My Life Partner [On Going.].

My Life Partner [On Going.].
#21 : Merindukannya



"Sungguh apakah, aku sudah jatuh cinta dengan Pak Kevin???", tanya Dara..


Di malam yang sama seketika Kevin pun terbangun dari tidurnya.. Ia pun terduduk di ranjangnya dan mulai mengingat kembali apa yang dimimpikannya hingga membuatnya terbangun.


"Ya ampun, kenapa aku memimpikan Nn. Dara???!! Semoga dia baik-baik saja disana", ucap Kevin sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah Kevin terbangun dari tidurnya, ia tidak dapat memejamkan kedua matanya kembali. Kemudian ia pun pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dan ketika ia sedang memandang wajahnya di cermin seketika ia mengingat kembali perkataan Ivan tadi pagi.


"Tetapi kau tidak jatuh cinta pada Dara sepertiku jugakan???!!", kenang Kevin.


"Kenapa aku jadi mengingat semua perkataan Ivan???!!", tanya Kevin bingung.


Kevin pun duduk di kursi kerjanya dan mulai membuka laptopnya dan mengeluarkan beberapa berkas-berkas penting yang ada di dalam tasnya. Disaat yang bersamaan tanpa sengaja Kevin mengeluarkan sebuah berkas yang tertulis "Surat Perjanjian Kontrak Kerja", kemudian Kevin mulai membuka berkas itu secara perlahan dan terlihat disana tertulis nama Dara beserta tanda tangannya.


Setelah melihat isi berkas itu seakan kenangan Kevin mulai kembali pada saat pertemuan pertama kalinya dengan Dara dan satu demi persatu peristiwa yang dilalui mereka bersama, semuanya seakan teringat sangat jelas didalam pikirannya.


"Ya ampun, ada apa ini dengan pikiranku???!!", tanya Kevin bingung..


Pikiran Kevin seakan menjadi kacau setelah mengingat kenangan bersama Dara dan untuk menghilangkan rasa kacaunya itu akhirnya Kevin pun pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Di saat ia sedang mengaduk kopinya, seketika ia jadi teringat dengan rasa kopi yang dibuat oleh Dara untuk pertama kalinya..


"Rasa kopi yang sangat aneh di lidahku.. Tapi karena aku telah mencicipi manisnya bibirmu jadi buatku itu tidak menjadi masalah", kenang Kevin.


Mengingat hal itu Kevin pun menjadi tertawa lantaran perbuatannya itu hingga membuat Dara menjadi sangat marah padanya. Akan tetapi seketika Kevin berhenti mengaduk kopinya ketika ia mengingat pernah mencium bibir Dara dengan sengaja di parkiran mobil..


"Ya ampun, Ivan akan sangat marah padaku kalau saja dia tahu, aku pernah mencium seseorang wanita yang di cintainya..", ucap Kevin sembari menarik nafasnya..


Beberapa menit kemudian Kevin pun mulai mencoba kembali mengerjakan tugasnya yang tertunda akan tetapi pikirannya masih saja belum bisa fokus untuk berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Ya ampun, ada apa ini semakin kacau pikiranku???!! Bagaimana aku bisa segera menyelesaikan tugasku ini???!!", ucap Kevin bingung..


Sepanjang malam hingga pagi ini Kevin hanya terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa, lantaran ia tidak dapat berkonsentrasi untuk fokus mengerjakan tugasnya.


"Ada apa denganku???!! Mataku tak bisa terpejam dan pikiranku sangat kacau tidak bisa untuk berkonsentrasi, pagi ini aku harus datang ke Dokter", ucap Kevin.


🌹🌹🌹


Waktu baru menunjukkan pukul 06.05, sepagi ini Kevin pun sudah berpakaian rapih dengan setelan jasnya. Ibundanya menjadi sangat heran dengan penampilan kevin yang seperti ini.


"Sayang dengan pakaian serapih ini kau ingin pergi kemana?", tanya Bunda.


"Aku akan pergi ke kantor Bunda", jawab Kevin.


"Sepagi inikah kau akan berangkat ke kantor???", tanya Bunda heran.


"Iya Bunda, begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Oya Bun, malam ini hingga beberapa hari ke depannya aku akan pulang ke apartemen jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku", ucap Kevin sembari mencium pipi Ibundanya.


"Sayang baru saja kemarin kau pulang ke rumah, tapi kenapa kau tidak kerasan tinggal di rumahmu sendiri???", tanya Bunda.


"Sudah biarkan saja, jika dia butuh dengan kita pasti dia akan pulang kesini", ucap Ayah sembari duduk di kursi.


"Sudahlah Ayah, lebih baik Ayah sarapan dulu ya.. Oya Kevin kau tidak sarapan dulu sayang???", tanya Bunda.


"Tidak Bunda, aku akan sarapan di kantor saja, aku berangyg kat Bunda", ucap Kevin sekaligus mencium tangan Ibundanya.


"Dasar anak tidak sopan, main pergi seenaknya saja", ucap Ayah kesal.


"Kau terlalu memanjakannya hingga dia menjadi tidak sopan terhadap Ayahnya sendiri", ucap kembali Ayah.


"Sudahlah Ayah, biarkan Kevin pergi", ucap Bunda.


Setelah berpamitan dengan Ibundanya, Kevin pun pergi meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan perkataan Ayahnya lantaran ia tidak ingin sepagi ini ada keributan di rumahnya.


Begitu Kevin sangat membutuhkan ketenangan hingga ia pun mengendarai mobilnya sendiri menuju ke kantor tanpa di dampingi oleh sopir pribadinya. Setibanya disana tanpa buang-buang waktu lagi ia pun mulai berusaha untuk fokus mengerjakan tugasnya.


Kali ini semua pekerjaan dan jadwal pertemuannya dengan klien, semuanya Kevin yang mengatur lantaran ia belum mendapatkan sekretaris baru yang menggantikan Mala. Akan tetapi karena Kevin sudah terbiasa mengerjakannya sendiri jadi bagi Kevin itu semua tidak menjadi masalah.


Di siang harinya sebelum makan siang Kevin sudah mengatur jadwal pertemuannya dengan Dokter. Setelah Kevin selesai menelepon sebuah rumah sakit untuk melakukan perjanjian dengan salah satu Dokter disana, tiba-tiba saja ada yang datang mengetuk pintu ruangannya dari luar dan kemudian masuklah seorang pegawai Kevin yang ingin menemuinya.


"Maaf Pak Kevin, ada seseorang pria yang memaska ingin bertemu dengan Pak Kevin tanpa membuat janji sebelumnya", ucap Gita Resepsionis.


"Katakan padanya saat ini aku sedang sangat sibuk dan tidak bisa di ganggu. Datang kembali saja besok", perintah Kevin.


"Baik Pak Kevin", ucap Gita Resepsionis.


Disaat Gita akan keluar pintu, seketika ada seseorang pria yang datang menerobos masuk kedalam ruangan Kevin hingga membuat pegawainya sangat terkejut.


"Bapak maaf silakan tunggu dulu diluar", ucap Gita Resepsionis.


"Selamat siang Tn. Kevin Abraham..", ucap Steven Chan.


Sesaat Kevin pun terdiam melihat kedatangan Steven Chan di ruangannya.


"Gita, tolong ingatkan semua Security bila ada siapapun yang datang ingin menemuiku tanyakan identitasnya dengan lengkap, karena aku tidak ingin kejadian seperti hari ini terulang kembali dan sekarang kau boleh pergi", ucap Kevin.


"Baik Pak Kevin", ucap Gita dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Bos nya.


"Apa kepentinganmu datang menemuiku???", tanya Kevin.


"Aku ini rekan bisnismu, apa perlu aku membuat janji sebelum menemuimu", ucap Steven Chan sembari duduk di sofa.


"Sekalipun kau rekan bisinisku, siapapun yang ingin menemuiku harus membuat janji terlebih dahulu termasuk kau, karena aku tidak ingin di ganggu dengan hal apapun yang tidak penting", ucap Kevin.


"Sepertinya kau belum mempunyai sekretaris yang akan mengatur semua jadwalmu??? Aku rasa selain Gita cantik, Gita sepertinya sangat cocok kalau nantinya akan menjadi sekertarismu yang baru", ucap Steven Chan.


"Kalau kau datang kesini hanya ingin mengatakan hal itu lebih baik kau segera pergi dari tempat ini karena aku tidak ada waktu untuk mendengarkan bualanmu", ucap Kevin sembari mengetik di laptopnya.


"Ternyata semakin lama kau semakin sangat mengesalkan. Kalau aku tidak butuh informasi tentang Nn. Dara, aku tidak akan sudi menginjakkan kakiku di tempat ini", ucap Steven Chan dan beranjak dari sofa yang didudukinya.


"Apa maksudmu berkata demikian? Informasi tentang Nn. Dara???", tanya Kevin penasaran dan segera berdiri dari kursinya.


"Selidikilah sendiri, bukankah anak buahmu sangat banyak..!!!", jawab Steven Chan.


"Apa maksudmu???!!", tanya Kevin dan beranjak melangkah ke arah Steven Chan.


"Kalau kau bertemu dengan Nn. Dara sampai padanya bahwa aku sangat merindukannya. Andai saja aku bisa menggagalakan pernikahanmu dengannya, akulah orang pertama yang akan melakukannya", ucap Steven Chan dan berlalu pergi meninggalkan Kevin sendiri di ruangannya.


Setelah Steven Chan pergi, Kevin pun pergi meninggalkan ruangannya menuju ke rumah sakit. Setibanya disana ia segera masuk ke dalam ruangan dokter, dimana dr. Hasan sudah menunggunya sejak tadi.


"Selamat siang dr. Hasan..", sapa Kevin sembari mengulurkan tangannya.


"Selamat siang Pak Kevin, bagaimana kabarmu hari ini???", tanya dr. Hasan sekaligus menjabat tangan Kevin.


"Kabarku sangat buruk", jawab Kevin dan duduk di kursi yang nyaman yang sudah di sediakan.


"Apa kita mulai sekarang Pak Kevin?", tanya dr. Hasan.


"Lebih cepat lebih baik Dokter karena ini amat sangat menggangguku di sepanjang hari ini", jawab Kevin.


Kevin pun mulai bercerita dengan dr. Hasan, seorang Dokter Psikiater yang sudah sangat lama mengenal Kevin sehingga tidak ada lagi keraguan sedikitpun bagi Kevin untuk menceritakan semua keluhan dan masalahnya.


Beberapa menit pun berlalu..


"Apakah kau sudah selesai menceritakan semuanya Pak Kevin?", tanya dr. Hasan.


"Sudah semuanya dr. Hasan", ucap Kevin.


"Ok baiklah, aku tidak akan bertanya kepadamu pertanyaan yang berbelit-belit dan bertele-tele. Kita bicarakan semua ini seperti layaknya teman, sahabat atau keluarga, bukan seperti Dokter dan pasien. Apakah beberapa hari atau beberapa minggu atau seterusnya ada seseorang yang dekat denganmu dan seketika seseorang itu pergi dari kehidupanmu???", tanya dr. Hasan.


"Tidak ada Dokter, tidak ada seseorang yang dekat denganku saat ini dan juga tidak ada yang pergi dari kehidupanku", jawab Kevin.


"Coba perlahan kau dengar kembali pertanyaanku dan resapilah", ucap dr. Hasan sembari mengulang kembali pertanyaannya pada Kevin.


"Apakah yang kau maksud mantan sekretarisku???", tanya Kevin kembali.


"Aku rasa seseorang itu bukan dia", jawab dr. Hasan.


"Lalu siapa yang kau maksud???!!", tanya Kevin bingung..


"Cobalah mengingatnya kembali!!!


Aku akan mencoba membantumu, sepertinya seseorang ini adalah seseorang yang belum lama kau kenali akan tetapi belakangan ini hari-harimu kau lalui bersamanya. Walaupun dengan waktu singkat kalian bertemu, akan tetapi karena begitu banyak peristiwa demi peristiwa penting terjadi sehingga membuat alam bawah sadarmu menangkap ini bukanlah sesuatu hal yang biasa melainkan semua ini adalah spesial dibandingkan dari semua yang sudah pernah terjadi padamu sebelumnya", ucap dr. Hasan menjelaskan.


Sejenak Kevin terdiam dan mulai berpikir siapa seseorang itu yang dr. Hasan maksudkan. Akhirnya Kevin terlintas dengan seseorang wanita yang belum lama di kenalnya.


"Apakah mungkin seseorang itu adalah..", ucap Kevin ragu.


"Aku rasa kau sudah mengetahuinya siapa seseorang yang aku maksud", ucap dr. Hasan.


"Aku masih meragukan hal ini, apakah dugaanku benar atau tidak", ucap Kevin ragu.


"Baru kali ini aku melihatmu tidak punya kepercayaan diri untuk memutuskan sesuatu.. Apakah seseorang ini begitu spesialnya hingga kau tidak menyadarinya, tetapi hanya alam bawah sadarmu saja yang meresponnya begitu kuat", ucap dr. Hasan.


Semakin mendengarkan penjelasan dari dr. Hasan, semakin Kevin terdiam dan berusaha untuk berpikir keras. Keraguannya pun semakin menenggelamkan pikirannya. Hingga Kevin menyerah tidak tahu apa yang harus ia lakukan..


"Cukup dr. Hasan, aku tidak tahu harus berpikir sekeras apa lagi. Apakah aku harus mengkonsumsi obat darimu agar pikiranku bisa lebih tenang???", tanya Kevin.


"Itu bukanlah solusi yang tepat untuk keraguanmu saat ini. Kau menjadi pasienku sejak usiamu 17 tahun, saat itu Ibundamu yang membawamu datang pertama kali ke sini. Kau begitu tertekan dengan Ayahmu sendiri hingga kau berontak dan tidak ingin mengikuti perintah orang tuamu untuk berkuliah di luar negeri. Tetapi saat itu kau mengungkapkan semua perasaan dan masalahmu padaku hingga kau perlahan bisa mengetahui keputusan apa yang harus kau pilih. Kau mampu mengikuti semua saran yang aku berikan padamu, semua masalah itu bisa kau selesaikan tanpa kau mengkonsumsi obat apapun dariku.


Kini usiamu sudah 30 tahun, sekarang kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa dengan segudang prestasi dan posisimu di dunia bisnis sudah tidak bisa dianggap remeh oleh siapapun. Dengan semua tanggung jawabmu dan tingginya tingkat stresmu kau bisa menjalani semuanya itu dengan seimbang tanpa adanya rasa ragu sedikitpun. Termasuk belum lama ini kau patah hati dan kecewa pada mantan kekasihmu, karena begitu lamanya kau berhubungan dengannya akan tetapi apa yang kau harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang kau inginkan. Saat itu bisa di bilang kau hampir saja depresi, akan tetapi kau mampu belajar dari semua pengalaman yang kau peroleh sehingga seiring berjalannya waktu kau bisa menerima dan menjalani semuanya dengan rasa kepercayaan dirimu yang baru. Keterpurukanmu saat itu akan tetapi kau pun tidak menginginkan mengkonsumsi obat apapun dariku dan kau pun mampu melewati masalah itu semuanya. Kenapa aku mengatakan semuanya padamu, karena aku ingin memberitahukanmu bahwa mekanisme kopingmu sangat baik, kau mampu melewati berbagai tekanan, masalah dan hal yang sangat membuatmu menjadi tersudut, semuanya itu kau jalani dan kau lalui tanpa sedikitpun kau mengkonsumsi obat-obatan dariku", ucap dr. Hasan.


"Lalu apa yang sekarang harus aku lakukan saat ini???", tanya Kevin bingung..


"Temuilah seseorang itu dan jika kau ingin menyampaikan sesuatu padanya, apapun itu katakanlah padanya", jawab dr. Hasan.


"Aku semakin ragu dan bingung saat ini dr. Hasan karena aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Walaupun kau menjelaskan semuanya tetap saja pikiranku masih kacau..", ucap Kevin sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya..


"Dengarkanlah perkataanku baik-baik, katakanlah sejujurnya pada hatimu, bahwa kau sangat merindukannya..", ucap dr. Hasan.


Mendengar semua perkataan dari dr. Hasan, semakin membuat Kevin bingung dan akhirnya hanya dapat membuatnya menjadi terdiam..


Setelah selesai konsultasi dengan dr. Hasan, Kevin pun kembali ke kantor. Di dalam ruangan Kevin kembali mengingat semua perkataan yang disampaikan oleh dr. Hasan. Tak satu pun perkataan dr. Hasan yang terlewatkan untuk diingat oleh Kevin, namun tetap saja Kevin masih belum bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan hatinya.


Disaat Kevin sedang berusaha mengatasi keragu-raguan hatinya, tiba-tiba teleponnya berdering dan ia pun segera mengangkat teleponnya..


"Pak Kevin, ada seseorang tamu yang ingin bertemu", ucap Gita Resepsionis via telepon.


"Persilakan saja tamuku masuk keruanganku", ucap Kevin via telepon.


Tidak berapa lama kemudian datanglah seorang pria berpakaian rapih masuk kedalam ruangannya..


"Selamat siang Pak Kevin", ucap Leo sembari membungkukkan badannya.


"Iya selamat siang, silahkan kau duduk dan langsung laporkan hasil penyelidikanmu", ucap Kevin.


Leo pun mulai menceritakan pada Kevin hasil penyelidikan ulangnya. Dengan seksama Kevin mendengarkan semua cerita Leo. Dari semua yang di ceritakan oleh Leo anak buahnya hampir saja membuat Kevin tidak percaya, lantaran semua kejadian ternyata ada kaitannya dengan Steven Chan.


"Apakah kau sudah yakin bahwa Steven Chan ada kaitannya dengan kematian Khayang Dewi, Kakak dari mantan sekretarisku???!!", tanya Kevin sangat terkejut.


"Saya sangat yakin Pak Kevin dengan semua penyelidikan ini", ucap Leo tegas.


"Baiklah kalau begitu selidiki terus kasus ini sampai tuntas dan cari tahu dimana keberadaan Mala. Serta aku ingin juga kau selidiki Steven Chan, awasi gerak-geriknya", perintah Kevin.


"Baik Pak Kevin, permisi..", ucap Leo dan pergi meninggalkan ruangan Bos nya.


Setelah Leo pergi, Kevin berpikir sejenak dengan semua permasalahan yang dihadapinya. Semua seakan mudah untuk Kevin hadapi akan tetapi untuk permasalahannya yang satu ini seakan ia tidak bisa menentukan keputusan.


Ia pun menjadi teringat dengan perkataan dr. Hasan..


"Baru kali ini aku melihatmu tidak punya kepercayaan diri untuk memutuskan sesuatu", kenang Kevin.


"Apa yang harus aku lakukan???!!", tanya Kevin bingung.


Lagi-lagi Kevin hanya terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa, namun seketika hati kecil Kevin berkata, mengucapkan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh dr. Hasan.


"Katakanlah sejujurnya pada hatimu, bahwa kau sangat merindukannya..", ucap hati kecil Kevin.


"Apakah aku sangat merindukannya???!!", tanya Kevin dalam hatinya..