Magical Love

Magical Love
BAB 5 Papandayan 1



Pelajaran dari bu Ida selesai dan selaku wali kelas bu Ida membagikan formulir pendaftaran ekstrakulikuler.


"anak-anak hari ini saya bagikan formulir pemilihan ekstrakurikuler tahun ajaran baru. Silakan pilih sesuai keinginan kalian dan kalo sudah, bisa dikumpulkan kepada ketua kelas." ujar bu Ida.


Arumi hanya mendengarnya dengan malas, karena masih merasa ga enak badan gara-gara kemaren. Lalu menelungkupkan wajahnya ke meja untuk tidur sebentar.


"eh mi lo mau pilih ekskul apa?" Tanya Alice menyenggol siku Arumi.


"adventure club" jawabnya pendek dengan suara yang masih agak serak.


"ko suara lo aneh si, lo kenapa mi?" Tanya Alice menegakan tubuh Arumi supaya duduk dengan bener dan menghadapkan wajah Arumi ke Alice.


"Cuma flu ko lice, ga papa" jawabnya pendek dengan sedikit senyuman di bibirnya biar Alice ga khawatir.


"ke UKS aja yuk, ntar gue anterin" tawar Alice cemas.


"ga usah lice, gue di sini aja, udah lo tenang aja, ntar juga sembuh ko kan kakak gue calon dokter hehehe" jawab Arumi nyengir.


"ya udah deh, tapi kalo lo ngrasa ga enak lo langsung bilang gue ya biar gue anter UKS dan lo ga usah protes." Ujar Alice sambil mengisi formulir ekstrakulikuler, "ehh itu mau diisiin sekalian ga formulirnya, lo cuma ikut adventure club kan, apa ada lagi?" tawar Alice.


"makasih banget lice, lo emang sahabat terbaik gue deh. Iya gue ikut adventure club ehmm.. sama futsal ,iya gue pengen ikut futsal, tulis futsal lice." Ujar Arumi.


"hehhh.... Lo gila yaa. Adventure club aja menurut gue udah aneh, secara kan itu eksulnya banyakan yang milih cowo, lah sekarang elo mau ikutan futsal yang dominan juga cowo mi, iihh sekali-kali lo ikut ekskul yang lebih cewe kenapa mi, lo kan cewe. Kaya gue dong ikutan PMR sama cheerleaders " ujar Alice bingung sambil menatap Arumi dengan pandangan tak percaya.


"hehe lo kan tau sendiri gue ga suka ikut-ikutan yang kaya gitu." jawab Arumi nyengir. Arumi itu termasuk cewe yang cantik, lebih tepatnya manis imut sih soalnya tingginya cuma 157 cm. kulitnya putih khas orang Jepang, hidungnya kecil tapi mancung, matanya belo, rambutnya sebahu panjang dikit, tetapi dia termasuk cewe yang  rada tomboy yang ga pernah mau pake rok kecuali sekolah, kalo lagi gerah rambutnya bisa diiket asal-asalan "yang penting ga gerah lagi," jawab Arumi begitu Alice mengomel tentang rambutnya. Beda banget sama sama Alicia Fairuz Purwadarmina atau yang biasa dipanggil Alice temen sebangku Arumi sekaligus sahabatnya dari SMP yang termasuk cewe feminim tapi sekarang ga sefeminim dulu setelah berteman dengan Arumi.


Dan menurut Arumi Alice itu manis banget, "gula kali manis" omel Alice ketika Arumi menyebut-nyebut Alice manis BGT. Terus kalo kata Arumi si Alice itu mirip aktris korea Lee Yu-Bi Cuman Alice lebih tembem sedkit. Apalagi Alice kan rambutnya pendek dan kalo lee yu bi rambutnya pendek juga dijamin kaya orang kembar mereka, kata Arumi. Tapi walaupun sifat mereka berdua bertolak belakang mereka saling menyayangi  layaknya saudara. Alice kadang cuma bisa geleng-geleng kepala kalo sifat aneh Arumi keluar, tapi walaupun begitu dia anak yang baik, kalo yang ga kenal pasti liat Arumi itu pendiam tapi aslinya cerewet banget kaya siaran radio yang lagi bahas politik, dia juga blak-blakan banget, segala yang ada di pikirannya langsung diomongin dan Arumi orangnya apa adanya kombinasi yang sempurna deh sama Alice, tepatnya sih aneh.


"terserah lo deh mi. gue kumpulin ini ke Daniel dulu yaa." Alice berdiri dan menuju bangku Daniel selaku ketua kelas XI IPA 4 yang baru. 


"niel ini kertas ekskul punya gue sama Arumi." Alice meletakan kertas tersebut gabung dengan kertas dari temen yang lainnya.


"iyaa okee." Daniel mengacungkan jempolnya. Alice balik lagi ke bangkunya.


"Ric punya lo udah belom." Daniel menghadap ke Rico yang duduk di belakangnya.


"bentar bentar gue belom nulis nama." Ucap Rico sambil menulis namanya.


"emang lo ikutan apaan ric." Tanya Daniel penasaran, dia mengintip ke kertas yang sedang Rico tulis.


"wahh lo mau ikutan futsal? sama dong sama gue." Teriak Daniel seneng.


"iyaa. Soalnya waktu di Jakarta gue juga ikutan futsal."


"bagus dong. Lo jadi apa pas di Jakarta.?"


"kapten."


"hebattt.. pasti lo jago banget dong sampe dipilih jadi kapten."


"iya begitulah. Ehhh nih ada Adventure Club. Ekskul apaan nih?" Rico menunjuk pada tulisan adventure club di bawah sendiri.


"pecinta alam. Masih baru juga sih. Mulai ada 2 tahun lalu. Lo mau ikutan?" Daniel manatap Rico penasaran.


"boleh juga. waktu di Jakarta ga ada ekskul pecinta alam." Ucap Rico.


"gue mah males deh ikutan kaya gitu. Bikin cape aja." jawab Daniel.


"futsal juga cape kali." Jawab Rico menatap Daniel aneh. Daniel cengengesan sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"hehehe. Tapi kan beda capenya." Jawab Daniel ngeles.


"ada aja lo. niih udah selese." Rico menyerahkan kertas ekskul ke Daniel.


"okee."


___****___


Siswa siswi  yang mengikuti ekskul adventure club sudah berkumpul di aula usai sekolah selesai setelah pemberitahuan di jam istirahat kedua tadi.


"iya udah kak." Jawab anak-anak serentak.


"okee. selamat datang di ekskul Adventure Club baik anggota lama maupun baru. Gue kenalin diri gue dulu yaa buat yang belum tau. gue Jimmy Siregar ketua ekskul Adventure Club SMA tercinta kita ini." ucap Jimmy layaknya pidato di depan warga sekampung, "hari ini gue akan kasih kabar yang pasti bikin kalian senang. Minggu depan ACB atau Adventure Club of Bandung ngajak SMA kita buat hicking bareng ke Garut. Kalian mau ikut?" kata Jimmy semangat 45.


"Gue ikut." Teriak Arumi dan Rico bersamaan. Rico dan Arumi sama-sama kaget karena sama-sama mengacungkan telunjuknya dan berteriak. Jimmy dan seisi aula memandang keduanya jail.


"Okeee.. okee sabar. Kayanya antusias banget. kalo gitu gue kasih surat ijin buat orangtua kalian. Kalo udah diijinin boleh ikut oke apalagi untuk anggota baru. Tapi kalo ga boleh jangan maksa ikut. Gue ga mau ambil resiko. Kalo kalian kenapa-kenapa gue yang disalahin di sini karna gue sebagai penanggung jawab di sini" Jimmy membagi satu per satu surat ijin tersebut dibantu para anggota lama.


___****___


Mikel menatap tajam wajah adiknya. Menahan amarah.


"kan gue udah bilang gak usah ikut adventure club lagi, bahaya mi, lo kan cewe. Naik-naik gunung gitu lo kira gampang" semprot Mikel ke Arumi . Minggu depan akhirnya ekskul adventure club ngadain hicking dia jelas antusias banget karena dari dulu adventure club cuma ngadain outbond-outbond doang. Dari kecil Arumi pengen banget naik gunung makanya dari kelas X selalu ikut ekskul adventure club, tapi boro-boro naik gunung, diajak liat gunung aja ga pernah, eh malah Mikel nglarang dia ikut, jelas banget Arumi ga terima.


"kak L please...Kak L kan tau sendiri dari dulu gue pengen banget bisa liat awan dari atas gunung kak L" mohon Arumi dengan penekanan pada kata kak L. semenjak Mikel suka sama L infinite gara-gara liat posternya di kamar Arumi, Mikel ngebet banget dipanggil L. Mirip katanya. Malah ngaku-ngaku kembar terhalang pulau. Mikel gila. Karena kegilaan Mikel, Arumi ga sudi manggil Mikel dengan L. tapi hari ini dengan terpaksa Arumi manggil Mikel dengan L supaya Mikel luluh dan mengijinkannya pergi hicking.


"gue tau lo tu cewe keras kepala saking kerasnya kepala lo tu kaya batu, gue larang sampe berapa kalipun lo pasti nekad, tapi...."


"kak L plissss...." Mohon Arumi sampai memeluk Mikel dan memandang wajah Mikel dengan puppy eyes nya.


"hmmm iyalah terserah lo, dasar kepala batu, sana pergi" jawab Mikel sambil menoyor dahi Arumi dengan telunjuknya supaya pergi. Bukannya melepas pelukannya, Arumi malah mempererat pelukannya ke Mikel dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Mikel hanya bisa menghela nafas menghadapi kelakuan adiknya.


___****___


Malam ini saat makan malam Rico akan meminta ijin kepada orangtuanya, walaupun dia terkesan cuek dengan orangtuanya, dia ga akan pernah bisa pergi tanpa ijin orangtuanya apalagi kalau mencoba pergi tanpa izin akibatnya bisa fatal.


"pah, mah Rico mau ngomong" ucap Rico setelah menghabiskan makan malamnya.


"mau ngomong apa Rico" Tanya mamanya sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"minggu depan aku mau ikut hicking di daerah Garut" jawab Rico dengan hati degdegan takut ga dibolehin.


"boleh ga pah" Tanya mamanya ke suaminya.


"ehmm.. iya boleh tapi kamu ga boleh sendirian ke sananya."jawab ayahnya. Rico sedikit lega, kemungkinan boleh pergi ada.


"ini acara ekskul koh pah, adventure club. Aku juga bareng sama temen-temen." Jawab Rico degdegan.


"ehmm oke.. papah ijinin tapi kamu ga boleh bikin onar di sana. Dan ponsel kamu harus selalu aktif, biar papah bisa hubungin" ucap ayahnya tegas. YESSS.. sorak Rico di dalam hati.


"kalo gitu aku naik dulu" ucap Rico langsung berlari ke kamarnya.


"jangan lupa cuci muka dulu sebelum tidur Rico" teriak mamanya menghentikan langkah Rico. Rico menoleh ke mamanya dan menatap mamanya seakan bilang "Mah Rico bukan anak kecil lagi". Tahu maksud tatapan dari Rico mamanya langsung mengusir Rico dengan mengibas-ngibaskan tangannya supaya cepet ke kamarnya.


Di kamar Rico langsung merebahkan tubuhnya di ranjang menatap langit-langit kamar. Semoga malam ini gue bisa tidur nyenyak,ucap Rico dalam hati dan mulai memejamkan matanya tidur.


Pukul 01.00 


Rico mengigau dalam tidurnya dan terlihat seperti gelisah. Keringat dingin keluar dari tubuhnya.


"kamu akan mati hari ini" bisik pembunuh itu sambil membekap mulut Rico.


"mmmmhmmm" Rico berusaha melepas bekapannya.


ARGHHH....


Rico langsung terbangun dari tidurnya. Mimpi itu lagi, batinnya. Dia menatap ke seluruh bagian kamarnya dengan perasaan was-was. Keringat dingin keluar tambah banyak. Rico ketakutan. Dia mencoba untuk tidur kembali dan memejamkan mata tapi tidak berhasil, dia benar-benar ketakutan dan dia butuh mamahnya sekarang.


BRAKK~


pintu kamar Rico terbuka dengan paksa. Timing yang tepat.


"Rico..." teriak mamanya khawatir. Rico menoleh ke arah mamanya dan memejamkan mata merasa lega.


"mimpi itu lagi" Tanya mamanya cemas. Rico menganggukan kepalanya. Mamanya langsung naik ke ranjang dan mendekap Rico ke dalam pelukannya. Rico kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang ,tangan mamanya menggenggam erat tangannya.


Tak butuh waktu lama Rico dapat tidur dengan tenang kembali, ketika dia mulai tidak tenang kembali mamanya akan mempererat genggamannya agar dapatt tidur kembali dengan tenang.