![My Life Partner [On Going.].](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-life-partner--on-going---.webp)
"Kevin Abraham.. Kau tidak pernah berubah..", ucap Steven Chan sembari meneguk minumannya..
Setelah selesai makan malam dengan Steven Chan, mereka berdua pun berangkat pulang menuju ke Jakarta. Dara menjadi sangat bingung, entahlah apa yang dipikirkan oleh Bos nya saat ini karena begitu tiba-tibanya ia mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta malam ini juga dengan kondisinya yang saat ini tengah mabuk.
"Tidak baik mengemudi disaat sedang mabuk", kenang Kevin.
Saat mengingat perkataan dari Steven Chan, seketika Kevin pun menghentikan laju mobilnya secara mendadak hingga membuat kening Dara terbentur kaca mobil, lantaran saat itu ia tidak mengenakan sabuk pengaman.
"Buuggg..!!!".
"Kau baik-baik saja Nn. Dara?", tanya Kevin cemas sembari mengusap kening Dara.
"Iya, aku baik-baik saja", jawab Dara sembari melepaskan tangan Kevin yang menyentuh keningnya.
"Maafkan aku..", sesal Kevin.
"Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan Pak Kevin???", tanya Dara.
"Aku baik-baik saja", jawab Kevin.
Sejenak Kevin menghentikan laju kendaraannya di pinggir jalan raya yang sangat sepi. Ia pun turun dari mobilnya sekaligus membawa sebotol air mineral untuk membasuh wajahnya, agar rasa mabuk yang di akibatkan dari minuman beralkohol dapat menghilang.
"Kenapa tadi aku meminum wine, padahal aku tidak ingin meminumnya???", gumam Kevin merasa bingung sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana kondisi Pak Kevin sekarang?", tanya Dara mulai cemas sembari mendekati Kevin.
"Aku lebih baik", jawab Kevin sembari menghela nafasnya.
"Pak Kevin bagaimana jika kita kembali ke hotel dan bermalam disana??? Besok paginya kita akan pulang ke Jakarta", ucap Dara.
"Tidak bisa, kita akan tetap melanjutkan perjalanan kita menuju Jakarta malam ini juga", ucap Kevin tegas.
"Tapi, Pak Kevin..", ucap Dara.
"Kenapa, apa kau takut?", tanya Kevin terkekeh.
"Tidak.. Aku tidak takut..", jawab Dara kesal, sembari membelakangi Kevin.
Disaat Dara ingin melangkah untuk pergi, seketika langkahnya terhenti saat Kevin memeluknya dari belakang. Ia pun memeluk Dara dengan begitu eratnya dan berkata..
"Kau tidak perlu khawatir dengan apapun karena ada aku disampingmu..", ucap Kevin sembari mengecup pipi Dara.
Begitu sangat terkejutnya Dara dengan apa yang telah dilakukan oleh Kevin terhadapnya hingga membuat kedua matanya menjadi membulat dan mulutnya membungkam tidak dapat berkata sepatah kata pun..
Kini detak jantung Dara seakan semakin berdegup dengan cepat tak kala ketika tubuhnya di putar hingga tepat berhadapan dengan Kevin.
Kevin menatap kedua mata Dara dengan tatapan mata yang sangat penuh dengan sebuah arti dan perlahan ia mulai membelai kulit wajahnya dengan lembut, hingga membuat wajah Dara mulai merona kemerahan bak seperti buah apel..
"Hey..!!! Nn. Dara apa yang sedang kau lakukan??? Apakah kau sedang melamun??? Ya Tuhan apa yang kau lamunkan malam-malam begini di tempat sepi seperti ini???!!", tanya Kevin berdecak heran.
Dara seketika tersadar saat mendengar hentakan dari suara Kevin yang keras dan ternyata semua itu hanya lamunannya saja.
"Ya ampun.. Sepertinya aku sudah tidak waras membayangkan hal yang tidak-tidak di tempat seperti???!!", batin Dara bingung.
Wajah Dara kini benar-benar menjadi kemerahan seperti layaknya udang yang baru saja direbus, begitu malu dirinya tak kala Kevin memandangnya dengan pikiran yang tidak-tidak terhadapnya.
Untuk mengalihkan hal itu sontak saja Dara mengambil dengan paksa botol air mineral yang sedang Bos nya pegang.
"Hey, apa yang kau lakukan???!!", hentak Kevin terkejut.
"Maaf ya Pak Kevin, aku minta air mineralnya??? Sepertinya aku sudah mulai mengantuk", jawab Dara tesenyum kaku.
"Sudahlah ambil saja untukmu!!! Kalau kau sudah selesai membasuh wajahmu, kita akan melanjutkan kembali perjalanan kita", ucap Kevin.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan seperti biasa mereka berdua hanya saling terdiam tanpa adanya kata-kata.
"Kalau kau sudah sangat mengantuk lebih baik kau tidur saja. Aku sudah tidak mabuk lagi jadi kau tidak perlu khawatir, kita akan selamat sampai tujuan", ucap Kevin sembari tetap fokus mengemudi.
"Aku tidak bisa tidur, aku akan tetap menemani Pak Kevin mengemudi sampai kita tiba di Jakarta", ucap Dara.
"Kau si tukang tidur, mana mungkin kau tidak bisa tidur!!!", batin kevin sembari terkekeh.
"Iya Pak Kevin, apa Pak Kevin butuh sesuatu???", tanya Dara.
"Oh, tidak ada. Aku hanya sedang bernyanyi!!!", jawab Kevin tergagap.
"Kevin, kau sedang memikirkan apa??? Hingga kau terlihat bodoh didepan bawahanmu!!!", batin Kevin.
Perjalanan yang sangat panjang tetapi terasa lebih cepat lantaran sepanjang jalan tidak ada kemacetan hingga separuh perjalanan pulang sudah dapat di tempuh. Namun mereka berdua masih saja tetap terdiam tanpa saling bertegur sapa seperti layaknya orang asing yang tidak saling mengenal, hingga begitu hening suasana disana.
"Kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal", batin Dara.
"Ternyata ucapan si tukang tidur ini benar, dia tidak tidur sama sekali. Dia masih terjaga menemaniku mengemudi", batin Kevin.
Semakin lama terasa semakin hening dan pada akhirnya Kevin pun memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka berdua, akan tetapi sapaan dari Kevin seakan tak membuat Dara tersadar dari lamunannya.
"Hey tukang tidur!!! Apakah kau tidak merasa mengantuk???", tanya Kevin.
"Hey!!!", tanya kembali Kevin.
"Hah, baru kali ini seorang Kevin Abraham tidak direspon oleh seorang wanita!!! Sangat menyebalkan!!!", gerutu Kevin.
Tak di respon sama sekali oleh bawahannya, seakan Kevin mulai meradang dan ia pun langsung membunyikan klakson mobilnya hingga membuat seketika Dara berteriak histeris.
"Akh..!!!!", teriak Dara histeris sembari menutup kedua matanya.
"Hey Nona, kau baik-baik saja!!!", tanya Kevin panik sembari menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak.
"Huh, huh.. Iya Pak, iya Pak Kevin!!!", jawab Dara dengan nafas tersengal-sengal.
"Apa yang sedang kau pikirkan Nona???", tanya Kevin sembari menatap Dara dengan cemas lantaran wajahnya memucat.
"Hampir saja aku terkena serangan jantung, Pak Kevin!!! Becandamu sangat keterlaluan", ucap Dara geram sembari membuka sabuk pengamannya.
"Maafkan aku, Nona!!! Aku tidak bermaksud membuatmu sampai terkejut seperti ini", sesal Kevin.
Kini gantian giliran Dara yang tidak menerima permintaan maaf dari Kevin atas perbuatan konyolnya, sehingga dengan amarahnya yang mulai memuncak, Dara pun mulai mengarahkan tangannya tepat pada wajah Kevin.
"Tiiidddaaakkkk!!!", teriak Kevin sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pak Kevin, Pak Kevin, ada apa Pak???!!", tanya Dara cemas dengan telapak tangannya yang melambai tepat didepan wajah Bos nya.
"Sial, kenapa sekarang jadi aku yang membayangkan hal yang tidak-tidak!!! Apakan ini efek dari wine yang aku minum sebelumnya??? Tapi tidak mungkin, aku sudah tidak mabuk lagi", batin Kevin.
"Pak Kevin sepertinya lelah, apa aku boleh menggantikan Pak Kevin mengemudi???", pinta Dara.
"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu khawatir", jawab Kevin sembari menjalankan kembali laju mobilnya.
"Baiklah Pak Kevin", ucap Dara tersenyum simpul.
"Apakah kau bisa mengemudi mobil???", tanya Kevin.
"Iya, bisa Pak Kevin", jawab Dara.
"Wow ternyata kau mempunyai kemampuan lebih yang tidak aku ketahui", batin Kevin.
"Oya Pak Kevin apakah sering berpergian malam seperti ini???", tanya Dara.
"Kenapa kau tanyakan itu lagi? Apakah kau takut?", tanya balik Kevin.
"Ah.. tidak, aku hanya bertanya saja", ucap Dara.
Seketika Dara menjadi teringat dengan perjalanan malamnya saat ia pergi meninggalkan kediamannya di Bandung sekitar 2 bulan lalu. Sesaat suasana menjadi hening kembali, melihat Dara yang berubah menjadi diam Kevin pun menjentikkan jarinya tepat di depan matanya.
Dara pun kembali tersadar dengan senyumannya yang terlihat sangat kaku..
"Apa yang sedang kau pikirkan??? Apakah kau sedang sakit pasca kau tenggelam tadi??? Karena sejak tadi kau selalu saja melamun!!!", tanya Kevin.
"Syukurlah jika kau sehat dan baik-baik saja", ucap Kevin tersenyum .
Kini keheningan diantara mereka berdua pun telah lenyap dan mereka berdua saling berbincang-bincang satu sama lain di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa akhirnya mereka sampai juga masuk ke perbatasan daerah Jakarta, akan tetapi seketika Kevin kembali menghentikan laju mobilnya lantaran didepannya ada sebuah kendaraan yang menghadangnya.
Mereka berdua pun sangat terkejut saat melihat 4 orang pria berbadan besar keluar dari mobil yang telah menghalangi laju mobilnya.
"Pak Kevin siapa mereka semua???", tanya Dara cemas.
"Aku tidak mengenal siapa mereka semua, tapi yang jelas kau jangan sampai keluar dari mobil ini. Kau harus tetap berada di sini, walaupun apa yang akan terjadi denganku nanti", ucap Kevin sembari menatap mata Dara.
"Aku akan telepon Polisi sekarang", ucap Dara.
"Percuma saja, mereka tidak akan datang secepat itu", ucap Kevin dan pergi keluar dari mobil dan menguncinya.
Dara sangat terkejut saat melihat Kevin sudah berada diluar mobil tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Dara semakin panik dan bingung apa yang harus ia lakukan lantaran baterai ponselnya sudah habis sehingga ia tidak dapat menelepon Polisi.
Di luar sana Kevin mulai menghadang ke empat orang pria yang tidak dikenalnya.
"Apa kepentingan kalian menghentikan perjalanan kami?", tanya Kevin tegas.
"Tidak ada, hanya kebetulan iseng saja", ucap salah satu dari pria itu.
Tanpa adanya basa-basi kemudian salah satu dari pria yang lainnya mulai menyerang Kevin, sehingga baku hantam tidak bisa untuk di elakan. Kevin pun tidak hanya tinggal diam, ia mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki olehnya untuk melakukan perlawanan.
Kevin memukul dan menendang satu demi satu diantara mereka berempat hingga mereka jatuh tersungkur tepat di hadapan Kevin. Mereka semua tidak ada yang mengetahui siapa yang menjadi lawan dari mereka berempat, ia adalah seseorang mantan pelatih Taekwondo.
Keempat pria itu tidak kehabisan akal, mereka tetap mencari cara lain agar dapat melumpuhkan Kevin, sehingga mereka berempat pun mengeluarkan senjata tajam yang dibawanya.
Melihat dari dalam mobil, Dara tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa agar Bos nya selamat, akan tetapi situasinya semakin mendesak hingga mengharuskan Dara segera keluar dari mobil lantaran di belakang Bos nya ada seseorang pria yang membawa senjata tajam ingin menikamnya dari belakang.
Dara pun segera membuka pintu mobil dan berlari cepat menuju pria yang akan melukai Bos nya. Lalu kemudian dengan murkanya Dara memukul bahu pria itu dengan menggunakan sepatu high heels miliknya..
"Rasakan ini!!!", teriak Dara penuh dengan amarah.
Spontan saja pria itu langsung teriak kesakitan dan segera menyingkirkan diri dari hadapan Kevin.
"Nona kenapa kau keluar dari mobil, sudah aku katakan jangan keluar dari sana walau apapun yang terjadi padaku!!!", ucap Kevin mengingatkannya dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Aku tidak mungkin hanya berdiam diri didalam mobil saat melihat ada seseorang yang ingin menyelakai Pak Kevin", ucap Dara panik.
"Kau tetap dibelakangku, jika bisa kau berlarilah masuk segera kedalam mobil", perintah Kevin.
Mereka berempat pun mulai kembali menyerang Kevin, kali ini mereka semua mengeluarkan senjata tajam lainnya yang telah sengaja mereka persiapkan.
Keselamatan Dara menjadi semakin terancam, Kevin pun berusaha dengan kemampuan yang dimilikinya untuk terus melindungi Dara. Melihat Kevin yang semakin kewalahan berusaha melakukan perlawanan sekaligus melindungi Dara, membuat keempat pria itu semakin bergejolak membabi buta untuk menyerang Kevin.
Di saat ada celah kelemahan menganga lebar yang tampak terlihat pada Kevin, peluang tidak di abaikan begitu saja oleh salah satu dari pria itu, tanpa rasa ragu pria itu pun segera mengarahkan pisau belatinya tepat ke arah Dara.
Kevin melihat dengan jeli bahaya yang datang ke arah Dara, dengan cepat ia pun segera meraih tubuh Dara dan memeluknya seraya melindunginya dari ancaman hingga salah satu dari lengan kiri Kevin akhirnya terkena sabetan pisau belati.
Tak terelakan serangan dari salah satu pria itu dan dengan derasnya darah segar pun mulai mengalir dari lengan kiri Kevin hingga membuat Dara semakin panik...
"Tolong.. Tolong.. Tolong..!!!!", teriak Dara histeris.
Dari kejauhan terdengar ada sebuah kendaraan yang akan melintas, lalu kemudian tanpa membuang waktu para pria bersenjata itu pun segera pergi meninggalkan tempat itu dengan laju mobilnya yang sangat cepat.
Setelah mereka berempat pergi dari sana, Dara segera menopang Bos nya yang baru saja terluka dari salah satu diantara mereka berempat. Dara pun berusaha untuk meminta pertolongan dari pengendara mobil yang akan melintas namun Kevin menolaknya, hal tersebut seakan membuat Dara menjadi bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Bos nya saat ini.
"Pak Kevin kenapa kita tidak minta pertolongan pengedaran mobil yang baru saja melintas, ini keadaan darurat?", tanya Dara heran.
"Tidak perlu, belum tentu orang itu bisa menolong kita", jawab Kevin.
"Baiklah Pak Kevin. Tapi sekarang bagaimana dengan keadaanmu??? Maafkan aku, ini semua karena kelalaianku..!!!", ucap Dara sedih dan menyesal.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Karena ini sudah merupakan kewajibanku sebagai seorang pria untuk melindungi seorang wanita", ucap Kevin.
Mendengarkan perkataan dari Bos nya, Dara hanya memandang wajahnya dengan nanar. Dan perlahan Dara meraih tubuh Kevin untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
Setelah Kevin terduduk di dalam mobil, Dara mulai melihat luka di lengan Bos nya. Begitu tampak luka yang sangat mengerikan bagi Kevin, namun tidak bagi Dara lantaran hal yang di lihatnya itu sudah biasa baginya. Dengan perlahan Dara mulai menggulung lengan panjang dari kemeja Bos nya, sehingga terlihat samar berapa dalam luka dari sabetan pisau belati itu.
"Pak Kevin apakah dimobil ini ada perlengkapan P3K???", tanya Dara.
"Sepertinya ada didalam dasbor mobil ini", jawab Kevin dengan nada suaranya yang meringis menahan sakit.
Dara pun segera mengambil kotak kecil yang berada di dalam dasbor mobil. Lalu perlahan Dara membuka kotak kecil itu, yang di dalamnya berisi beberapa obat-obatan.
Dengan cekatan Dara membasuh kedua telapak tangannya dengan alkohol untuk mensterilkan kedua tangannya lalu kemudian membuka kasa gulung yang kebetulan berada disana.
Dengan telaten Dara membersihkan luka di lengan Bos nya hingga sayatan luka bekas dari sabetan pisau belati itu terlihat. Syukulah luka tersebut tampak tidak terlalu dalam sehingga tidak mengenai pembuluh darahnya.
Begitu banyaknya kasa yang dibutuhkan untuk menutup luka sayatan yang berada di lengan Bos nya, agar darah yang mengalir dapat segera berhenti. Akan tetapi kasa yang berada di kotak kecil ini telah habis terpakai, sehingga mengharuskan Dara untuk merobek gaun cantik pemberian dari Steven Chan.
"Apa yang sedang kau lakukan, kenapa kau merobek gaunmu sendiri??? Bukankah kau sangat menyukai gaun yang diberikan oleh Steven Chan itu???!!", tanya Kevin bingung.
"Luka ini harus segera di tutup agar Pak Kevin tidak kehilangan darah lebih banyak lagi, karena ini amat sangat berbahaya jika dibiarkan", ucap Dara sembari merobek gaunnya dan kemudian melilitkan pada lengan Kevin.
Kevin hanya terdiam lantaran terkesima melihat Dara yang sangat cekatan dan teliti saat mengobati lukannya. Dan sesekali Kevin pun merintih menahan rasa sakit yang dirasakannya.
"Sabar ya Pak Kevin sebentar lagi aku akan selesai melilitkan lukamu", ucap Dara.
Kevin pun mengangguk dan menurut dengan apa yang telah diperintahkan oleh Dara. Dalam diam tanpa Dara sadari ternyata Kevin terus menatap wajahnya tanpa berkedip. Wajah Dara masih tetap terlihat mempesona walaupun riasanya telah memudar, di tambah lagi lesung pipi kanannya semakin melengkapi kesempurnaan kecantikannya.
Kini seakan perasaan bersalah, lelah dan rasa cemas di dalam hati Dara menghilang, setelah ia selesai mengobati luka Bos nya.
"Ok Pak Kevin sekarang sudah selesai..", ucap Dara.
Tampaknya kevin masih saja melamun sembari tetap memandang wajah Dara, hingga perkataan Dara sedikit pun tidak di gubris oleh Kevin.
Dara kembali mencoba menegur Kevin akan tetapi tetap saja tidak ada respon darinya, hingga dengan sengaja Dara menekan luka Kevin sekuatnya agar ia segera merespon.
"Awww..!!!", teriak Kevin kesakitan.
"Pak Kevin, aku sudah selesai mengobati lukamu. Tetapi apa Pak Kevin baik-baik saja???", tanya Dara.
"Oh, iya terima kasih. Aku baik-baik saja, aku hanya ingin tahu apa motif mereka menyerang kita", ucap Kevin mengalihkan.
"Kenapa Pak Kevin tidak melaporkan saja pada Polisi??? Agar dapat terungkap apa motif mereka sebenarnya?, ucap Dara.
"Tidak perlu, aku tidak ingin membuat keluargaku menjadi cemas karena hal ini..", ucap Kevin.
Tepat pukul 1 pagi Kevin pun mengajak Dara agar sementara waktu bermalam dimobil ini, namun dengan tegas Dara menolaknya tawaran dari Bos nya.
"Dengan kondisiku seperti ini aku tidak akan bisa mengemudi, jadi turutilah perkataanku", ucap Kevin sembari menahan sakit.
"Tidak, aku tidak mau berlama-lama di tempat ini. Karena aku tidak ingin para penjahat itu kembali lagi kesini", ucap Dara.
"Lalu siapa yang mengemudikan mobil ini???", tanya Kevin.
Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan pulang menuju ke Jakarta, akan tetapi kali ini Dara lah yang mengemudi. Kevin sampai terlupa kalau Dara bisa mengemudi, sekaligus sudah terbiasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga membuat Kevin menjadi sangat khawatir dengan keselamatan mereka berdua.
"Bisakah kau mengurangi kecepatan mobil ini?", teriak Kevin.
"Tidak bisa Pak, aku ingin cepat sampai di kostanku", teriak Dara.
"Tidak bisa, kau harus ikut bersamaku ke apartemenku", teriak Kevin.
Setelah mendengarkan perkataan Kevin seketika Dara pun menginjak pedal rem mobil secara mendadak, hingga membuat Kevin menjadi sangat terkejut.
"Astaga..!!! Apa kau ingin bunuh diri???!!!", teriak Kevin.
"Aku tidak akan pulang bersama dengan Pak Kevin ke apartemen??? Aku tidak mau!!! Aku akan pulang ke kostanku", ucap Dara gemas.
"Ini adalah perintah Bos mu sendiri, tidak ada bantahan apapun. Apa kau lupa dengan perjanjian kontrak kerja itu??? Apa perlu aku ingatkan kembali???", ancam Kevin.
"Dasar berengsek, dalam kondisinya seperti ini saja dia masih bisa mengancamku dengan kekuasaannya!!!", keluh batin Dara geram.