My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 40



Arka pernah berpikir untuk egois memiliki Ara, untuk seutuhnya dan membuat dia mengandung benihnya, otomatis Ara akan tetap bersama nya. Tapi iya urungkan, saat terlintas di pikiran nya, kalau pun dia memiliki Ara untuk seutuhnya dan tidak melepaskan nya dari pernikahan mereka. Apa gunanya. iya, raga Ara memang bersama nya tapi bagaimana dengan hati dan pikiran Ara yang tertuju pada orang yang dia cintai. Lagian jika mereka memiliki anak, bagaimana nasib anaknya nanti?. Kurang komunikasi akan memicu banyak pertengkaran pertengkaran antara dia dan Ara. karena ibunya tidak bahagia dengan ayah nya. Pasti anaknya akan kekurangan kasih sayang.


Arka tidak ingin itu terjadi. Cukup dia yang merasa kan itu semua. Jangan sampai anak anaknya kelak, merasa kan apa yang dia rasakan saat kecil hingga saat ini.


Ara mengangkat kepalanya, saat tidak ada gerakan atau pun suara dari Arka lagi. "Ar..." Panggil Ara.


"Ar....." Panggil nya lagi.


"Arka..." panggil Ara, Untuk kesekian kalinya.


"Arka...." Panggil nya lagi dengan suara agak tinggi dan menepuk pelan lengan Arka.


Arka yang melamun, tersadar dan terkejut Karena tepukan di tangan nya.


"Apa?" Tanya Arka, setelah menguasai keterkejutan nya.


"Lagi mikir apa sih?. Sampai tidak segar saat di panggil panggil."


"Tidak mikirin apa apa!" Balas Arka.


"Lalu kalau tidak mikirin apa apa, kenapa sampai tidak dengar saat di panggil." Ujar Ara, memicingkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang Arka bilang. Masalah nya kalau tidak mikirin apa apa kenapa sampai tidak dengar panggil Ara dan dilihat dari pandangan Arka tadi, seperti nya dia sedang melamun. kalau untuk panggilan pertama bisa jadi Arka tidak dengar tapi untuk panggilan kedua, ketiga dan seterusnya. Masa Arka tidak dengar, jelas jelas setiap panggil Ara akan menaikan sedikit nada suaranya untuk memanggil Arka.


"Sudah lah. Ayo masuk kelas nanti keburu gurunya keluar, kita baru sampai kelas." Ujar Ara. Mengalihkan topik, melihat Arka yang seperti belum siap berbagi apa yang di pikirkan dengan nya.


Ara dan Arka melanjutkan perjalanan ke kelas mereka dengan keheningan yang tercipta. Hingga mereka tidak sadar telah sampai di depan kelas mereka.


Terlihat guru mata pelajaran agama sedang memberikan soal soal latihan ke siswa dan siswi kelas XII IPA 1. "Dari mana saja kalian?" Tanya guru, yang sedang mengajar di kelas mereka.


"Toilet bu" jawab Ara, apa adanya dengan sopan.


"Kalau Arka dari mana?" Tanya guru ke Arka, yang hanya diam di dekat Ara.


"Toilet" jawab nya dingin, begitu lah Arka, dia tidak akan banyak bicara dengan orang orang walaupun itu guru sekali pun.


"Jangan bilang kalian ke toilet bersama?" Mencoba bercanda dengan anak murid nya.


"Memang." Balas Arka, membuat guru agama, menatap curiga yang awalnya tersenyum menggoda murid Nya. Ara jangan ditanya lagi mata nya melotot mendengar jawaban Arka, yah walaupun yang di ucapkan Arka memang benar, tapi tidak harus juga kali mengatakan nya di depan semua murid kelas XII IPA 1 dan guru mereka.


"Ngapain?" Tanya nya penuh dengan tatapan curiga.