My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#32 : Mahkotaku



Namun yang hanya dapat Kevin lakukan adalah membantu Dara berjalan hingga sampai di ranjangnya dan kemudian perlahan menyelimutinya, agar Dara bisa segera beristirahat.. Akan tetapi hal yang tidak diduga olehnya ternyata terjadi, seketika saja Dara menarik piyama handuk Kevin hingga membuatnya menjadi terjatuh tepat di hadapan istrinya dan kemudian untuk pertama kalinya Dara pun mengecup bibir Kevin dengan lembut dan mesranya..


Kevin pun terbelalak dengan apa yang telah Dara lakukan padanya malam ini.. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang seiring dengan kecupan hangat yang tepat mendarat di bibirnya, kecupan dari sang istri tercinta yang bertubi-tubi, seakan tidak mampu menahan tubuh kekarnya untuk tidak ikut bergetar. Tubuh Kevin pun semakin saja bergetar dengan gejolak jiwanya yangย  tidak mampu untuk diungkapkan olehnya dengan kata-kata. Semua ini Kevin anggap hanyalah bagaikan seperti mimpi di malam hari, namun keraguannya pun menjadi terkikis seusainya Dara membisikan sesuatu di telinganya..


"I love you very much, my dear husband", bisik Dara tepat di telinga Kevin..


Sejenak Kevin hanya terdiam dan membisu setelah mendengarkan perkataan istrinya, akan tetapi hal itu malah semakin memicu adrenalinnya untuk terus bergejolak hingga ke seluruh tubuhnya..


Deru nafas dan lirih mesra suara istrinya yang menyeringai di telinganya, seakan melengkapi kesempurnaan hasrat di jiwanya untuk melabuhkan segala gejolak asmaranya pada sang istri tercinta yang sementara waktu ini telah tertahankan..


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di pagi harinya..


"Ahhkkkk..!!!", teriak Dara sangat histeris, ketika tersadar dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya..


Teriakan Dara yang sangat keras hingga terdengar sampai ke dalam kamar mandi seakan membuat Kevin menjadi terkejut. Kevin pun segera berlari keluar dari kamar mandi untuk menghampiri istrinya yang masih berada di atas ranjang..


"Ada apa sayang???", tanya Kevin terkejut.


"Apa yang telah terjadi semalam???!!", tanya Dara bingung sembari terduduk di ranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


"Apakah kau tidak mengingat semuanya yang telah terjadi semalam???!!", tanya Kevin merasa heran.


Sejenak Dara menjadi terdiam dan mulai berusaha untuk berpikir dengan mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam.. Ingatannya pun hanya samar-samar saja yang terlintas dibenaknya, akan tetapi yang benar-benar tidak bisa ia lupakan adalah ketika ia menciumi bibir Kevin dengan bertubi-tubi..


"Ya ampun, apakah ada sesuatu yang telah terjadi semalam di antara kami berdua???!!", tanya Dara dalam hatinya.


Dara pun kembali memandangi wajah Kevin yang sama-sama masih terlihat sangat bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dara. Sehingga ia pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan kembali sesuatu padanya.


"Kau baik-baik saja???", tanya Kevin mulai khawatir.


Pertanyaan Kevin kali ini pun tidak di gubris oleh Dara, ia hanya memperhatikan Kevin dengan piyama handuknya yang terlihat baru saja selesai mandi dengan rambutnya yang masih basah. Seketika rasa tidak nyaman di area sensitifnya pun mulai muncul dan membuat ia semakin merasa curiga dengan apa yang telah terjadi semalam..


Sontak saja Dara pun segera beranjak dari duduknya dengan melilitkan selimut di seluruh tubuhnya dan berusaha mencari tahu sesuatu yang berada di atas ranjangnya. Dan benar saja yang sudah di duga oleh Dara, ia melihat sesercah noda merah di atas ranjangnya..


Dara hampir saja tidak percaya dengan apa yang telah di lihatnya pagi ini dan ia berharap bahwa semua ini hanyalah lamunan atau mimpinya saja, akan tetapi setelah melihat dirinya dengan keadaan seperti ini, ia tidak mampu untuk menampik kenyataan bahwa semalam benar-benar sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua.


Rasanya Dara ingin menangis dan melampiaskan kemarahannya secara bersamaan setelah mengetahui apa yang sudah terjadi.. Namun semuanya ini tidak mungkin untuk kembali seperti semula. Ia pun kembali menangis dan mulai memaki-maki Kevin yang tepat berada dihadapannya..


"Dasar berengsek, kenapa kau mengambil kesempatan di saat aku tidak berdaya seperti semalam??? Kau merampas mahkotaku tanpa seizinku??? Dasar pria berengsek, hidung belang!!!", ucap Dara sangat marah sembari menangis dan memukul-mukul Kevin.


"Jika aku seorang pria berengsek dan hidung belang seperti apa yang telah kau katakan tadi, tidak mungkin aku bisa menahan gejolak jiwaku sejak di malam pertama kita. Begitu banyak kesempatan di depan mataku untuk merampas mahkotamu saat itu, akan tetapi sedikit pun aku tidak menginginkannya sebelum kau memberiku izin", ucap Kevin sembari memegang wajah istrinya.


Mendengarkan perkataannya, Dara pun mulai terdiam dan perlahan menghentikan pukulannya terhadap Kevin.. Namun isakan tangisannya masih terdengar jelas di telinga Kevin, lalu kemudian perlahan Kevin mulai menghapus tetesan air mata yang membasahi wajah istrinya dan berusaha untuk menenangkannya.


"Maafkan aku sayang.. Aku akui semalam, aku sudah tidak bisa lagi menahan hasratku padamu lantaran kau begitu sangat agresif dan terus menerus menggodaku. Aku tidak punya daya dan kekuatan apapun untuk menolaknya sehingga penantian panjangku terbayar sudah pada malam itu", ucap Kevin sembari menatap mata istrinya dengan amat sangat dalam.


"Kau harus bertanggung jawab atas segala perbuatanmu terhadapku semalam", ucap Dara dan tetap masih menangis.


"Aku suamimu dan sudah pasti aku akan bertanggung jawab atas segala perbuatanku terhadapmu. Kau jangan pernah lagi meragukan apapun padaku, karena aku sangat tulus menyayangi dan mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam. Tiada wanita manapun yang berada di hatiku, hanya engkaulah seorang wanita yang akan selalu bersemayam di hatiku", ucap Kevin sembari memeluk istrinya dengan erat.


Perlahan tapi pasti perkataan yang Kevin sampaikan benar-benar dapat membuat Dara berhenti menangis dan sekaligus mampu menenangkan hati istrinya.


"Kau wanita muda yang masih sangat polos dan dengan keluguanmu itu yang membuatku semakin mencintaimu dengan apa adanya dirimu seperti ini sayang", ucap Kevin dalam hatinya dan tetap memeluk Dara.


Hari yang terasa amat damai, tiada perdebatan ataupun pertengkaran di antara mereka berdua. Namun mereka malah menjadi merasa canggung dengan apa yang telah terjadi semalam. Akan tetapi Kevin berusaha tidak ingin menunjukkan hal itu pada istrinya, sehingga untuk mengalihkan semua itu Kevin pun lebih memilih masak di dapur.


Kepandaian memasaknya pun sengaja di tunjukkan olehnya di depan Mama mertuanya, hingga Mama menjadi takjub dan bangga dengan menantunya. Gaya memasaknya saat di dapur seakan membuat Mama menjadi semakin mengaguminya dan tak henti-hentinya Mama selalu memujinya, sehingga tak ayal membuat Dara menjadi cemburu terhadapnya..


"Dasar sombong, baru memasak seperti itu saja sudah menjadikanmu besar kepala!!! Hmmm.. Rasanya tidak pernah Mama memujiku seperti ini..!!!", ucap Dara dalam hatinya dengan tatapan sinisnya yang mengarah pada Kevin.


"Nak, coba kau pandai memasak seperti Nak Kevin pastinya Mama akan sangat bangga padamu", ucap Mama.


"Apa!!! Putrimu yang sangat cantik ini tidak pandai memasak???!!", tanya Kevin pura-pura lupa.


"Apa maksudnya berkata seperti itu??? Bukankah dulu aku pernah bercerita padanya???!!", tanya Dara heran dalam hatinya.


"Benar Nak Kevin, dari dulu Dara tidak suka ke dapur untuk memasak. Bahkan masak air dan mie instan saja sampai hangus..!!!", ucap Mama tertawa.


"Benarkah!!!", ucap Kevin tertawa lepas.


"Teruskan saja kalian berdua menyudutkan aku..!!! Anggap saja aku tidak ada di sini!!!", ucap Dara mulai kesal.


"Sayang kau tidak perlu merasa tersudut dengan hal ini, kami hanya bergurau saja. Kapanpun kau ingin belajar memasak denganku, aku akan selalu siap membimbingmu. Dan walaupun nantinya kau tidak pandai memasak aku akan menerimamu apa adanya dengan segala kelebihan dan kekuranganmu", ucap Kevin sembari mengecup tangan Dara.


Seakan hati Dara menjadi luluh dengan semua perkataan suaminya dan Mama pun hanya tersenyum melihat kebahagiaan dari mereka berdua..


"Semoga kalian berdua selalu bahagia dan kebahagiaan ini tidak akan pernah lekang oleh sang waktu", ucap Mama berharap dalam doanya.


Suasana pagi hari ini seakan dipenuhi dengan canda dan tawa terus menerus hingga ke meja makan, kali ini di rumah hanya ada mereka bertiga lantaran sejak kemarin Papa sedang berada di luar kota untuk urusan bisnisnya.


Di saat mereka bertiga sedang menyantap sarapan pagi seketika saja ponsel Kevin berdering, lalu kemudian Kevin segera mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.


Kevin hanya terdiam mendengarkan perkataan seseorang melalui ponselnya dan kemudian perlahan ia meninggalkan meja makan, hal itu seakan membuat Dara menjadi bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang telah menelepon suaminya sepagi ini hingga membuatnya pergi meninggalkan meja makan..


Seusainya Kevin berbicara dengan seseorang di telepon, kemudian ia pun segera pamit kepada Mama mertua dan sekaligus istrinya untuk segera pergi menuju ke suatu tempat.


"Maaf, aku harus pergi meninggalkan kalian di saat seperti ini", sesal Kevin.


"Nak Kevin Ingin pergi kemana sepagi ini??? Bukankah kau sedang cuti???", tanya Mama.


"Benar Mah, tetapi kali ini aku ada urusan yang sangat penting dan mendesak sehingga pagi ini harus segera pergi ke Jakarta", jawab Kevin.


"Ke Jakarta???!! Apakah ada sesuatu yang telah terjadi disana???", tanya Dara mulai khawatir.


"Tidak ada apapun yang telah terjadi disana jadi kau tidak perlu khawatir. Aku akan menghubungimu setelah aku tiba disana", ucap Kevin sembari tersenyum.


Dara pun mengantar Kevin sampai teras dan sebelum kepergiannya ia pun mencium punggung tangan suaminya, lalu kemudian perlahan Kevin membalasnya dengan mengecup kening istrinya dengan mesra.. Setelah berpamitan, Kevin pun segera pergi meninggalkan kediaman istrinya dan menuju ke Jakarta.


Setelah mengetahui kabar dari Aldo bahwa Ivan akan segera pergi meninggalkan Jakarta dan akan tinggal menetap di salah satu pelosok di Indonesia untuk mengabadikan diri menjadi Dokter disana, lalu tanpa buang-buang waktu lagi Kevin pun segera berangkat menuju ke Jakarta untuk menemui Ivan.


Perjalanan yang sangat panjang menuju ke Bandara Soekarno Hatta, akan tetapi Kevin harus datang tepat waktu sebelum pesawat yang akan di naiki oleh Ivan Take Off. Untuk menyingkat waktu perjalanannya Kevin pun meminta asisten pribadinya yang berada di Jakarta untuk menyiapkan helikopter pribadi agar segera mengantarnya ke Bandara. Di salah satu hotel yang berada di Bandung, Kevin sudah siap menunggu di atas gedung dan selang 10 menit kemudian helikopter pun datang menjemput Kevin.


Perjalanan Kevin pun dimulai setelah Pilot memberikan aba-aba.. Dan dengan waktu yang singkat, kurang dari 30 menit akhirnya ia tiba di tempat tujuan.


Di dalam Bandara langkah kaki Kevin semakin di percepat agar ia bisa datang tepat waktu untuk menemui sahabatnya dan tampak terlihat dari kejauhan seorang pria tinggi dengan kulit bersih dan rambutnya yang sedikit ikal sedang berjalan menuju antrian Check In.. Kemudian ia pun segera berlari dengan cepat lantaran tak ingin melewatkan kesempatan terakhirnya ini..


"Ivan!!!", teriak Kevin dari kejauhan.


Mendengar dari kejauhan ada seseorang yang sedang memanggilnya, Ivan pun menoleh ke arah belakang. Langkah kaki Ivan akhirnya terhentikan ketika melihat seseorang pria setingginya dengan kulit lebih putih darinya, hidung mancung, alis yang tebal serta tersusun rapi, siapa lagi kalau bukan Kevin sahabatnya seorang pria metroseksual, yang di gandrungi oleh banyak wanita, pria tampan sekaligus playboy yang telah melabuhkan hati dan cintanya pada seorang wanita yang kebetulan sama-sama mereka berdua cintai.


Mereka berdua pun saling bertatap muka, lalu seketika tanpa basa-basi Ivan langsung melayangkan bogem mentah kepada Kevin yang tepat berada dihadapannya..


"Buugggkkkk!!!".


Dengan sigapnya Kevin pun segera menahan bogem mentah yang berasal dari ivan..


Sontak saja perbuatan mereka berdua jadi mencuri perhatian semua orang yang berada di tempat itu, hingga sorotan semua pasang mata hanya tertuju pada kegaduhan yang telah terjadi disana. Namun mereka berdua tidak peduli sedikit pun dengan tanggapan serta pemikiran dari mereka semua yang telah melihatnya.


"Pukulan dahsyatmu sama seperti dulu tidak pernah berubah", ucap Kevin sembari menahan bogem mentah Ivan.


"Apa tujuanmu datang ketempat ini???", tanya Ivan, sembari melepaskan bogem mentahnya.


"Aku rasa tidak penting untuk menjawab pertanyaanmu. Tetapi kenapa kau melakukan hal ini???", tanya Kevin.


"Dasar egois, dari dulu kau tidak pernah berubah!!!", ucap Ivan dengan senyum sinisnya..


"Jauh-jauh aku datang ke sini, tetapi hanya ini jawabanmu!!!", ucap Kevin dengan menarik nafas panjang.


"Hmmm..!!!", terkekeh Ivan melihat sahabatnya mulai kesal.


"Kau tadi sangat sigap menahan seranganku. Aku tidak akan lagi meragukan keselamatan Dara selama berada disampingmu. Kaulah yang terbaik untuk mendapatkannya. Kevin jagalah selalu istrimu. Jika kau sampai menyakiti hati Dara ataupun mengabaikannya, aku tidak akan segan-segan mencuri hatinya dan akan membawaya pergi dari sisimu", ucap Ivan.


"Buanglah anganmu itu jauh-jauh dari pikiranmu karena aku tidak akan pernah melakukan hal itu padanya dan aku tidak akan membiarkan siapapun membawanya pergi dari sisiku, termasuk kau Ivan", ucap Kevin.


Ketegangan diantara mereka berdua pun akhirnya telah berakhir. Sebelum Ivan pergi, ia meminta maaf kepada sahabatnya lantaran telah hampir saja membuat kekacauan di pesta pernikahannya dan Kevin pun dengan hati terbuka mau memaafkan kehilafan sahabatnya. Di akhir pembicaraan, mereka berdua saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai tanda perdamaian diantara mereka.


"Sampaikan salamku pada wanita tercantik yang berada di sisimu Kevin..", ucap Ivan sembari melangkah pergi menuju ke kehidupannya yang baru.


"Sukses selalu untukmu sobat dimana pun kau berada.. Semoga kelak kau menemukan wanita yang tepat dan yang terbaik menjadi istrimu", ucap Kevin dalam hatinya sembari memandang Ivan yang terus berjalan menuju pada cinta dan cita-citanya yang baru.


Setelah mengantar kepergian Ivan.. Kevin pun pulang menuju kembali ke Bandung dan di saat ia akan melangkah ke arah pintu keluar seketika tanpa di duga olehnya ia melihat Steven Chan bersama dengan Mala di Bandara..


"Apa yang sedang mereka berdua lakukan di tempat ini? Apakah mungkin saat itu Mala hanya mengelabuiku saja, agar dia bisa terbebas dari pidana???!! Apa yang sedang mereka berdua rencanakan kali ini???", tanya Kevin dalam hatinya..