My Husband Is A Young Billionaire

My Husband Is A Young Billionaire
Bab 16



"Mana ada ya, cacing di perut aku demo. Mungkin maksud kamu cacing di perut kamu yang lagi demo. Kami berdua tau kali yang tukang makan di antara kita kan kamu." Sewot Dean yang di bawah bawahan


"Canda kali De, nggak usah tenggang gitu tuh muka"


"Huuhh.. Lo ya". Dean Menghembuskan nafas kasar


"Vish....." Mengangkat 2 jari nya membentuk huruf V


"Hmm... Pergi aja dulu"


"Lah.. kenapa" tanya dean, mengalihkan perhatian nya ke Arka


"ada Urusan"


"Ohh.. yah udah, nanti kami tunggu di kantin."


Mereka pergi dari kelas dan Satu persatu siswa dan siswi yang lain juga keluar, hingga yang tersisa tinggal Ara dan Arka.


Arka melangkah ke kursi dekat Ara, yang tadi di tempati oleh Lia. Terjadi keheningan beberapa saat. Ara yang berpikir bagaimana cara memberitahu kan Ara dan Arka yang menunggu Ara berbicara, malah terus menunduk "Kenapa" tanya Arka memulai pembicaraan.


"Hmmm...., Ar. Boleh aku meminta sesuatu" lirik Ara menunduk


"Minta apa?" Tanya Arka halus."aku tidak akan memakan mu jika kau menatapku!" Seru Arka,


"...."


memegang dagu Ara dan mendongak kan kepalanya, walau begitu Ara tetap tidak ingin melihat Arka."Kamu minta apa." Mengulang pertanyaan nya.


"Hmm....cuman ingin minta izin, tapi kalau tidak di izin kan juga tidak apa apa" belum mau menatap Arka.


"Hanya minta izin kamu, sudah takut begini" heran Arka, geleng geleng melihat tingkah Ara. Mau minta izin saja sudah takut begini apalagi kalau minta di beli kan helikopter, tapi tidak mungkin juga kan Ara minta helikopter, memang nya dia mau kemana pake beli helikopter segala. Tapi jika Ara minta pun pasti dengan senang hati dia akan belikan, asal Ara selalu bersama nya. Apalagi kalau minta selingkuh, ahhh... Ini tidak mungkin lagi, kalau pun Ara minta selingkuh dia akan mengurung Ara lebih dulu, karena Arka tidak mau Ara meninggalkan nya. Dia sudah merasa nyaman dengan Ara, walau pun dia dan Ara baru saja dekat. Biar pun mereka satu kelas dari kelas X, tapi karena sikap Arka yang dingin membuat mereka seperti tidak saling kenal kecuali nama nya saja.


"Aku mau ke mall" lirih Ara


"Baiklah kamu boleh pergi"


Ara menatap mata Arka mencari keseriusan dari mata Arka."Benar kah" seru Ara bersemangat dan senang, dapat izin dari Arka.


"Tapi dengan satu syarat"


"Syarat" ucap Ara,kembali lesu


"Iya Syarat, kamu harus ngajak aku pergi"


"Hanya itu, baiklah kamu boleh ikut." Ujar Ara "Tapi nanti kalau Meraka Nanya kenapa bisa aku ngajak kamu, padahal kan kita tidak penah dekat!" Lanjut nya lagi.


"Tidak masalah, kamu bisa bilang seperti yang kemarin aku bilang. Bahwa kita sudah pacaran atau tunangan"


"Hmmm.... Oke"


"Kita ke kantin sekarang waktu istirahat tinggal 15 menit, aku sudah kelaparan ini" ajak Ara


Ara dan Arka berdiri dari kursi dan berjalan sedikit kesping kursi mempersilahkan Ara keluar dari kursinya, yang memang di sebelah kanan Ara ada tembok, jadi kalau mau keluar harus lewat depan kursi Lia.


Arka berjalan di depan Arka, ."Ra"


Ara berbalik menatap Arka"kenapa Ar"


"...."


Arka berjalan menghampiri Ara yang berhenti, tepat di depan pintu, yang satu langkah lagi maka Ara akan keluar dari kelas.