My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#19 : Akhir Dari Kontrak Kerja



"Semoga pertemuan mereka besok bukan akhir dari pertemuan mereka berdua", batin Windy berharap..


Di sepanjang malam ini setelah kepergian Windy dari kamar kostnya. Dara mulai menyiapkan surat pengunduran dirinya.


"Apa pun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap melakukan hal ini.. Maaf Windy, aku tidak memberi tahukanmu mengenai hal ini terlebih dahulu", ucap Dara.


Di sisi lain ternyata Kevin masih memikirkan semua perkataan yang disampaikan oleh Mala, hingga membuat Kevin sangat bingung keputusan apa yang harus ia ambil esok hari.


"Aku tidak ingin selalu membahayakan keselamatan Nn. Dara saat bersamaku. Apa yang harus aku lakukan???!!", tanya Kevin bingung..


🌹🌹🌹


Di keesokan harinya. Pada sore hari di ruangannya Kevin masih menunggu kedatangan Dara, yang hingga kini belum datang juga. Ponsel Dara pun masih belum aktif sampai hari ini, sehingga Kevin tidak tahu dimana keberadaan Dara saat ini.


"Bagaimana kabarmu Nona??? Kenapa ponselmu tidak bisa aku hubungi hingga hari ini???", tanya Kevin khawatir..


Terasa sudah semakin senja, mentari pun mulai meredup dan sang bulan mulai menampakkan wajahnya, akan tetapi Dara masih belum datang menemui Kevin. Hingga seluruh karyawan satu persatu sudah pergi meninggalkan kantor.


Disaat Kevin terbangun dari duduknya tiba-tiba terdengar suara langkah menuju ke ruangannya, Kevin pun segera menghampiri pintu dan segera membukanya, di dapati oleh Kevin ternyata dugaannya benar yang datang ke ruangannya adalah Dara.


"Pak Kevin..!!!", ucap Dara sangat terkejut.


"Sudah sangat lama aku menunggu kedatanganmu..", ucap Kevin dan mempersilahkan Dara untuk masuk kedalam ruangannya.


Perlahan Dara mulai masuk kedalam ruangan Kevin, tanpa adanya keraguan sedikitpun di dalam hatinya Dara langsung meletakkan surat pengunduran dirinya di atas meja kerja Kevin.


"Ini surat pengunduran diriku dan aku siap dengan semua pinalti ataupun itu", ucap Dara tegas.


Sejenak Kevin terdiam mendengarkan perkataan Dara..


"Aku tidak menyangka secepat ini kau belajar mengenali karakter Bos mu. Kau sudah memahami aku tidak suka dengan hal yang bertele-tele. Tetapi aku hargai keberanian dan keputusanmu", ucap Kevin dalam hatinya.


"Berapa banyak kerugianmu yang akan harus aku bayar???", tanya Dara.


"Aku sudah membatalkan surat perjanjian kontrak kerja itu dan kapanpun kau bisa meninggalkan perusahaan ini. Hasil dari kau bekerja di perusahaan ini selama 1 sampai 2 minggu ini, sudah aku transfer ke nomor rekeningmu", ucap Kevin.


"Baiklah jika memang ini semua sudah menjadi keputusan Pak Kevin, aku akan menerimanya. Pak Kevin terima kasih banyak untuk semuanya, permisi..", ucap Dara membalikkan tubuhnya sembari melangkah pergi.


Disaat Dara akan pergi, seketika Kevin memanggilnya sehingga membuat langkah Dara pun menjadi terhenti..


"Nn. Dara, apakah kau tidak ingin menjabat tangan Bos mu untuk terakhir kalinya???", tanya Kevin.


"Haruskah aku melakukannya???", tanya Dara.


"Tentu saja..", ucap Kevin.


Dara pun mulai mendekati Kevin yang sedang berdiri dan disaat Dara mulai mengulurkan tangannya seketika Kevin meraih tangan Dara dan meletakkan sesuatu ditangannya.


"Apa ini Pak Kevin???", tanya Dara bingung.


"Bukalah dan kau pun akan mengetahuinya", jawab Kevin.


Dara sangat terkejut dan bingung dengan kotak kecil yang Kevin berikan padanya. Perlahan Dara membuka kotak kecil yang dipegangnya dan setelah dibuka ternyata berisi sepasang anting-anting kesayangan Dara yang sudah hilang.


"Pak Kevin bagaimana bisa menemukan anting-anting ini???!!", tanya Dara gembira.


"Seharusnya kau memberitahuku jika anting-antingmu sudah hilang, karena itu bisa disalah gunakan oleh orang lain", jawab Kevin.


"Iya, maaf Pak Kevin. Anting-anting ini telah hilang setelah aku pergi dengan Kak Mala dari butik beberapa hari lalu", ucap Dara.


"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik dan semoga kau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dari perusahaan ini. Terima kasih untuk semuanya yang telah kau lakukan untuk perusahaan ini", ucap Kevin sembari mengulurkan tangannya.


Dengan rasa penuh percaya diri Dara pun meraih tangan Kevin untuk berjabat tangan, lalu kemudian Dara pergi meninggalkan Kevin sendiri diruangnya.


Mereka saling melangkah menjauh satu sama lain dan seakan tidak ada lagi pertemuan yang akan mempertemukan mereka kembali..


Di malam harinya Dara mulai mengemas isi kopernya karena besok Mamanya akan datang menjemputnya pulang kembali ke Bandung. Sembari ia berkemas seakan semua kenangan yang sudah dilaluinya saat ia tinggal di Jakarta seketika terlintas semua dibenaknya, tanpa terkecuali pertemuan pertama kalinya dengan Kevin. Saat mengingat hal itu semua seakan membuat Dara menjadi jengkel dan kesal dengan perbuatan Kevin yang sangat berani menciumnya.


"Pria berengsek itu ternyata adalah Bos ku.. Semua tentangmu akan menjadi kenanganku", ucap Dara tersenyum.


🌹🌹🌹


Di pagi hari yang terlihat lebih redup lantaran sinar sang mentari bersembunyi dibalik awan gelap, seakan mengiringi ke pergian Dara..


Sebelum Dara pergi meninggalkan tempat kostnya, terlebih dahulu ia datang bertamu ke rumah Tante Linda untuk berpamitan sekaligus menyerahkan kunci kamar kostan. Akan tetapi disana Dara hanya bertemu dengan Ivan yang kebetulan akan pergi berangkat ke rumah sakit.


"Kenapa kau berhenti bekerja??? Apa Kevin membuat masalah denganmu???", tanya Ivan bingung.


"Aku akan menikah..", jawab Dara tanpa sadar.


"Apa menikah???!!", tanya Ivan sangat terkejut.


"Maksudnya aku ingin kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahku", jawab Dara mengalihkan pembicaraan.


"Bukankah kau bisa melanjutkan kuliahmu sembari kau bekerja disini??? Jika kau ingin aku akan memberikanmu rekomendasi agar kau bisa dengan mudah bekerja di rumah sakit tempatku bekerja", ucap Ivan menawarkan.


"Terima kasih Aa Ivan atas tawaranmu, akan tetapi aku harus tetap kembali ke Bandung karena kedua orang tuaku menugguku disana. Aa Ivan tolong sampaikan salam dan ucapan terima kasihku kepada Tante Linda, permisi..", ucap Dara sembari menjabat tangan Ivan dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Dari kejauhan Ivan hanya memperhatikan langkah Dara yang terus melangkah semakin jauh dan menjauh dari dirinya dan kehidupannya.


Di tempat yang berbeda, Windy pun mencoba menghubungi Kevin via telepon untuk menanyakan hasil pertemuan mereka berdua kemarin.


Windy pun sangat terkejut dan tidak menyangka setelah Kevin bercerita ternyata Dara telah mengundurkan diri di perusahaan Kevin.


"Mas Kevin kenapa tidak memberitahukan aku bahwa sejak kemarin Dara sudah mengundurkan diri???", tanya Windy kesal..


"Bukankah Nn. Dara sahabatmu? Ada apa dengan kalian berdua sehingga Dara merahasiakan hal ini darimu???", tanya Kevin.


"Ini semua pasti karena perjodohannya hingga Dara melakukan hal ini padaku..", ucap Windy dalam hatinya.


"Windy.. Windy, apakah kau masih disana???!!", tanya Kevin berkali-kali.


"Iya Mas Kevin.. Maaf Mas Kevin, aku sudah mengganggu aktivitasmu. Setelah ini aku akan segera datang ke kostan untuk menemui Dara", ucap Windy.


"Windy percuma saja kau datang kesana karena Ivan sudah memberitahuku bahwa sejak pagi Nn. Dara telah pergi meninggalkan kostan menuju ke Bandung", ucap Kevin.


Spontan Windy pun langsung menutup ponselnya dan kemudian menangis sedih dikarenakan kepergian sahabatnya yang sangat mendadak tanpa memberitahukannya terlebih dahulu.


Kesedihan setelah Kepergian Dara bukan hanya di rasakan oleh Windy, akan tetapi Kevin pun mulai merasakan kesepian setelah kepergiannya. Akan tetapi Kevin tidak ingin terlalu larut dalam hal ini, Kevin pun memulai kembali rencana bisnisnya dengan perusahaan yang lainnya.


"Pak Tony, tolong besok siapkan di mejaku materi rapat dengan perusahaan Venus. Besok aku akan datang ke kantor seperti biasa", ucap Kevin dengan Manager perusahaannya via telepon dan tidak lama kemudian Kevin pun menutup ponselnya.


"Sayang kenapa kau tidak beristirahat seminggu ini??? Bukankah Ivan sudah memperingatimu untuk beristirahat hingga lukamu membaik???", tanya Bunda.


"Lukaku sudah membaik dan aku pun sudah sehat, jadi besok aku sudah boleh kembali bekerja", jawab Kevin tersenyum.


"Bunda tahu kau pekerja keras sama seperti ayahmu, tetapi untuk yang satu ini tolong kau perhatikan???", ucap Bunda.


"Aku melakukan semua ini karena aku ingin mengejar waktu, agar sebelum hari minggu bisnisku dengan Perusahaan Venus sudah selesai. Minggu depan bukankah acara pernikahanku??? Aku mau menuruti perintah dan permintaan kalian untuk menikah dengan seseorang wanita pilihan kalian berdua, tetapi apakah kalian berdua tidak bisa menuruti permintaanku untuk yang satu ini???!!", tanya Kevin.


"Lancang sekali kau berbicara dengan Bundamu seperti itu!!! Seharusnya kau berterima kasih pada kami karena telah membatalkan pertunanganmu dengan Viola. Asal kau tahu Papi Viola adalah pengusaha yang sangat licik, yang menghalalkan berbagai macam cara untuk kelancaran bisnisnya. Kau kira Ayah tidak tahu pertunangan Viola dan Steven Chan itu seperti rekayasa, demi keuntungan bisnis yang melimpah mereka bersepakat menjodohkan anak-anak mereka", ucap Ayah Kevin marah.


"Lantas apa bedanya aku dengan mereka??? Kau pun sama menjodohkan aku dengan anak rekan bisinismu???!!", ucap Kevin kesal.


"Anak tidak tahu di untung..!!!" bentak Ayah sangat marah..


"Sudahlah cukup hentikan..!!!", teriak Bunda.


"Bunda, uruslah dan didik anakmu agar dia bisa lebih sopan terhadap orang tuanya sendiri. Ayah pergi dulu ke kantor", ucap Ayah dan pergi meninggalkan mereka berdua.


Belakangan ini hubungan Kevin dan Ayahnya menjadi semakin menegang dan tidak harmonis lantaran perbedaan prinsip diantara mereka berdua, sehingga Kevin lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen miliknya sendiri. Syukurlah pertengkaran itu tidak berkelanjutan sehingga suasana di rumah tidak jadi memanas seperti sebelumnya.


"Sayang apakah keputusan kami ini, sangat membebanimu???", tanya Bunda sembari membelai lengan Kevin dengan lembut.


Mendengar pertanyaan Bundanya seperti itu, kemudian Kevin memegang kedua tangannya sembari mengajak Ibundanya duduk di sofa..


"Bunda, aku ini anak satu-satunya di keluarga ini. Siapa yang tidak mengenali Tn. Abraham???!! Semua orang pun tahu siapa Ayah dan aku sebagai putra tunggalnya, sedikit pun aku tidak ingin mempermalukan harga diri Ayah ataupun keluarga ini. Walaupun awalnya aku sangat terbebani dan amat sangat tidak menyukai dengan keputusan kalian tetapi sekarang aku telah kalah, aku menyerah dengan keadaan seperti ini. Semua ini akan aku jalani dengan semampuku akan tetapi jika suatu hari nanti hubungan ini tidak bisa aku pertahankan hidup bersama dengannya lagi, aku akan pergi meninggalkannya dan kembali pada Viola", ucap Kevin.


"Kau mengancam kami???!!", tanya Bunda.


"Tidak, ini bukanlah ancaman tetapi ini seperti kesepakatan sebagaimana kalian bersepakat dengan rekan bisnis kalian", jawab Kevin.


"Apa bedanya perkataanmu dengan sebuah ancaman???", tanya kembali Bunda.


"Bunda, aku ingin menikah dengan seseorang wanita bukan karena adanya sebuah kesepakatan atau pun perjanjian diantara kalian akan tetapi aku menikahinya karena ada rasa cinta di antara kami", ucap Kevin.


"Baiklah, kami minta maaf jika memang kami memaksamu dengan pernikahan ini. Tetapi kami tidak akan membuatmu menjadi tersesat dengan pernikahan ini. Karena kami memilihnya menjadi pasangan hidupmu bukan karena kesepakatan atau pun perjanjian seperti yang kau katakan tadi akan tetapi karena wanita ini jauh lebih baik dari pada Viola", ucap Bunda.


Mendengarkan perkataan Ibundanya, seakan membuat Kevin menjadi terdiam dan berfikir apa maksud Ibundanya mengatakan hal demikian padanya..