My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 43



Sementara itu Arka yang duduk di samping Ara, semakin merasa bersalah kepada Ara. Bagaimana tidak secara tidak sengaja dia sudah menempatkan Ara di dalam kerumitan hidupnya. Mungkin ini bukan salah nya sepenuhnya, karena mereka dia hanya di jodohkan. Tapi kenapa waktu itu dia tidak mencoba menolak perjodohan itu dengan keras. Sehingga Ara tidak perlu menikah dengannya.


Ara dan Arka tersadar saat mendengar teguran Temannya.


"Hey..." Lia, Memanggil ke dua temannya. Yang sedang melamun bersamaan.


"Kalian ini kenapa?" Tegur Tia, ke Ara dan Arka. Tapi tidak ada balasan dari orang yang di tegur.


"Arka, Ara...." Devan Mencoba memanggil dengan menyebut nama mereka. Namun saja tetap tidak mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Arka...., Ara..." Sekali lagi suara panggil terdengar yang menyerupai teriakan, kali ini bukan dari Lia, Tia, maupun Devan tapi Dean, yang ikut gemas melihat kelakuan Ara dan Arka yang melamun bersamaan dan tidak mengindahkan panggil teman temannya.


"Apa sih, teriak teriak. Kita tidak tuli kali!" Protes Ara, mendengar teriakan Dean.


"Habis kalian di panggil panggil tidak nyahut." Jelas Lia, mewakili yang lainnya.


"Mana ada kalian manggil?" Ujar Ara tidak percaya.


"Ada." Serentak Lia, Tia, dan Devan.


"Kalau kalian udah manggil, kenapa gue nggak dengar?" Tanya Ara


"Bagaimana mana mau dengar. Kalau Lo dan Arka, malah asik melamun." Kali ini Tia ikut menjelaskan ke Ara.


"Masah sih?" Tanya Ara. Lagi.


"Lo nggak percaya?" Tanya Tia dan Ara menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan dari Tia.


"Andai saja ada yang merekam, kelakuan kalian berdua." Balas Tia. Menggeleng mengingat kegiatan Ara dan Arka tadi.


"Udah lah. Tidak usah di bahas." Ujar Dean, mengalihkan pembicaraan mereka.


"jadi kan?" Tanya Dean. Ketika mereka sibuk dengan urusan masing masing. Tanpa ada yang memulai percakapan.


"Jadi apa nya?" Tanya Tia. Mengerutkan alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan Dean.


"Belajar." Balas Dean, singkat. Seperti nya Dean sudah tertular Arka, yang irit bicara dengan mereka.


"Jadi" Ara ikut berbicara saat membicarakan soal belajar.


"Apertemen gue" Balas Arka, dengan mimik muka datar nya.


"Emang Aperteman Lo dimana?" Kali ini Tia bertanya mewakili Lia, yang belum tau alamat Aperteman Arka.


"Chatt" Singkat Arka, yang tidak di mengerti Tia maupun Lia.


"Maksudnya?" Tanya Tia lagi.


"Maksud nya, nanti dia kirim alamat nya di chatt" Ara membuka suara, ketika melihat enggan memperjelas maksud dari ucapan nya.


"Ohhh" Lia dan Tia serentak membulat kan mulut mereka, saat tau maksud dari ucapan Arka.


Mereka asyik berbincang satu sama lain dan tidak menyadari bahwa sekarang sudah masuk waktu pulang.


Ting.... Tinggg.... Tingggg (Bunyi bel pulang)


"Ahhh... sudah pulang ternyata" ucap Lia.


"Nanti jangan lupa, jam dua." Mengingat mereka akan belajar jam dua nanti.


"Ok"


*****


"Ra, lagi ngapain?" Menghampiri Ara, yang sedang berperang dengan peralatan dapur.


Arka berdiri tepat di samping Ara. Melihat tangan Ara yang sibuk memasukkan berbagai macam bahan ke dalam satu wadah.


"Oh ini" menunjukkan wadah yang sudah di isi. "Aku ingin mencoba membuat puding mangga"


Tambahnya


"Apa kamu bisa membuatnya?" Tanya Arka, Terkejut.


Ara menoleh menatap Arka yang ada di samping nya.


"Kenapa?" Tanya Ara. Melihat keterkejutan Arka. "Apa kamu, tidak suka?" Tanya lagi.