
"Mbak'' Devan memanggil pelayan cafe.
"Silahkan" ujar pelayan dengan sopan, sesaat setelah sampai di meja Ara dan yang lain.
"Gue ini, ini, ini, ini dan ini mbak" tunjuk Lia di buku menu
"Gue ini, ini, dan ini saja Mbak" tambah Tia
''gue ini, dan ini" tambah Dean
"Gue ini, ini, ini dan ini" tambah Devan
"Ini, ini, dan ini saja mak " tambah Ara.
"Kalau mas, nya apa!" Tanya pelayan ke Arka yang hanya diam, setelah mencatat pesanan Ara dan yang lain.
"Nggak" dingin Arka.
"Kalau gitu, mohon di tunggu" ujar nya sopan .
"Lo nggak makan ka?" tanya Devan.
"...."
*****
"Silahkan di nikmati." Meletakkan pesanan lalu berlalu.
"Ka, kamu nggak makan!"
"Nggak, aku masih kenyang, kamu makan aja."
Ara memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sekali melihat Arka yang duduk di samping nya, memainkan Hpnya. Ara berinisiatif menyuap Arka "ahhh.....". Ara menyodorkan sendok yang sudah di isi nya ke depan mulut Arka.
Arka mengerutkan dahinya. "Makan ya , nggak enak tau, cuma kamu yang tidak makan. Buka mulut kamu!."
"Aku, ma....hmmm " Terpotong, karena mulutnya penuh dengan makanan yang baru di masukkan Ara
"Enak kan" ujar Ara.
"...." Arka mengangguk, dan mengusap kepala Ara dengan tangan nya yang tidak memengang hp.
"Hmmnm.... " Dehem Tia, mengalihkan perhatian Ara dan Arka.
Ara sedikit malu, karena ternyata kelakuan nya di lihat teman teman nya. Arka, pria itu hanya bersikap santai, terlalu cuek untuk mendengarkan protes teman nya.
Mereka melanjutkan makan nya, dan bercerita acak. Ara sesekali menyuapi Arka, dan dia minum dari gelas Ara. sedangkan Tia dan yang lain, tersenyum kecil melihat tindakan Ara dan Arka.
"Kalian itu seperti orang yang sudah menikah saja" celetuk Lia, yang merasa gemas dengan kelakuan mereka.
"Hukkk... Hukkk" batuk Ara, mendengar ucapan Lia
"Minum dulu" Arka dengan cekatan memberikan minum ke Ara dan tangan yang satu nya masih mengelus tengkuk Ara. "Bagaimana!" Tanya Arka khawatir, melihat muka Ara yang memerah.
"Udah mendingan." Balas Ara, sesekali meminum minuman yang di berikan Arka.
"Makanya kalau makan itu hati-hati." Tutur lembut Arka, tangan yang tadi mengelus tengkuk Ara, berpindah ke kepala Ara mengelus rambut dengan pelan.
"Ini bukan karena aku makan nggak hati hati, tapi ini gara gara ucapan Lia, ucapan Lia." Kesal Ara.
"Iya maaf Ra, soalnya kalian manis banget deh." Lirih Lia, merasa bersalah.
"Yang di bilang Lia itu benar tau, kalian sosweet banget, kayak pengantin baru aja." Tambah Tia
"Pakai Suap suapan dan minum, segelas berdua lagi." Tambah Lia
"Orang lain juga yang melihat pasti mengira kalian pengantin baru." Tambah Devan, membuat Ara tambah bersembuh merah. Dean dan Arka hanya menyimak perkataan mereka.
"Kalian pada makan deh, kasihan Ara nya kalian cecar begitu. lihat tuh mukanya udah memerah sekali." Tegur Dean
"Sorry Ra" mereka merasa bersalah, memakan makanan nya kembali.
"Gue dan Ara pulang duluan." Arka membuka suara.
"Yahhh.., nggak seru dong." Lesu Tia dan Lia
"Memang kita mau kemana Ar?" Tanya Dean
"Ada urusan" balas Arka.
"Ohh, yah udah, kami juga mau pulang saja, soalnya juga udah jam 5 lewat nanti orang rumah pada nanyain" ujar Tia.
"Iya, lain kali kan bisa, nonton bareng nya." Tambah Lia.