My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Hari kelam



Setelah beberapa kali Dave mengetuk pintu apartemen Lisa tanpa jawaban sedikit pun akhirnya Dave memutuskan untuk pergi. Ia segera menelpon Mike dan menanyakan kebenaran perihal Lisa yang tinggal di apartemen itu.


"Maaf Dave, kita tidak perlu bertemu lagi." ujar Lisa menatap kosong ke arah TV yang masih menyiarkan acara masak memasak.


Dave tampak duduk terdiam di dalam mobilnya. Ia sedikit khawatir karena tiba-tiba saja Lisa seperti menghilang dari hidupnya. Padahal kemarin masih menjadi hari yang indah untuknya.


Ia tatap kembali gedung apartemen sederhana 10 lantai di hadapannya yang tampak lusuh. Hatinya sedikit terenyuh menyadari jika gadis yang membuatnya terus tersenyum selama beberapa hari ini tinggal di sana.


Benar-benar terlihat kontras jika mengingat apartemen yang pernah ia tinggali setelah kuliah ataupun rumah kakeknya yang megah.


Dave pun mencoba kembali membuka ponselnya untuk menelpon Lisa, namun hasilnya tetap sama.


Lisa belum berminat untuk mengaktifkan kembali ponselnya. Ia hanya menatapnya selama beberapa detik kemudian beralih menatap layar televisi yang ada di hadapannya.


***


Keesokan harinya Lisa baru keluar dari apartemennya. Ia sudah ada janji dengan kedua sahabatnya untuk merayakan kemenangannya, hingga akhirnya Lisa mendapatkan medali emas pertamanya di tingkat internasional beberapa hari lalu.


Lisa berjalan kaki untuk pergi ke halte yang terletak sekitar 10 menit jauhnya dari apartemen. Dan ketika ia hendak menyebrang tiba-tiba saja sebuah motor lewat dan menabraknya hingga membuatnya terpental beberapa meter dan jatuh ke aspal dengan darah bercucuran.


Semua orang yang menyaksikannya tampak berteriak histeris karena terkejut dengan kejadian tabrak lari yang menimpa Lisa beberapa saat lalu.


Dan tak jauh dari sana, tampak seorang wanita tersenyum puas dari dalam mobilnya menyaksikan langsung kejadian nahas yang menimpa Lisa kemudian ia pergi.


Orang-orang langsung menghampiri Lisa dan mengerubutinya. Salah seorang wanita paruh baya langsung mengambil inisiatif untuk menelpon ambulans.


Dave yang tengah dalam perjalanan kembali ke apartemen Lisa merasa sedikit terganggu dengan keramaian yang ada di depannya. Entah kenapa hatinya tergerak untuk berhenti dan melihatnya.


Begitu Dave turun dari mobilnya, perlahan ia mendekat ke arah kerumunan di depannya. Ia sangat terkejut dan segera berlari menerobos orang-orang yang tampak sibuk mengerubuti Lisa.


"Lisa.. Lisa.. astaga! apa yang terjadi? Bukalah matamu, Lisa come on please.." ujarnya begitu panik melihat Lisa sudah berlumuran darah di sana sini.


Ia pun langsung meraih tubuh Lisa yang tampak tergeletak di aspal yang dingin. Segera ia lepaskan jas di tubuhnya untuk menekan luka di kepala Lisa untuk menghentikan pendarahan.


Tidak lama kemudian, mobil ambulans pun tiba dan Lisa segera di bawa ke rumah sakit. Dan tentunya Dave pun mendampingi Lisa di dalam ambulans dan meninggalkan mobilnya di sana.


Untuk pertama kalinya hatinya terasa sangat pedih melihat seorang gadis yang terbaring lemah dengan mata terpejam rapat itu. Pikiran Dave melayang kemana-mana melihat kondisi Lisa yang begitu parah.


Hatinya sangat sakit dan air mata terus keluar tanpa sungkan dari kedua bola mata berwarna biru itu. Dan disitulah Dave menyadari jika ia sudah benar-benar jatuh cinta terhadap Lisa.


Ia sangat takut jika Lisa akan meninggalkannya. Begitu sampai di rumah sakit Lisa segera di tangani oleh dokter. Mereka tampak sibuk memberikan pertolongan dan memasang beberapa alat monitoring di tubuh Lisa.


Dave segera menghampiri dokter yang sedang tampak kewalahan bertugas.


"Dokter, please.. saya mohon selamatkan dia. Dia adalah calon istri saya. Tolonglah segera buat ia bisa membuka matanya kembali." lirih Dave dengan penuh putus asa.


Dokter pun tersenyum tipis sembari menepuk bahu Dave.


Dave pun akhirnya hanya bisa berjalan keluar dengan langkah yang hampir runtuh. Ia tidak mempedulikan tatapan orang lain yang melihatnya dengan kemeja penuh darah.


Setelah menemukan sebuah kursi di halaman belakang rumah sakit tersebut Dave terduduk dengan hati yang di penuhi kekhawatiran. Baru 2 hari yang lalu ia masih melihat Lisa tersenyum dengan menawan.


Dan hari ini, ia harus melihatnya tergeletak tidak sadarkan diri di atas aspal yang dingin dengan luka yang cukup parah. Lisa tiba-tiba saja menjadi orang yang spesial dalam hidupnya.


Takdir benar-benar mempertemukan mereka setelah bertahun-tahun. Dave pun mengingat masa kecilnya bersama Lisa, dimana Lisa mencoba menghiburnya ketika ia sangat merindukan kedua orangtuanya.


Flashback,


Lisa kecil selalu mengatakan, jika Dave tidak seharusnya mengasihani dirinya sendiri dan lebih kasihan terhadapnya. Karena Dave masih mempunyai kakek yang begitu sangat mencintainya.


Sedangkan Lisa hanya sebatang kara dan harus tinggal di panti asuhan sejak kecil. Dave kecil pun sedikit terenyuh mendengarkan perkataan gadis dengan rambut lurus terikat bermata hazel tersebut.


Dave kecil pun langsung tersenyum berusaha menghibur balik Lisa kecil yang wajahnya tiba-tiba berubah sedih. Dave pun memberinya sebuah permen coklat kesukaannya sambil berkata jika Lisa tidak sebatang kara, ia akan menjadi teman Lisa.


Lisa tidak akan kesepian lagi, karena Dave akan menjadi teman Lisa dan ketika mereka dewasa nanti Dave akan menikahi Lisa dan mereka bisa menjadi keluarga.


Dan kini Dave tersadar dari lamunannya tentang masa kecil mereka karena Mike datang dan menyadarkannya.


"Tuan, saya sudah membawakan pakaian untuk anda. Sebaiknya tuan berganti pakaian terlebih dahulu." ujar Mike.


"Baiklah." ujar Dave dengan lesu.


Setelah berganti pakaian, Dave segera kembali ke IGD untuk melihat keadaan Lisa. Tepat ketika Dave sampai di depan pintu IGD, dokter yang menangani Lisa pun keluar.


"Bagaimana dokter keadaannya? Apakah Lisa baik-baik saja?" tanya Dave dengan kecemasan yang sudah tak bisa ia sembunyikan lagi.


"Keadaannya sangat buruk ketika ia sampai disini, jika terlambat sedikit saja saya tidak tahu apakah bisa menyelamatkan pasien atau tidak." jelas dokter menjadi pukulan keras menghantam jantungnya.


"Karena benturan keras di kepalanya mengalami pendarahan di dalam, kami harus segera mengoperasi pasien secepat mungkin." sambungnya lagi membuat kepercayaan diri Dave perlahan runtuh.


Ia terus percaya jika Lisa akan baik-baik saja. Tapi kenyataannya jika keadaan Lisa begitu buruk.


"Berapa persen kemungkinan operasi akan berhasil?" tanya Dave sambil memijit lembut pelipisnya.


"60%." ujar dokter setelah menghela nafas dalam.


"Masih ada harapan untuk pasien bisa selamat, saya akan berusaha dengan semampu saya agar pasien selamat dan baik-baik saja. Tapi ada resiko dengan operasi ini." ujar dokter kembali membuat jantung Dave seperti di tikam ribuan belati tajam.


"Resiko apa dokter?" tanya Dave.


"Jika operasi berjalan sukses, ada kemungkinan jika pasien akan kehilangan ingatannya." jelas dokter.


Dave pun tampak terdiam mendengarnya dan mencoba mencerna setiap detail yang dokter coba jelaskan.