pizza yang berada di piringnya itu pun sedikit kebingungan.
Siapa yang akan datang berkunjung ke apartemen kecilnya itu, pikirnya. Karena seingatnya para sahabatnya belum ia beritahu jika ia sudah kembali.
Dengan malas Lisa berjalan menghampiri pintu untuk membukanya namun ia merasa ragu sesaat. Sehingga ia urungkan niatnya dan mengintip terlebih dahulu untuk melihat siapa yang datang.
Walaupun bukan di malam hari, ia harus bisa berjaga-jaga karena ini adalah kali pertama ia hidup sebagai orang dewasa yang tinggal sendiri di apartemen.
Walaupun bukan apartemen yang mewah dan mahal dengan fasilitas bintang lima, Lisa tetap merasa senang dan bersyukur. Setidaknya ia sudah bisa membiayai hidupnya secara mandiri dengan uangnya sendiri.
Lisa dibuat terkejut begitu melihat siapa yang berada di balik pintu tersebut. Tanpa sadar ia pun memundurkan langkahnya memilih untuk kembali ke ruang TV.
Ia mencoba mengalihkan pikirannya dan mencoba untuk memikirkan hal-hal lain. Tidak mungkin baginya memikirkan kekasih orang lain seperti Dave.
Dan lagi Lisa tidak ingin membiarkan hatinya terlanjur jatuh untuk seseorang yang bahkan tidak akan pernah bisa ia miliki. Ia sangat tahu diri jika Grace bukanlah seseorang yang bisa ia tandingi begitu saja.
Lisa hanya kembali melahap potongan pizza yang sudah hampir dingin tergeletak di meja. Ia mencoba menulikan pendengarannya dan mengalihkan pikirannya memikirkan hal-hal lain selain Dave tentunya.