![My Life Partner [On Going.].](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-life-partner--on-going---.webp)
"Ya Allah.. Lalu bagaimana dengan kondisi Pak Kevin saat ini???", batin Dara sangat cemas..
Di kamar perawatan yang berbeda Kevin pun perlahan mulai tersadar dan membuka kedua matanya. Saat ia terbangun ternyata yang di lihatnya untuk pertama kali adalah mantan Sekretarisnya yang tak lain adalah Mala.
Begitu sangat terkejut Kevin saat melihat Mala ada disampingnya. Kevin berusaha untuk bangkit dari pembaringannya akan tetapi tubuhnya masih terasa sangat lemah, lantaran saat ini ia sedang transfusi darah.
"Baru kali ini aku melihat Tn. Kevin yang terhormat sangat lemah dan tidak berdaya..", ucap Mala sembari tertawa.
"Apa yang kau inginkan datang ke tempat ini???", tanya Kevin.
"Apakah kau sudah hilang ingatan??? Aku datang kesini untuk membalas dendam atas kematian Kakakku", jawab Mala.
"Lakukanlah apa yang kau inginkan, jika itu akan mewujudkan balas dendammu. Sedikit pun aku tidak akan melakukan perlawanan padamu", ucap Kevin.
"Kau pikir, aku tidak berprikemanusiaan melakukan hal itu pada seorang yang tidak berdaya sepertimu. Aku tidak ingin semudah ini membunuhmu", ucap Mala.
"Lalu apa tujuanmu???!!", tanya Kevin.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu, berapa wanita lagi yang akan kau permainkan dan kau lukai hatinya???", ucap Mala.
"Apa maksudmu????!!", tanya kembali Kevin.
"Apakah pertanyaanku tidak cukup jelas??? Atau kau berpura-pura bodoh???!! Aku rasa Dara adalah targetmu berikutnya, benar bukan???", ucap Mala.
Kevin hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Mala tanpa melakukan sesuatu hal, dengan apa yang telah Mala tuduhkan padanya.
"Aku sudah tidak butuh anting-anting ini lagi, kembalikanlah pada Dara", ucap Mala dan kemudian pergi meninggalkan Kevin disana.
Disaat Mala pergi keluar pintu secara kebetulan, ia berpapasan dengan Ivan akan tetapi Ivan tidak mengetahui siapa yang telah datang menemui Kevin.
"Kevin karismatikmu tidak pernah pudar walaupun kau tidak berdaya seperti saat ini", ucap Ivan.
"Tutup mulutmu, wanita yang baru saja keluar tadi adalah seseorang yang selalu meneror dan ingin membunuhku!!!", ucap Kevin.
Ivan sangat terkejut setelah mendengarkan penjelasan dari Kevin, ia pun mencoba ingin mengejar wanita itu, akan tetapi Kevin melarangnya..
"Sudahlah tidak perlu kau mengejarnya, mungkin sekarang dia sudah pergi jauh", ucap Kevin.
"Baiklah kalau begitu.. Lalu bagaimana dengan kondisimu hari ini???", tanya Ivan.
"Aku sudah lebih baik", jawab Kevin.
"Syukurlah.. Lukamu sudah di jahit ulang jadi kau harus benar-benar beristirahat agar lukamu lekas membaik", ucap Ivan.
"Iya aku mendengarkanmu. Ivan kenapa kau sangat cerewet hari ini seperti wanita!!!", ucap Kevin.
"Terserah apa pun yang kau katakan, tapi ini sudah menjadi kewajibanku menasehati pasien sepertimu", ucap Ivan.
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu, kita bicarakan saja hal yang lainnya", ucap Kevin.
"Tetapi sayangnya, setelah ini aku akan datang menemui Dara. Jadi kita berbincang-bincang di lain waktu saja", ucap Ivan.
"Ivan kau ini sahabatku bukan???", tanya Kevin.
"Kevin ini tidak ada hubungannya dengan persahabatan", ucap Ivan sembari tertawa.
"Ok, apapun itu terserah kau.. Tapi apakah kau sudah tahu bahwa Nn. Dara adalah seorang Dokter?", tanya Kevin.
"Aku sudah tahu semenjak aku bertemu dengannya di apartemenmu", jawab Ivan.
"Sepertinya hanya aku saja yang bodoh di sini, karena terlambat mengetahui rahasia asisten pribadiku sendiri", batin Kevin.
"Ok, Kevin.. Aku akan datang kembali lagi ke sini setelah aku menjenguk Dara", ucap Ivan dan kemudian pergi meninggalkan Kevin.
Setelah kepergian Ivan, di kesendiriannya Kevin pun mulai merenungi semua perkataan yang Mala sampaikan padanya. Semuanya seakan teringat sangat jelas di pelupuk matanya peristiwa demi peristiwa yang terjadi padanya dan pada Dara.
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan??? Apakah aku harus segera memecatnya agar dia tidak ikut terlibat semakin jauh dengan masalahku ini???!!Tolong bantu aku..", batin Kevin memohon.
Di sisi lain, Dara mulai berkemas mempersiapkan dirinya untuk pulang ke kostan, Perawat pun mulai melepaskan infusan yang berada di tangan Dara. Setelah semuanya selesai Ivan pun tiba di ruang perawatan untuk menjemput Dara.
"Apakah kau sekarang sudah siap untuk pulang ke kostan???", tanya Ivan.
"Iya, aku sudah siap. Tetapi aku ingin memberi tahukan sahabatku terlebih dahulu agar ia tidak perlu datang ke sini untuk mengantarkan aku pulang", ucap Dara.
"Ok, silahkan.. Aku akan menunggumu", ucap Ivan.
Dara pun mulai menelepon Windy dan memberi tahukannya untuk tidak perlu mengantarnya pulang ke kostan lantaran Ivan sudah datang untuk menjemputnya.
"Windy setelah kau selesai kontrol ke Dokter kandungan, kau tidak perlu mengantarku pulang ke kostan karena Aa Ivan sudah datang menjemputku", ucap Dara via telepon.
"Baiklah jika sudah ada seseorang yang akan mengantarmu pulang, tetapi aku akan tetap datang ke sana karena aku ingin menemui Mas Kevin", ucap Windy.
"Ok, Windy..", ucap Dara sembari menutup ponselnya.
"Bagaimana Dara, kita berangkat sekarang?", tanya Ivan.
"Iya Aa, tetapi apakah aku boleh datang menemui Pak Kevin???", tanya Dara.
"Oh, kau ingin menemui Kevin. Baiklah, sekalian kita akan mampir kesana", jawab Ivan.
Jawaban Ivan yang sangat bijak membuat Dara gembira dan Dara pun membalasnya dengan senyuman manisnya yang menampakan lesung pipi kanannya. Begitu dewasanya Ivan sehingga membuat Dara selalu nyaman saat bersamaannya.
Dara dan Ivan pun berjalan perlahan menuju ruang perawatan Kevin dirawat, dikarenakan Dara tidak ingin menggunakan kursi roda sehingga dengan sabar dan telaten Ivan mendampingi perjalanan Dara menuju kesana.
Sesampainya di ruangan Kevin dirawat, secara kebetulan mereka berdua bertemu dengan Windy..
"Windy, kau sudah datang", ucap Dara.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu disini", ucap Windy.
"Oya, perkenalkan Windy ini Aa Ivan", ucap Dara memperkenalkan pada Ivan.
Mereka berdua pun saling berkenalan dan kemudian mereka bertiga memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Kevin di rawat bersama-sama.
Setelah pintu diketuk, perlahan Dara mulai membuka pintu dan masuk lebih dahulu, kemudian Windy dan Ivan menyusul masuk ke dalam. Mereka bertiga pun sontak sangat terkejut ketika melihat Kevin dan Viola sedang berpelukan.
"Mas Kevin, Viola apa yang sedang kalian lakukan??!!!", teriak Windy.
Kevin dan Viola pun sama-sama terkejut dengan kedatangan mereka bertiga yang sangat tiba-tiba. Spontan Kevin langsung mendorong tubuh Viola untuk menjauh darinya.
"Tunggu, ini semua tidak seperti apa yang kalian bayangkan..", ucap Kevin.
Sebelum Kevin menyelesaikan penjelasannya, Dara pun segera pergi keluar ruangan meninggalkan mereka semua di dalam.
"Dara tunggu aku!!!", teriak Windy dan berjalan cepat menyusul Dara.
Setelah kepergian mereka semua, Kevin dan Viola mulai bertengkar hebat hingga Viola menangis di hadapan Kevin. Begitu tidak kuasanya hati Kevin melihat wanita menangis dihadapananya sehingga nada bicara Kevin yang tadinya meninggi perlahan mulai mereda.
"Kau sudah sangat jauh berbeda setelah kau mengenal wanita itu. Kau tidak seperti Kevin ku yang dulu, yang sangat lembut dan sopan dalam memperlakukan wanita", ucap Viola sembari menghapus air matanya dengan tisue.
"Jangan pernah kau membawa orang lain dalam masalah ini. Aku tidak pernah berubah, tetapi ini semua dikarenakan atas perbuatanmu yang menjadikan aku seperti ini", ucap Kevin.
"Aku mohon maaf atas semua keliruan yang telah aku perbuat selama ini, apakah tidak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki ini semua???", tanya Viola memelas.
"Jika ada kesempatan kedua ataupun kesempatan yang berikutnya, bisa jadi semua kesalahan akan terulang kembali. Kau lebih mengetahui aku dari pada orang lain, jadi aku rasa tidak perlu aku memberikan penjelasan apapun padamu", ucap Kevin.
Sesaat Viola hanya terdiam mendengarkan perkataan Kevin dan ia tidak tahu harus berkata apalagi padanya.
"Lebih baik kau kembali pada Steven Chan, dia akan menjadi pendamping hidupmu", ucap Kevin kembali.
"Jika bisa memilih, aku akan lebih memilih untuk meninggalkannya. Sedikit pun aku tidak pernah mencintainya dan aku tidak ingin menjadi pendamping hidupnya", ucap Viola.
Mendengarkan perkataan Viola kini giliran Kevin yang hanya terdiam membisu tanpa sepatah kata pun.
"Aku ingin bertanya padamu Kevin, apakah benar perkataan Steven Chan bahwa kau akan segera menikah dengan Dara???", tanya Viola.
"Cepat atau lambat aku akan menikah dengannya", ucap Kevin berbohong.
"Apa..!!!", ucap Viola sangat terkejut.
"Sudahlah Viola, aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi. Aku ingin beristirahat", ucap Kevin.
"Kau mengusirku Kevin???", tanya Viola sangat kesal.
"Apakah perkataanku tadi tidak cukup jelas??? Dan haruskah aku ulangi lagi???", tanya Kevin.
"Aku sangat membencimu Kevin..", ucap Viola dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.
"Aku sudah tidak bisa lagi memenangkan cintaku, aku sudah kalah dan aku tidak akan bisa memilikimu kembali Viola untuk selamanya.. I'm sorry.. I love you so much forever, Viola..", ucap Kevin sedih.
Di tempat yang berbeda, sepanjang perjalanan pulang menuju kostan Dara hanya terdiam, hal itu sangat membuat Ivan menjadi bingung karena ia tidak tahu harus melakukan apa agar Dara ceria kembali.
"Dara apakah kau ingin makan siang???", tanya Ivan.
"Tidak, aku masih kenyang. Aku hanya ingin kita segera sampai di kostan", ucap Dara.
"Baiklah..", ucap Ivan sembari mengemudi mobilnya.
"Dara apakah kau sudah mulai menyukai Kevin??? Terlihat dari binar kedua matamu yang mengatakannya..", ucap Ivan dalam hatinya.
🌹🌹🌹
Di keesokan harinya, Dara hanya berdiam diri di dalam kamar kostnya karena ia ingin menenangkan dirinya. Dari pagi hingga sore Dara tidak beranjak dari duduk dan lamunannya, hingga ia tidak makan atau minum apapun.
"Aku harus mengambil keputusan ini.. Siapapun pria itu, dia adalah pasangan hidupku", ucap Dara dalam hatinya.
Sesaat lamunan Dara pun memudar ketika pintu kamarnya di gedor-gedor dengan kuat dari luar, semakin lama suara gaduh itu semakin membuat bising Dara dan pada akhirnya ia pun membuka pintu kamarnya.
Setelah pintu dibuka, seketika seseorang wanita datang langsung memeluknya dengan erat dan ternyata yang memeluknya adalah Windy sahabatnya.
"Dara apa saja yang kau lakukan dari pagi hingga sore ini, kenapa ponselmu tidak kau aktifkan???!! Aku sangat khawatir dan mencemaskan keadaanmu", ucap Windy dan tetap memeluk Dara dengan eratnya.
"Windy.. Kau terlalu berlebihan, aku baik-baik saja. Ponselku sudah rusak setelah aku tengelam beberapa hari lalu", ucap Dara.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Apakah kau sudah makan???", tanya Windy.
"Aku belum makan apapun dari pagi tadi", jawab Dara.
"Ya ampun..!!! Kenapa kau tidak makan??? Nanti kau bisa sakit!!!", ucap Windy.
"Aku tidak berselera untuk makan apapun", ucap Dara.
"Apakah hatimu terasa sakit dan terluka ketika kemarin kau melihat Mas Kevin berpelukan dengan Viola???!!", tanya Windy.
"Pertanyaan bodoh apa itu???!!", tanya Dara kesal.
"Katakanlah sejujurnya padaku bahwa kau mulai jatuh cinta pada Mas Kevin??? Aku sahabatmu tidak mungkin aku berkhianat padamu", tanya kembali Windy.
Sejenak Dara pun hanya terdiam, tidak sepatah katapun ia menjawab pertanyaan Windy.
"Kenapa kau terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku??? Apakah yang aku katakan tadi itu benar???!!", tanya Windy.
"Aku tidak tahu apa itu cinta, seperti apa rasanya jatuh cinta dan seakan aku sudah mati rasa dengan semua itu..", ucap Dara.
"Apakah kau pernah trauma Dara dengan kisah percintaanmu dimasa lalu???", tanya Windy.
"Tidak pernah, kisah percintaanku tidak ada yang menarik atau pun istimewa.. Sehingga bagiku itu semua tidaklah penting. Apalagi kedua orang tuaku sudah memilih pasangan hidupku, jadi percuma saja kalau aku jatuh cinta dengan siapa pun. Toh, akhirnya kisah cintaku tidak akan berakhir bahagia dengan pilihanku sendiri", ucap Dara.
"Apakah kau sudah setuju dengan perjodohanmu itu???", tanya Windy.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain, karena tidak ada seseorang pria pun yang mencintai aku dan berani menentang sekaligus mencegah perjodohan ini tidak terjadi", ucap Dara.
"Lalu kenapa kau tidak mau mencoba mencari tahu apakah Mas Kevin juga mempunyai perasaan yang sama denganmu???", tanya Windy.
"Windy, aku tidak menyukai sepupumu apalagi sampai jatuh cinta padanya. Sampai kapan pun Pak Kevin akan hanya mencintai Viola, mantan kekasihnya. Sekalian pun aku jatuh cinta padanya, tidak mungkin semudah itu Pak Kevin akan jauh cinta juga padaku", jawab Dara.
"Ya sudahlah terserah kau saja, aku berharap kalian berdua berjodoh..", ucap Windy sembari mengela nafasnya..
"Apa yang barusan kau katakan???!!", tanya Dara.
"Oh, tidak ada.. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pesan dari Mas Kevin", ucap Windy mengalihkan pembicaraan.
"Ada pesan apa dari Pak Kevin?", tanya Dara.
"Besok Mas Kevin ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin disampaikan padamu", ucap Windy.
"Apakah kau datang kesini menemuiku hanya ingin menyampaikan hal ini???!!", tanya Dara.
"Tidak Dara, aku memang sengaja datang kesini untuk menemuimu. Saat di perjalanan menuju ke tempat ini, Mas Kevin meneleponku dan menanyakan keadaanmu karena ponselmu tidak aktif semenjak kemarin", jawab Windy.
"Baiklah besok aku akan datang ke kantor dan menemui Pak Kevin. Tapi bagaimana dengan kondisinya saat ini???", tanya Dara.
"Hari ini Mas Kevin akan keluar dari rumah sakit, Tante Lili akan menjemputnya", ucap Windy.
"Syukurlah kalau Pak Kevin sudah membaik dan akan pulang ke rumah. Malam ini aku akan menyiapkan semuanya untuk besok menghadap Pak Kevin", ucap Dara dalam hati.
"Semoga pertemuan mereka besok bukan akhir dari pertemuan mereka berdua", batin Windy berharap..