My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Bab 32



Selama hampir 1 tahun belakangan ini Dave sudah bersusah-payah menekan hasratnya ketika sedang bersama Lisa. Ia tidak ingin menyakiti Lisa terlebih mengingat kondisinya yang sedang sakit selama ini.


Hingga akhirnya malam itu, ia hampir saja melakukannya. Tubuh Dave yang sudah di kuasai kabut gairah mendadak terasa hampa ketika Lisa mulai mempertanyakan sesuatu dan curiga dengan hubungan mereka.


Awalnya Dave berpikir jika mungkin ia akan memberitahukan semua hal yang selama ini ia simpan dengan rapat. Tapi di detik berikutnya ia tersadar, jika secara psikologis Lisa tidak dapat menerima kenyataan yang sebenarnya. Dan tentunya akan berdampak buruk bagi kesehatannya.


Sejak saat itu, Dave memutuskan untuk menjaga jarak dengan Lisa. Ia akan berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam untuk menghindari Lisa. Meski begitu Dave selalu menghubungi Lisa melalui ponsel untuk melepas rindu.


Walaupun itu tidak berarti banyak, setidaknya ia bisa melihat Lisa melalui sambungan video call. Lisa pun sebenarnya tersadar dengan perubahan sikap Dave yang seakan menghindari interaksi dengannya secara langsung.


Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak tentang itu. Amy yg setiap hari membantu dan menemani Lisa di penthouse setiap hari pun melihat Lisa sedikit berubah selama beberapa hari ini.


"Maaf tuan, selama beberapa hari ini, nyonya terlihat sedikit murung dan tidak bersemangat. Sepertinya nyonya juga sangat merindukan tuan. " ujar Amy ketika Dave menelponnya untuk menanyakan keadaan Lisa.


Meskipun sudah memantaunya melalui CCTV yang tersambung dengan ponselnya, Dave selalu mengkhawatirkannya.


"Amy, hari ini temanilah nyonya pergi berbelanja. Ajak dia pergi kemanapun yang ia mau. Aku akan mengirimkan sopir dan juga pengawal bayangan yang akan menjaga kalian diam-diam." ujar Dave akhirnya sambil menghela nafas panjang.


"Baik tuan." ujar Amy.


Amy pun menemui Lisa yang tengah berdiri di balkon menatap pemandangan kota di temani semilir angin di musim gugur.


"Nona, bagaimana kalau kita pergi ke mall XXX. Kita bisa pergi berbelanja dan juga menonton film di bioskop." ujar Amy membuat Lisa menatap heran.


"Oh, ayolah Amy tuan mu sudah mengurungku disini berbulan-bulan. Dan ia tak pernah membiarkan ku keluar dari gedung ini. Lalu bagaimana caranya aku menerima ajakan mu itu." ujar Lisa dengan sedikit kesal.


"Tidak nona, saya sudah mendapatkan izin dari tuan. 30 menit lagi sopir akan datang untuk menjemput kita. Mari nona, saya akan membantu nona untuk berganti pakaian." jelas Amy masih tak dapat membuat rasa percaya di hati Lisa tumbuh.


"Jika nona tidak percaya, saya akan bantu untuk menghubungi tuan kembali." ujar Amy langsung menekan panggilan ke nomor ponsel Dave.


"Halo tuan, nona ingin memastikan apakah tuan benar-benar mengizinkan kami pergi sekarang?" tanya Amy to the point.


"Tentu amy, bersenang-senanglah dengan istriku." jawab Dave dengan lugas.


Lisa pun tercenung sesaat, karena akhirnya setelah hampir 1 tahun ia terkurung Dave pun memberinya kebebasan untuk pergi.


"Sayang, ambillah black card yang ku simpan di laci nakas yang ada di kamar kita. Gunakanlah itu untuk bersenang-senang dengan Amy. Belilah beberapa pakaian dan juga apapun yang kau mau." ujar Dave membuat Lisa sedikit terkejut.


Sudah begitu lama ia tak mendengar suara Dave yang berbicara dengan lembut padanya seperti itu. walaupun itu tak berlangsung lama, karena Dave harus segera menghadiri meeting penting bersama para petinggi perusahaan.


Keberadaan Julian dan juga Edzhar sangat membantu mengurangi kesibukannya di kantor, namun Dave memilih untuk memiliki kesibukannya sendiri mengingat kejadian terakhir kali yang membuat Lisa curiga.


Tempat pertama yang mereka datangi adalah sebuah salon. Lisa memutuskan untuk melakukan beberapa perawatan. Anehnya secara alami, setelah memasuki mall tersebut kaki nya dengan yakin melangkah ke salon tersebut.


Seperti memang jika ia terbiasa datang, dan ia merasa cukup familiar dengan tempat tersebut. Lisa tercenung memandang sebuah tempat salon dan spa yang ada di depannya.


Lamunannya terputus sampai seorang perempuan berambut pirang menghampirinya.


"Nyonya Walton, senang sekali melihat anda datang lagi setelah sekian lama." Sapa seorang wanita berambut pirang yang tak lain adalah manager di tempat tersebut.


Lisa hanya bisa mengernyit mencoba mencerna apa yang beberapa detik lalu di ucapkan oleh wanita yang saat ini berdiri di hadapannya dengan senyuman yang terkembang dengan tulus.


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja? Apa yang terjadi? Apakah anda mengalami kecelakaan?" tanya nya lagi melihat Lisa menopang tubuhnya dengan sebuah tongkat.


"Ah, maaf sepertinya anda salah mengenali seseorang." ucap Lisa pada akhirnya.


"Nyonya, tolong jangan bercanda. Anda memang sudah hampir 1 tahun ini tidak pernah datang, tapi bagaimana mungkin bisa secepat itu melupakan saya ." ujar wanita bernama Tyana tersebut.


"Maaf, umm nona Tyana.. tapi saya tidak sedang bercanda saya memang tidak merasa mengenalmu. Dan lagi pula, ini pertama kalinya saya datang ke tempat ini." jelas Lisa membuat Tyana kembali terbahak tak percaya.


"Oh ayolah nyonya, jangan bercanda dengan saya seperti itu karena ini sangat tidak lucu." ujar Tyana kembali.


"Anda adalah salah satu pelanggan VIP di sini nyonya Alisa, mana mungkin saya bisa melupakan anda. Bahkan saya sendiri yang selalu memastikan kenyamanan dan service terbaik di sini untuk anda." jawab Tyana tak kalah yakin


Lisa hanya terdiam mendengar penjelasan Tyana sejak tadi, ia pun menyadari jika Tyana mungkin akan menjadi kunci baginya untuk mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang telah di tutupi oleh David selama ini.


"Nona, jika kau merasa tidak nyaman disini mari kita pergi." ajak Amy yang sudah mulai khawatir jika akan terjadi sesuatu pada Lisa.


"Aku mengalami kecelakaan setahun yang lalu Tyana, seperti yang kau lihat bahkan aku tidak bisa menopang tubuhku sendiri tanpa bantuan tongkat ini. Dan sepertinya aku melupakan banyak hal termasuk dirimu. " jelas Lisa dengan tenang.


"Ya tuhan, maafkan saya nyonya saya tidak mengetahui hal ini karena tidak ada pemberitaan tentang kecelakaan anda sama sekali." jujur Tyana.


"Tyana, ceritakan lah bagaimana kau bisa mengenalku dan sejak kapan?" tanya Lisa sembari menatap tajam Amy yang hendak mengucapkan sesuatu.


"Tentu nyonya, mari masuklah terlebih dahulu. Saya akan menceritakan banyak hal tentang anda sambil melayani anda. Bukankah itu tujuan utama anda datang kemari?" membuat akhirnya Lisa mengangguk sambil melangkah masuk.


"gawat, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? sebaiknya aku mengirimkan pesan pada tuan." ujar Amy dalam hati sambil mengikuti majikannya.


^^^"Tuan, nyonya bertemu seorang manager salon yang dulu ia kenal di mall A. Apa yang harus saya lakukan, nyonya banyak bertanya tentang masalalu nya*.“^^^


Sementara di kantor Dave sedang menjalankan meeting penting bersama para petinggi perusahaan. Dan ia meninggalkan handphone nya di atas meja kerjanya begitu saja.