My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#30 : Mencintaimu



"Ny. Kevin Abraham..!!!", ucap seorang wanita itu.


Dara pun segera menoleh ke arah belakang dan seketika ia sangat terkejut saat melihat di hadapannya adalah seseorang wanita yang dikenalnya dan sekaligus wanita yang sedang di cari oleh suaminya.


"Kak Mala..!!!", ucap Dara terkejut.


"Rupanya kau masih mengenaliku Dara dengan penampilan aku seperti ini", ucap Mala sembari melepaskan topi dan kacamatanya.


"Walaupun aku sudah lama tidak bertemu denganmu, aku masih bisa mengenalimu Kak Mala. Tetapi bagaimana kau bisa disini??? Bukankah kau tadi berjalan ke arah sana???", tanya Dara bingung.


"Ternyata kau lebih pandai dari pada si berengsek Kevin itu..", jawab Mala sembari tertawa.


"Apa maksudmu berkata demikian???", tanya Dara.


"Oh, rupanya Ny. Kevin Abraham marah mendengar suaminya di sebut berengsek. Itu panggilan yang sangat tepat untuk suamimu", ucap Mala kesal.


"Awalnya aku pun mempunyai penilaian yang sama denganmu, dia pria yang sangat berengsek. Akan tetapi sang waktu telah membuktikan semuanya bahwa penilaianku tentangnya selama ini salah. Dia adalah seorang pria baik yang menghormati semua wanita dan sangat tidak mungkin kalau dia akan menyakiti atau melukai hati wanita manapun, termasuk kau", ucap Dara.


"Kau telah terhasut dengan tipu dayanya Dara. Untuk saat ini kau belum tersakiti atau terluka olehnya tetapi cepat atau lambat kau akan merasakan penderitaan itu. Karena Kakakku pun sudah terhasut dengan tipu dayanya hingga kegadisannya hilang dan pada akhirnya membuatnya sampai mati bunuh diri, itu semua terjadi karena perbuatannya yakni suamimu yang berengsek itu", ucap Mala marah.


"Hentikan tuduhanmu Kak Mala, kau tidak mempunyai bukti apapun untuk menyudutkannya", ucap Dara mulai kesal.


"Kau menginginkan bukti, baiklah aku akan memperlihatkannya padamu", ucap Mala semakin kesal.


Mereka berdua pun mulai saling berdebat satu sama lain, hingga semakin membuat Mala sangat marah lantaran setiap perkataannya selalu di dibalas dengan perkataan Dara yang sebaliknya membuat dirinya menjadi sangat tersudut.


"Kau terlalu banyak bicara Dara. Kau sama saja dengan si berengsek Kevin, sangat pandai berbicara. Jadi bagiku tidak ada bedanya jika aku menyakitimu berarti dia pun akan sama juga tersakiti", ucap Mala.


"Seharusnya yang tepat diberikan sebutan berengsek adalah kau Mala. Aku tidak layak menyebutmu Kakak lantaran kau sebagai seorang wanita tidak mempunyai hati nurani yang tidak mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jika memang benar Kevin seperti apa yang telah kau tuduhkan, tidak mungkin selama ini kau bekerja dengannya di perlakuan secara terhormat sebagai Sekretarisnya. Adakah perlakuannya yang menyimpang hingga dia pernah melakukan hal-hal yang tidak bermoral kepadamu selama ini???", tanya Dara dengan suara lantang.


Sejenak Mala hanya terdiam mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari Dara, hingga tidak ada jawaban apapun yang terucap dari mulut Mala. Hal itu seakan menyulut rasa kesal dan amarah Mala menjadi memuncak.. Merasa dirinya menjadi sangat tersudut, pada akhirnya membuat Mala hilang akal dan ia pun mulai mengeluarkan senjata tajam yang dibawanya untuk melukai Dara.


Begitu sangat terkejutnya Dara dengan apa yang telah Mala keluarkan dari dalam tasnya. Perlahan-lahan Dara pun mulai mundur kebelakang untuk menghindari Mala yang terlihat mulai murka.


"Jangan kau lakukan itu Mala, itu tidak akan menyelesaikan masalahmu. Kita akan cari jalan keluar bersama untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini", ucap Dara.


"Kau mulai takut Dara???!! Kalau kau sangat mencintai suamimu kau harus menebus kesalahannya..", ucap Mala dengan mata yang memerah.


Terlihat amarah Mala semakin menjadi-jadi, sehingga perlawanan apapun seakan tidak ada gunanya bagi Dara. Ia pun hanya bisa berdoa dan pasrah dengan keadaannya saat ini.


Mala pun semakin dekat dengan tujuannya untuk menyakiti dan melukai Dara, hingga senjata tajam yang di pegang olehnya mulai diayunkan dan diarahkan tepat pada Dara..


"Hentikan Mala..!!!", teriak Kevin sembari berlari menuju Dara.


Dengan sigapnya anak buah Kevin segera meraih tangan Mala dan seketika ayunan senjata tajam yang di pegang oleh Mala pun tertahan dan pada akhirnya kemudian terjatuh di tanah.


Tiada kekuatan dari Mala yang bisa membalikkan posisinya untuk menyerang balik anak buah Kevin. Kedua tangannya pun di pegang dengan sekuat-kuatnya sehingga membuat Mala menyerah dan tidak bisa melakukan perlawanan apapun lagi.


"Kau baik-baik saja Nona???", tanya Kevin sangat cemas sembari memegang wajah istrinya.


"Aku baik-baik saja", jawab Dara dengan detak jantungnya yang sangat berdegup kencang.


"Lepaskan aku, berengsek!!!", teriak Mala.


"Leo bawa masuk Mala ke dalam Van", perintah Kevin.


Mala pun dibawa masuk kedalam mobil Van yang sudah disediakan oleh anak buah Kevin. Disana Mala mulai di interograsi oleh Kevin, akan tetapi tidak sepatah katapun pertanyaan dari Kevin yang di jawab olehnya.


"Baiklah jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku, tapi perlu kau ingat semua perbuatanmu ini akan kau pertanggung jawabkan nanti di dalam penjara", ucap Kevin.


"Apa penjara??? Seharusnya yang pantas di penjara adalah kau Kevin", ucap Mala sangat kesal.


"Apa alasannya hingga aku masuk penjara??? Aku sudah jelaskan padamu berkali-kali hal yang telah terjadi pada Kakakmu adalah perbuatan dari Steven Chan. Aku bisa membuktikan semuanya padamu", ucap Kevin sembari memperlihatkan semua bukti kepada Mala.


Mendengarkan perkataan dari Kevin lantas tidak membuat Mala langsung percaya atas ucapannya.. Akan tetapi Kevin tidak begitu saja menyerah kalah, ia pun memberikan bukti foto pertemuan Dewi dengan Steven Chan setahun yang lalu dan kemudian setelah pertemuan itu Dewi pun lalu mengundurkan diri dari perusahaan Kevin tanpa alasan yang jelas.


Mala hanya terdiam melihat foto-foto yang Kevin berikan kepadanya.. Dan tidak seberapa lama terdengar suara isakan tangisan yang berasal dari Mala..


"Satu lagi Mala, akuilah kalau semua yang telah kau lakukan ini ada campur tangan dari Steven Chan??? Jika benar Steven Chan bukan dalang dibalik semua ini, pastinya dengan situasimu saat ini dia akan datang memberikanmu bantuan, tetapi nyatanya tidak. Kau terjerumus dengan lubang yang kau gali sendiri. Seakan kau di peralat olehnya akan tetapi sudah selama ini kau tidak pernah menyadarinya. Cermati dan pahamilah perkataanku..", ucap Kevin.


"Sudahlah hentikan, kau hanya bisa membuatnya menjadi sangat tertekan", ucap Dara sembari memeluk Mala yang sedang menangis.


Tidak kuasanya Dara melihat Mala yang menangis, sehingga membuat Dara memohon pada Kevin agar mau memaafkan dan membebaskan Mala dari pidana yang sudah ada di depan matanya. Namun Kevin menolak permintaan Dara lantaran sudah begitu banyak kejahatan yang dilakukan oleh Mala terhadapnya.


Dara tidak tinggal diam begitu saja, ia pun terus berusaha membujuk Kevin agar permintaannya dapat di penuhi. Dan pada akhirnya Kevin pun mulai luluh dan mau mengikuti permintaan dari istrinya.


"Baiklah aku akan menuruti permintaanmu Nona. Mala kau harus berterima kasih kepada Dewi Penolongku karena dia memintaku agar mau memaafkanmu sekaligus membebaskanmu dari pidana. Tetapi ingat jika kau melakukan sesuatu hal apapun lagi, bersiap-siaplah kau akan aku jebloskan ke dalam penjara", ancam Kevin.


Terlihat Mala yang masih sangat syok setelah mengetahui semua kenyataan yang ada dihadapannya. Dara pun hanya bisa menenangkan Mala agar ia tidak larut dalam kesedihannya.


Setelah Mala menjadi lebih tenang, ia pun meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada Dara dan Kevin lantaran telah memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki kesalahannya.


"Jika kau butuh sahabat atau bantuan apapun, jangan sungkan datanglah segera temui kami", ucap Dara.


Mala pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Dara. Dan setelah itu Mala pergi meninggalkan Bandung menuju kembali ke Jakarta.


Hari yang sangat melelahkan penuh dengan peluh dan menguras emosi jiwa, seakan membuat Kevin engan kembali pulang ke kediaman Dara.. Ingin rasanya ia mencurahkan kebahagiaannya hanya untuk istrinya saja lantara mimpi buruknya setahun terakhir ini telah berakhir.


Kevin pun mulai menyandarkan diri tepat di bahu istrinya dan sejenak Dara hanya terdiam melirik ke arah suaminya yang begitu terlihat sangat lelah..


"Apakah kau ingin tidur di dalam mobil??? Kapan kita pulang kembali kerumahku???", tanya Dara sembari mendorong wajah Kevin agar menyingkir dari bahunya.


"Aku tidak mau pulang kesana, aku hanya ingin berdua denganmu saja. Malam ini kita akan bermalam di hotel", ucap Kevin sembari meraih pinggang Dara dan memeluknya.


"Apa bermalam di hotel??? Aku tidak mau, kita pulang sekarang!!!", teriak Dara dan mencoba melepaskan pelukannya.


"Baiklah aku akan menuruti permintaanmu Nona untuk pulang kerumahmu, akan tetapi berjanjilah kau akan menuruti semua perkataan dan perintahku???", ucap Kevin.


"Apa maksudmu???", tanya Dara merasa heran.


"Apa kau tidak menyadari kesalahanmu sendiri??? Hampir saja kau terluka karena kebodohanmu, sudah aku katakan kau jangan keluar dari mobil sampai aku datang kembali. Tetapi kau tidak pernah mendengarkan perkataan dan perintahku. Kalau aku telat datang sedetik saja kau tadi bisa celaka", ucap Kevin kesal.


"Apakah kau tidak bisa kalau tidak marah-marah seperti itu padaku?Kenapa kau sangat secemas itu? Nyatanya aku sekarang baik-baik saja", ucap Dara.


"Dasar bodoh, tentu saja aku sangat mencemaskan keadaanmu saat itu. Aku sangat mencintaimu sayang, apakah kau tidak bisa merasakan semua cinta dan kasih sayangku tulus hanya untukmu", ucap Kevin dan memeluk tubuh istrinya dengan eratnya.


Mendengar semua perkataan dari suaminya hanya membuat Dara menjadi terdiam, lantaran ia tidak menyangka bahwa ternyata Kevin begitu sangat mencintainya.


"Kenapa kau hanya terdiam saja??? Apakah kau tidak mencintaiku???", tanya Kevin curiga.


"Apakah aku harus menjawabnya???", tanya balik Dara tersenyum.


"Sangat menyebalkan.. Oya satu lagi, aku tidak ingin melihat kau dekat dengan pria manapun, siapapun itu!!! Kalau kau sampai tidak mengindahkan perkataanku ini, kau akan tahu apa yang terjadi padamu nanti!!!", ancam Kevin.


"Apa???!! Sedikitpun aku tidak tidak takut dengan ancamanmu itu!!!", ucap Dara sembari menatap mata Kevin dengan sinis.


"Ini bukan hanya sekedar acaman sayang.. Kau pun akan mengetahuinya nanti", ucap Kevin sembari memegang wajah istrinya dan kemudian perlahan mengecup bibirnya dengan lembut.


Sontak saja mata Dara membulat dan terbelalak dengan apa yang telah di lakukan oleh Kevin, akan tetapi ia tidak dapat sedikitpun melakukan perlawanan terhadapnya lantaran lagi-lagi Kevin selalu saja memeluknya dengan eratnya hingga ia sulit untuk melepaskan diri darinya.


"Ini baru permulaan sayang, akan tetapi jika kau masih tetap tidak mau menurut aku akan melakukan hal yang lebih dari itu", ucap Kevin.


Dara pun hanya terdiam sembari menutup mulutnya dengan wajah yang memerah tanpa menjawab perkataan Kevin sedikitpun.


Di malam harinya mereka berdua pun pulang kekediaman Dara, disana Mamanya pun sudah datang kembali dari Jakarta. Melihat putri dan menantunya sangat terlihat lelah, Mama jadi mengurungkan niatnya untuk membicarakan sesuatu hal pada menantunya Kevin.


"Assalamualaikum..", ucap Dara dan Kevin sembari mencium punggung tangan Mama.


"Wa'alaikumsalam..", jawab Mama.


"Mama bagaimana dengan kabarmu???", tanya Kevin.


"Mama benarkah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku???", tanya Kevin.


"Iya benar Nak, tapi kalian terlihat sangat lelah sekali jadi lebih kita bicarakan ini besok pagi saja", jawab Mama.


"Maaf Mah, jika hal ini sangat penting untuk dibicarakan lebih baik kita bicarakan hari ini juga", ucap Kevin.


Sesuai permintaan dari menantunya, akhirnya Mama pun mengatakan apa yang ingin disampaikan olehnya. Mendengarkan perkataan dari Mama mertuanya, seakan membuat Kevin menjadi sangat terkejut saat mengetahui ternyata Dara menginginkan melanjutkan kuliahnya kembali yang sempat tertunda.


"Apa melanjutkan kuliah???", tanya Kevin sangat terkejut.


"Iya, aku ingin menyelesaikan pendidikan S2 ku yang sempat tertunda", jawab Dara.


"Benar Nak Kevin, ini kesepakatan kami sebelum pernikahan kalian terlaksana", ucap Mama.


"Baiklah aku akan pertimbangkan hal ini", ucap Kevin.


"Apa maksudmu ingin mempertimbangkan ini??? Kedua orang tuamu sudah setuju dengan permintaanku ini", ucap Dara.


"Nak, sudahlah biarkan Nak Kevin untuk mempertimbangkannya dulu karena mau bagaimanapun kau harus menuruti dan menerima apa yang sudah menjadi keputusan suamimu", ucap Mama.


"Ini sangat tidak adil Mam, setahuku dia sangat licik. Lalu bagaimana jika dia menolak permintaanku ini?", gumam Dara


"Husss.. Tidak baik berbicara seperti itu Nak", ucap Mama.


"Oya Mah, apakah putrimu yang sangat cantik itu selalu tidur seperti pemain akrobat???", tanya Kevin tersenyum sembari melirik ke arah Dara.


"Hii, apa maksudmu berkata seperti itu???!!", tanya Dara kesal.


"Hihihi, Nak Kevin ada-ada saja. Kau pun sudah tahu sekarang Nak, begitulah kebiasaan Dara. Semenjak dia kecil tidurnya memang tidak pernah bisa tenang, siapapun yang tidur dengannya pasti akan kena pukulan dan tendangannya hingga terjatuh", ucap Mama tertawa.


"Mama kenapa bicara seperti itu???!! Kau puas sekarang sudah mentertawaiku???!!", ucap Dara sangat kesal dan marah sembari menatap mata Kevin dengan tajamnya.


Pada akhirnya Dara pun pergi meninggalkan mereka berdua, lantaran sangat kesal atas perkataan Kevin. Melihat Dara yang begitu sangat kesal dan marah terhadapnya, Kevin hanya tersenyum simpul. Kemudian Mama pun memerintahkan Kevin untuk segera menyusul Dara yang mulai merajuk.


Sesampainya Kevin di dalam kamar, ia hanya melihat istrinya yang masih merajuk lantaran hal tadi. Kevin pun mulai merayunya namun tetap saja rayuannya tidak mampu meluluhkan hatinya. Sepanjang malam ini Kevin seakan seperti berbicara seorang diri karena tidak ada respon apapun dari Dara terhadapnya.


Setelah Dara selesai mandi, ia pun mulai membuka laptopnya dan mencari file data Tesisnya, tanpa memperdulikan Kevin yang tepat berada di sampingnya. Kemarahan Dara seperti ini seakan membuat Kevin menjadi sangat bingung harus melakukan apa agar dapat meluluhkan hati istrinya.


"Sayang kau semakin sangat cantik bila sedang marah seperti ini", ucap Kevin sembari mendekatkan wajahnya tepat di samping laptop.


"Bicarakan hal yang penting saja, aku sedang sibuk. Jika kau sudah mengantuk tidurlah duluan", ucap Dara ketus dan tidak beralih sedikit pun dari layar laptopnya.


Melihat Dara yang masih tidak beranjak di depan laptopnya, hingga membuat Kevin menjadi jenuh dan memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20.47, Dara hanya melirik matanya ke arah jam dinding dan tersadar ternyata Kevin sejak tadi tidak berada disana. Tanpa memperdulikan hal itu ia pun melanjutkan kembali mengerjakan tugasnya dan disaat ia akan memulai kembali pekerjaannya tiba-tiba saja Kevin datang dan langsung menghampirinya sembari memberikan sesuatu kepadanya..


"Apa ini?", tanya Dara heran.


"Bukalah, nanti kau pun akan mengetahuinya", jawab Kevin tersenyum.


"Hah, es krim!!! Kau pikir aku anak kecil yang akan mereda amarahnya jika diberikan es krim", ucap Dara kesal.


"Bukan maksudku seperti itu sayang, aku sengaja membawakan es krim ini untukmu karena aku tahu kau sangat menyukai es krim ini", ucap Kevin sembari membuka tutup es krimnya.


Perlahan Kevin mulai menyendoki es krim yang di pegangnya dan kemudian mengarahkan sendok yang berisi es krim kepada istrinya.


"Bukalah mulutmu???", perintah Kevin.


"Apa ini!!! Aku tidak mau", ucap Dara menolak keras sembari menyingkirkan lengan Kevin.


"Segera buka mulutmu!!! Kalau kau menolaknya aku akan menciummu sekarang???", ancam Kevin.


"Dasar semena-mena, aku tidak takut dengan ancamanmu itu!!!", ucap Dara marah.


Dara pun terus saja marah dan mengomel-ngomel pada Kevin dan belum selesainya ia memarahi Kevin namun seketika saja tanpa aba-aba Kevin langsung mencium bibir Dara. Dara pun sangat terkejut dan matanya membulat dengan apa yang telah Kevin lakukan padanya.


Ciuman Kevin yang begitu sangat tiba-tiba mendarat di bibir Dara lantas tidak membuatnya terdiam melainkan malah membuat Dara semakin marah kepada Kevin.. Dara pun mulai kembali memarahi Kevin sekaligus memukul dada Kevin yang bidang, disaat Dara akan mulai kembali memarahi Kevin, seketika Kevin mendaratkan ciumannya lagi tepat di bibirnya, tetapi kali ini Kevin memeluk tubuh Dara dengan eratnya agar ia tidak dapat melakukan perlawanan apapun terhadapnya.


"Cukup hentikan.. Baiklah aku akan menuruti perkataanmu", ucap Dara dengan nafasnya yang tersengal-sengal sembari mengambil es krim yang ada di mejanya.


"Kalau saja sejak tadi kau mau menuruti perkataanku, aku tidak akan melakukan hal itu padamu", ucap Kevin sembari menahan tawanya.


"Dasar semena-mena.. Suami seperti apa itu selalu mengancam istrinya!!!", gumam Dara.


"Apa yang kau katakan tadi?!!", tanya Kevin curiga.


"Tidak ada..!!!", jawab Dara tersenyum sinis.


"Aku mendengarnya..!!!", ucap Kevin.


"Huh, menyebalkan!!!", keluh Dara..


Dara pun akhirnya mau memakan es krim yang sudah disediakan oleh Kevin. Perlahan Dara mulai memakan es krimnya sembari sesekali melirik ke arah Kevin yang sedang duduk tepat di hadapannya.


"Segera habiskan es krimmu, lalu setelah itu kita akan tidur", ucap Kevin.


"Apa maksudmu setelah ini kita akan tidur???!!", tanya Dara dalam hatinya.


"Aku tidak sanggup menghabiskan es krim sebanyak ini!!! Nanti aku bisa gemuk jika makan es krim terlalu banyak saat malam hari", ucap Dara.


"Kau harus membantuku menghabiskannya", ucap Dara kembali sembari menyodori sendok yang berisi es krim pada Kevin.


"Aku tidak mau, aku masih kenyang setelah makan malam tadi", ucap Kevin sembari menutup mulutnya.


"Tadi kau bisa memaksaku, sekarang giliran aku yang memaksamu.. Rasakan ini!!!", ucap Dara tertawa dalam hatinya sembari memaksa Kevin memakan es krimnya.


Dara pun terus menyuapi Kevin dengan paksa hingga semangkok es krim habis dimakan olehnya..


"Stop, cukup!!! Aku tidak sanggup untuk memakannya lagi", ucap Kevin kewalahan.


"Loh.. Masih ada sedikit lagi, sayang kalau tidak dihabiskan", ucap Dara.


"Kau saja yang menghabiskannya, atau apa kau ingin aku suapi?", tanya Kevin.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri kok!!!", ucap Dara sembari mengelap sendok yang dipegangnya dengan tisu.


"Apa maksudmu mengelap sendok itu dengan tisu??? Apa aku seorang penyakitan???", ucap Kevin curiga.


"Area rongga mulut itu sumber segala penyakit, jadi tidak ada salahnya aku mengelap sendok ini sebelum aku pakai lagi", ucap Dara tersenyum.


"Benarkah itu??? Tetapi bukankah kita sudah berulang kali berciuman, lalu apa bedanya mulutku dengan mulutmu???!!", ucap Kevin menahan tawanya dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Dara disana.


"Apa maksudnya berkata seperti itu???!!Dasar sangat menyebalkan..!!!", ucap Dara kesal.


Seusai mereka berdua memakan es krim, lalu kemudian Kevin menuju pada ranjangnya sembari menunggu kedatangan Dara yang masih berada di dalam kamar mandi. Akan tetapi Kevin menjadi merasa heran lantaran melihat Dara yang duduk dan mengerjakan tugasnya kembali.


"Sayang segera hentikanlah tugasmu itu, jika dalam waktu 10 hitungan kau tidak segera datang ke sini, aku akan datang mencium bibirmu kembali!!!", ancam Kevin.


"Huh.. Sangat menyebalkan, dasar tukang ngancam!!!", gumam Dara.


Mendengarkan ancaman dari Kevin, dengan wajah yang sangat kesal ia pun mau menuruti perkataannya. Sesampainya Dara di atas ranjang seketika saja Kevin langsung memeluk tubuh Dara dan lalu kemudian merebahkan tubuh mereka berdua secara bersamaan diatas ranjang..


"Kau jangan berpikiran hal negatif tentang apa yang akan aku lakukan nanti padamu!!! Aku sangat lelah seharian ini dan aku ingin tidur dengan tenang bersamamu tanpa adanya perdebatan apapun", ucap Kevin sembari mengecup kening istrinya dan kemudian memejamkan kedua matanya.


Dara pun menuruti perkataan suaminya tanpa melakukan perlawanan atau perdebatan apapun, hingga perlahan Kevin mulai tertidur tepat di dalam dekapan hangat Dara. Melihat Kevin yang tampak sangat jelas di hadapannya seakan membuat Dara menganggapnya semua ini seperti bagikan sebuah mimpi, namun ia tersadar bahwa semua ini adalah kenyataan..


"Aku tidak menyangka ternyata seseorang pria berengsek, Bos yang tukang ancam dan pencuri ciuman pertamaku yang dulu sangat aku benci, kini telah menjadi suamiku. Entahlah sejak kapan kebencianku terhadapnya berubah menjadi rasa cinta yang tulus kepadanya", gumam Dara tersenyum.


Dara pun terus memandangi wajah suaminya yang sedang tertidur pulas tepat di sampingnya sembari terus tersenyum bahagia. Dan di dalam hatinya Dara pun berdoa dan berharap agar kebahagiaannya ini tidak akan pernah lekang oleh sang waktu..