
Mikel mendekati Arumi yang lagi nonton TV di sofa. Kakinya diselonjorkan asal, tangannya bersedekap, matanya menatap layar TV serius bahkan nyaris melotot. Mikel menatap ke layar TV “pantes” gumamnya. Nonton drama korea. Udah kebiasaan kalo nonton drama korea ya kaya gitu tingkahnya, kadang senyum senyum, marah, sedih, gemes, diem, teriak dan berbagai ekspresi lainnya, akhirnya Mikel duduk di sampingnya sambil menyilangkan kaki, matanya melirik ke Arumi dan tuhkan sekarang lagi diem aja tapi matanya terlihat berkaca-kaca hemm kalo udah nonton drama semuanya terlupakan.
Hening
Cuma suara tv yang terdengar.
“mi” Mikel bersuara berusaha mengalihkan Arumi dari layar TV.
“hmmm.” Arumi cuma bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar TV.
“gue mau ngomong.” ucap Mikel singkat tanpa mengalihkan pandangan dari adiknya yang sangat dia sayangi itu.
“nanti aja, kalo ini selesai tanggung nih episode terakhir" jawab Arumi sambil mengibas-ngibaskan tangannya supaya Mikel diem dulu. Mikel cuma pasrah, akhirnya dia ikutan nonton dramanya sampai selesai walaupun tidak terlalu paham. Mikel menatap Arumi lagi tapi kok malah Arumi nangis.
"eh lo napa nangis dah mi" tanya Mikel panik.
"huhu kak masa endingnya dia jadi serbuk marimas sih" jawab Arumi mewek.
"hah serbuk marimas? " tanya Mikel bingung kemudian menatap layar TV mencari serbuk marimas tapi ga ada kok cuma ada tulisan Memories Of Alhambra.
" udah ah, gue jelasin juga kakak ga bakal mudeng" ucap Arumi sambil menyeka air matanya, “tadi mau ngomong apa.” Arumi menyilangkan kakinya dan menghadap Mikel yang duduk bersandar di depannya.
“ahh minggu depan gue udah mulai magang” ucap Mikel lesu.
“lah terus kenapa. Kemaren-kemaren juga udah magang” jawab Arumi santai
"ini magangnya gue ke luar kota mi, ke Surabaya.”
“APA! Surabaya” Arumi sampai terkejut mendengar ucapan Mikel.
“nah terus kalo gue ke Surabaya, lo gimana nanti.” Mikel menatap mata Arumi khawatir.
“gue gimana? Ya gue ga gimana-gimana lah kak. Gue di rumah kaya biasa ehh jangan-jangan lo ga berani ke Surabaya sendiri terus lo minta gue ikut gitu ya” tebak Arumi asal, Mikel melongo, nih anak pikirannya suka ngawur.
“astaga. Bukan kaya gitu mi maksud gue.” Mikel berusaha sabar.
“terus maksud lo gimana?” tanya Arumi serius.
“kalo gue ke Surabaya, kan lo tinggal sendiri di rumah, gue jelas ga tega dong ninggalin lo tinggal di rumah sendirian.”
“kan ada bik Tum kak, terus pak Ujang juga. Mereka bisa jagain gue kok.” Arumi berpendapat.
“masalahnya bik Tum minta cuti pulang kampung selama sebulan katanya anaknya mau lahiran dan bik Tum balik ke kampungnya besok. Kalo pak Ujang, dia kan ga tinggal di sini, dia ke sini 2 hari sekali buat bersih-bersih kebun.” Jelas Mikel panjang lebar.
“ya gapapa, gue berani ko tinggal di sini sendiri, di daerah sini kan lumayan rame. Depan juga rumah pak RT. Jadi gue masih tetep aman.” jawab Arumi santai, Mikel memijat pelipisnya bingung. Arumi terlalu santuy.
“gue tetep ga tega mi, lo tuh keluarga gue satu-satunya, gue ga mau lo kenapa-napa.” ucap Mikel khawatir, Arumi jadi ga tega melihat raut muka Mikel.
“bukan cuma gue keluarga lo kak, masi ada mamah sama papah. Kakak jangan ilang-ilangin mereka bedua dong ya walaupun jarang di rumah hehe" ucap Arumi pelan, Mikel menatap wajah adiknya yang polos.
“mm iya iya maafin gue yaa.” Mikel mengelus rambut Arumi dengan sayang.
“jadi gini mi kemaren temen gue Cakka kasih saran selama gue magang lo tinggal di rumah tantenya Cakka aja gimana.” Mikel ngomong lagi setelah beberapa saat hening. Arumi menatap Mikel tak percaya.
“kaka gila ya. Emang ga ngerepotin tante temen kaka apa. Ntar malah gue kaya di film-film lagi yang di suruh jadi pembantu, dicuekin setiap hari, tidurnya di parkiran, iihhh ga mau kak" Arumi merinding membayangkan itu semua. Mikel lagi-lagi melongo mendengar ucapan Arumi. Nih anak diajak serius malah becanda.
“makanya jangan keseringan nonton film, pikiran lo jadi kongslet gini kan, diajak serius malah becanda.” Mikel menoyor kepala Arumi kesal.
“ihh gue serius kak, apa kakak tega liat gue jadi pembantu.” jawab Arumi emosi, Mikel menepuk jidatnya. Astaga nih anak kepalanya di rontgen dulu apa biar ga kongslet lagi.
“mi dengerin gue. Tante temen gue itu orangnya baik banget. Gue pernah ke sana dulu waktu bantuin Cakka pindahan ke rumah tantenya. Dan tantenya Cakka cuma punya anak satu cowo, jadi kalo lo tinggal di sana untuk sementara dia bakal seneng, rumahnya jadi tambah rame, ga sepi lagi.” Jelas Mikel panjang lebar.
“aishhh kak gue tetep ga mau.TITIK.” Arumi bangkit berdiri dan langsung naik ke kamarnya.
“astaga anak ituu, kalo bukan ade gue, mau tinggal sendiri kek, tinggal di kolong jembatan ke, parkiran kek gue ga peduli.” Mikel menghidupkan kembali TV untuk menenangkan pikirannya yang bundet.
___****___
Esok paginya
Mikel menyambut kedatangan Cakka di rumahnya. Arumi masih molor di kamarnya padahal jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Untung sekarang minggu.
“gimana? ade lo mau tinggal sementara di rumah tante gue?” Cakka membuka suara setelah duduk di sofa dan menatap Mikel penasaran.
“dianya ga mau.” Jawab Mikel pasrah sambil mengacak rambutnya.
“trus lo mau gmna?”
“terpaksa gue paksa ntar, daripada dia sendirian di sini, ya kan ini..." GEDUBRAKK, ucapan Mikel terputus karena suara dari lantai atas. Cakka dan Mikel agak terkejut degan suara itu. Pasti Arumi, tebak Mikel. Mikel cuma geleng-geleng, pasti nabrak lagi dia. Kebiasaan buruk yang susah dihilangkan.
“kak ini jam berapa?” tanya Arumi turun dari tangga sambil mengucek-ngucek matanya.
“itu ade lo el?” Tanya Cakka berbisik. Mikel cuma menganggukan kepalanya. Baju tidur gambar beruang, rambut acak-acakan kaya abis kesetrum, muka kusut, itulah Arumi.
“jam10!” Arumi langsung melek setelah melihat jam dinding di sebelah tangga. “haha pantes gue laper hehe, makan dulu ahh”ucap Arumi pada diri sendiri, Mikel dan Cakka terdiam di tempat. Mikel langsung berdiri menghampiri Arumi.
“makannya nanti aja, sini lo duduk dulu.” Mikel menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Arumi baru sadar ternyata ada tamu.
“ehh ada tamu ya kak,aduhh gue mandi dulu aja kak.” Arumi berbalik hendak kembali ke kamarnya.
“ga usahh.. cepet sini duduk dulu. Ada hal yang lebih penting daripada mandi.” Mikel memaksa Arumi untuk duduk.
“Ayoo.” Mikel menarik tangan Arumi untuk duduk. Arumi menghempaskan tangannya yang ditarik Mikel.
“ga mau. Pokoknya gue mau mandi dulu.” Teriak Arumi.
“lo mandi juga si Cakka ga bakal suka sama lo ko.” Arumi bingung ko masalah mandi bisa ke suka-sukaan.
“kak gue mau mandi, biar tamu kakak ga kabur liat penampilan gue yang kaya nene lampir gini. Kata guru BK gue di sekolah kita harus menghargai tamu, masa udah dateng jauh-jauh ke sini kita ga menyambutnya dengan rapi.” Jelas Arumi panjang lebar.
“udah dia ga bakal kabur, cepetan ayokk..” Mikel menarik tangan Arumi paksa.
“ga mau kak.. gue pokonya mau mandi dulu.” Arumi melepas tangannya dari Mikel, tapi dengan cekatan Mikel menarik tangannya lagi. Cakka cuma cekikikan melihat aksi debat kakak beradik itu.
“udah duduk, gampang kan.” Arumi duduk di sebelah Mikel, Arumi cemberut kesel luar biasa.
“Cakka kenalin ini ade gue Arumi, mi ini temen gue yang tadi malem gue ceritain Cakka.” Cakka mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Arumi terpaksa mambalas uluran tangan Cakka.
“selama gue magang lo bakal tinggal di rumah tantenya Cakka.” Arumi melirik tajam ke arah Mikel ga suka bahas topik itu lagi.
“ehh mi, ga papa ko, tante gue baik orangnya. Dia kan ga punya anak perempuan, kalo lo tinggal di sana walau untuk sementara dia pasti seneng.”Cakka membantu Mikel menjelaskan. Arumi menatap tajam ke Cakka. Cakka jadi ngeri.
“tuh kan kak dianya takut liat gue kaya nenek lampir.” Kesal Arumi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“ehh engga ko mi, gue tadi cuma kaget takut lo ikut marahin gue kayak ke Mikel. Dan lo ga kaya nenek lampir ko, lo tetep cantik.” Jelas Cakka. Arumi malu, pipinya memerah. Mikel Cuma menggeleng “halahh jurus gombalnya keluar” batin Mikel.
“ya udah gue sama Cakka mau pergi dulu ngurus sesuatu, lo beres-beres sana, mulai nanti malam lo tinggal di rumah tantenya Cakka, soalnya ntar malem gue harus udah berangkat ke Surabya" jelas Mikel kemudian berdiri dan pergi keluar bareng Cakka. Arumi Cuma menatap kepergian Mikel dan Cakka.
“ohh yaa. Bik Tum masih ada di belakang, balik kampungnya ntar sore, udah masak juga.” Teriak Mikel tiba-tiba nongol di pintu. Arumi langsung lari ke belakang mengisi perutnya yang keroncongan.