My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Drama di pagi hari



Setelah drama mandi pagi yang menyebalkan itu terjadi, Lisa di buat kesal dengan tingkah Dave yang menurutnya tak tahu malu itu. Dengan santainya, ia menawarkan diri untuk melepas pakaian Lisa dan memindahkan tubuh polosnya ke dalam bath up.


Tapi itu semua tidak terjadi seperti apa yang Dave inginkan. Karena Lisa lebih memilih untuk membatalkan acara mandinya daripada harus melakukan hal memalukan seperti itu.


Melihat istrinya kembali merajuk dan berkeras diri akhirnya Dave memilih untuk mengalah. Ia pun segera keluar dari kamar mandi untuk mengambilkan tongkat istrinya. Bahkan ia juga dengan riang menyiapkan pakaian ganti untuk istrinya.


Sementara Lisa menghabiskan waktu untuk berendam di kamar mandi, Dave memutuskan untuk keluar dan pergi ke dapur. Ia mencoba menyiapkan sarapan sederhana untuk istrinya.


Karena selama kuliah dia terbiasa tinggal sendiri di luar negeri, Dave jadi mempunyai keahlian memasak walaupun tidak seenak masakan istrinya. Tapi Dave dengan bersemangat segera menyiapkan beberapa bahan makanan.


Ia akan membuat omlete dan juga sandwich istimewa untuk sarapan mereka berdua. Setelah hampir 20 menit ia berkutat di dapur akhirnya ia pun selesai. Segera ia menyiapkan segelas susu dan orange juice sebagai pelengkap.


Sementara Lisa baru saja selesai dengan acara berendam nya, karena sejak tadi ia penasaran tidak mendengar lagi suara Dave di dalam kamar. Setelah membilas tubuhnya, Lisa mengenakan bathrobe nya dan membuka pintu dengan perlahan.


Dengan senyap ia memandangi ruang kosong kamarnya, ketika hendak pergi ke walking closet ia pun di buat penasaran dengan pakaiannya yang sudah tersedia di atas ranjang.


Bahkan Dave sudah merapikan ranjang mereka, sejak tadi. Seutas senyum terukir di bibir manis berwarna cherry itu. Tidak dapat ia pungkiri, semua sikap dan perhatian Dave selalu berhasil meluluhkan hatinya.


Ia bisa merasakan bagaimana tulusnya pria itu memperlakukan dirinya dengan amat sangat baik. Setelah mengenakan pakaian yang di siapkan oleh Dave, ia pun bergerak keluar dari kamar hendak mencari keberadaan pria itu.


Namun ia mendengar suara gaduh dari arah dapur, Lisa memutuskan untuk melihatnya. Dan benar saja, Pria dengan mata coklat tersebut terlihat sedang membereskan beberapa perlatan memasak yang sudah ia pakai.


Lisa sedikit terkejut melihat sandwich favoritnya dan juga sepiring omelette telah tersaji di atas meja makan. Ia ragu, jika Dave yang menyiapkan semua itu karena selama ini ia hampir tidak pernah melihat Dave berada di dapur.


"Kau sudah selesai sayang, kemarilah. Kita sarapan bersama, aku sudah membuatkan sarapan untuk kita berdua." ujar Dave yang hanya di tanggapi anggukan kecil oleh Lisa.


Dengan langkah perlahan akhirnya Lisa sampai di meja makan, Dave pun langsung menyodorkan segelas susu hangat untuknya.


"Minumlah dulu, kau terbiasa meminum ini sebelum menikmati sarapan pagimu." ujar Dave membuat Lisa kembali terheran.


Entah kenapa Lisa merasa jika pria di hadapannya ini terkadang lebih mengenalnya di bandingkan dirinya sendiri. Dave selalu tahu apa yang Lisa sukai ataupun tidak, begitu pun dengan kebiasaan nya.


Tapi dari pada bertanya dan berakhir tanpa jawaban Lisa memilih untuk bungkam kemudian mulai meneguk segelas susu favorit nya itu.


Sementara Dave tersenyum lembut sembari menarik kursi di sebelas Lisa dan mendudukkan bokongnya di sana. Ia hanya duduk sambil menopang dagunya tersenyum gemas menatap istrinya yang sedang minum.


"Berhentilah menatapku dan makan saja sarapan mu itu." ujar Lisa masih dengan suara yang dingin.


"Ayolah sayang, hari ini aku sudah meluangkan waktuku dan mengambil cuti hanya untukmu. Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama dengan bahagia hari ini, jadi ku mohon maafkan aku dan berhentilah mengacuhkan ku." ujar Dave dengan wajah memelasnya.


Ia berharap istrinya bisa luluh, dan memaafkannya dengan sikap manisnya pagi ini. Tapi Lisa hanya diam tidak menanggapi ucapan Dave dan hanya melanjutkan makannya.


"Baiklah, kita akan keluar hari ini. Kau ingin kita pergi kemana? Aku akan menemanimu sampai kau puas. Bagaimana?" tanya Dave akhirnya mengalah karena ia tahu istrinya itu sangat kesal terus terpenjara dalam sangkar emas yang ia ciptakan.


"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Lisa masih santai memakan sandwich nya tanpa menatap Dave di samping nya.


"Aku tidak pernah melanggar janjiku padamu." jawab Dave kembali meyakinkan.


Lisa pun akhirnya menoleh menatapnya dengan mata berbinar dan senyum mengembang. Itulah yang Dave rindukan dari istrinya, ah rasanya ia tidak tahan melihat wajah menggemaskan istrinya itu.


Dengan cepat Dave mencuri kesempatan untuk mengecup bibir istrinya itu, bahkan ********** dengan lembut selama beberapa saat. Lisa hanya bisa terdiam pasrah dengan kedua pipinya yang sudah merah merona karena perlakuan Dave itu.


"Selalu saja, kau mencuri kesempatan." ujar Lisa menggerutu pelan namun hanya di tanggapi dengan kekehan oleh Dave.


**


Pukul 10 pagi Lisa tengah bersiap untuk pergi keluar bersama Dave. Sementara Dave memilih untuk menghubungi uncle James terkait saran yang Mike berikan padanya kemarin.


"Halo uncle, apa kabar? "


"Kabarku baik, bagaimana kabar kalian?"


"Kami juga baik-baik saja uncle di sini, bagaimana kakek? apa dia merepotkan mu? tanya Dave sedikit tertawa.


" Ya, tentu saja kedua orangtua itu membuatku terkadang sakit kepala karena terus merajuk meminta bertemu dengan istrimu itu."


" Istriku memang kesayangan mereka uncle, jangan lupakan itu."


" Kau benar."


"Uncle, um sebenarnya aku ingin sedikit meminta bantuan mu lagi."


"Katakanlah nak, apa yang kau butuhkan? apa terjadi sesuatu yang belum aku tahu?"


"Ah, tidak tidak seperti itu. Hanya saja aku rasa aku membutuhkan bantuan Edzhar untuk saat ini."


"Edzhar? Ada apa dengannya? "


"Bisakah paman memintanya untuk datang kesini, aku membutuhkan bantuannya di perusahaan ku. Karena jujur saja, akhir-akhir ini aku sedikit kerepotan mengurus semuanya sendiri." ujar Dave akhirnya berterus-terang.


"Ah anak itu, baiklah uncle akan mencoba bicara padanya dan menyuruhnya untuk datang ke kota B secepatnya." ujar uncle james.


"Terimakasih banyak uncle, aku juga akan meminta hal yang sama pada uncle Harvey. Karena aku juga membutuhkan Julian juga."


"Baiklah, nak jangan sungkan jika kau membutuhkan sesuatu. Biar aku yang bicara dengan Harvey. Kebetulan Julian juga sedang ada di sini dengan adiknya sejak minggu lalu."


"Baiklah uncle, sekali lagi terimakasih."


"Tentu."


Telepon pun terputus.


"Yes, akhirnya aku bisa sedikit bersantai selama beberapa waktu ke depan." ujar Dave dengan senang.


"Ada apa David? Kau senang sekali." ujar Lisa menghampirinya.


Dave pun hanya tercenung menatap Lisa yang sudah terlihat sangat cantik dengan balutan dress selutut berwarna sky blue.


"Kau cantik sekali sayang." ujar Dave setelah beberapa saat sembari menghampiri Lisa.


"Apa kau benar-benar ingin pergi ke luar? Ah, rasanya aku tidak rela kecantikan mu akan di nikmati banyak pasang mata." ujar Dave membuat kedua mata Lisa kembali menajam.


"Ah, baiklah baiklah sayang. Aku selalu menepati janjiku oke. Ayo kita pergi." ujar Dave sembari memeluk pinggang istrinya posesif.