
"Aku minta maaf karena telah menyembunyikan semua ini." ujar Dave dengan kepala tertunduk.
Kini keduanya tengah duduk bersandar di atas ranjang. Mereka tidak berani saling menatap dan hanya membuang tatapan mereka lurus tanpa fokus.
"Apa yang membuatmu berpikir aku tidak perlu mengetahui hal sepenting ini tentang hubungan kita?" tanya Lisa setelah lama terdiam.
"Aku tidak berusaha menyembunyikan semuanya, hanya saja situasinya tidak mendukung. Kau, kau selalu kesakitan setiap kali mencoba mengingatnya. Karena itulah aku memilih untuk menutupi nya daripada harus melihatmu merasakan sakit." jelas Dave dengan jujur berusaha menatap Lisa yang masih enggan untuk menatapnya balik.
"Aku ingin pulang ke mansion." ujar Lisa membuat Dave sedikit terkejut.
"Dan bawalah kakekmu pulang, jangan biarkan dia terlalu lama di luar." timpalnya lagi kemudian berbaring kembali sembari berbalik memunggunginya.
"Sayang, apa ada sesuatu yang kau ingat?" tanya Dave mencoba kembali bertanya.
Namun nihil, setelah beberapa saat tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut istrinya itu. Dave kemudian mencoba ikut berbaring sembari memeluk tubuh ringkih istrinya.
Bisa ia rasakan, tubuh istrinya yang kini lebih kurus dari pada saat sebelum kecelakaan itu terjadi. Meskipun begitu menurut dokter, saat ini tubuhnya sehat Bagi Dave itu yang paling penting.
Dave sangat merasa sedih karena sikap dingin Lisa, dan ia lebih banyak mendiamkannya. Lisa hanya akan bicara sesuatu yang memang ingin di ucapkan dan yang menurutnya penting.
"Sayang, aku akan segera menghubungi kakek untuk segera pulang ke negara ini. Secepatnya, kita akan segera kembali ke mansion." ujar Dave yang hanya di tanggapi kebisuan oleh istrinya.
Dave tidak ingin terlalu memaksa untuk bicara dengan istrinya. Ia pun pasrah dengan sikap Lisa padanya, Dave pun mencoba bangkit dan mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
Setelah itu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Lisa tidak bergeming sama sekali dengan mata yang terpejam rapat walaupun sebenarnya ia tidak benar-benar tidur.
Ia hanya sangat merasa kesal dan malas membuka matanya apalagi menatap suaminya itu. Karena bisa di pastikan jika ia akan mudah luluh ketika menatap wajah suaminya yang memelas seperti itu.
Setelah sekitar 15 menit di dalam kamar mandi, Dave pun keluar dengan tubuh yang terlihat lebih segar. Ia hanya menggunakan handuk sebatas pinggangnya dan dengan santai berjalan ke arah walking closet.
Pilihannya jatuh pada sebuah kaus berlengan pendek dan berkerah, berwarna putih gading dengan celana pendek selutut. Ia melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore ketika ia selesai berganti pakaian.
Dengan bergegas ia segera berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan. Ia ingat jika Amy belum melaporkan jadwal makan siang istrinya, itu artinya Lisa belum makan. Setelah sampai di ruang makan, ia melihat beberapa lauk sudah nampak dingin.
Dengan cekatan ia memanaskan setiap masakan yang ada di meja dengan memasukkan nya ke dalam microwave. Setelah menunggu beberapa saat, Dave menyajikan beberapa hidangan di atas piring dan membawanya dalam sebuah nampan untuk ia bawa ke kamar.
Dengan lembut Dave membangunkan Lisa, yang entah benar-benar tidur atau hanya berpura-pura.
"Sayang, bangunlah. Kau harus makan dulu, setelah makan nanti kau bisa tidur lagi oke?" Bujuk Dave, tapi Lisa hanya menggeliat malas.
Tidak hilang akal Dave pun langsung mendudukkan Lisa dan menyandarkan ke ranjang membuat Lisa mau tidak mau membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam rapat.
"Kau boleh marah padaku, tapi kau tetap harus makan. Jika kau tidak makan, kau tidak akan punya energi untuk tetap marah sayang." bujuk Dave dengan sabar.
Entah kenapa meskipun dia seorang yang pendiam dan dingin terhadap orang lain di luar, tapi Dave bisa menjadi suami yang begitu lembut dan hangat pada istrinya.
Terkadang hal tersebut membuat Lisa bingung untuk menerka seperti apa seorang David sebenarnya. Semua orang yang bekerja dengan mereka sangat takut padanya seolah dia adalah orang yang kejam pada seseorang ketika mereka membuat kesalahan.
Tapi jika dengannya, Lisa merasa David menjadi seorang yang berbeda. Terkadang David lebih banyak bicara dari pada dirinya sendiri. Entah kenapa dulu ia adalah orang yang sangat cerewet, tapi setelah kecelakaan itu bicara adalah salah satu hal yang membuatnya malas.
Lisa berpikir, apakah mungkin karena kepalanya itu terbentur terlalu keras sehingga membuat sikap dan sifatnya juga sedikit berbeda.
Dave pun dengan sabar menyuapi Lisa untuk makan, sebenarnya Lisa sudah menegaskan jika ia bisa makan dengan kedua tangan nya sendiri. Namun Dave seakan tuli dan tak menggubris sama sekali dan tetap memaksa untuk menyuapinya.
Meskipun Lisa masih sangat kesal, tapi jauh di lubuk hatinya ia merasa bahagia dengan perhatian dan kesabaran David dalam menghadapinya. Bahkan tidak pernah sekali pun Lisa mendengar David mendengus kesal apalagi sampai meninggikan suaranya karena marah terhadap nya.
***
Sementara itu Edzhar baru saja turun dari sebuah pesawat pribadi yang di miliki oleh David. Sudah hampir 2 bulan ini Dave tidak memberikannya waktu luang, sehingga ia sibuk bepergian ke berbagai negara maupun kota untuk mengontrol setiap anak perusahaan mereka yang ada di sana secara langsung.
Sementara Julian sudah berkali-kali berdecak sebal karena lagi-lagi Dave mengirim mereka ke luar negeri untuk urusan bisnis. Ia bukan merasa lelah karena harus bepergian, tapi ia kesal karena Dave bahkan tidak memberinya waktu untuk berkencan dengan seorang gadis di akhir pekan.
"Ed, aku harap ini perjalanan bisnis kita yang terakhir. Pria gila itu benar-benar membuatku kesal! Bagaimana bisa dia membuat kita bekerja tanpa libur selama 2 bulan ini." ujar Julian dengan gemerutuk giginya yang saling beradu.
"Diamlah, jangan banyak bicara. Aku sangat lelah!" jawab Edzhar ketus sambil memakai kacamata hitam nya dan mulai masuk ke dalam mobil.
Hari ini mereka di jemput oleh sopir kantor karena merasa lelah jika harus berkendara sendiri. Mike dan David benar-benar membuatnya sibuk sampai ia benar-benar kesal.
Awalnya ia berencana untuk mencari gadis yang ia temui di dalam lift tempo hari. Tapi karena pekerjaan sialan itu membuatnya tidak bisa berkutik. Pantas saja David memintanya untuk memegang beberapa cabang perusahaan.
Ternyata ia akan sesibuk itu. Andai saja ia tahu lebih awal mungkin ia akan menolaknya. Tapi jika di pikirkan kembali, ia bisa mendapatkan Dark Kingdom dalam kekuasaannya, Edzhar kembali bersemangat.
Setelah ini Mike memberi mereka cuti selama 3 hari untuk beristirahat. Edzhar akan memanfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya untuk menemukan gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.
Julian pun bergidik ngeri melihat sahabatnya yang tiba-tiba tersenyum sendiri seperti orang tidak waras. Padahal sejak di bandara tadi, Edzhar selalu memasang wajah garangnya. Bahkan ia sampai melotot tajam ketika Julian mencoba mengajak nya bergurau.
"Dasar aneh!" umpat Julian dalam hati.
Jika secara langsung mana mungkin ia berani. Bisa-bisa Edzhar membuatnya lemas karena lumpuh, setelah ia mematahkan semua tulang-tulangnya.