My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 42



"Kalian malah asik romantis romantisan, tidak merasa bersalah sama sekali. Sudah meninggal Kan gue dan Lia" protes lain, kali ini dari Devan.


"Nggak usah lebay deh Van?" Ujar Dean dengan kelakuan temannya yang satu itu.


"Lagian kalian punya kaki kan?" Tanya Ara yang ke Devan dan Lia, tanpa melihat ke arah mereka.


"Tentu saja kami punya kaki" serentak Lia dan Devan menjawab pertanyaan tidak masuk akal dari Ara menurut Meraka. Jelas jelas Ara bisa melihat mereka punya kaki, kenapa harus bertanya lagi.


"Kalau begitu, kalian bisa jalan sendiri kan kenapa harus ditunggu. Seperti anak kecil saja yang harus ditunggu oleh ibunya." Kali ini Arka yang membuka suara dan perkataan nya yang cukup panjang dan pedas itu. Membuat Devan maupun Lia bungkam.


Tia dan Dean yang melihat Devan dan Lia ke habisan kata kata tertawa kecil.


"Nggak ada yang lucu." Seru Devan kesal, melihat tawa temannya.


"Ada."


"Mana?"


"Ini" memperlihatkan hpnya. Yang hanya menampilkan game yang dia mainkan dengan Tia.


"Itu nggak lucu." Ketus Devan.


"Haha... Haha....." Tawa Dean pecah, berhasil membuat teman nya tambah kesal.


Lia mengalihkan pandangannya ke samping "Kalian berdua ini seperti orang tunangan saja" protes Lia, melihat tingkah sahabatnya. "Ehhh, tidak deh. Kalian malah seperti orang yang sudah menikah saja." Koreksi Lia pada perkataan awal nya.


Mengalihkan pandangannya ke arah Ara dan Arka berada. "Iya. Kali ini kita sependapat dengan Lia." Ujar Tia sependat dengan Lia.


"hmmm... hmmm..." Balas Tia, dengan mengangguk angguk kan kepalanya.


Sementara Devan dan Dean hanya mengangguk sebagai jawaban dari mereka berdua.


Ara menghentikan pergerakan tangannya yang sedari tadi mengusap kepala Arka.


Muka sedikit menegang, takut jika hubungan mereka akan diketahui oleh teman mereka.


Arka yang sedang memejamkan matanya, perlahan membuka nya karena tidak meredakan pergerakan tangan Ara lagi.


Arka menatap wajah Ara yang terdapat kecemasan dari tatapan itu. " Kenapa?" Bertanya ke Ara, lalu berbalik melihat satu persatu temannya.


"Kalau itu menurut kalian, anggap saja itu benar." Ujar Arka, Santai. Menu


"Ar....." Memang Arka, Lirih.


Arka, yang di panggil. Bangkit dari tidurnya. Menatap Ara dalam, dia dapat melihat keraguan dari mata itu. Arka pikir itu karena Ara tidak ingin sampai ada orang yang tau tentang hubungan mereka.


Sedangkan Ara khawatir, takut jika Arka mengatakan hubungan mereka ke teman mereka di tempat ini, takut nya ada orang yang tidak sengaja mendengar ucapan Arka. Lalu menyebarkan nya ke murid dan membuat satu sekolah gaduh akan hubungan mereka. Dia takut sampai guru guru dan kepala sekolah sampai mendengarkan nya dan mereka di keluarkan dari sekolah nya. "Jangan sampai" pikir Ara. Walaupun sebenarnya tidak mungkin juga ada yang mendengar, apalagi mereka saja ada di rooftop. Yang jarang di datangin oleh murid murid.


Sementara itu Arka yang duduk di samping Ara, semakin merasa bersalah kepada Ara. Bagaimana tidak secara tidak sengaja dia sudah menempatkan Ara di dalam kerumitan hidupnya. Mungkin ini bukan salah nya sepenuhnya, karena mereka dia hanya di jodohkan. Tapi kenapa waktu itu dia tidak mencoba menolak perjodohan itu dengan keras. Sehingga Ara tidak perlu menikah dengannya.


Ara dan Arka tersadar saat mendengar teguran Temannya.