My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#38. Kebohongan Dara



"Esok hari aku akan ambil cuti untuk menemanimu sayang dan sekaligus menebus semua kesalahanku padamu. Aku berjanji aku tidak akan semudah itu untuk percaya lagi dengan perkataan orang lain", janji Kevin.


🌹🌹🌹


Di pagi harinya matahari terlihat lebih cerah bersinar seusainya turunnya hujan semalam. Terlihat wajah lelah istrinya yang masih tertidur lelap di ranjang.


Dengan tatapan penuh kasih sayang, tak hentinya Kevin terus memandangi istrinya. Hingga cahaya sinar mentari yang tersingkap pada celah-celah tirai jendela yang terbuka akhirnya dapat membangunkan sang istri tercinta dari tidur lelapnya.


"Assalamualaikum, sayang", salam Dara dengan senyumannya.


"Wa'alaikumsalam, sayang!!!", jawab Kevin terhentak terkejut.


"Mas Kevin kenapa???", tanya Dara merasa heran.


"Oh, tidak ada apa-apa sayang. Bagaimana keadaanmu pagi ini??? Apakah kepalamu masih sakit???", tanya Kevin cemas sembari menyetuh wajah istrinya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Oya Mas Kevin maaf ya tadi aku setelah shalat Subuh ketiduran, jadi aku belum sempat memasak untuk sarapan pagi", sesal Dara.


"Sayang, kau tidak perlu khawatir akan hal itu karena pagi ini aku telah membuat makanan kesukaanmu pagi ini. Tara, mie goreng penuh dengan cinta", ucap Kevin dengan senyumannya.


Dara pun tersenyum bahagia melihat apa yang telah suaminya siapkan untuknya pagi ini. Tampak terlihat sebuah meja kecil yang sudah tersusun rapih dengan beberapa makanan yang sudah tersaji manis di atasnya.


Seketika Dara pun langsung memeluk dan sekaligus mencium pipi suaminya, sebagai rasa ucapan terima kasih atas apa yang telah diberikan padanya.


"Loh kok hanya cium pipi saja sih!!!", ucap Kevin tersenyum sembari menyodorkan sebuah ponsel baru.


Wajah Dara seketika memerah bak seperti buah apel setelah mendengarkan perkataannya dan sekaligus dengan bersamaan ia memperoleh hadiah ponsel baru pemberian dari suaminya. Melihat respon istrinya seperti itu Kevin pun membalasnya dengan senyuman dan memeluk istrinya.


"Pernikahan kita sudah berjalan 2 bulan tetapi kenapa kau masih terlihat malu-malu dengan ku???", ucap Kevin tersenyum sembari mencubit hidung istrinya.


Dara semakin tersipu malu dengan semua perlakuan Kevin terhadapnya hingga ia hanya dapat memberikan senyuman termanisnya untuk sang suami tercinta.


"Aku sangat bahagia melihat senyumanmu dan beserta lesung pipi mu sayang. Apakah kau bahagia menikah dengan ku???", tanya Kevin dengan wajah serius.


Melihat wajah Kevin yang sangat begitu tegang menunggu jawaban darinya, seakan membuat Dara tidak dapat menahan rasa geli diperutnya sehingga ia pun tertawa geli tepat di hadapan Kevin. Hal itu seakan membuat Kevin menjadi merajuk, wajahnya pun mulai berubah menunjukkan rasa kesalnya dan sontak saja Dara kemudian langsung menciumi dan sekaligus memeluk suaminya sebagai ungkapan rasa cintanya.


Tawa dan kebahagiaan dari mereka berdua di pagi ini seketika saja menghilang seusainya Kevin menerima telepon dari Ibundanya mengenai kabar Ayahandanya yang sedang terbaring di rumah sakit lantaran terkena serangan jantung.


Kevin pun seakan syok mendengarkan kabar itu hingga tawa dan kebahagiaan yang tergores di wajah pun seketika memudar.


"Ada apa Mas??? Siapa yang meneleponmu???", tanya Dara cemas.


"Bunda yang menelepon dan mengatakan Ayah terkena serangan jantung, sekarang beliau di rawat di rumah sakit", jawab Kevin lemas.


Melihat keadaan suaminya yang terlihat sangat syok, Dara pun mengajaknya perlahan untuk duduk di sofa dan berusaha mencoba menenangkannya.


"Mas yang sabar ya, semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberikan kesembuhan untuk Ayah", ucap Dara sembari mengusap lembut bahu suaminya.


"Aamiin, terima kasih sayang. Tetapi maafkan aku sayang karena aku harus segera pergi kesana tanpa bersamamu", ujar Kevin.


"Kenapa Mas???", tanya Dara.


"Saat ini kau sedang tidak sehat sayang, aku tidak ingin kau pun sampai jatuh sakit karena kelelahan. Jadi biar aku saja sendiri yang datang kesana", jawab Kevin sembari menggenggam tangan istrinya.


"Tapi bukankah mereka sekarang sedang berada di Surabaya??? Aku juga ingin ikut bersamamu untuk merawat Ayah disana", ujar Dara.


"Sudahlah sayang, turutilah perkataanku", ucap Kevin sembari menyetuh wajah istrinya dengan lembut.


Perdebatan diantara mereka berdua seakan membuat Dara menjadi terdiam dan perlahan Kevin pun meraih pinggang istrinya dan memeluknya dengan erat untuk berusaha meraih kepercayaannya kembali. Dan kemudian pada akhirnya Dara pun mau tersenyum kepada kevin sebagai tanda setuju dengan permintaannya.


Setelah kepergian Kevin, kini hanya tinggallah Dara seorang diri di rumah dan kesempatan ini lantas tidak Dara sia-sia begitu saja. Lalu kemudian ia pun kembali menelepon seseorang pria yang kemarin telah ia temui.


"Baiklah, aku akan pergi kesana sekarang. Terima kasih", ucap Dara via telepon.


Sejenak hati Dara menjadi sangat ragu dengan keputusan yang akan diambilnya, akan tetapi semua ini telah terlanjur terjadi dan seharusnya hal ini memang harus dilakukannya walaupun ia harus berbohong pada suami yang sangat di cintainya.


"Mas Kevin maafkan aku karena telah berbohong padamu", sesal batin Dara.


Kali ini Dara pun berusaha jauh lebih berhati-hati dalam bertindak dengan semua yang telah direncanakannya agar kali ini tidak ada siapapun yang mengetahuinya.


Di siang harinya Dara dengan sengaja memesan Taxi online, agar tidak ada seseorang pun yang mencurigai dan mengikutinya kembali akan tetapi ternyata sejak kemarin tepat dikediamannya ada seseorang yang telah memantaunya.


Viola sepertinya masih menaruh rasa curiga dengan Dara sehingg hari ini pun ia tak luput dari pengawasan mantan kekasih suaminya. Kesempatan apapun tidak ingin disia-siakan juga oleh Viola, maka dengan cara apapun pasti akan Viola lakukan demi Kevin kembali kedalam pelukannya.


Dalam perjalanan Dara menuju suatu tempat, jantungnya semakin berdetak tak beraturan. Rasa takut dan cemas seakan berkecamuk di dalam hatinya, lantaran memikirkan apa yang akan terjadi nanti, apalagi saat ini suaminya sedang berada di tempat lain.


Sesampainya Dara di sebuah perusahaan, langkahnya tersentak berhenti ketika keraguan mulai kembali menyelimuti hatinya.


"Bismillahirrahmanirrahim.. Ya Allah, permudahlah langkahku ini. Aamiin", batin Dara berharap sembari sejenak memejamkan kedua matanya dan kemudian melanjutkan kembali langkahnya.


"Nona, benarkah ini dirimu??? Aku sangat mempercayaimu tetapi mengapa kau melakukan hal ini padaku!!! Sebenarnya apa yang kau inginkan, sayang???!!", batin Kevin.


Setelah memperoleh izin dari Sekretaris Presdir, Dara pun menuju kearah ruangan Presdir berada. Ia masih berdiri terpaku di depan pintu masuk ruangan Presiden Direktur, seakan keraguan hatinya semakin menyelimuti hampir keseluruhan tubuhnya hingga ia tidak menyadari ketika pintu tersebut terbuka tepat di hadapannya ada seseorang yang selama ini ia tunggu-tunggu kedatangannya ke Indonesia.


"Selamat siang Nn. Dara!!! Sudah sangat lama kita tidak berjumpa. Ada apakah gerangan hingga kau datang kesini???!! Apakah kau merindukanku atau apakah kau baru tersadar siapa itu Kevin Abraham sebenarnya???!!".


"Tn. Steven Chan", gumam Dara dengan mata terbelalak.


Di dalam sebuah ruangan hanya ada mereka berdua saja disana, hal itu seakan membuat Dara canggung apalagi saat Steven Chan duduk tepat disampingnya.


"Setelah 2 bulan lebih aku tidak melihatmu ternyata kau semakin cantik dan mempesona Nn. Dara, tetapi sangat disayangkan kau lebih memilih si berengsek Kevin Abraham dari pa pada aku!!!", ujar Steven Chan.


"Stop hentikan bualanmu Tn. Steven Chan!!! Kau jangan salah paham dulu, tujuanku menemuimu bukan untuk memperolok suamiku!!!", ucap Dara tegas sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Hah, ternyata sekarang prilakumu sama sepertinya!!! Lalu apa sebenarnya tujuanmu datang ke kantorku???!!", tanya Steven Chan sembari berdecak kesal.


"Aku hanya ingin menjelaskan semuanya tentang peristiwa belasan tahun silam antara kau dengan Mas Kevin", jawab Dara.


"Apa maksudmu??? Tidak ada yang perlu dijelaskan tentang apapun!!! Jika kau hanya ingin membahas mengenai hal itu, lebih baik kau segera pergi tinggalkan tempat ini karena aku tidak ada waktu untuk mendengarkannya", ucap Steven Chan sembari duduk di kursinya.


Terlihat sangat jelas perubahan di wajah Steven Chan, seusainya mendengarkan perkataan dari Dara. Amarahnya seakan mulai muncul diwajahnya namun sedikit pun Dara tidak mau mundur selangkah pun dengan apa yang telah dilakukannya sejauh ini.


"Aku telah membohongi suamiku dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena aku telah sangat lama menunggumu untuk datang kembali ke Indonesia", batin Dara.


Dara pun mulai menarik nafasnya dengan panjang dan lalu kemudian mulai menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan pada Steven Chan.


"Peristiwa belasan tahun lalu itu, sepenuhnya bukan kesalahan dari suamiku yakni Mas Kevin. Ini hanyalah salah paham saja diantara kalian berdua. Asal kau tahu  almarhumah Ibu mu telah lama mengidap kanker serviks hingga stadium akhir. Walaupun sudah lama melakukan kemoterapi di Singapura, akan tetapi kesembuhan tidak memihaknya. Kecelakaan itu adalah jalan pintas yang diambil oleh Ibu mu lantaran beliau tidak ingin melihat kesedihan terjadi pada putra yang sangat disayanginya ketika sang maut menjemputnya. Ibu mu yakin keputusannya itu sangat tepat karena beliau anggap, jika ia yang pergi mungkin kesedihan tidak akan lama ada dalam hatimu, dibandingkan jika yang pergi adalah sahabat sejatimu mungkin kesedihan hatimu akan berlarut-larut dan ditambah lagi cepat atau lambat ia pun akan pergi dari dunia ini karena penyakit yang dideritanya. Akan tapi pada kenyataannya semua keliruan dan kesalahan pahaman ini malah mulai muncul semenjak peristiwa itu dan semuanya itu terus saja terjadi hingga sampai saat ini", cerita Dara mencoba menjelaskan pada Steven Chan.


"Itu tidak mungkin dan kau jangan mencoba mengarang cerita sesukamu Ny. Kevin Abraham!!!", bantah Steven Chan mulai geram.


"Aku memang tidak mempunyai banyak bukti tentang hal itu, akan tetapi kau bisa mencari tahu semua tentang kebenaran ceritaku melalui Bunda Lili yakni Ibunda dari Mas Kevin. Beliau lebih banyak mengetahui tentang semua cerita itu", ujar Dara.


"Hentikan semua bualanmu itu!!! Cepat pergi dari ruanganku!!! Sebelum kesabaranku habis!!!", perintah Steven Chan penuh amarah.


"Baiklah aku akan segera pergi dari tempat ini, tetapi aku mohon hentikan semua perselisihan dan kesalahan pahaman ini???", pinta Dara memohon dengan melipat kedua telapak tangannya.


"Cepat pergi dari sini!!!", bentak Steven Chan.


Terlihat perlahan-lahan amarah Steven Chan semakin memuncak akan tetapi Dara masih tetap saja diam berdiri dihadapan Steven Chan menunggu jawaban darinya.


Steven Chan pun melangkah untuk mencoba mendekati Dara yang sedang berdiri dihadapannya, namun seketika pintu ruangannya dibuka paksa oleh seseorang pria yang datang dengan langkah cepat dan seketika saja pria itu langsung memberikan bogem mentah yang sangat keras tepat pada wajahnya.


"Buuukkkk!!!".


Begitu sangat terkejutnya Dara lantaran seketika saja Kevin datang di tengah-tengah mereka berdua. Kedatangan suaminya yang sangat tiba-tiba, ditambah lagi dengan hantaman yang begitu sangat kerasnya mengenai Steven Chan. Tak ayal membuat suasana disana menjadi sangat tegang dan memanas, lantaran Steven Chan tidak menerima dengan apa yang telah dilakukan oleh Kevin.


"Berengsek apa yang kau inginkan???!!", tanya Steven Chan geram sembari memegang wajahnya.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu seperti itu!!!", jawab Kevin dengan tatapan tajam.


"Mas Kevin, bagaimana bisa sampai ketempat ini???", tanya Dara merasa heran.


"Hah, kenapa kau melakukan hal ini??? Aku sangat mempercayaimu, tetapi kenapa kau melakukan hal ini padaku???", tanya Kevin sembari menarik nafasnya dengan panjang.


"Jika kalian berdua hanya ingin membahas tentang perasaan dan rumah tangga kalian berdua, lebih segera pergi dari tempat ini karena aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk mendengarkan hal yang tidak penting ini", ujar Steven Chan.


"Tutup mulutmu!!!", bentak Kevin geram.


"Seharusnya kau yang tutup mulutmu!!! Karena apa maksudmu memerintahkannya untuk menemuiku dan berusaha menjelaskan semua tentang masa lalu kita", ujar Steven Chan.


"Berengsek!!!", teriak Steven Chan sembari menarik kemeja Kevin.


Tak terima dengan perbuatan yang telah Kevin lakukan terhadapnya, Steven Chan pun mulai membalas serangan Kevin hingga baku hantam tak terelakkan terjadi tepat di hadapan Dara.


Terlihat perkelahian yang sangat sengit diantara mereka berdua, akan tetapi disaat Security datang dan ingin melerai perkelahian itu Steven Chan menolaknya dan memerintahkan Security agar segera pergi dari ruangannya.


"Pergi kalian semua, jika kalian tidak ingin aku pecat!!!", teriak Steven Chan murka.


Mereka berdua pun saling memukul satu sama lain dan seruan Dara yang berulang kali terlontar tetap saja tidak didengarkan oleh mereka berdua. Dan pada akhirnya tak satupun dari mereka berdua yang memenangkan dari perkelahian itu. Mereka berdua sama-sama terluka dan kelelahan hingga perkelahian itupun terhenti dengan sendirinya.


"Hentikan!!! Sudah cukup kalian berkelahi!!! Kalian berdua sama-sama keras dan angkuh!!! Kalian berdua saling mengelak satu sama lain, bahkan menganggap persahabatan diantara kalian berdua benar-benar telah berakhir. Tapi pada kenyataannya aku melihat semuanya hari ini dengan kedua netraku bahwa ikatan persahabatan di hati kalian berdua masih tetap sama seperti belasan tahun silam, tidak pernah ada yang berubah. Sikap kalian berdua sama-sama terlalu kekanak-kanakan, sangat memalukan!!!", ujar Dara dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Melihat sang istri pergi meninggalkan ruangan itu, Kevin pun segera pergi berlari menyusul istrinya tanpa memperdulikan Steven Chan.


"Berengsek!!!", gerutu Steven Chan.