
Di sebuah bangunan tua yang dari luar tampak tak terurus itu terlihat Edzhar dan Julian tengah berjalan melewati pintu besar. Di depannya terlihat Mike yang tampak sibuk dengan tablet di tangannya.
Beberapa orang yang akan masuk ke dalam bangunan tersebut tampak saling membungkuk melihat ke 3 orang terpenting yang kini menjadi penguasa Dark Kingdom yang baru setelah Dave menyerahkan kekuasaannya pada Edzhar dan Julian.
"Kita berpisah disini." ujar Mike dingin tanpa menoleh melenggang pergi meninggalkan markas rahasia Dark Kingdom yang terletak di pinggiran kota.
"Hei Ed, tidakkah menurutmu si kanebo kering itu sedikit kurang ajar?" ujar Julian sebal menatap jengkel melihat Mike yang berlalu dengan mobil kesayangannya.
"Kenapa tidak kau katakan di depannya tadi? Dasar pecundang! " ejek Edzhar sembari membuka pintu mobilnya.
"Hei, kau kan tahu sejak dulu Mike selalu tampak menyeramkan. Hanya David yang bisa menaklukannya, bahkan kita yang sudah mengenalnya selama belasan tahun saja tidak pernah melihat nya tersenyum." gerutu Julian sembari mengikuti Edzhar yang kini sudah duduk di balik kemudi.
"Jangan berlebihan, bagaimanapun dia kau berhutang banyak pada nya. Jika kau lupa, aku akan mengingatkanmu bagaimana Mike menolong mu yang hampir mati di tangan para berandalan itu." ujar Edzhar mencibir Julian kembali membuatnya menatap tidak suka.
"Hei, kenapa membahas itu lagi? dasar menyebalkan! " Julian berucap sembari memalingkan wajahnya ke samping.
Sementara Edzhar hanya tersenyum tipis sembari terus menatap ke depan melajukan mobilnya membelah jalan yang kini memasuki kawasan pegunungan. Akan butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di kota jika berkendara dengan mobil.
Selama perjalanan, Julian memilih untuk memejamkan matanya daripada harus berbicara dengan Edzhar yang selalu bersikap menyebalkan. Edzhar dan Julian tumbuh besar di lingkungan yang sama.
Apalagi Daddy mereka adalah sahabat baik. Mereka di besar kan bersama seperti saudara kandung. Walaupun terlihat tidak akur dan sering bertengkar tapi mereka sebenarnya saling menyayangi dan saling mendukung.
Jika Julian selalu terlihat ceria dan humoris, lain halnya dengan Edzhar dia orang yang tertutup dan tidak mudah dekat dengan orang lain. Ia tidak banyak bicara selain dengan orang yang benar-benar dekat dengannya.
Meski begitu mereka berdua merupakan seorang Cassanova yang senang berganti wanita layaknya berganti pakaian. Dengan kekayaan milik orangtuanya sudah membuat para gadis rela antri untuk melemparkan tubuh mereka di ranjang sang Cassanova.
Sudah hampir 2 jam mereka berkendara, membelah jalanan di terangi cahaya bulan yang terlihat bulat. Langit malam terlihat begitu cerah dengan taburan jutaan bintang memenuhinya.
Selama hampir 3 tahun mereka menetap di Maldives di salah satu pulau pribadi milik Daddy James. Dan sekarang mereka akan menetap di apartemen yang David beli beberapa hari lalu.
Apartemen mereka berada di gedung yang sama dengan Dave. Unit mereka hanya saling berseberangan terletak 1 lantai di bawah penthouse milik David.
Dering ponsel memecah hening, menampilkan nama sang ayah di ponsel Edzhar. Tidak menunggu lama Edzhar pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Bagaimana kabarmu son?" tanya Daddy Harvey.
"Sangat baik dad, bagaimana denganmu?" Edzhar pun mengembalikan pertanyaan tersebut.
"Sangat baik. Dengarlah baik-baik son, Daddy tidak melarang mu untuk menggunakan Dark kingdom, tapi ingat lah baik-baik jangan ulangi hal yang kalian lakukan 3 tahun lalu." ujar Dad Harvey dengan tegas.
"Aku mengerti." jawab Edzhar singkat.
"Good. Daddy percaya denganmu. Oia, hubungilah Nick sesekali dia pasti senang mengetahui kau menetap di sana. "
Edzhar tampak menghela nafas berat, pikirannya kembali melayang pada kejadian 3 tahun lalu. Dia telah kehilangan terlalu banyak karena hal bodoh yang coba Ia lakukan. Tampak gurat penyesalan memenuhi wajahnya yang terlihat sendu.
"I miss you.. " lirihnya hampir tak terdengar.
~
Sinar matahari sudah menerobos masuk melalui celah gorden berwarna putih tulang, membuat kedua netra Dave yang masih menahan kantuk terpaksa terbuka.
Dengan malas ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size tersebut. Senyum manis terlihat mengembang di wajahnya yang tampan. Ia melihat ke samping tempat tidurnya yang tampak kosong.
"Saying, kau dimana?" ujar Dave setelah beberapa kali memanggil-manggil istrinya tanpa jawaban.
Istrinya sudah bangun lebih dulu, mungkin Ia sedang sarapan di luar pikir Dave. Ia pun turun dari ranjang hanya menggunakan boxer menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang lengket akibat percintaan panas mereka tadi malam.
Setelah 30 menit Dave tampak sudah segar, Ia pun sudah mengenakan pakaian dengan rapi untuk pergi ke kantor. Dengan wajahnya cerah nya Dave berjalan keluar menuju ruang makan.
Istrinya pasti sedang berada di sana pikir nya. Dan benar saja, Lisa terlihat sedang duduk manis menyantap sarapannya dengan tenang. Sepiring nasi goreng seafood dengan segelas susu menjadi favorite nya.
Walaupun Ia tumbuh dan di besarkan di negara barat, tapi dari pengurus panti Ia tahu jika Ia merupakan keturunan orang Asia. Tepatnya kedua orangtuanya adalah orang Indonesia yang telah menetap di negara A selama beberapa tahun.
Namun nahasnya, kedua orang tua Lisa meninggal dalam sebuah insiden kebakaran di apartemen tempat mereka tinggal. Saat itu hanya Lisa yang berhasil di selamatkan. Ibu nya membungkus Lisa dengan handuk basah dan melemparkan nya melalui jendela apartemen.
Sementara keduanya harus terjebak di dalam dan meninggal dalam kondisi menderita 85% luka bakar di sekujur tubuh nya. Karena tidak ada sanak saudara yang di ketahui dan menurut pemerintah Dari kedubes Indonesia Lisa sudah tidak memiliki keluarga yang tersisa di negara nya maka akhirnya Ia di serahkan ke panti asuhan.
Meski begitu, Lisa tidak melupakan kebiasaan orang-orang di negara nya. Ia jadi menyukai makanan-makanan Asia lebih tepatnya makanan Indonesia. Karena itulah Ia punya kebiasaan sarapan dengan makanan berat seperti nasi.
"Morning saying." sapa Dave dengan mesra sambil mengecupi dahinya sebelum akhirnya duduk di sebelah Lisa.
"Morning." jawab Lisa singkat dengan senyum yang sedikit Ia paksakan.
Suasana hatinya masih belum membaik setelah mengetahui hubungan yang sesungguhnya di antara mereka. Lisa berpikir dengan sangat keras, bagaimana mungkin dia bisa menjadi istri David.
Karena pertemuan terakhir mereka yang membekas di ingatannya adalah saat dimana Dave tengah bercumbu mesra dengan kekasihnya. Apa yang sudah terjadi selama 2 tahun yang Ia lupa kan begitu saja.
Meski pun Ia sudah mencoba dengan sangat keras, namun Lisa tetap tidak bisa mengingat apapun. Lain halnya dengan Dave, melihat sikap istrinya yang lebih banyak diam Ia artikan sebagai sesuatu yang biasa. Mungkin istrinya masih merasa malu dengan apa yang mereka lakukan tadi malam.
Karena yang akan Lisa ingat, itu adalah moment pertama kali nya mereka melakukan hubungan tersebut. Ia memilih untuk membiarkannya dan mencoba bersikap biasa sambil menikmati sarapannya.
Jika Lisa memilih sarapan dengan makanan berat, Dave memilih sarapan dengan roti panggang yang sudah di beri selai coklat. Sementara untuk minumannya, ia memilih untuk menikmati orange juice hangat.