My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 8



"Ma, Pa, Arka naik dulu" pamit Arka, pada dua mertuanya.


"Iya, istirahat lah, kamu kan juga harus sekolah besok."


Arka berjalan keluar dari ruang makan, naik ke lantai dua menggunakan tangga.


Ara mengangkat piring kotor ke dapur, setelah melihat arka menjauh dan meletakkan di atas wastafel untuk dia cuci.


"Pa, Mama bantu Ara dulu" melihat Ara masuk ke dapur.


"Iya Ma, Papa juga mau naik ke kamar."


"Ra, kamu naik aja ke kamar kamu, biar Mama yang lanjut"


"Memangnya, kenapa Ma? " Tanya Ara heran.


"Nggak apa-apa"


"Yah udah kalau begitu biar Ara lanjut sampai selesai"


"Nggak usah, biar Mama yang lanjut "


"Kenapa sih, Ma"


"Kamu naik aja lihat Arka."


"Memang kenapa harus dilihat"


"Nggak apa-apa lihat aja"


"Mama ini, ada-ada saja deh."


Ara mencuci tangannya di kran "Yah udah, Ara naik Ma." Pamit Ara.


*****


Ara memasuki kamar dan melihat Arka yang duduk di sofa sambil memainkan hpnya."lagi apa Ar?" Tanya Ara, duduk di samping Arka.


"Ini, lagi cek email" jawab Arka, tidak mengalihkan pandangannya ke Ara.


"Email tentang apa?" Tanya Ara, kepo.


"Showroom"


"Hmmm... Usaha kecil-kecilan"


"Hmmm...." Ara berdiri dari sofa.


"Kenapa?" Tanya Arka melihat Ara berdiri didekatnya.


"Nggak kenapa-napa, gue mau mandi dulu"


*****


Ara berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan, baju tidur warna abu-abu. Melihat Arka yang sudah berbaring di sofa, sambil berusaha memejamkan mata.


"Ar, kenapa tidur disitu!"


"Lalu gue harus tidur dimana, kalau bukan disini? Ranjang?"


"Iya lah."


"Lalu kamu tidur dimana?" Tanya Arka, mendukung badannya kembali.


"Di ranjang juga lah." Melangkah mendekati Arka yang duduk dan terus memperhatikannya.


"Ar, kayaknya kita harus bicara deh"


"Dari tadi kita kan sudah bicara, Ra" ujar Arka


"Ihhhh...., Maksud aku tuh, kita bicara soal bagaimana kelanjutan hubungan kita."


"Ohh..., Soal itu.."


"Iya. Ar, kalau boleh jujur, gue cuman mau nikah sekali seumur hidup." Ucap Ara, bersungguh-sungguh, menatap manik mata Hitam Arka.


Arka menatap balik mata coklat Ara, sehingga terjadi adegan tahap-tahapan seperti di film-film romantis. "Loe mau gue jawab Jujur atau bohong?" Tanya Arka, setelah tersadarkan dari adegan tahap-tahapan dengan Ara.


"Jujur lah Ar, masa bohong sih" sewot Ara


'"gue sebenarnya belum kepikiran tentang nikah atau lebih tepatnya tidak pernah kepikiran tentang nikah, apalagi sampai nikah muda" jawab Arka, menatap datar ke depan, dengan pandangan kosong, tidak ingin sampai Ara melihatnya.


Melihat Arka menatap kedepan, Ara memberanikan diri untuk membuat Arka menghadap ke arahnya dengan memegang pipi Arka dengan tangannya."Ada apa Ar, kalau kamu ada masalah cerita aja ke gue, gue akan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Loe." Ujar Ara, menunggu Arka membuka suaranya, tapi melihat Arka yang hanya diam, Ara kembali berkata "Tapi kalau gue tidak mau bicara juga tidak apa-apa atau lo tidak percaya sama gue?" Tanya Ara, menjauhkan tangannya dari pipi Arka dan berbalik ke arah depan.


Melihat Ara menjauhkan tangganya dan berbalik arah, Arka membuka suara ."Ra, bukan aku tidak percaya dengan kamu, aku cuman tidak ingin menambah beban pikiran kamu" ujar Arka, tidak sadar menggunakan panggilan aku dan kamu bukan Loe dan gue lagi.