![My Life Partner [On Going.].](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-life-partner--on-going---.webp)
"Berengsek!!!", gerutu Steven Chan.
Dengan cepatnya Kevin berlari mengejar istrinya, seraya ingin meminta penjelasan darinya. Dan lengan istrinya pun akhirnya berhasil diraih oleh Kevin sehingga kini langkah kakinya pun terhenti .
"Tunggu, aku butuh semua penjelasan darimu!!! Apa maksud semua ini??? Apakah kau yang telah merencanakan semua ini???", tanya Kevin sembari memegang pergelangan tangan istrinya.
Dara hanya terdiam dan terlihat enggan menjawab pertanyaan dari Kevin, akan tetapi seketika Kevin menarik lengannya hingga tubuh Dara jatuh tepat dipelukannya.
"Sayang kenapa kau nekat melakukan semua hal ini??? Kau membahayakan dirimu sendiri!!!", ucap Kevin sembari memeluk istrinya.
"Aku tidak ingin melihat kesedihan yang berlarut-larut di dalam hatimu", ucap Dara.
"Aku tidak menyangka ternyata kau seberani ini mengambil keputusan. Tidak pernah terlintas di benakku, kau dapat mengungkap peristiwa belasan tahun lalu yang selama ini telah aku kubur sedalam-dalamnya sebagai masa lalu yang sangat kelabu", ujar Kevin.
Kini Kevin tidak membutuhkan lagi penjelasan apapun dari istrinya, lantaran sebelumnya ia telah mendengarkan semua percakapan diantara mereka berdua di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Keraguan yang sebelumnya bersemayam di dalam hati Kevin mengenai kejujuran sang istri, akhirnya semua itu telah sirna. Dan dengan peristiwa yang telah terjadi di hari ini semakin membuat Kevin yakin dengan pilihan pasangan hidupnya yakni seorang wanita yang kelak menjadi ibu dari anak-anaknya nanti adalah seorang wanita yang Soleha. Wanita yang mampu menjaga kehormatannya ketika sang suami tidak berada di sampingnya.
Seusai semua salah faham dan rahasia masa lalu terkuak, kini mereka berdua pun menjadi semakin mesra dan semua hal itu terlihat dari Kevin yang enggan melepaskan dekapannya terhadap Dara, hingga sampai pada perjalanan mereka menuju ke tempat parkir, Kevin masih saja terus merangkul dan mendekap tubuh istrinya dengan begitu eratnya.
"Mas Kevin bagaimana bisa datang ketempat ini??? Bukankah Mas Kevin akan pergi ke Surabaya???", Tanya Dara bingung.
"Bagaimana bisa aku pergi kesana disaat istri yang sangat aku cintai pergi menemui pria lain??? Aku membatalkan penerbanganku dan aku akan memboyongmu untuk ikut bersamaku ke Surabaya", jawab Kevin.
"Loh, kenapa kau hanya tersenyum???Aku sangat mencemaskanmu sayang. Lalu bagaimana bisa kau menyelidiki masa laluku dengan Steven Chan, hingga informasi yang kau peroleh itu tidak diragukan lagi kebenarannya???", tanya kembali Kevin begitu penasarannya.
"Mas Kevin mau tau???", tanya Dara tersenyum.
"Tentu saja. Sayang jangan membuatku jadi penasaran seperti ini!!!", tanya Kevin semakin penasaran.
"Tapi Mas Kevin harus berjanji tidak akan menghukum siapa pun, setelah tahu siapa orang yang telah membantuku menyelesaikan teka-teki ini", pinta Dara.
"Ok baiklah", jawab Kevin tersenyum.
Akhirnya Dara pun bercerita pada suaminya tentang seseorang yang telah membantunya mengungkap peristiwa masa lalu dari suaminya. Kevin hanya mengernyitkan dahinya setelah mengetahui seseorang yang telah membantu istrinya, yang tidak lain adalah anak buahnya sendiri.
"Apa Leo!!! Bagaimana bisa!!! Ternyata diam-diam dia berani menikamku dari belakang!!! Lihat saja nanti apa yang akan terjadi padamu Leo!!!", ucap Kevin geram sembari menghentikan langkahnya.
"Mas Kevin bukankah kau sudah berjanji tidak akan menghukum seseorang yang telah membantuku!!!", ujar Dara.
"Ok, ok.. Tapi..", bantah Kevin.
"Tidak ada bantahan apapun, jadi Mas Kevin harus menepati janji. Karena tidak ada bedanya jika yang memerintah Pak Leo itu adalah Ny. Kevin Abraham atau Tn. Kevin Abraham yang beri perintah!!!", ucap Dara dengan mata membulat.
"Sayang kau semakin sangat cerdas dengan semua ini, ternyata aku tidak salah memilih pasangan hidupku", ucap Kevin tersenyum sembari mencubit hidung istrinya.
"Awww..", teriak Dara sembari terkekeh.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan kebahagiaan yang seakan tidak ingin pernah pudar dengan apapun juga. Akan tetapi disaat mereka berdua sedang berjalan menuju ke mobil mereka yang sedang terparkir, seketika saja terdengar suara mobil yang akan melintas dari arah belakang, sontak saja Kevin pun langsung menolehkan pandangan matanya tepat kearah mobil yang akan melintas itu.
Terlihat oleh Kevin sebuah mobil sedan berwarna hitam yang semakin mendekati kearah mereka berdua dengan kecepatan tinggi. Menyadari akan bahaya di depan matanya, tanpa berpikir panjang Kevin pun segera mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh tepat ketempat yang lebih aman. Namun naasnya demi menyelamatkan sang istri tercinta, Kevin tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya yang ada di depan matanya hingga musibah kecelakaan pun itu tidak dapat terelakan.
Hampir tak percaya tepat di depan mata Dara, suami yang sangat dicintainya pun akhirnya tertabrak oleh sebuah mobil yang melintas. Ia hanya dapat berteriak histeris melihat suaminya tergeletak tak berdaya di atas aspal dengan darah yang mengalir tepat di kepalanya.
"Astaghfirullahallazim, Mas Kevin!!!".
Bagai Dara musibah kecelakaan ini adalah bagai petir yang menyambar di siang hari. Musibah kecelakaan yang tidak dapat untuk ditawar lagi dengan apapun lantaran ini semua sudah menjadi suratan takdir dari suaminya.
Dengan cepat Kevin pun segera dilarikan ke rumah sakit swasta yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian dan saat ini ia tengah mempertaruhkan nyawanya di meja operasi. Perdarahan hebat yang mengenai kepala Kevin lantaran benturan keras yang mengenai badan jalan sehingga mengharuskannya menjalankan operasi Cito dan Dara pun berusaha untuk menenangkan dirinya sebisa mungkin agar ia mampu berpikir dengan jernih dalam mengambil keputusan yang tepat disaat situasi sulit seperti ini.
Demi terjaganya rahasia kecelakaan yang menimpa suaminya Dara pun dengan sengaja mengrahasiakan hal ini dari semua rekan kerja, kerabat dan terutama pada kedua orang tua dari mereka berdua.
Dengan sikap Dara yang tegas, ia pun memerintahkan Sekretaris suaminya untuk merahasiakan kecelakaan yang menimpa Presiden Direktur mereka, agar berita ini tidak terdengar oleh Ayahanda Kevin yang sama-sama sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit akibat serangan jantung.
"Gita tolong informasikan ke seluruh kantor cabang untuk merahasiakan kecelakaan Pak Kevin, karena aku tidak ingin rahasia ini sampai diketahui oleh rekan bisnis suamiku atau pun media", perintah Dara via telepon seluler.
"Baik, Bu. Saya akan melaksanakan perintah dari Ibu Dara", jawab Gita.
Seusainya perbincangan via telepon, Dara pun kembali terdiam diri sembari menunggu operasi suaminya selesai dengan rasa cemas yang begitu teramat besar dalam hatinya. Tak henti-hentinya ia terus berdoa dalam batinnya untuk keselamatan dan kelancaran operasi suaminya, hingga tak terasa butiran bening pun mentes dari kedua celah matanya yang membasahi pipinya.
"Ya Allah lindungilah suami hamba, berikanlah keselamatan untuknya. Aamiin Aamiin Ya Robbal'alamin..", batin Dara bermohon dengan linangan air matanya.
Di kesendiriannya saat ini seakan rasa pilu menerpa kalbunya, namun seketika saja lamunannya memudar setelah ponselnya berdering. Ponselnya pun dilihat olehnya dan ternyata yang meneleponnya adalah Ibu mertuanya. Rasa ragu pun seketika menghampirinya untuk tidak mengangkat panggilan masuk itu, akan tetapi ia tidak ingin membuat Ibunda dari suaminya menjadi cemas, sehingga pada akhirnya mengharuskan Dara untuk berbohong agar rahasia ini tetap terjaga.
"Assalamualaikum, sayang", ucap Bunda.
"Wa-Wa'alaikumsalam Bunda", jawab Dara tergagap.
"Tidak Bunda, aku baik-baik saja jadi Bunda tidak perlu khawatir", jawab Dara.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Lalu mana Kevin, kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi??? Bukankah hari ini dia akan datang ke Surabaya???", tanya Bunda.
"Oh, maaf Bunda hari ini Mas Kevin batal pergi ke Surabaya karena ada hal mendesak yang mengharuskannya datang ke Solok dan mungkin butuh beberapa hari Mas Kevin berada di sana", jawab Dara.
"Solok!!! Kenapa Kevin tidak memberitahukan sebelumnya???", gumam Bunda.
"Iya Bunda, Mas Kevin tadi terburu-buru pergi ke sana sehingga tidak sempat memberitahukan terlebih dahulu pada Bunda", ucap Dara meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu nanti Bunda akan meneleponnya kembali", ujar Bunda.
"Bunda bagaimana dengan kondisi Ayah sekarang??? Maaf ya Bunda untuk hari ini aku belum bisa datang ke Surabaya untuk membesuk Ayah disana, mungkin 2-3 hari lagi aku akan datang kesana", ucap Dara.
"Alhamdulillah kodisi Ayah membaik, kau tidak perlu cemas sayang dan bila kau tidak sempat datang kesini tidak apa-apa. Lagi pula kedua orang tuamu besok akan datang kesini langsung dari Sidney", ucap Bunda.
"Syukurlah kedua orang tuaku sedang berlibur disana, jadi setidaknya berita kecelakaan Mas Kevin dapat tersimpan rapat", batin Dara.
Setelah kurang lebih 15 menit mereka berbincang-bincang via telepon, mereka berdua pun mengakhiri pembicaraan.
Sesungguhnya jantung Dara begitu sangat berdetak kencang tak beraturan dengan kebohongan yang telah dibuatnya demi menutupi kecelakaan yang terjadi pada suaminya. Semua itu ia lakukan agar Ayah mertuanya tidak kembali terkena serangan jantung yang dapat membahayakan kehidupannya.
"Maafkan aku Bunda, aku terpaksa melakukan hal ini!!!", batin Dara sembari menghela nafas panjang.
Detik jam terus berdetak dan terus berputar hingga menujukan waktu tepat pukul 19.00. Sudah kurang lebih 2 jam Kevin memperjuangkan kehidupannya di meja operasi, namun belum kunjung usai operasi tersebut.
Terlihat Dara yang kelelahan akibat terus menangis mencemaskan keadaan suaminya hingga sampai membuatnya menjadi ketiduran di bangku ruangan tunggu ruang operasi.
Malam semakin larut namun Dara masih tetap tertidur pulas disana, hingga kedatangan Sekretaris suaminya pun tak ia sadari.
"Ibu Dara!!!", tegur Gita berusaha membangunkan istri Bos nya.
"Hah!!!".
"Maaf Ibu Dara, saya membuat Ibu menjadi terkejut", sesal Gita.
"Hmmm, tidak apa-apa Gita. Sekarang sudah pukul berapa ya???", tanya Dara sembari mengusap kedua matanya.
"Sudah pukul 21.10 Bu", jawab Gita.
"Astaghfirullah Alazim.. Aku sampai ketiduran selama itu!!! Lalu bagaimana dengan operasi Pak Kevin???", tanya Dara sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Alhamdulillah, operasi Pak Kevin berjalan dengan lancar Bu dan sekarang beliau sudah di pindahkan ke ruangan ICU", jawab Gita.
"Alhamdulillah, Ya Allah.. Terima kasih Ya Allah atas karunia Mu", ucap Dara tersenyum bahagia.
Tujuan kedatangan Gita sebagai Sekretaris suaminya sepertinya hanya sia-sia saja, meskipun Gita telah meminta Dara untuk pulang kembali ke kediamannya akan tetapi ia masih tetap bersikeras menolak permintaan Sekretaris suaminya lantaran ia masih ingin tetap menemani suaminya disini hingga siuman.
Setelah kepergian Gita, kini hati Dara kembali di selimuti oleh rasa cemas yang teramat sangat besar akan hasil operasi dari suaminya dan tak sabar rasanya ia ingin fajar segera datang untuk menyapanya di esok hari.
Dikesendiriannya saat ini seakan hanya sang malam saja yang setia menemaninya, malam yang begitu terasa sangat dingin hingga rasa dingin itu seperti merasuk sampai ke sekujur tubuh dan jiwanya. Hal itu semakin membuat kalbunya menjadi sangat pilu dengan semua yang telah terjadi di hari ini.
"Aku sangat berharap saat terbangun tidur tadi semua itu hanyalah mimpi burukku saja, tetapi ternyata semua ini adalah kenyataan yang harus aku jalani. Ya Allah berikanlah hambamu ini kekuatan..", batin Dara terisak pilu dengan linangan air matanya.
🌹🌹🌹
Waktu telah menunjukkan tepat pukul 04.00 dan entah mengapa waktu seakan terasa sangat lama bagi Dara. Hingga tampak di kedua celah matanya pun mulai terlihat lingkaran yang menghitam lantaran ia masih tetap setia menunggu sang mentari menyapanya pagi ini.
Kedua matanya terus terjaga hingga akhirnya sang mentari pun menampakkan wajahnya dengan malu-malu di balik awan putih. Senyum Dara mulai sedikit mengembang melihat cahaya sinar mentari yang menerpa ke sisi arah kaca jendela rumah sakit, melihat hal itu ia pun segera berlari menuju kearah kaca jendela berada.
Begitu bergembiranya Dara melihat sang mentari pagi ini yang seakan-akan pengharapan dan penantiannya semalaman membuahkan hasil yang sangat manis untuknya. Dan kini hatinya di penuhi keyakinan yang sangat kuat bahwa suaminya yang sedang terbaring lemah tak berdaya akan segera pulih dan membaik.
"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah mengembalikan keyakinanku ini yang kemarin sempat terombang-ambing seperti sebuah perahu kertas di lautan luas", batin Dara sembari tersenyum.
Dengan penuh semangat dan keyakinan yang sangat besar di dalam hatinya, Dara pun mulai beranjak dari rasa pilu dan kesedihannya yang sempat menyelimutinya. Ia mulai melangkah pergi menuju ruang ICU untuk bertemu dengan Dokter jaga yang hari ini sedang bertugas, namun seketika saja langkahnya kaki terhentak terhenti lantaran tiba-tiba saja kepalanya menjadi sakit seperti beberapa hari lalu dan hal itu seakan membuat tubuhnya menjadi lemah tak mampu menopang dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya seakan-akan semakin lunglai dan seperti ingin terjatuh ke lantai..
"Astaghfirullah Alazim Ya Allah, ada apa dengan diriku ini???!! Berikanlah hambamu ini kesehatan", batin Dara berharap.
Seakan-akan tubuh Dara semakin melemah dan dirinya tak kuasa untuk mampu menopang tubuhnya lagi dan seketika itu pula ia pun ingin terjatuh terjelembak ke lantai..
Disaat yang bersamaan dengan sigapnya seseorang pria berkacamata berlari dan langsung segera menopang tubuh Dara hingga hal yang tidak diinginkan pun bisa terelakan.
Sontak saja Dara terbelalak dengan kedua matanya yang membulat, sesaat menyadari bahwa ada seseorang pria yang telah menolongnya dari bahaya dan setelah dilihatnya ternyata seseorang yang telah menyelamatkannya adalah sosok seorang pria yang sekian lama tidak pernah ia dijumpai..
"A.. Aa..!!!".