My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Rindu



Suara kicau burung terdengar saling bersahutan dengan merdu, sinar mentari pagi mulai menampakan cahayanya menembus jendela kamar Lisa.


Tidak lama terdengar suara ketukan di pintu


yang di ikuti suara pintu yang terbuka menampilkan seorang perawat yang membawakannya nampan berisi sarapan paginya.


"Selamat pagi nona." sapa perawat tersebut meletakkan nampan di atas nakas.


Ia pun bergegas membuka tirai membiarkan cahaya masuk memenuhi ruangan, tidak lupa ia juga menggeser sedikit jendela kamar Lisa agar udara segar bisa masuk.


"Amy, dimana David? Um, bukankah biasanya dia yang menemani ku sarapan pagi?" tanya Lisa penasaran.


"Maaf nona, tuan David sudah pergi sejak pagi-pagi sekali dengan tuan Mike. Beliau juga berpesan untuk memberikan ini pada anda ketika Anda sudah terbangun." jawab Amy sembari menyerahkan sebuah benda berbentuk persegi itu.


"Ponsel?" tanya Lisa terheran.


"Ya nona, tuan meminta anda menghubunginya melalui ponsel ini. Nona bisa mencari namanya di kontak." Lisa pun mengangguk mengerti mendengar penjelasan Amy sembari membuka layar ponsel.


Ia sedikit terkejut mendapati sebuah foto lama antara dirinya dan juga Dave terpampang sebagai wallpaper ponsel tersebut.



Spontan Lisa tersenyum lebar melihat foto tersebut. Itu adalah salah satu kenangan manisnya bersama Dave di masa lalu. Lisa tidak menyangka jika Dave bahkan masih menyimpan foto tersebut.


Setelah menatapi foto tersebut selama beberapa waktu, Lisa pun mulai menjelajahi isi ponsel tersebut. Ketika ia membuka daftar kontak, ada 3 nama saja yang tertera di sana.


Ia pun kembali mengerutkan keningnya melihat ketiga kontak tersebut. Hanya ada kontak dengan nama My husband, Kakek Antoni, dan Mike. Ia pun kembali tersenyum menyadari jika tentu My husband adalah nomor Dave yang ia save sendiri di ponsel itu.


Dengan tidak sabar Lisa langsung menekan tombol panggilan, dan tidak menunggu lama bagi Dave untuk menjawabnya.


"Selamat pagi, sayang. Bagaimana keadaan mu? " sapa Dave dengan ceria.


"Selamat pagi. Aku um, lebih baik." jawab Lisa sedikit canggung dengan panggilan sayang dari suaminya itu.


"Sayang, dengarkan aku. Selama beberapa hari ini, aku akan sangat sibuk di kantor. Jika ada waktu senggang aku akan berusaha untuk pulang. Makanlah dengan baik, dan minum obat dengan teratur. Dokter Liam akan merawat mu selama di sana, hubungi aku jika terjadi sesuatu atau jika kau membutuhkan apapun." ujar Dave panjang lebar sambil berjalan menuju ruangan rapat.


Sementara Lisa hanya bisa mengangguk patuh mendengar setiap perintah yang Dave ucapkan, seakan Dave ada di depannya.


"Atau kau juga bisa menghubungi ku jika sedang dalam situasi tertentu." lanjutnya lagi membuat Lisa bertanya-tanya.


"Situasi seperti apa?" tanya Lisa dengan polos.


"Situasi seperti di saat... Kau merindukan aku." jawabnya membuat Lisa kembali tersenyum lebar.


"David.. "


"Ya, aku tahu kau sudah merindukan aku. Tenang saja, aku akan secepatnya menyelesaikan urusanku di sini dan pulang untuk menemui mu. Bersenang-senang lah di sana, nikmati waktumu. Aku harus segera menghadiri rapat penting, nanti aku hubungi lagi okay. Bye honey.. I love you." ucap Dave panjang lebar tanpa membiarkan Lisa menyelanya sedikitpun kemudian memutus telponnya.


"Ah, david. Kau benar-benar.. " ujar Lisa merasa gemas dengan tingkah pria itu.



Setelah Amy selesai membantu Lisa membersihkan dirinya, Amy juga membantu Lisa berdandan dan memilihkan pakaian yang cocok untuk nya. Awalnya Lisa merasa canggung dan tidak nyaman dengan Amy, tapi setelah beberapa hari bersama mereka menjadi lebih akrab.


Dan bahkan mereka seperti 2 orang teman lama. Tapi di luar itu semua, Amy tetap bersikap hormat terhadap Lisa karena bagaimana pun ia hanyalah seorang pekerja.


Semua orang yang bekerja di Villa mengetahui siapa Lisa sebenarnya dan bagaimana kondisinya. Karena itu, meskipun Lisa telah kehilangan ingatannya mereka semua tetap bersikap segan.


Apalagi mereka semua tahu, seberapa besar tuannya itu begitu mencintai dan memuja istrinya. Mereka bahkan sudah di peringatkan berkali-kali sebelum Dave benar-benar pergi dari pulau kepada semua orang untuk selalu waspada.


Keselamatan istrinya adalah yang terpenting bagi Dave. Sebenarnya ia juga sangat berat harus pergi meninggalkan pulau, tapi untuk menang dari Benny dan Harry ia harus melakukan langkah serangan pertama secara nyata.


Menjelang siang, Lisa memutuskan untuk pergi ke halaman depan Villa menikmati udara sejuk dan pemandangan hijau yang ada di depannya. Amy mendorongnya menggunakan kursi roda, dan menemani Lisa mengobrol di sana.


"Hai Lisa, perkenalkan saya adalah dokter Liam yang akan merawat kamu selama di sini." sapa dokter Liam kembali memperkenalkan dirinya seperti awal pertama mereka bertemu.


"Hai dokter Liam, senang mengenalmu dan terimakasih." jawab Lisa dengan ramah.


"Bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya dokter Liam sembari mendudukkan dirinya di depan Lisa.


"Sangat baik dokter, setelah tiba di sini aku merasa lebih baik." jawab Lisa dengan jujur.


"Apa kau masih sering merasa sakit atau pusing? Maksud ku dengan bekas operasi di kepala mu?" tanya dokter Liam kembali.


"Terkadang aku masih merasa sakit, tapi ketika aku mulai terbiasa duduk rasa sakitnya semakin berkurang." jawab Lisa lagi.


"Siang nanti, aku akan mengganti perban sambil melihat bekas jahitan mu."


"Baiklah."


"Dan Amy, apakah Lisa sudah meminum obat yang aku berikan tadi pagi?"


"Sudah dokter."


"Baiklah Lisa jangan duduk terlalu lama di sini, kau harus banyak beristirahat dan berbaring. Dan jangan mencoba untuk berdiri sementara waktu, kita akan mulai melakukan terapi pada kaki mu setelah kau benar-benar kuat dan siap." jelas dokter Liam yang tidak bisa di bantah oleh Lisa.


Setelah percakapan itu, Amy segera membawa Lisa kembali ke kamar untuk beristirahat. Lisa kembali melihat ponsel nya, setelah pagi tadi Dave belum sempat menghubunginya lagi.


Amy yang melihat ekspresi kecewa Lisa pun mengerti jika Lisa mungkin sedang merindukan suaminya.


"Mungkin tuan masih sibuk nona, saya yakin tuan akan segera menghubungi anda setelah urusannya selesai." ujar Amy sembari membantu Lisa merebahkan dirinya di tempat tidur.


"Ya, kau benar. Pasti David sangat sibuk saat ini bukan." jawabnya sembari tersenyum.


"Beristirahat lah nona, saya akan keluar sebentar." pamit Amy pada Lisa yang hanya di jawab sebuah anggukan kecil.


Lisa pun mencoba memejamkan matanya sejenak mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Harus ia akui, ia sudah begitu merindukan Dave walaupun baru beberapa jam.