My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 23



"Kamu tidak ingin lihat lihat sepatu juga"


"Nggak deh, sepatu gue masih ada yang baru."


"Ohh gitu, ya udah. Gue mau lihat sepatu di sana dulu."


Menghampiri Devan yang sedang memperhati kan nya dari tempat duduk."Menurut Lo ini bagaimana" memperlihat kan sepasang sepatu warna hitam pekat putih, dan alasnya agak tinggi.


"Hmmm... Bagus sih"


"Ya udah ini aja deh, gue sudah lapar juga."


"Mari. Biar gue yang bayar" melangkah mendekati kasir


"Nggak usah. Gue merasa seperti wanita yang matre, kalau Lo yang bayar. Padahal kita juga baru dekat."


"Nggak apa, dan juga tidak ada yang bilang Lo matre, anggap aja sebagai hadiah pertemanan kita."


"Kalau gitu, thanks." Sampai di depan meja kasir, memberikan sepatu yang dia bawah


"Semuanya 1.450 000."


Devan menyerahkan kartu debit nya


*****


"Tadi itu siapa" tanya Ara penasaran, menuju ke cafe.


"Teman lama, tapi jangan dekat dekat dengan nya." Peringatan Arka.


"Memang kenapa?" Tanya Ara, "kamu cemburu ya!" Lanjut Ara menggoda, masuk ke salah satu cafe.


Arka menarik kursi kebelakang, mempersilahkan Ara duduk "Makasih"


Arka duduk di dekat Ara, berbalik menatap dan mengambil tangan Ara untuk di genggaman."kamu mau dengar aku cerita kan, soal kami." Di balas anggukan oleh Ara.


Arka mengacak rambut Ara dengan tangan kanan nya, yang dia lepas dari genggaman tangan Ara.


"Dulu, waktu Papi pindah dari kota asal nya ke kota S. Papi membeli rumah di salah satu komplek perumahan mewah. Dari situ aku ketemu dengan Samuel, yang juga tinggal di komplek itu bahkan rumahnya berada tepat di depan rumah Papi. Bukan hanya sampai di situ, ternyata kami satu sekolah bahkan satu kelas. Awalnya aku sedikit tidak suka dengan dia, karena dia anak yang suka iseng. Tapi lama kelamaan aku terbiasa dengan sikap nya itu, dan dari situ kami cukup akrab, kadang kami berangkat sekolah bersama di antar oleh supir Papi atau supir Papi nya Sam." Arka menjeda ceritanya


"Lalu bagaimana?. Kenapa aku lihat dia seperti tidak menyukai ku!"


"Tapi sejak kami kelas tiga SMP, Samuel menjadi berubah, dia lebih banyak diam dan jarang ke rumah. Padahal dulu dia hampir tiap hari ke rumah, bahkan kadang dia memberi tau Mami nya akan bermalam di rumah, katanya menemani aku yang di rumah di tinggal Papi dan Mami. Puncaknya ketika akan pelulusan dia seperti membenci ku entah karena apa. Saat hari pelulusan kami, aku datang kerumahnya. Tapi kata Mami nya dia sudah pergi ke Australia, melanjutkan pendidikan nya dan saat 6 bulan setelah itu Papi dan Mami nya juga ikut pergi ke Australia katanya ada urusan bisnis, dari situ aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar tentang nya."


"Sabar ya Ar, mungkin ada hal yang membuat dia salah paham dengan kamu."


"Maka dari itu aku, melarang kamu untuk dekat dengan dia."


Saat sedang berbicara Dean dan yang lainnya datang menghampiri mereka.


"Kalian sudah lama menunggu ya!."


"Maaf ya kami kelamaan belanja nya." tambah Tia


"It's oke. kami juga baru datang" berbalik melihat Lia dan yang lain, dan melepaskan tangan mereka.


"Kalian sudah memesan."


"Belum, tadi kami menunggu kalian datang dulu."


S