My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#33 : Persahabatan Sejati



"Apa yang sedang mereka berdua lakukan di tempat ini? Apakah mungkin saat itu Mala hanya mengelabuiku saja, agar dia bisa terbebas dari pidana???!! Apa yang sedang mereka berdua rencanakan kali ini???", tanya Kevin dalam hatinya..


Diam-diam Kevin memperhatikan gerak-gerik mereka berdua dari jauh, terlihat Mala yang sedang membawa sebuah koper besar dan sepertinya ingin pergi ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.. Begitu sangat ramai penumpang dan pengunjung di Bandara sehingga pandangan mata Kevin mulai teralihkan dan pada akhirnya ia pun kehilangan jejak dari Steven Chan dan Mala.


"Kemana perginya mereka???", tanya Kevin dalam hati sembari pandangan matanya terus mencari keberadaan mereka berdua.


Dengan kehilangan jejak dari mereka berdua, Kevin pun mengambil keputusan untuk lebih memilih datang langsung menemui Steven Chan ke kantor perusahaannya. Lalu kemudian Kevin menelepon Pak Ucup untuk segera menjemputnya di Bandara.


Di tempat yang berbeda, semenjak pagi hari hingga pukul 11 siang Dara terus menerus menelepon Windy, akan tetapi ponselnya selalu saja tidak aktif dan pada akhirnya setelah jam 1 siang barulah Windy mengaktifkan ponselnya kembali..


"Windy..!!! Apa yang telah kau lakukan padaku semalam???", teriak Dara sangat murka via telepon.


"Ya ampun Dara, kenapa kau langsung marah-marah seperti ini??!!!", tanya Windy..


"Jangan pura-pura bodoh Windy, apa yang kau masukkan ke dalam minumanku???", tanya Dara marah.


"Hanya sedikit obat penenang saja", jawab Windy.


"Apa sedikit obat penenang???!! Semalam aku hampir saja mati setelah meminum minuman darimu, kepalaku sangat pusing dan lalu..", ucap Dara.


Seketika perkataan Dara pun terhenti dan ia enggan melanjutkan kembali ceritanya, akan tetapi Windy terus saja mendesaknya agar ia mau bercerita dan hingga akhirnya setelah di bujuk oleh Windy, ia pun mau menceritakannya pada sahabatnya apa yang telah terjadi semalam seusainya ia meminum minuman tersebut.


Setelah mendengar semua cerita dari sahabatnya, Windy hanya tertawa lepas dan tidak ada henti-hentinya mentertawakan Dara hingga membuatnya menjadi geram..


"Aku rasa kau sudah sangat puas mentertawaiku", ucap Dara mulai merajuk.


"Ok, ok baiklah aku tidak akan mentertawaimu lagi tetapi memang inilah tugas yang pertama dari seorang wanita setelah menikah dan menjadi istri, dia harus melayani suaminya dengan sepenuh hatinya. Kau akan sangat berdosa jika menolak ajakan dari suamimu", ucap Windy.


"Iya aku masih sangat mengingat semua perkataanmu sebelum aku menikah. Tetapi itu tidak semudah yang aku bayangkan, tahukah kau itu terasa sangat tidak nyaman sekali hingga sampai detik ini..", ucap Dara.


"Pada awalnya semua wanita merasakan hal yang sama seperti apa yang kau rasakan saat ini, termasuk juga aku. Tetapi pada akhirnya kau pun akan dapat menikmati sensasinya", ucap Windy.


Sejenak Dara terdiam mendengarkan perkataan dari Windy yang semakin menjurus pada cerita yang lebih vulgar. Pikirannya pun entah mengapa seketika menjadi mengawang-awang dan mulai membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya malam ini dan malam-malam berikutnya..


"Tiiidddaaakkkk..!!!", jerit Dara histeris..


"Ada apa Dara???!!", tanya Windy sangat terkejut.


"Oh, tidak ada", jawab Dara dengan menarik nafas panjang.


"Ya ampun tengah hari begini kau melamun yang tidak-tidak???!! Kebiasaanmu itu tidak pernah berubah", ucap Windy merasa heran..


"Kita membicarakan hal yang lain saja, Karen pikiranku sepertinya sudah mulai mengacau. Rencanmu semalam telah sukses, akan tapi ingat jangan pernah kau melakukan hal itu lagi padaku???!!", ucap Dara memperingati sahabatnya.


Mendengarkan perkataan Dara Windy hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Mereka berdua pun kembali melanjutkan perbincangan mereka via telepon..


Di sisi lain, perjalan Kevin menuju ke kantor perusahaan Steven Chan berjalan dengan sangat lancar tanpa adanya hambatan sedikit pun sehingga ia bisa datang secara bersamaan dengan Steven Chan di kantor perusahaannya..


Mereka berdua pun saling bertatap muka ketika bersamaan turun dari mobil mewah mereka masing-masing. Tatapan sinis pun mulai terpancar dari sorotan mata mereka berdua, akan tetapi mereka berdua masih bisa menahannya dan berjalan beriringan hingga sampai di ruangan Steven Chan.


Sesampainya di ruangan Steven Chan mulai meletakan tas kecil di mejanya, namun tanpa basa-basi Kevin langsung mengajukan pertanyaan padanya hingga membuat Steven Chan menjadi mulai geram..


"Apa yang tadi kau lakukan di Bandara dengan Mala??? Lalu apa tujuanmu memperalat Mala hingga dia menjadi sangat membenciku?", tanya Kevin sangat curiga.


"Dasar tidak punya sopan santun, datang bertamu seenaknya seperti ini!!!", ucap Steven Chan.


"Jawab pertanyaanku tadi???!!", tanya Kevin dengan nada tinggi.


"Aku bebas untuk melakukan apapun sesuka hatiku, itu bukan urusanmu???", ucap Steven Chan singkat.


"Sekarang sudah menjadi urusanku karena istriku terbawa dalam masalah ini", ucap Kevin.


"Oya, selamat atas pernikahanmu sobat. Aku akui Ayahmu sangat hebat dan luar biasa merahasiakan lokasi acara pernikahanmu hingga aku tidak mengetahui lokasi pernikahanmu saat di gelar. Tadinya aku ingin menyabotase acara pernikahanmu dan sekaligus menggagalakannya agar kau, juga seluruh keluargamu malu di hadapan semua orang serta rekan bisnis kalian", ucap Steven Chan sembari duduk di kursinya.


"Hentikan bualanmu Steven.. Aku peringatkan untuk yang pertama dan terakhir kalinya, jangan pernah kau mencoba untuk menyentuh atau sampai melukai sedikit pun Ny. Kevin Abraham!!! Jika hal itu sampai terjadi aku tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih buruk dari itu", ancam Kevin dengan tatapan matanya yang sangat tajam pada Steven Chan.


"Kau mengancamku Kevin???!! Aku sedikit pun tidak akan pernah takut dengan ancamanmu. Asal kau tahu di dalam genggamanku, aku mempunyai kartu As. Jika nantinya Nn. Dara yang terluka pastinya kau akan lebih sangat terluka dan menderita, bukan???!!. Jadi jangan kau lupakan kartu As-ku tadi!!!", ancam balik Steven Chan.


"Katakan apa keinginanmu??? Jika kau menginginkan semua tender proyek sekaligus perusahaan yang aku miliki. Ambillah semuanya dariku, akan tetapi jangan pernah kau melakukan apapun pada istriku", ucap Kevin.


"Apa yang kau sebutkan tadi, aku pun sudah mempunyai semunya Kevin dan aku tidak menginginkan semua itu", ucap Steven Chan.


"Lalu apa yang kau inginkan???", tanya Kevin.


"Aku menginginkan Ibuku kembali dan Nn. Dara. Apakah kau dapat mewujudkannya???", tanya Steven Chan sembari menatap mata Kevin dengan sangat tajam.


Mendengarkan perkataan dari Steven Chan sontak saja Kevin langsung naik pitam dan segera berjalan menghampiri Steven Chan yang tengah terduduk dikursinya sembari menarik kemejanya..


"Berengsek!!! Kau sudah semakin gila!!!", ucap Kevin murka dan tetap menarik kemejanya.


"Aku semakin gila karena perbuatanmu belasan tahun yang lalu!!! Apakah kau sudah lupa akan hal itu???!!", ucap Steven Chan sembari melepaskan tangan Kevin dari kemejanya.


Kevin pun mulai terduduk dan kemudian perlahan memejamkan kedua matanya sembari mengenang kembali peristiwa kecelakaan 16 tahun yang lalu.. Kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kematian pada Ibunda tercinta dari Steven Chan.


Semua peristiwa itu terjadi ketika Kevin dan Steven Chan yang masih sama-sama duduk di bangku SMP. Di masa itu mereka adalah sahabat sejati sejak sedari SD. Mereka berdua selalu bersama dimanapun mereka berada. Persahabatan sejati yang tidak mengenal perbedaan di antara mereka berdua dari perbedaan keyakinan hingga perbedaan kebudayaan. Mereka sama-sama saling sayang dan saling mengasihi satu sama lain seperti layaknya kakak beradik, jika salah satu diantara mereka disakiti oleh orang lain, maka salah satu dari mereka akan membalasnya kepada siapapun yang telah menyakiti sahabatnya.


Persahabatan sejati yang tulus dari waktu ke waktu hingga mereka beranjak remaja, wajah mereka pun ketika itu seperti layaknya anak kembar dengan postur tinggi tubuhnya yang sama, berkulit putih, berhidung mancung dan berambut lurus dengan potongan rambut yang sama yakni shaggy bowl cut. Sepintas bila di lihat mereka berdua sangat mirip, yang hanya membedakannya adalah dari mata mereka berdua saja, Steven Chan mempunyai sepasang mata lebih sipit di bandingkan dengan Kevin. Tak ayal Ibunda mereka masing-masing pun sudah menganggap mereka sebagai putra mereka sendiri.


Begitu persahabatan sejati yang sangat membahagiakan sekaligus sangat menyenangkan bagi mereka berdua saat itu. Lantaran di setiap harinya kisah mereka berdua selalu dihiasi dengan keceriaan, canda serta tawa. Hingga segala kesulitan apapun dari mulai pelajaran sampai hal yang lainnya dapat mereka berdua lalui bersama.


Namun naas persahabatan sejati mereka berdua pun seakan sirnah begitu saja seperti guyuran hujan pada siang hari itu. Kemalangan lalu lintas yang terjadi ketika itu seakan sangat membekas di ingatan Kevin dan khususnya Steven Chan. Demi untuk menyelamatkan Kevin dari pengendara mobil yang ugal-ugalan, Ibunda tercinta dari Steven Chan rela menukar nyawanya demi Kevin.


Kecelakaan yang sangat memilukan bagi mereka berdua yang selalu terkenang dalam ingatan mereka berdua hingga sampai detik ini..


Dengan membuka kedua matanya,


Kevin pun mulai tersadar dengan lamunannya itu. Lalu kemudian ia beranjak dari duduknya dan perlahan pergi menghampiri Steven Chan yang masih terduduk di meja kerjanya.


"Jika ribuan hingga jutaan kata maaf tidak dapat menghapus kesalahanku dimasa lalu. Jadi apa yang harus aku lakukan untuk membayar semua kesalahanku ini???", tanya Kevin.


"Kau ingin tahu apa yang harus kau lakukan???", tanya balik Steven Chan sembari beranjak dari duduknya.


"Iya katakanlah!!!", jawab Kevin.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan memaafkanmu jika kau berlutut di hadapanku", ucap Steven Chan dengan tatapan matanya sangat sinis.


Sejenak Kevin hanya terdiam mendengarkan perkataannya dan tampak sangat terlihat jelas tatapan dari sepasang mata Steven Chan yang penuh dengan kebencian serta permusuhan terhadapnya. Sepertinya hal apapun yang akan Kevin lakukan untuk menjadikan Steven Chan dapat memaafkannya seakan sangat sulit diwujudkan. Sehingga ia tidak dapat lagi menampik apapun yang akan terjadi nanti di ruang ini, jika perdebatan diantara mereka berdua semakin memanas.


Sesaat Steven Chan hanya terdiam dan kembali terduduk di kursinya.. Perkataan Kevin seakan sangat mengenai hatinya, akan tetapi pikirannya malah berusaha menampik dan menolaknya. Hal itu akhirnya semakin membuat hati dan pikiran Steven Chan menjadi berkecamuk hingga menjadikannya seketika seperti hilang akal.


Steven Chan pun segera beranjak dari duduknya, lalu kemudian ia berteriak-teriak sekaligus marah-marah tidak karuan sembari membanting barang-barang yang ada di sekitarnya seperti layaknya orang yang tidak waras.


"Pergi.. Pergilah dari tempat ini!!! Aku tidak ingin mendengarkan perkataan apapun darimu!!!", teriak Steven Chan sangat murka sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangannya..


Melihat tingkah laku Steven Chan seperti itu, tanpa pikir panjang Kevin pun segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Di sisi lain di kediaman Dara, di kesendiriannya ia mulai merapikan kamar tidurnya yang masih berantakan dan tanpa sengaja ternyata ia melihat dompet Kevin yang tergeletak di meja riasnya.. Begitu penasarannya Dara dengan isi dompet dari suaminya dan perlahan tapi pasti ia pun mulai membuka isi dompetnya.


Terlihat di dalam dompetnya terdapat kartu KTP, SIM, beberapa kartu ATM dan sejumlah uang tunai pecahan 50.000 serta 100.000 yang jumlah nominalnya tidak terlalu banyak. Selain itu di dalam dompetnya ia melihat sebuah foto Kevin dengan sahabatnya yakni Ivan dan Aldo. Persahabatan dan kebersamaan yang terlihat sangat kompak yang tidak lekang oleh waktu. Dara pun hanya tersenyum sendiri ketika melihat foto Kevin ketika masih SMU..


"Ternyata wajah tampannya sudah terlihat sejak dulu, pantaslah dia menjadi pria sangat angkuh dan Playboy. Jauh sangat berbeda dengan sosok Aa Ivan yang terlihat lebih pemalu dan pendiam dia juga sangat tampan, dia adalah idolaku sejak dari dulu. Dan satu lagi Mas Aldo pria berisi yang membuat Windy sangat tergila-gila dengan sosoknya yang begitu dewasa dan sangat penyayang", ucap Dara tersenyum.


Dara pun terus memandangi foto yang tersimpan di dalam dompet Kevin dan disaat ia akan bermaksud mengambil foto tersebut, seketika saja tepat di belakang foto itu ada satu foto lain yang tepat terjatuh ke lantai. Dara pun segera mengambilnya dari lantai dan setelah foto tersebut diambilnya, lalu kemudian perlahan ia mulai melihat foto yang berada di tangannya. Namun Dara pun menjadi sangat terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yg telah di lihatnya..


"Ya ampun, benarkah ini foto Kevin dan Steven Chan??? Apakah mereka berdua saling mengenal sejak dulu???", tanya Dara penuh dengan tanda tanya.


Tak lama kemudian akhirnya semua pertanyaan Dara pun terjawab sudah setelah ia membalikkan foto yang di pegangnya. Terlihat disana sebuah tulisan yang berisi..


"Kevin Abraham dan Steven Chan, Sahabat Sejati".


Semakin terungkap identitas dari foto yang dipegangnya akan tetapi Semakin banyak pula pertanyaan yang melintas di benaknya, ada apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua sehingga mereka lebih terlihat seperti musuh, dibandingkan dengan sahabat.


"Aku akan coba cari tahu tentang hal ini", ucap Dara dan tetap memegang foto itu.


Di saat Dara masih membayangkan foto yang dipegangnya, seketika saja ponselnya berdering hingga membuatnya menjadi terkejut. Dan setelah di lihat ponselnya ternyata yang meneleponnya adalah Kevin.


"Assalamualaikum sayang???", ucap Kevin.


"Wa'alaikumsalam..", jawab Dara gelagapan.


"Sayang apakah kau sedang kurang sehat????", tanya Kevin.


"Oh, tidak.. Aku baik-baik saja", jawab Dara gugup.


"Ok baiklah, aku hanya ingin bertanya saja apakah dompetku tertinggal di rumah???", tanya kembali Kevin.


"Dompetmu ada di kamarku", jawab Dara.


"Oh syukrulah", ucap Kevin.


"Lalu bagaimana denganmu??? Jika dompetmu tertinggal disini???", tanya Dara sedikit khawatir.


"Terima kasih sayang kau telah mengkhawatirkan keadaanku. Kau tidak perlu cemas, aku bersama Pak Ucup dan beberapa ATM-ku ada padanya", ucap Kevin gembira.


"Aku sampai lupa, si angkuh dan tukang ngancam ini adalah seorang orang kaya yang tidak mungkin akan kehabisan uang", gumam Dara.


"Hii, sayang apa yang barusan kau katakan???!!", tanya Kevin penasaran.


"Oh tidak ada.. Oya sampai kapan kau berada disana???", tanya Dara mengalihkan pembicaraan.


"Apakah kau mulai merindukanku???", tanya balik Kevin tertawa perlahan.


"Hmmm, aku terjebak dengan pertanyaanku sendiri!!! Aku rasa pertanyaanku ini akan membuatnya semakin besar kepala", batin Dara.


"Tidak, maksudku.. Jika kau disana masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, lebih baik kau fokus saja dulu dengan pekerjaanmu tadi", jawab Dara.


"Aku sekarang sedang cuti sehingga tidak ada lagi pekerjaan apapun. Sekalipun saat ini aku sedang sibuk bekerja, jika istriku tercinta yang memintaku untuk segera pulang, maka aku akan lebih memilih untuk menuruti permintaanmu sayang. Sabar ya sayang, aku akan segera kembali ke Bandung", ucap Kevin.


Setelah berapa menit kemudian, mereka berdua pun mengakhiri pembicaraan mereka via telepon. Dan untuk sesaat dengan perbicangan mereka berdua tadi, sementara waktu dapat mengalihkan beban pikiran Kevin lantaran sebelumnya ia baru saja selesai berdebat dengan Steven Chan.


Menjelang sore harinya.. Setelah semua pekerjaan rumah di selesaikannya, Dara hanya menghabiskan waktu berada di dalam kamarnya sembari tengkurap mendengarkan musik dari ponselnya dengan menggunakan earphone. Lantaran ia hanya seorang diri berada dirumah karena Mamanya sedang pergi bersama teman-temannya untuk arisan.


Begitu asyiknya Dara mendengarkan musik sembari bernyanyi hingga ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang telah masuk ke dalam kamarnya.


Tak seberapa lama kemudian, seketika Dara baru tersadar setelah ada seseorang yang membelai rambutnya yang panjang..


"Mama kenapa sudah pulang secepat ini, apa tidak jadi arisannya???", tanya Dara dan tetap mengenakan earphone di telinganya.


Namun pertanyaan Dara tidak di jawab sepatah katapun oleh Mamanya sehingga membuatnya mulai menjadi merasa heran, lalu kemudian Dara pun segera menoleh tepat ke arah seseorang yang sedang berdiri di sampingnya. Dan begitu sangat terkejutnya Dara setelah melihat kedatangan Kevin yang sangat begitu cepat datang kembali dari Jakarta.


Dara pun segera bangkit dari pembaringannya setelah melihat Kevin tepat berada di depan matanya, lantaran ketika itu ia hanya mengenakan pakaian yang minim.


"Kenapa tidak mengetuk pintu dan mengucapkan salam lebih dahulu sebelum masuk ke kamarku???", tanya Dara gugup sembari terduduk di ranjangnya dan sekaligus melepaskan earphone di kedua telinganya.


"Aku sudah melakukan semua itu 5 menit yang lalu, akan tetapi kau tidak mendengarnya karena earphone yang melekat di kedua telingamu itu", jawab Kevin.


"Lalu kenapa sangat cepat sekali kau pulang kerumah, padahal baru sejam yang lalu kau meneleponku???", tanya kembali Dara sembari menutup pakaiannya dengan menggunakan bantal.


"Tadi aku menggunakan helikopter pribadi, sehingga perjalananku jadi sangat singkat. Sayang, suamimu baru saja pulang bukannya kau menyuguhkan aku minuman akan tetapi kau malah menyuguhkan aku banyak pertanyaan???", ucap Kevin sembari menarik nafas panjang dan terduduk di sofa.


"Baiklah, aku akan membawakannya untukmu", ucap Dara.


"Tunggu sayang, aku sangat menyukai pakaian yang dikenakanmu sore ini. Begitu sangat menantang dan menggodaku!!!", ucap Kevin tersenyum sembari mengedipkan matanya.


Mendengarkan perkataan Kevin seperti itu seakan membuat bulu kuduk Dara berdiri dan kemudian ia pun segera berlari pergi menuju ke dapur untuk menghindari mendengar perkataan dari Kevin selanjutnya.


Selama di dapur membuatkan minuman untuk suaminya, Dara tidak henti-hentinya selalu saja berbicara sendiri..


"Kalau aku tahu kau akan datang secepat ini, aku tidak akan mengenakan pakaian ini. Tatapan matamu yang sangat tajam dan licik, seakan-akan ingin memangsaku hidup-hidup. Apa aku harus menggunakan cara yang sama seperti Windy??? Kali ini aku harus memberikanmu obat tidur agar malam ini kau tidak dapat mengganguku. Sepertinya Mama menyimpan obat itu di kotak obat, aku akan mengambilnya", ucap Dara.


Seusainya Dara membuat minuman, di dalam kamar ia tidak mendapati Kevin disana. Ia pun meletakkan minuman yang dibuatnya di atas meja. Lalu tidak berapa lama kemudian dari dalam kamar mandi Kevin pun berteriak minta tolong kepada Dara untuk segera di bawakan handuk..


"Sayang tolong ambilkan aku handuk!!!", teriak Kevin.


"Kenapa dia sangat bodoh, tidak membawa handuk saat akan mandi!!!", ucap Dara.


Dara pun menuruti perintah suaminya dan berjalan menuju ke kamar mandi sembari memegang handuk..


"Sayang mana handuknya!!!", teriak Kevin.


"Ulurkan tanganmu dulu, nanti aku akan meletakannya tepat di tanganmu", ucap Dara.


Kevin pun mengikuti apa yang telah di perintahkan oleh istrinya, lalu ia mulai mengulurkan tangannya dan terlihat olehnya Dara mulai meletakan handuk tepat di tangan kevin.. Akan tetapi begitu dengan cepatnya seketika lengan Dara langsung di tarik paksa oleh Kevin hingga masuk ke dalam kamar mandi. Begitu sangat terkejutnya Dara dengan apa yang telah Kevin lakukan padanya..