My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Bab 40



Setelah lama berbincang-bincang dengan Sam akhirnya Lisa pun menceritakan semua hal yang terjadi padanya bahkan tentang ia yang tak sama sekali bisa mengingat kejadian setelah ia kecelakaan pertama kali.


Ia pun menceritakan keluh kesah serta rasa kecewanya yang teramat dalam pada suaminya itu tentang kebohongan yang selama ini telah ia coba tutup rapat.


"Lisa, aku tahu kau begitu kecewa dengan David. Tapi bisakah kau melihat dari sudut pandang lain tentang ini?"


"Sebagai sahabat mu dan juga orang yang menyaksikan bagaimana besarnya seorang David Alexander Walton yang begitu memujamu, aku bisa memahami. Ini semua juga pasti bukanlah hal yang mudah untuk suami mu. Cobalah untuk mengerti dan pikirkan baik-baik tentang apa yang telah aku ceritakan hari ini." ucap Sam panjang lebar sembari menggenggam hangat tangan sahabatnya itu.


Ia turut sedih mendengar hal berat yang telah menimpa sahabatnya itu. Sam ingat terakhir kali Lisa menghubungi nya, ia mengirimkan foto USG yang berisi perkembangan bayi mereka.


Sam pun menduga-duga jika mungkin Lisa mengalami keguguran dan Dave menyembunyikan fakta tentang hal tersebut. Sepertinya Lisa baru mengetahui separuh kebenarannya saja.


Sam merasa sangat iba dengan Lisa, hidupnya sejak kecil sudah tidak mudah. Dan sampai hari ini, bahkan Lisa masih harus menderita. Ia bahkan tidak mengetahui kepergian bayinya sendiri.


Sam tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Lisa jika ia mengetahui tentang bayinya juga. Sam harus memberitahukan hal ini pada David, agar David bisa segera menyelesaikan kesalahan pahaman di antara mereka.


David harus bisa menjelaskan dengan baik agar Lisa dapat mengerti dan menerima keadaan yang sebenarnya. Setelah puas berbincang dan bertukar nomor handphone mereka pun memutuskan untuk berpisah.


Begitu sampai di mobil, Sam segera membuka ponselnya dan mencoba menghubungi nomor David. Namun sialnya hampir 5 kali ia menelpon tanpa jawaban.


Dan tepat sebelum ia akan mematikan sambungan telepon nya David pun akhirnya menerima telepon darinya.


"Ada apa Sam? " terdengar suara David yang dingin.


"David ada hal penting yang harus kau ketahui tentang Lisa." jelas Sam membuat Dave yang tadinya malas berbicara dengan Sam mendadak antusias.


"Apa maksud mu, jelaskan dengan benar." tegas Dave membuat Sam menghela nafas pelan.


Ia pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Lisa di cafe hari ini. Dan Sam menceritakan semua yang Lisa katakan padanya hari ini.


Deg,


"David, kau harus segera menjelaskan semuanya pada istri mu. Aku sangat mengenalnya, dia tidak akan berbicara apapun padamu dan akan bersikap tidak tahu tentang apapun. Tapi di lubuk hatinya ia akan sangat terluka, ia akan banyak menangis diam-diam untuk menyembunyikan lukanya."


"Dan sepertinya Lisa belum mengetahui tentang kehamilannya. Apakah bayi kalian tidak selamat saat itu?" tanya Sam sambil menggigit kuku jarinya karena cemas.


"Iya, kami telah kehilangan bayi kami saat itu. Bahkan aku hampir saja kehilangan istriku. Sam tolong jangan katakan apapun padanya. Aku sendiri yang akan menjelaskan hal itu padanya." ujar David kemudian memutuskan telepon nya begitu saja.


Ia meluruhkan kepalanya di atas meja membuat Mike yang baru saja masuk di ruangannya terheran-heran.


"Mike tolong kosong kan jadwal ku setelah ini, aku harus pulang." ujar Dave sembari membolak-balikan halaman berkas di depannya dan mulai menandatangani nya satu persatu.


"Baik tuan." jawab Mike singkat.


Setelah selesai Dave langsung berdiri dan mengambil mantelnya yang tergantung untuk pakai kembali. Langit terlihat sedikit mendung ketika Dave mulai meninggalkan kantornya.


Sebelumnya ia menghubungi Amy untuk menanyakan keberadaan mereka. Ternyata saat ini mereka telah sampai di rumah, dan sejak pulang Lisa tidak terlihat keluar dari kamar dan hanya berdiam di sana tanpa melakukan apapun.


Dave pun membuka ponselnya dan mulai mengecek CCTV kamar mereka yang terhubung dengan ponselnya. Ia lihat Lisa tengah berbaring di atas ranjang namun tidak benar-benar tidur.


Bahunya terlihat berguncang naik turun, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Lisa menghapus airmata dari kedua pipinya.


Dave segera menginjak gas untuk mempercepat laju mobilnya karena sudah tidak sabar untuk sampai.


Tidak sampai setengah jam Dave sampai di lobby apartemen nya. Ia pun langsung berlari sambil melemparkan kunci mobilnya pada anak buahnya yang sedang berjaga di lobby. Ia berlari seperti orang gila bahkan sangat tidak sabar ketika menaiki lift.


Dan begitu sampai di lantai yang ia tujuan Dave kembali berlari ke unit apartemennya dan segera menempelkan sidik jarinya sebagai kode akses sehingga pintu segera terbuka.


Ia pun segera berlari menuju kamar tanpa bertanya lagi membuat semua penghuni rumah keheranan melihat tuannya berlarian dengan wajah cemas.


Kamar mereka sekarang berada di lantai 2, semenjak Lisa bisa berjalan kembali Dave memindahkan kamar mereka ke atas. Karena memang kamar utama berada di atas. Ketika ia berlarian menaiki tangga ia sempat berhenti dan menoleh ke bawah menatap para pelayan dan pekerja di rumahnya.


"Hari ini kalian boleh libur, sampai besok pagi jangan ada siapapun yang terlihat di rumah ini. Kalian bisa bekerja kembali besok." ujar Dave membuat semua saling pandang lalu mengucapkan terimakasih.


Dave telah sampai di depan kamarnya, tapi sudah 3 menit ia berdiri di sana tapi tangan dan kakinya seolah berat untuk membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Beberapa ia tampak mencoba menghembuskan nafas perlahan.


Dan akhirnya ia menguatkan dirinya dan mulai membuka handel pintu kamarnya. Lisa tidak bergeming maupun menoleh mendengar suara seseorang masuk. Ia berpikir mungkin itu adalah Amy karena Dave masih berada di kantor di jam seperti itu.


Dave mulai mendekatkan langkah kaki nya pada sebuah ranjang berukuran king size tersebut. Perlahan ia naik ke atas ranjang, dan memeluk tubuh istrinya dari belakang. Lisa terpaku mencium aroma tubuh suaminya yang sudah sangat ia hafal.


Yang lebih membuat Lisa terkejut adalah tiba-tiba saja suaminya itu ada di rumah, belum sempat Lisa bertanya ia dapat merasakan tubuh suaminya yang tampak bergetar.


Punggung Lisa mendadak terasa basah oleh air mata suaminya. Selama beberapa saat Lisa hanya mampu terdiam karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dan ketika Lisa berusaha melepaskan dekapan suaminya hendak berbalik, Dave menahan tubuhnya dengan kuat.


"Maaf honey, maafkan aku." ucap Dave dengan suara parau nya yang terdengar sedikit bergetar.


Mendengar permintaan maaf dari suaminya itu membuat tangisnya pecah seketika. Mereka menumpahkan perasaan sedih dan sakit mereka bersama untuk pertama kalinya. Meskipun tidak ada kata lain yang terucap mereka sudah menyadari maksud dari satu sama lain.