![My Life Partner [On Going.].](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-life-partner--on-going---.webp)
"Apakah aku sangat merindukannya???!!", batin Kevin.
"Apakah perasaan ini sungguh-sungguh untuknya atau hanya pelarianku saja???!! Hatiku sangat ragu dan bimbang dengan semua perasaan ini..", tanya batin Kevin kembali.
Di sisi lain pikiran Kevin seakan bertambah bimbang dengan hatinya yang terus bergejolak lantaran perjodohannya yang dulu sempat tertunda, kini akan di percepat hingga hari pernikahan pun telah di tetapkan oleh kedua orang tuanya.
🌹🌹🌹
Di keesokan harinya, Kevin hanya berdiam diri di dalam apartemennya. Ia tidak beranjak sejak pagi dari kursi kerjanya, ia duduk disana bukan untuk menyelesaikan pekerjaannya akan tetapi ia ingin kembali menenangkan dirinya sendiri. Semua tugas pekerjaannya pun ia serahkan semuanya kepada asisten pribadinya yang lain.
"Pilihanan yang sangat sulit.. Lebih baik aku memilih menyelesaikan ribuan tender proyek dari pada aku harus memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan hati dan perasaan. Sekalipun aku sangat mencintai Viola akan tetapi dia sekarang sudah menjadi milik Steven Chan dan sebentar lagi mereka berdua akan menikah. Walaupun hatiku berkata lain tentang Dara namun sekarang tidak ada gunanya lagi karena tidak lama lagi aku pun akan segera menikah dengan seseorang wanita yang belum pernah aku kenal. Ya Tuhan ini amat sangat membingungkan..", ucap Kevin.
Disaat emosi hati Kevin yang tidak menentu seperti ini, seketika ada seseorang yang datang masuk ke dalam apartemen Kevin..
"Kevin..!!!", teriak Viola..
Kevin sangat terkejut dan tidak menyangka dengan kedatangan Viola yang sangat tiba-tiba. Viola pun datang mendekati Kevin yang sedang duduk bersandar dikursinya dan perlahan Viola mulai mendekatinya yang seakan ingin memeluknya, akan tetapi Kevin segera menghindar darinya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku???", tanya Kevin heran.
"Apakah kau sudah lupa, kau sendiri yang telah memberikan kunci ini padaku", jawab Viola sembari menunjukan kuncinya pada Kevin.
"Ya ampun aku lupa, sudah sangat lama aku pernah memberikan kunci apartemenku pada Viola", ucap Kevin dalam hatinya.
"Lalu apa kepentinganmu datang kesini Viola???", tanya kembali Kevin.
"Apakah kau tidak merindukanku???", tanya Viola manja sembari melingkarkan lengannya pada lengan Kevin.
Sontak Kevin pun segera beranjak dari tempat duduknya ketika Viola melakukan hal itu padanya.
"Hentikan Viola ini tidak pantas kau lakukan, kau sudah mempunyai tunangan", ucap Kevin sembari menjauh dari Viola.
"Ada apa denganmu Kevin??? Apakah kau sudah tidak mencintaiku lagi???!!" tanya Viola.
Sejenak Kevin terdiam membisu tanpa sepatah kata pun jawaban yang keluar dari mulutnya. Diamnya Kevin kemudian dimanfaatkan oleh Viola untuk mendekatinya dan perlahan ia mulai kembali mendekatinya lalu sedikit demi sedikit tangannya mulai meraih lengan Kevin. Dengan manja Viola pun mulai mengingatkan Kevin tentang kenangan masa lalu mereka saat masih bersama..
"Tentu kau masih ingatkan Kevin saat kita berlibur bersama di Paris, kota yang sangat cantik dan kau pun berjanji apabila kita sudah menikah, kita akan datang kembali lagi kesana untuk berbulan madu. Pasti akan sangat indah ya..", ucap Viola dan bersandar manja di bahu Kevin.
"Sudahlah lupakan itu semua. Semuanya sudah berlalu.. Lebih baik kau segera pergi dari tempat ini, karena aku tidak ingin berurusan dengan Steven Chan", ucap Kevin dan melepaskan tangan Viola.
"Kau sudah sangat berubah Kevin, tetapi hingga detik ini aku masih sangat mencintaimu. Jika kau memintaku untuk pergi meninggalkan Steven Chan, kapanpun aku akan siap. Ini semua bukan hanya omong kosong belaka, aku akan membuktikan semuanya padamu. Hari ini aku akan pergi ke Canada untuk menemui Papiku dan memintanya untuk membatalkan pertunanganku dengannya", ucap Viola.
"Apakah kau sudah tidak waras melakukan hal itu", ucap Kevin sembari membalikkan badannya membelakangi Viola.
"Tentunya kau sudah sangat mengenaliku, Kevin", ucap Viola sembari seraya memeluk Kevin dari arah belakang.
"Lepaskan aku, Viola..!!!", ucap Kevin dengan nada tinggi.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi Kevin, aku sangat menyesal karena dulu telah meninggalkanmu", ucap Viola dan tetep memeluk Kevin dengan eratnya.
"Dalam waktu dekat ini aku akan segera menikah..", ucap Kevin.
"Apa menikah???!! Berarti apa yang sudah Steven Chan katakan itu benar. Kau akan menikah dengan wanita itu??? Aku tidak akan membiarkan Dara mendapatkanmu..", ucap Viola kesal dan melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu??? Aku tidak menikah dengan Nn. Dara. Kedua orang tuaku telah menjodohkanku dengan wanita pilihan mereka. Kita berdua akan menikah dengan pilihan dari kedua orang tua kita masing-masing, jadi mulai dari sekarang lupakanlah aku dan juga termasuk semua kenangan kita saat masih bersama", ucap Kevin.
"Aku tidak ingin mengikuti semua perkataanmu tadi, aku mohon batalkanlah pernikahanmu dengannya. Aku akan tetap memperjuangkan cinta kita, aku akan meminta Papi untuk membatalkan pertunanganku dengan Steven Chan. Maka berjanjilah kau akan menungguku hingga aku datang kembali", ucap Viola sembari mencium bibir Kevin dan kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sesaat Kevin hanya terdiam setelah kepergian Viola dan kemudian hati Kevin pun berkata, "Maafkan aku Viola, aku tidak bisa merubah semua ini".
Ditempat yang berbeda, di sebuah cafe berlokasi di alun-alun Bandung Ayahanda Kevin bersama sahabatnya sedang mengatur lokasi pernikahan kedua putra dan putri mereka yang akan segera di laksanakan berapa hari lagi..
"Darma bagaimana dengan lokasi yang sudah aku tentukan ini?", tanya Tn. Abraham.
"Lokasinya akan tetap di daerah Bandung, akan tetapi aku mencari tempat yang lebih private karena aku tidak ingin pernikahan putra dan putri kita nanti ada menyabotase. Aku mendapatkn informasi dari anak buahku bahwa ada salah satu rekan bisnis putraku yang menginginkan pernikahan ini gagal", ucap Tn. Abraham.
"Apa maksudmu???!! Apakah Kevin mempunyai musuh???", tanya Tn. Darmawan sangat terkejut.
"Setahuku Kevin tidak mempunyai musuh dan tidak pernah juga mencari musuh, akan tetapi hal seperti ini sudah biasa terjadi dalam dunia bisnis saling sikut-menyikut. Maka dari itu aku akan mengundang hanya beberapa teman dekat dari rekan bisnisku saja dan sisanya keluarga kita. Khusus untuk acara yang sakral ini aku tidak akan mengizinkan media untuk meliputnya", ucap Tn. Abraham.
"Baiklah apapun itu aku akan mengikutimu, yang terpenting setelah menikah putramu akan selalu menjaga dan selalu melindungi putriku dari ancaman apapun", ucap Tn. Darmawan.
"Putraku adalah seorang pekerja keras sepertiku, walaupun dia terlihat angkuh, keras kepala tetapi dia sangat menghormati seorang wanita. Pasti dia akan selalu menjaga putrimu dan tidak akan menyia-nyiakannya", ucap Tn. Abraham.
"Aku percaya dengan ucapanmu Tn. Abraham", ucap Tn. Darmawan
Mereka berdua pun terus melanjutkan perbincangan hingga senja.
Di malam harinya, di depan balkon kamarnya Dara duduk termenung sembari mengingat kembali semua kejadian demi kejadian saat ia pergi meninggalkan rumah, hingga saat pertemuan pertama kalinya dengan mantan Bos nya Kevin.. Seakan-akan semua kenangan bersama Kevin selalu saja teringat dan terlintas sangat jelas di dalam benaknya hingga terkadang membuatnya sulit untuk memejamkan kedua matanya di saat malam hari. Akan tetapi Dara selalu mengelak dengan perasaannya itu, lantaran ia tidak ingin masa lalunya menghantui kehidupannya yang baru setelah menikah.
"Nak, apa yang sedang kau pikirkan???!!", tanya Mama sembari duduk disampingnya.
"Oh.. Mama", ucap Dara terkejut.
"Kau melamun Nak? Apa yang kau lamunkan???", tanya Mama.
"Tidak ada Mama", jawab Dara tersenyum..
"Oya, Nak apakah kau ingin melihat foto calon suamimu???", tanya Mama.
"Tidak perlu Mam, beberapa hari lagi aku pun akan bertemu dengannya. Lebih baik aku tidak mengenalnya sama sekali", jawab Dara.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keinginanmu", ucap Mama.
"Lalu sekarang apa yang kau sedang pikirkan???", tanya kembali Mama.
"Tidak ada Mam..", jawab Dara singkat.
"Mama tahu pasti kau sangat cemas menjelang hari pernikahanmu yang tinggal beberapa hari lagi", ucap Mama sembari memegang tangan Dara.
"Apakah itu wajar untukku Mam???", tanya Dara.
"Tentunya sangat wajar.. Saat dulu Mama ingin menikah dengan Papamu, Mama merasakan hal ini juga", jawab Mama.
"Tetapi untukku ini sangat berbeda dengan Mama karena aku akan menikah dengan pria yang belum pernah aku kenal dan aku temui", ucap Dara sembari memandang langit yang gelap tanpa bintang.
"Percayalah pada Mama kau akan menjadi wanita yang sangat beruntung dan bahagia setelah dipersunting olehnya menjadi istri", ucap Mama.
"Kenapa Mama seyakin itu??? Apakah Mama sudah sangat mengenalnya???", tanya Dara.
"Mama sudah mengenalnya, akan tetapi hatimulah yang lebih mengenalnya.. Beristirahatlah Nak, Mama juga ingin beristirahat di kamar.. Selamat malam", ucap Mama sembari mengecup kening Dara dan pergi meninggalkannya sendiri disana.
Dara sangat tidak mengerti dengan apa yang Mamanya maksud dengan berkata seperti ini.
"Mama sudah mengenalnya, akan tetapi hatimulah yang lebih mengenalnya", kenang Dara.
"Mama semakin membuatku bingung saja..", ucap Dara sembari menghela nafasnya.
"Aku sangat rindu bercerita denganmu Windy. Bagaimana kabarmu disana, semoga kau dan kandunganmu baik-baik saja disana", ucap kembali Dara sembari memegang ponselnya..
Terasa malam yang sangat hening dan gelap lantaran bintang tidak menampakkan sinarnya.. Dara pun masih tetap duduk terdiam diri disana ditemani dengan dinginnya malam.. Semua asa terasa hampa untuk diraih, hanya senyuman yang akan selalu menemaninya untuk melangkah bersama..
"Semakin mendekati hari pernikahanku, semakin aku bimbang dan ragu.. Apakah aku bisa menjalani pernikahanku dengan pria itu untuk seumur hidupku??? Entahlah!!!", ucap Dara bimbang dan bingung..