
"Ngapain?" Tanya nya penuh dengan tatapan curiga.
"Hanya temani saya ganti baju Bu." Bukan Arka yang menjawab melainkan Ara yang jawab, takut Arka mengucapkan hal hal yang akan menambah teman dan guru mereka salah paham. Tanpa Ara sadar bahwa, ucapannya tadi membuat orang yang mendengar tambah salah paham dengan mereka berdua.
Arka menggeleng geleng kecil mendengar perkataan Ara kepada gurunya.
"Ganti baju?" Serentak Guru dan Siswa siswi di kelas. Melihat penampilan Ara dari atas kebawah. Arka tersenyum samar dan tidak bisa di lihat oleh orang yang ada di ruangan itu, mengetahui pikiran pikiran yang ada di otak teman teman dan guru nya.
"Iya ganti baj..." Perkataan Ara terpotong menyadari pikiran Guru dan Teman nya, yang salah mengartikan perkataan nya tadi.
Ara menggeleng kan kepalanya ke kiri dan kanan. "Kalian salah paham..." Perkataan nya lagi lagi terpotong, tapi kali ini terpotong karena ucapan salah satu temannya.
"Salah paham bagaimana jelas jelas, Loe tadi bilang Arka menemani mu Menganti baju." Seru Devan menggoda Ara dengan senyum jahilnya, orang yang memotong ucapan Ara.
"Iya, salah paham. Maksud gue tadi, Arka menemaniku hanya sampai depan pintu toilet." Jelas Ara.
"Owhhh..." Serentak mereka. Alhasil waktu mata pelajaran agama yang tersisa saat kedatangan Ara dan Arka habis dengan obrolan unpaeda saja. Ara yang tadi nya tidak ingin pulang karena ingin mengikuti pelajaran, jadi tidak belajar juga walaupun dia masuk kelas.
Ting.... Ting..... Ting.... (Bunyi bel pergantian pelajaran)
"Waktunya sudah habis, di pertemuan selanjutnya baru kita lanjut materi nya dan tugas tadi di jadikan pr saja. Arka dan Ara bisa pinjam buku teman kalian untuk melihat soalnya."
"Baik Bu." Balas Ara. Melihat Guru agama keluar dari kelas.
"Nanti mata pelajaran Fisaka kan?" Tanya Devan.
"Iya."
"Gurunya tidak ada." Ujar Devan, memberitahu temannya.
"Dari mana kamu tau?" Tanya Tia.
"Tadi gue dan Dean kan lewat di ruangan guru dan gue dengar tu, tidak hadir karena acara ada acara keluarga" ucap Devan membeberkan yang dia ketahui.
"Hore"
"Yes"
"Waktu nya?"
"Tidur"
"main game."
Reaksi reaksi dan ucapan mereka.
"Rooftop" Ajak Dean.
"Ayo" Devan, Tia, Lia. Berbalik melihat Ara dan Arka yang hanya diam.
"...." Tanpa menjawab Ara dan Arka melangkah ke luar kelas dan menuju rooftop.
"Kita di tinggalkan lagi" ujar Devan bersamaan melihat kepergian Ara dan Arka dengan beriringan. Di angguki Lia.
Tia dan Dean memilih mengikuti Arka dan Ara. Tanpa memperdulikan protes san Devan dan Dean.
"Di tinggal lagi" kali ini Lia yang mengeluh.
Melihat kepergian Tia dan Dean.
Mereka mengikuti langkah Ara dan Arka serta Tia dan Dean, lesuh.
*****
"Kalian ini main tinggal tinggal saja" protes Lia sesaat saat sampai di rooftop dan duduk di kursi yang ada di rooftop.
Arka dan Ara tidak memperdulikan protes san dari Lia. Arka malah berbaring dan meletakkan kepalannya di pangkuan Ara. Mereka duduk di kursi panjang, yang memudahkan Arka berbaring.
Ara tanpa di komando meletakkan tangannya di kepala Arka dan mengusap rambutnya dengan pelan.
"Kalian malah asik romantis romantisan, tidak merasa bersalah sama sekali. Sudah meninggal Kan gue dan Lia" protes lain, kali ini dari Devan.
"Nggak usah lebay deh Van?" Ujar Dean dengan kelakuan temannya yang satu itu.