My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Bab 36



Selama hampir 3 jam Lisa hanya duduk termenung di kursi taman yang menghadap ke sebuah danau buatan yang indah tepat di belakang gedung apartemen yang berisikan 45 lantai yang terlihat megah.


Salah satu apartemen mewah yang terletak di tengah kota yang mengusung tema keindahan alam. Tamannya saja memiliki Luas hampir 2 hectar dengan pepohonan pinus dan beberapa taman bunga yang indah.


Sementara di tengah nya terdapat sebuah danau buatan yang cukup besar dan terlihat indah. Kita bahkan tidak akan menyadari jika semua itu adalah taman buatan karena terlihat sangat indah dan alami.


Sejak tadi Amy sibuk berbalas pesan dengan bosnya yang terus menerus menanyakan apakah Lisa sudah kembali ke apartemen atau belum dan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Karena sudah kehabisan kata-kata untuk membalas pesan tuan nya itu Amy memilih memotret Lisa diam-diam dan mengirimkannya pada David.


Dan benar saja, setelah Amy mengirimkannya foto Lisa yang tengah tersenyum sembari memberi makan burung yang ada di hadapannya David akhirnya berhenti mengiriminya pesan.


"Nona, hari sebentar lagi mulai sore. Bagaimana jika kita kembali." ujar Amy yang akhirnya memberanikan diri bicara setelah berjam-jam.


Ia tidak berani mengatakan sepatah kata pun melihat 1 jam pertama Lisa berada di sana Ia hanya duduk termenung. 1 jam berikutnya Lisa mulai menangis dan sekarang setelah Ia merasa lebih baik Lisa memutuskan untuk memberi makan burung-burung yang ada di taman.


"Kau tahun Amy, sejak kecil aku sudah menjadi yatim piatu. Aku tumbuh dan di besarkan di panti asuhan yang terletak di pinggiran kota." ujar Lisa akhirnya mulai bercerita.


"Hidup ku dulu sangat berat dan terasa sangat melelahkan. Meski begitu aku tetap bersyukur, karena tuhan memberiku hati yang lapang dan tekad yang kuat."


"Saat aku berusia 10 tahun, ada sebuah keluarga sederhana yang mengadopsiku. Aku sangat senang saat itu dan berpikir jika akhirnya aku akan memiliki sebuah keluarga." ujar Lisa dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.


Suara nya terdengar sedikit bergetar ketika menceritakan hal tersebut. Seperti ada began berat di hatinya ketika mengingat hal tersebut. Tapi Lisa tetap melanjutkan ceritanya.


"Mereka adalah pasangan suami istri yang terlihat baik dan juga hangat. Aku berpikir mereka adalah sosok orang tua idaman setiap anak di panti asuhan kami. Semua teman-temanku di panti menatap iri pada ku ketika hari dimana aku resmi di adopsi dan siap meninggalkan panti."


"Aku sangat bahagia karena akhirnya bisa merasakan memiliki orang tua yang lengkap dan terlihat sempurna seperti mereka.


Tapi ternyata, itu hanya menjadi angan-anganku saja." ujar Lisa menampilkan senyum getir di wajahnya.


"Apa sesuatu terjadi Nona ? apa mereka memperlakukanmu dengan buruk? “ tanya Amy penasaran.


"Tidak seperti itu, Amy. Orang tua angkatku sangat lah baik dan menyayangiku dengan tulus. Tapi itu tidak bertahan lama." ujar Lisa kembali menjeda ceritanya menghapus air mata yang kini sudah terjun bebas di kedua pipinya.


"Itu adalah 6 bulan terindah dalam hidupku Amy. Kami tinggal di sebuah rumah pedesaan yang indah, suatu hari ketika aku pulang dari sekolah aku menemukan hal yang mengerikan. Kedua orang tua angkat ku sudah tergeletak di tanah di pekarangan belakang rumah mereka dengan bersimbah darah." ujar Lisa kembali merasakan sesak di dadanya.


"Nona." panggil Amy sembari memeluk Lisa untuk menenangkannya yang tampak menangis sesenggukan.


Selama beberapa saat Lisa menangis di pelukan Amy untuk menyalurkan semua emosi yang bercokol di hatinya. Kenangan pahit yang selalu ia simpan di hatinya, bahkan tidak pernah Ia ceritakan kepada siapapun.


Setelah hampir 30 menit Lisa terlihat jauh lebih tenang. Air mata nya juga sudah tampak menyurut. Sementara David sangat terkejut mendengar apa yang sedang istrinya ceritakan pada Amy.


Tapi ternyata David di buat terkejut ketika istrinya malah menceritakan tentang masa lalu istrinya. Kenapa Ia tidak pernah mengetahui hal tersebut, David sangat menyesal karena Ia melewatkan hal penting dalam penyelidikannya.


Dan seingatnya dulu, ketika mereka kecil dulu Lisa juga tidak pernah bercerita jika dia sempat di adopsi oleh seseorang.


"Meskipun hanya 6 bulan, tapi aku tetap bersyukur karena menjadi bagian dari hidup mereka walaupun di saat-saat terakhir." ujar Lisa memaksakan sedikit senyum palsu di wajahnya.


"Nona, kalau boleh says the bagaimana mereka meninggal? " tanya Amy kembali bertanya.


"Entahlah, saat itu aku masih kecil dan belum mengerti banyak hal. Tapi menurut polisi, kedua orangtua ku meninggal karena di bunuh oleh kawanan perampok." jelas Lisa sendu.


Tiba-tiba saja ingatannya kembali menghantarkannya pada potongan kisah pahitnya di masa lalu. Setelah kedua orangtua angkatnya meninggal akhirnya ia pun di kembalikan ke panti asuhan.


Semua teman-temannya selalu mengejeknya dengan sebutan anak pembawa sial. Mereka terus menerus menjadikan Lisa sebagai bahan gunjingan.


"Orang bilang, aku adalah pembawa sial karenanya orangtua angkat ku meninggal dengan tragis seperti itu. Sama seperti orangtua kandungku yang meninggal tragis dalam kebakaran. Demi menyelamatkan ku, mereka harus kehilangan nyawanya." jelas Lisa dengan menunduk, bahunya masih sedikit berguncang dan isakan kecil terkadang lolos dari bibirnya.


"Dan sialnya, aku percaya sekali dengan apa yang orang-orang katakan tentangku. Karena itu, aku memilih untuk tinggal di panti asuhan sampai aku cukup dewasa untuk bisa keluar."


"Tiap kali ada orang yang datang dan ingin mengadopsi ku, dengan keras aku akan menolak. Aku takut akan ada orangtua baru yang mengalami kesialan karena bertemu denganku."


"Nona, tidak ada anak pembawa sial. Percayalah, itu hanya sebuah kebetulan semata.“ ujar Amy mencoba membangun kepercayaan diri sahabatnya.


" Amy, dalam hidupku aku tidak mengenal banyak orang. Dan kini hanya kamu yang menjadi temanku, teman yang bisa ku percayai." ujar Lisa membuat Amy dengan cepat memutus telepon yang tersambung dengan David.


Ia tahu akan kemana pembicaraan ini bermuara, karenanya jangan sampai tuannya itu mendengar apa yang selanjutnya akan Lisa katakan. Jika tidak, tamatlah sudah riwayatnya.


"Tentu nona, saya mengerti." ujar Amy dengan tegas.


"Jangan sembunyikan apapun lagi dariku. Aku sangat benci di bohongi seperti itu, meskipun dia adalah suamiku, pengkhianatan adalah tetap pengkhianatan. Terlepas dari apapun alasannya." ujar Lisa sambil mendongak menatap langit yang mulai terlihat menggelap.


"Bb.. baik nona." cicit Amy dengan tidak enak hati.


Setelah kesepakatan dengan Amy dibuat, Lisa pun akhirnya setuju untuk kembali ke apartemen. Walaupun Lisa merasa enggan, tapi ia juga sadar jika tidak ada tempat lain yang dapat ia tuju.


Kemana lagi ia dapat pergi, sementara yang ia miliki di dunia ini hanya suaminya seorang diri. Meskipun dalam hatinya masih tersimpan kekecewaan yang tak terbendung, tapi ia berusaha untuk bersabar.


Sampai ia siap, dan waktu yang tepat datang ia hanya akan berpura-pura bodoh. Biarlah nanti waktu yang akan menyembuhkan kekecewaan di hatinya terhadap suaminya itu.