My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 39



"Masuk angin bagaimana, lagian tadi kita berangkat ke sekolah naik mobil bukan motor. Otomatis angin tidak akan masuk ke mobil dan mengenaiku, selama jendela mobil tidak di buka. Paham" ujar Ara sedikit keras saking kesalnya. Untuk mereka sudah ada di lorong sekolah yang sepi akan penghuni atau bisa di sebut Siswa maupun siswi.


"Tapi kalau kau pakai baju basa terlalu lama kamu akan kedinginan. Apalagi Ace di mobil menyala." Jelas Arka


"Yah udah!"


"Yah udah apa? Kita pulang?" Tanya Arka bertubi tubi


"Yah udah, Ace di mobil nggak usah di nyalain apa susah nya." Balas Ara. "Ayo ke kelas!" Tambah Ara.


"Ngapain kelas?"


"Untuk ambil tas"


"Ngapain ngambil tas?"


"Kata nya mau pulang!. Kamu ini banyak tanya deh Ka!" Balas Ara ketus.


"Baik lah!" Ujar Arka. Melihat ekspresi Ara yang enggan untuk pulang.


"Baiklah apa?" Gantian Ara yang bertanya.


"Kita nggak usah pulang" Putus Arka.


"Kita nggak usah pulang" ulang Arka.


"Benarkah?" Ujar Ara berbinar.


"Iya." Balas Arka mengiyakan.


Ara memeluk Arka, saking senangnya karena tidak jadi pulang. Arka yang di peluk secara mendadak, diam membeku di tempatnya berdiri dan perlahan mengangkat tangan nya perlahan untuk membalas pelukan Ara.


Beberapa saat Ara melepas pelukan nya, dan saat itu juga dia tersadar telah memeluk Arka.


"Maaf" menunduk. Tidak berani mengangkat wajahnya. Di dalam hati dia mengutuk dirinya, telah lancang memeluk Arka. "Dasar tidak punya malu. Bagaimana kalau Arka, mengira kalau kau bukan wanita baik baik. Karena lancang memeluk nya. Tampa persetujuan dari dirinya."


"Maaf?" Ujar Arka, mengangkat sebelah alisnya.


"Maaf. Memeluk kamu, pasti kamu berpikir yang tidak tidak tentang aku." Lirih Ara, menunduk.


"Tidak, siapa yang bilang. Aku malah senang kamu mau meluk aku. walaupun sebenarnya, aku tau kamu meluk karena Refleks saking senangnya, tidak pulang. " Balas Arka. "Aku tau itu, karena jika kamu tidak refleks. Kamu pasti tidak ada niat untuk meluk aku seperti itu. Mengingat kamu yang punya pacar, otomatis kamu selalu menjaga perasaan. Walaupun dia tidak melihat kita." Tambah Aria dalam hati. Tapi masih dengan senyum yang di tampilkan di wajah tampannya.


Siapa pun tidak akan ada yang tau, kalau hati Arka sedang menahan perih di hatinya. Dia akui sudah bisa mencintai Ara, walau pun kebersamaan mereka belum lama. Tapi Arka tau pasti bahwa perasaan nya saat ini telah di miliki oleh seorang gadis cantik yang sedang berdiri menunduk di depan nya. Namun sayang gadis itu sudah memiliki pacar yang sangat dia cintai, mungkin karena itu juga Ara menjaga jarak dengan laki laki di sekolah ini. Sungguh beruntung pacar Ara itu bisa memiliki pacar sebaik Ara. Tapi kalau Arka pikir ulang mungkin dia yang paling beruntung bisa memiliki Ara sebagai Istrinya, sudah baik, cantik, dan tidak banyak maunya.


Arka pernah berpikir untuk egois memiliki Ara, untuk seutuhnya dan membuat dia mengandung benihnya, otomatis Ara akan tetap bersama nya. Tapi iya urungkan, saat terlintas di pikiran nya, kalau pun dia memiliki Ara untuk seutuhnya dan tidak melepaskan nya dari pernikahan mereka. Apa gunanya. iya, raga Ara memang bersama nya tapi bagaimana dengan hati dan pikiran Ara yang tertuju pada orang yang dia cintai. Lagian jika mereka memiliki anak, bagaimana nasib anaknya nanti?. Kurang komunikasi akan memicu banyak pertengkaran pertengkaran antara dia dan Ara. karena ibunya tidak bahagia dengan ayah nya. Pasti anaknya akan kekurangan kasih sayang.