
Pagi sekali Dave sudah berangkat ke kantor. Karena cuti yang ia lakukan kemarin membuat pekerjaannya semakin menumpuk.
Wajahnya bahkan sudah tak terlihat karena tenggelam di antara tumpukan berkas yang berada di atas mejanya.
Sedangkan Mike berada di ruangannya dengan pekerjaan yang tak kalah sibuk. Hanya saja, ia selalu terlihat tenang meskipun di hadapkan dengan situasi yang membuatnya kesal setengah mati.
Tidak seperti Dave yang sejak tadi sibuk memeriksa dan menandatangani berkas-berkasnya dengan bibir yang tak bisa berhenti mengeluarkan decak kesal bahkan umpatan di sela-sela kegiatannya.
Tok tok tok.
Dave pun menghentikan gerakan tangannya, lalu matanya beralih ke arah pintu dimana Mike tengah berdiri di sana dengan 2 orang laki-laki yang sudah sangat ia kenal. Membuat garis senyuman di bibirnya terangkat seketika.
Terlihat Julian dan Edzhar yang tengah berjalan di belakang Mike berseru memanggil namanya.
"Hai David, lama tidak berjumpa." ujar Edzhar
"Sepertinya kedatangan kami cukup mengganggu." timpal Julian sambil memeluk Dave bergantian dengan Edzhar.
"Ck, dasar lambat! kenapa lama sekali." ujar Dave sebal.
"Hei, hei harusnya kami yang kesal karena kau memonopoli waktu kami yang berharga." sungut Julian sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Ya, Julian benar. Kau mengganggu waktu kami untuk bersenang-senang dengan para gadis." timpal Edzhar.
"Apa kalian akan terus membuang waktu seperti itu? Dasar tidak berguna! " ujar Mike tiba-tiba membuat keduanya melirik tajam ke arah laki-laki dengan raut wajah datar tersebut.
Tapi Mike tidak perduli dan seolah acuh dengan tatapan tajam yang di layangkan kedua orang di sampingnya dan tetap sibuk memainkan tablet di tangannya.
"David, sepertinya Mike sudah bosan hidup tenang." ujar Julian sembari memperlihatkan gerakan peregangan otot-otot tangannya.
"Sepertinya dia mulai melupakan siapa kami dengan bersikap seperti itu." Timpal Edzhar.
"Sudahlah, ada hal yang lebih penting yang ingin aku bicarakan." ujar Dave membuat perhatian Julian dan Edzhar kembali padanya.
"Aku butuh bantuan kalian." ujar Dave setelah beberapa saat.
Suasana tampak hening, sementara Julian dan Edzhar hanya saling melirik dengan aneh. Sampai setelah beberapa saat tawa keduanya pun pecah secara bersamaan.
"Ed, lihatlah putra mahkota kerajaan Walton sedang membuat lelucon lucu."
"Kau benar Julian, setelah sekian lama akhirnya David kita bisa juga membuat kita tertawa." sambil memegangi perutnya.
"Apa yang menurut kalian pantas untuk tertawakan? " tanya Dave dengan wajah datarnya.
"Kau!! " jawab keduanya serempak.
"Sudahlah, aku serius kali ini aku benar-benar butuh bantuan kalian." ujar Dave sembari meminta pelipisnya sambil memejamkan mata.
"Baiklah, apa yang bisa kami lakukan untuk mu?" Ujar Julian dengan wajah yang berubah serius.
"Kalian pasti sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada perusahaan ku beberapa bulan ini." Ujar Dave.
"Tentu saja, Kau memenuhi berita hampir di semua majalah bisnis beberapa bulan ini. Kau sudah mengambil alih kerajaan bisnis milik keluarga Walton yang selama ini di kelola oleh si tua bangka Benny dan putranya itu." jelas Edzhar kemudian menyesap sebatang nikotin yang sudah bertengger di tangannya.
"Ya, kau membuat kehebohan di dunia bisnis. Bagaimana mungkin kami tidak tahu." timpal Julian.
"Ya, justru karena itulah aku merasa sedikit kesulitan sekarang. Aku membutuhkan seseorang untuk menggantikan si tua bangka itu dan putranya di perusahaan." desah Dave terlihat frustasi.
"Lalu?" tanya Edzhar dengan sedikit terheran.
"Hey, dude.. Kau sangat tahu bukan jika kami memiliki jiwa yang bebas." ujar Julian merasa keberatan.
"Ya, Julian benar. Kami bahkan tidak ikut campur dalam bisnis dady kami karena ingin bebas." timpal Edzhar.
"Bekerja? apalagi di perusahaan? Big No! " ujar Julian dengan sarkas.
"Aku akan memberikan bayaran yang pantas untuk kalian." ujar Dave mencoba bernegosiasi.
"Kau tahu bukan Dave, kami bahkan tidak kekurangan uang ketika hanya menghabiskan waktu dengan para gadis bertahun-tahun. Jadi tawaran mu terdengar sia-sia di telingaku." jawab Edzhar jujur.
"Ya, kami tidak akan menukar kebebasan kami hanya untuk uang. Tentu saja itu tidak mungkin." timpal Julian.
"Aku tahu." ujar Dave datar.
"Jika kau tahu, kenapa kau tetap meminta bantuan kami?" ujar Edzhar.
"Karena aku tidak menawarkan uang sebagai bayaran untuk kalian." ujar Dave membuat keduanya sedikit penasaran.
"Lalu apa yang bisa kau berikan?"
"Kekuasaan." ujar Dave dengan yakin.
Edzhar dan Julian kembali tergelak mendengar jawaban ambigu Dave tersebut.
"Dark Kingdom." ujar Dave membuat tawa keduanya terhenti.
"Deal!! " jawab keduanya serempak tanpa berpikir.
Dave dan Mike pun menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya karena telah berhasil membuat kesepakatan dengan kedua Cassanova tersebut.
Dave merasa senang sudah menyelesaikan negosiasi nya dengan Edzhar dan Julian. Ia cukup percaya diri dengan tawaran yang ia berikan takkan mungkin mampu di tolak oleh keduanya.
Dan benar saja, bak gayung bersambut keduanya menerima penawaran Dave tanpa ragu. Walaupun tawaran yang ia berikan pada Edzhar dan Julian bukanlah hal kecil. Dave sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, apapun akan ia lakukan untuk bisa menyingkirkan Benny dan Harry.
"Tapi ed, ada 1 hal lagi." ujar Dave dengan raut wajah yang serius.
"Ada apa?" tanya Edzhar penasaran.
"Aku juga membutuhkan kalian untuk menyingkirkan si tua bangka Benny dan Harry. Tentu saja dengan kekuasaan penuh di Dark Kingdom. " jelas Dave yang langsung di angguki keduanya dengan seringai di wajah mereka.
Walaupun terlihat santai dan menyenangkan tapi sesungguhnya Edzhar dan Julian adalah seorang yang sadis. Masa lalu mereka begitu kelam, namun karena suatu kejadian beberapa tahun lalu keduanya di batasi kehidupannya oleh sang daddy.
Tentunya itu pun untuk kebaikan mereka sendiri. Mereka tidak bekerja atau melakukan kegiatan apapun tanpa pengawasan orang-orang kepercayaan daddy nya. Karena itu mereka menjalaninya dengan bermain-main bersama para gadis.
Tapi di luar itu, sebenarnya mereka sedang menyusun rencana yang matang untuk melakukan sesuatu. Dan hal tersebut telah di ketahui oleh Dave, karena itu Dave pun membuat kesepakatan yang lumayan besar dan beresiko dengan kedua teman masa kecilnya tersebut.
Usia Julian dan Edzhar hanya selisih 1 tahun dengan Dave. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil karena persahabatan kedua orang tua mereka yang begitu erat selama ini. Hanya saja mereka tinggal di negara yang berbeda, sehingga mereka hanya bertemu di waktu tertentu.
Setelah berhasil membuat kesepakatan besar dengan kedua teman masa kecilnya tersebut, Dave memilih untuk pulang lebih cepat. Ia sudah sangat merindukan istrinya. Dave pulang tanpa memberi tahu istrinya lebih dulu karena ingin memberi kejutan.
Tidak lupa sebelum pulang ia mampir ke toko bunga untuk membelikan bunga lily kuning kesukaan istrinya. Tidak lupa ia juga membelikan cheesecake kesukaan Lisa di Cafe yang sering mereka datangi dulu.
"Semoga kamu menyukai nya sayang." ujar Dave tersenyum sembari mengemudikan mobilnya sendiri.
Ia sengaja tidak meminta di antarkan oleh sopir seperti biasanya karena begitu bersemangat.