
Para siswi yang masih disana, mengabadikan momen langkah itu menurut mereka. Ada memvideokan dan ada juga yang memfoto mereka berdua. Karena menurut mereka Arka orang yang sangat dingin dan tidak pernah berespresi diluar ekspresi dingin yang selama ini di perlihatkan kepada orang orang. Tapi apa ini di depan Ara, Arka telihat sangat berbeda dari biasanya.
Ara meninggalkan Arka yang masih tertawa.
Arka mencoba menahan tawanya, melihat kepergian Ara. Ia mengejar Ara, sambil sesekali memanggil nya. Tapi tidak di hiraukan oleh Ara malah semakin mempercepat langkah kakinya, seperti orang yang berlari kecil.
"Ara...." Memanggil Ara, untuk kesekian kalinya.
"...."
Arka meraih tangan Ara, saat sudah dekat dengan nya.
"Maaf..."ujar Arka penuh rasa bersalah.
"Untuk apa kau meminta maaf?" Tanya Ara, memalingkan mukanya, tidak ingin menatap wajah Arka. Takut cepat luluh dengan Arka, saat melihat wajah nya.
"untuk yang tadi." Ujarnya.
"Tadi yang mana ?" Masih memalingkan wajahnya.
Arka berpikir Ara benar benar marah kepadanya, karena Ara seperti enggan untuk melihat dirinya. Arka melepaskan tangannya yang dari tadi memegang pergelangan tangan Ara.
"Tadi saat di depan toilet." Ujar Arka.
"......." Tidak ada tanggapan dari Ara yang masih pada posisinya.
"aku janji ini yang terakhir kalinya membuat mu kesal, jika aku tidak lupa. Tapi jika aku lupa..." Ujar Arka sengaja menggantung ucapannya. Dia ingin melihat reaksi Ara. Benar saja Ara langsung berbalik dan menatap Arka penuh tanda tanya.
"Tapi jika kau lupa, kenapa?" Tanya Ara, penasaran.
"Iya. Itu buka salah ku" Lanjut Arka.
"Lalu salah siapa?" Tanya Ara lagi.
"Salah ku" ulang Ara memperjelas ucapan Arka.
"Iya salah mu. Karena melihat kau kesal sangat lucu dan menggemaskan untuk dilihat. Membuat aku lagi dan lagi ingin melihat wajahmu itu". Jelas Arka dengan senyum menawan nya.
Muka Ara bersembuh merah mendengar ucapan Arka. "Kau?" Tunjuk Ara ke muka Arka.
"Tidak baik menunjuk nunjuk suami mu seperti itu!" Seru Arka, memelankan ucapan saat mengucap kata suami mu.
Muka Ara yang sudah merah tambah, merah mendengar kata suami mu dari mulut Arka.
"Setidaknya sampai kamu memilih untuk pergi meninggalkan ku. Dan di hari itu juga kau tidak akan melihat Arka yang kamu kenal selama ini." Lanjut Arka dalam hati.
"Ahhh... Suka suka kamu sajalah Ar." Ujar Ara, berlalu dari harapan Arka. Dia menepuk nepuk wajahnya agar kembali normal atau berhenti memerah.
"Ra, tunggu." Panggil Arka.
Ara berhenti, berbalik menatap Arka. "Kenapa lagi sih Ar?. Nanti kita telat masuk ke kelas lagi." Ujar Ara. Tidak tahu kalau mereka sudah lambat dari tadi.
"Kita sudah telat dari 30 menit yang lalu Ra." Koreksi Arka, mengigat kan Ara. Akan keterlambatan mereka. "Dan lagi ya Ra. Tadi aku sudah bilang kita akan langsung pulang saat kamu sudah berganti baju."
"Ar, kita nggak usah pulang dulu ya?" Ujar Ara, memelas. "Lagian Aku udah ganti baju." Lanjut Ara, masih berusaha membujuk Arka.
"Kita pulang yah!!" Masih kekeh dengan pendirian nya.
"Ar, kalau kita mau pulang kenapa pakai ganti baju segala sih," mulai kesal.
"Agar kamu tidak masuk angin saat di jalan." Balas Arka.
"Masuk angin bagaimana, lagian tadi kita berangkat ke sekolah naik mobil bukan motor. Otomatis angin tidak akan masuk ke mobil dan mengenaiku, selama jendela mobil tidak di buka. Paham" ujar Ara sedikit keras saking kesalnya. Untuk mereka sudah ada di lorong sekolah yang sepi akan penghuni atau bisa di sebut Siswa maupun siswi.