
Dave baru tiba di kediaman barunya sekitar pukul 11 malam. Namun ia begitu terkejut mendapati istrinya tampak duduk dengan santai sembari membolak-balikan halaman demi halaman sebuah buku yang ia baca.
Sesekali tangannya meraih sebuah camilan kesukaan nya yang ada di sebuah toples tupperware berukuran cukup besar yang ia taruh di sisinya.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dave sembari duduk menghampiri istrinya yang tampak tidak terganggu.
"Seperti yang kau lihat." ujar nya singkat dengan acuh tak acuh.
Sikap Lisa yang cenderung mengacuhkannya itu sungguh membuatnya Dave tidak nyaman. Tapi ia juga menyadari jika saat ini pastilah istrinya sedang sangat kesal terhadapnya yang sekarang sangat sibuk.
Bahkan jarang sekali ia bisa meluangkan waktunya walau hanya untuk sekedar makan bersama atau berbincang santai. Lisa kini tengah merajuk, walaupun ia melupakan siapa suaminya tapi ia tidak merubah kebiasaan nya ketika sedang kesal.
"I'm so sorry honey." ujar Dave sembari merengkuh tubun mungil istrinya.
Tapi Lisa seakan menulikan pendengaran nya dan tidak terganggu sama sekali dengan apa yang Dave lakukan. Ia memilih bersikap acuh dari pada meladeni pria menyebalkan di samping nya yang tidak peka.
"Sayang, apa kau tidak mau memaafkan ku hum?" tanya Dave sembari mengecup pipi istrinya yang tampak putih mulus tanpa noda itu.
Dave pun menarik buku yang tengah Lisa baca dengan perlahan mengangkat tubuh istrinya bersiap membawanya ke kamar. Tentu saja Lisa sedikit berjengit kaget mendapati gerakan tiba-tiba sang suami.
"Apa yang kau lakukan? turunkan aku David." ujar Lisa dengan sedikit ketus.
Tapi Dave hanya membalasnya dengan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Dan terus berjalan menuju kamar mereka tidak peduli dengan protes yang terus di layangkan istrinya itu.
Setelah sampai di kamar, Dave menurunkan istrinya di atas ranjang dengan penuh kelembutan. Dave menatap ke dalam mata Lisa dengan tatapan penuh cinta, membuat Lisa memalingkan wajahnya begitu saja.
Perlahan Dave menarik dagu istrinya menuntun bibirnya untuk menyesap lembut bibir cherry milik istrinya itu yang sudah lama ia rindukan. Lisa hanya diam tak berminat membalas ciuman manis yang di berikan suaminya.
"Aku tahu, aku telah membuat mu sangat sedih belakangan ini. Tapi dengarlah sayang ini baik-baik, tidak ada sedikitpun niatku untuk membuatmu sedih. Semua hal yang ku lakukan dengan menahan mu dan melarang mu menyentuh dunia luar, karena aku belum bisa memastikan kau akan aman di sana. Percayalah, semua ini hanya ku lakukan untuk dirimu, bukan karena alasan apapun." jelas Dave dengan lembut setelah melepaskan tautan bibirnya.
Lisa terdiam dengan mata yang sudah mengembun bersiap meneteskan lelehan air mata yang sejak tadi ia tahan. Entah kenapa beberapa hari ini suasana hatinya sangat buruk, ia sering kali tiba-tiba merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Dan sikap Dave yang begitu posesif terhadap nya membuatnya semakin sesak dan muak. Ia ingin menikmati kebebasan, Hari-hari cerah di bawah sinar matahari melihat banyak hal di luar sana.
Dengan sigap Dave menarik tubuh ringkih istrinya ke dalam pelukannya. Lelehan air mata yang tampak senyap itu perlahan menjadi isakan kecil yang seakan tertahan tercekat di tenggorokannya.
Setelah banyak hal yang terjadi Dave tentu sangat memahami apa yang istrinya rasakan saat ini. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin ini semua sudah jalan takdir yang telah Tuhan gariskan untuk mereka berdua.
Hati Dave mencelos sakit saat mengingat laporan dari perawat sekaligus teman baru istrinya itu. Dimana Lisa selalu bercerita jika dalam beberapa hari ini ia sering memimpikan seorang bayi tengah menangis dalam gendongannya.
Bahkan Dave belum bisa mengobati luka hatinya karena telah kehilangan calon bayi mereka. Lalu bagaimana jika ingatan istrinya tiba-tiba kembali dan ia bisa mengingat semuanya.
Apa mungkin Lisa akan bisa menerimanya dengan lapang dada atau sebaliknya. Apalagi kehadiran calon buah hati mereka itulah yang selama ini begitu istrinya nantikan. Dave merasa takut sendiri jika Lisa akan kembali terguncang jika Dave menceritakan yang sebenarnya.
Karena itu ia rela di anggap sebagai pria jahat yang terobsesi dengan Lisa daripada menceritakan semua kebenaran pahit yang akan membuat hati istrinya hancur berkeping-keping.
Setelah puas menangis, akhirnya Lisa sampai tertidur di pelukan suaminya. Dengan hati-hati Dave membaringkan tubuh istrinya di ranjang takut jika ia akan terbangun kembali. Ia tatap wajah sendu istrinya, meskipun matanya sudah terpejam rapat namun kelopak matanya terlihat sedikit membengkak.
Dengan penuh kasih sayang Dave mendaratkan kecupan yang dalam selama beberapa saat di kening istrinya. Ia pun berbisik lembut di telinga istrinya mengucapkan maaf dengan penuh sesal karena telah gagal menjaga nya dan calon bayi mereka.
Dengan penuh kelembutan Dave mengangkat kepala istrinya memberikan lengannya sebagai bantalan, dan tanpa sadar Lisa pun merangsek masuk ke dalam pelukan suaminya mencari kehangatan dalam tempat ternyaman di sisinya.
"Good night wife, i love you so much." ujar Dave lembut kemudian ikut memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
**
Ke esok kan harinya Lisa terbangun di pagi hari dengan wajah yang lebih segar. Mood nya juga sudah sedikit membaik di bandingkan kemarin malam. Ia pun sedikit terkejut melihat pria dengan garis wajah tegas, rahang kokoh serta hidung yang mancung itu masih terlelap di samping nya.
Sejak di Villa Dave selalu tidur di kamarnya, meskipun Lisa berkali-kali menolak dan mengatakan jika hubungan mereka tidak sedekat itu untuk tidur bersama dalam satu ruangan dan ranjang yang sama.
Tapi Dave selalu mengabaikan protesnya seolah tak peduli. Sampai akhirnya Lisa lelah sendiri melayangkan protes yang tak pernah di tanggapi. Terkadang ia merasa heran jika Dave selalu menyebutnya dengan sebutan istrinya di hadapan para bawahannya.
Padahal jelas-jelas, jangankan menikah berkencan pun mereka tidak. Tapi apalagi yang bisa ia lakukan jika pria keras kepala yang selalu bersikap seenaknya itu sudah membuka mulutnya.
Dan harus Lisa akui, jika selama beberapa bulan ini entah kenapa ia merasa nyaman terhadap apapun sikap Dave padanya walaupun terkadang ia sering di buat jengkel dengan peraturan tak masuk akalnya.
Tapi sejauh ini, Lisa sadar Dave selalu menjaganya dan bersikap hati-hati karena untuk kebaikannya sendiri. Lelah memikirkan semua masalah itu Lisa memutuskan untuk bangun dan menepis segala pemikiran yang akan merusak mood nya di pagi hari.
Ia ingin segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri tapi ketika ia bangun, ia tak mendapati tongkatnya dimana pun di setiap sudut kamar. Dave yang merasakan pergerakan di sampingnya pun akhirnya terbangun dan bertanya.
"Morning honey. Apa yang kau cari?" tanya Dave sembari mengecup bibir Lisa singkat.
Tentu saja Lisa hanya bisa melotot sebal dengan tingkah pria di samping nya itu yang selalu bertindak seenaknya.
"Aku mencari tongkatku." jawab Lisa singkat tak ingin merusak pagi yang cerah ini.
"Apa kau ingin mandi?" tanya Dave lagi yang hanya di jawab anggukan kecil oleh Lisa.
Dave pun kemudian turun dari ranjang dan memutar ke sisi istrinya lalu menggendong tubuh istrinya itu tanpa aba-aba. Lisa pun hanya bisa mendengus kesal ketika Dave membawanya ke kamar mandi dan mendudukan nya di atas closet.
"Apa kau ingin berendam air hangat?" tanya Dave lembut lagi-lagi bukannya menjawab Lisa hanya mengangguk tanpa bersuara.
Dave pun langsung menyiapkan air hangat di bath up untuk istrinya berendam, dan mencampurkan beberapa tetes air mawar dan menyalakan lilin aroma terapi agar Lisa bisa lebih relaks.
"Mau ku bantu untuk membuka pakaian mu sayang? " tanya Dave lagi-lagi memantik rasa kesal di hati Lisa.
Ia pun melayangkan tatapan tajam pada suaminya tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Sementara Dave hanya terkekeh merasa lucu dengan respon istrinya.
"Panggilkan saja Amy." ujar Lisa singkat setelah mencoba untuk menetralkan kekesalan di hatinya.
"Dia sedang cuti sayang, semalam dia menghubungi ku untuk ijin karena tiba-tiba ayahnya masuk rumah sakit." jelas Dave lagi-lagi terdengar seperti sebuah kebohongan.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dia mengambil cuti dan ingin menghabiskan waktu dengan Lisa selama seharian penuh tanpa gangguan siapapun. Ia juga meminta bibi Sarah untuk berlibur selama 1 hari bersama Amy dan memberikan mereka uang untuk bersenang-senang.