My Wife, My Destiny

My Wife, My Destiny
Kabar Bahagia



Kini Dave dan Lisa tengah duduk di sofa yang ada di ruangan Dave. Setelah beberapa menit yang lalu Lisa melihat Dave melampiaskan kekesalannya terhadap seorang wanita pada sekretarisnya, Lisa menjadi sangat marah.


Ia sangat penasaran dengan wanita yang membuat suaminya begitu kesal. Setelah menikah, ini adalah pertama kalinya ia melihat Dave begitu kesal dan marah pada seseorang.


"Siapa wanita tadi? kenapa kamu begitu kesal dan marah padanya? tolong jawab dengan jujur David, jangan mencoba membohongi ku." ujar Lisa dengan tenang.


"Sayang, dia bukan siapa-siapa. Sudahlah kita tidak perlu membahasnya." jawab Dave malah membuat Lisa semakin berpikir buruk.


"Jangan menghindar David, tolong setidaknya berikan aku penjelasan yang bisa aku terima. " timpal Lisa membuat David pun akhirnya menyerah.


"Dia adalah mantan kekasih ku." ujar Dave pada akhirnya.


Lisa pun hanya terdiam mendengar apa yang Dave katakan. Ia tampak merenung kembali ia mengingat wajah dari mantan kekasih suaminya itu.


Tiba-tiba ia merasakan kepalanya terasa sedikit sakit. Samar-samar ia mengingat bayangan seorang pria dan wanita yang tengah bercumbu mesra. Hanya saja ia tidak bisa mengingat dengan jelas wajah kedua orang tersebut.


"Sayang, ada apa? Kamu baik-baik aja kan? Lisa?" tanya Dave melihat istrinya yang tiba-tiba memegang kepalanya seperti menahan sakit.


Rasa sakit di kepala Lisa terasa semakin hebat, membuat suaminya itu menjadi sangat cemas. Lisa tidak bisa lagi mendengar dengan jelas suara Dave, hanya samar-samar ia dengar beberapa suara yang tampak tidak asing hanya saja tak bisa ia ingat.


***


Senja sudah mulai menampakan wajahnya membuat semburat keremangan cahayanya menembus jendela kamar Lisa. Sejak siang tadi Lisa pingsan, Dave langsung membawa Lisa pulang ke rumah dan memanggil dokter yang biasa menanganinya semenjak kecelakaan.


Sejak tiba di rumah, Dave tidak pernah beranjak sedikit pun meninggalkan Lisa dan selalu di sisinya. Tubuhnya sedikit lelah dan mengantuk, ia pun perlahan jatuh tertidur di samping Lisa yang masih terbaring dengan mata terpejam rapat.


Sampai pukul 6 sore, Dave terbangun ketika sebuah tangan yang terasa hangat menyentuh wajahnya. Ia pun langsung terperanjat kaget melihat istrinya yang kini tersenyum lemah menatapnya.


"Sayang, are you okay? bagaimana keadaan kamu sekarang? aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kamu kembali. Tunggu sebentar." ucap Dave beranjak untuk menelpon dokter, namun tangan Lisa menahannya.


Lisa menggelengkan kepalanya dengan lembut sembari tersenyum dengan teduh. Dave pun kembali terduduk di samping istrinya itu.


"Ada apa sayang? aku akan menelpon dokter Liam dulu sebentar. Aku tidak akan bisa tenang sebelum dokter memastikan jika kau baik-baik saja." ucap Dave dengan lembut sembari mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Please, i miss you so much." ucap Lisa dengan lemah membuat Dave mengurungkan niatnya untuk beranjak.


Dave pun berbaring kembali di sisi Lisa seraya membawa Lisa ke dalam pelukannya. Ia kecup lembut puncak kepala istrinya sembari mempererat dekapannya di tubuh istrinya. Dave sangat berhati-hati terhadap tubuh istrinya, karena satu tangannya telah terpasang selang infus.


Cukup lama mereka dalam posisi tersebut. Dave merasa sedikit janggal mendapati sikap istrinya yang menjadi sangat pendiam sejak ia sadar. Dave sedikit khawatir karena setelah hampir 2 tahun, ini adalah kali pertama ia melihat Lisa begitu kesakitan hingga tak sadarkan diri.


"Sayang, bagaimana sekarang? Apa kamu lebih baik sekarang? Tolong, biarkan aku memanggil dokter Liam untuk memeriksa keadaanmu." ujar Dave yang akhirnya di setujui oleh Lisa.


Tidak sampai 20 menit akhirnya dokter Liam pun datang dan memeriksa keadaan Lisa untuk yang kedua kalinya setelah siang tadi.


"Bagaimana dokter? Apakah istriku baik-baik saja?" tanya Dave pada laki-laki paruh baya di depannya itu.


"Anda tidak perlu khawatir tuan David, sampai saat ini keadaan nyonya Lisa baik-baik saja. Ia hanya sedikit kelelahan dan membutuhkan banyak istirahat." jelas dokter Liam tersenyum.


"Dan 1 hal lagi, anda harus menjaga mereka lebih baik lagi tuan." ujar dokter Liam yang membuat David dan Lisa tidak memahami maksud dari perkataannya tersebut.


"Selamat tuan David, sepertinya anda akan segera mendengar tangisan seorang bayi di rumah ini. Selamat nyonya anda akan menjadi seorang ibu." ujar sang dokter tersenyum dengan tulus.


David dan Lisa sangat bahagia mendengar penjelasan Dokter Liam tersebut. Bahkan David sangat terkejut hingga tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengembangkan senyuman di wajahnya penuh rasa tak percaya.


"Sekali lagi selamat tuan, untuk memastikan usia kandungan dan keadaan janin sebaiknya tuan membawa nyonya Lisa untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit." ujar dokter Liam sembari menjabat tangan pengusaha muda yang terkenal di negara A tersebut.


Setelah kepergian dokter Liam, David segera berhambur kembali memeluk tubuh istrinya yang kini tengah bersandar pada kepala ranjang.


"Kita akan segera menjadi orang tua sayang, aku tidak percaya ini, aku benar-benar sangat bahagia sekarang." ujarnya sembari mengecup puncak kepala istrinya beberapa kali.


Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan setelah hari pernikahan mereka bagi keduanya. Lisa tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menangis bahagia untuk meluapkan emosinya.


"Sayang, tunggu sebentar. Aku akan menemui kakek dan memberitahukan kabar bahagia ini. Aku akan meminta bibi May untuk menemanimu." ujar David segera berteriak memanggil bibi May untuk menjaga dan menemani istrinya.


Tidak lupa David kembali untuk mengecup bibir mungil istrinya yang kini terlihat pucat.


"I love so much Alisa, thank you for coming to my life. you are the most precious thing I have and our baby's too. I love you, I love you, I love you so much." ujarnya kemudian mencium kedua tangan istrinya bergantian kemudian berlari pergi.


Bibi May pun hanya bisa tersenyum sembari menundukkan wajahnya melihat pemandangan indah tersebut. Setelah Dave pergi, ia segera menghampiri Lisa dan memberikan ucapan selamat untuk majikannya.


Bibi May sudah lama bekerja untuk keluarga Dave. Bahkan ia sendiri menyaksikan mendiang ayah Dave menikah hingga akhirnya memiliki Dave di sisi mereka. Ia juga yang membantu kakek merawat Dave kecil sampai ia tumbuh dewasa.


"Selamat nyonya muda, tuan muda terlihat sangat bahagia. Dan melihat kalian berdua, membuatku teringat jika aku pernah melihat kebahagiaan yang sama dari mendiang kedua orang tua tuan muda. Tuan alex dan nyonya Elena begitu bahagia ketika pertama kali mengetahui jika mereka akan segera memiliki tuan David di sisi mereka." ujar bibi May mengingat kenangan indah tersebut.


"Terimakasih bibi, aku sangat senang memilikimu disini. Walaupun aku tidak bisa mengenal kedua mertuaku, setidaknya aku memilikimu sebagai pengganti mereka." ujar Lisa membuat hati bibi May menghangat.


"Tetaplah di sisi kami dan bantu aku untuk merawat dan membesarkan bayi kami nanti." sambungnya lagi membuat bibi May begitu terharu.


"Tuan muda sangat beruntung memiliki anda sebagai pendampingnya nyonya. Dan jika tuan dan nyonya masih disini, aku sangat yakin jika mereka akan sangat menyayangimu." ujar bibi May sembari menyeka air matanya yang perlahan terjatuh.