
Arumi memandang rumah tantenya Cakka terkesima. Arumi sampai melongo,rumahnya sih ga gede-gede amat samalah kaya rumah Arumi sendiri. Tapi yang bikin kagum adalah bagian luarnya ada taman yang luar biasa indah. Rumputnya rapi dan luas juga. Ada kolamya di tengahnya ada air mancur. Bunganya juga kayanya banyak soalnya sudah agak gelap jadi ngga terlalu keliatan. Trus kaya ada jalan setapak dari batu alam gitu dan di pinggirnya lampu-lampu kecil menyala mengikuti jalan tersebut. cantik banget, kalo tamannya aja kaya gini sih Arumi pasti betah.
“ayo silakan masuk.” Tanta Ana, tantenya Cakka mempersilakan Arumi dan Mikel masuk.
“makasih tante.” ucap Arumi dan Mikel bersamaan.
“tante udah denger tentang kalian dari Cakka. Mikel tenang aja, tante pasti jaga Arumi kaya anak tante sendiri.” ucap tante Cakka lembut.
“makasih banget tante.” Mikel sedikit terharu dengan perlakuan tante Cakka sedangkan Arumi hanya bisa tersenyum berterima kasih.
“oh yaa tante cuma punya satu anak laki-laki namanya Rico. Kalo Arumi tinggal di sini pasti rumah ini jadi lebih rame. Cakka juga mau pergi nanti malem ke Malang magang juga kaya Mikel padahal baru di sini sebentar.” jelas tantenya Cakka, Arumi kaget mendengar nama Rico, Rico ini Rico temen sekelasnya apa bukan, semoga aja bukan , kalo sampe ini Rico temen sekelasnya petaka bagi Arumi.
“Cakka kamu tolong kasih tau Arumi kamarnya yang mana ya, tante mau ke kamar dulu” Perintah tante Ana, Cakka langsung mengangguk kemudian naikbke lantai atas, Arumi dan Mikel mengikuti Cakka menuju kamar baru Arumi.
“ini kamar kamu mi, di depan kamar kamu itu kamarnya anak tante. Yang di sebelahnya kamar gue, tapi mulai malam ini kosong hehehe.” jelas Cakka sambil membuka pintu kamar baru Arumi. Arumi masih memikirkan nama anak tantenya Cakka si Rico. Mikel meletakan barang-barang Arumi di ranjang setelah pintu kamar terbuka.
“kamarnya bagus.” Puji Mikel dan duduk di ranjang. Arumi masih saja memikirkan Rico, dia harus tanya ke kak Cakka, iyaa harus tanya.
“kak Cak…” tanya Arumi terpotong
“mi taksinya udah ada di bawah, gue sama Cakka mau berangkat dulu takut ketinggalan pesawat, jaga diri lo baik-baik yaa.” ucap Mikel kemudian memeluk adiknya, Arumi tersenyum dan balas memeluk Mikel dan lupa dengan ucapan sebelumnya untuk Cakka.
“iyaa kak, hati hati yaa.. jangan lupa oleh-olehnya kalo pulang.” ucap Arumi manja, Mikel terkekeh dan mengacak acak rambut Arumi.
Arumi mengantar keberangkatan Mikel sampai taksi yang dipakai Mikel hilang di balik gerbang. Arumi kembali ke kamarnya untuk tidur.
“duhhh sebel.” kesal Arumi karena tidak bisa tidur, hanya guling kanan guling kiri ga nyaman.
KLONTENGG~~
Arumi kaget, ko seperti ada barang yang jatuh. Waduhh jangan-jangan maling lagi. Arumi Mengambil bantal gulingnya meloncat dari ranjang dan membuka pintu kamarnya perlahan. Gelap. Arumi keluar dari kamarnya mengendap endap untuk mengecek.
Rico mengambil kunci kamarnya yang jatuh, setelah ketemu Rico mencoba membuka kamarnya. Tapi tiba-tiba seperti ada seseorang di belakangnya. Jangan-jangan maling lagi. Rico langsung membalikan badannya dan benar saja.
MALING
Rico langsung menyekapnya.
Arumi yang kaget tiba-tiba disekap berusaha memukul-mukul dengan guling yang dibawanya. Rico melongo, ko maling bawanya guling bukannya pisau, pistol, atau apalah. Rico langsung melepaskan bekapannya dan menatap orang yang ada di depannya. Arumi lega sekali akhirnya bekapannya di lepaskan kalo tidak dia bisa mati kehabisan nafas.Arumi juga mengamati siapa sih orang di depannya.
“ARUMI….”
“RICOOO….”
Teriak mereka berdua bersamaan. Sama sama kaget. Untung orang rumah sudah pada tidur.
“lo ko bisa ada di sini.” Tunjuk Rico shock.
“hehe…mulai malem ini gue tinggal di sini.” Arumi bener-bener kaget sewaktu melihat Rico. Ternyata Rico anak tante Ana bener-bener Rico yang ditakutkannya.
“ohh jadi lo yang diomongin sama Cakka eh maksud gue kak Cakka.” Tebak Rico. Arumi menganggukan kepalanya tanda iya.
“ehh lo kalo pulang selalu jam segini yaa. gue kira lo tadi maling.” Tanya Arumi penasaran.
“enak aja lo katain gue maling. Masa maling ganteng gini sih.” Ucap Rico narsis.
“ihhh PD amat sihh lo. Gantengan juga baekhyun.”
“bbekyun sapa lagi. Nama aneh banget. Udah lo balik lagi sana, kamar lo yang itu kan.” Tunjuk Rico ke arah belakang Arumi. Tanpa disuruh Arumi juga bakal masuk ke kamarnya. Lama-lama sama Rico itu bagaikan lagi sama setan. Enak aja ngatain nama baekhyun aneh.
Paginya~
“tante Arumi berangkat sekolah dulu.” Pamit Arumi ke tante Ana.
“lohh kamu ga sarapan dulu. Udah disiapin loh sama bik Inah. Nanti berangkatnya bareng Rico aja. Satu sekolah kan sama Rico.” Arumi yang ga enak akhirnya ikut sarapan.
“Rico Arumi berangkat sama kamu yaa. kan kalian satu sekolah.” kata tante Ana, Rico sampai tersedak dengan minumannya.
“apa mah, ga mau. Ntar anak-anak di sekolah tau lagi kalo Arumi tinggal di sini.” Tolak Rico mentah-mentah.
“Rico kamu ga boleh kaya gitu.” Ayahnya ikut ngomong. Rico langsung ciut. Ngomongnya sih biasa aja tapi tatapannya itu menusuk. Andai tatapan itu bisa membunuh pasti Rico udah mati di tempat. Dengan terpaksa Rico menganggukan kepalanya. Takut kalo bikin ayahnya marah nanti uang jajannya dipotong lagi. Kan gawatt.
“saya berangkat dulu tante, om.” Arumi berpamitan ke orangtua Rico. Arumi merasa bahaagia akhirnya bisa ngrasain berangkat sekolah pamitan ke orangtua.
“iya hati-hati.” Jawab orangtua Rico.
Arumi langsung masuk ke dalam mobil Rico. Rico mendengus karena sekarang harus berbagi mobil dengan orang lain. Apalagi orang itu adalah Arumi si cewe aneh.
“wahh mobil lo bagus juga. wangi lagi.” Ucap Arumi begitu duduk di dalam mobil.
“jelas dong. Gue gitu.” Ucap Rico PD. Arumi tidak menanggapinya.
Perjalanan ke sekolah dilalui dalam diam. Sampai di sekolah Arumi langsung turun tanpa menatap ataupun mengucapkan terima kasih ke Rico. Rico yang diitinggal begitu aja jelas aja kesel, udah nebeng langsung kabur lagi emang Rico supirnya apa.
“aliceee…” teriak Arumi di pintu kelas begitu melihat Alice sudah duduk di bangkunya.
“ehh mi tumben lo rada siang berangkatnya.” Arumi langsung duduk di bangkunya.
“iyaa nihh. Soalnya gue tadi nebeng sama…” Arumi langsung memebekap mulutnya sendiri, hampir aja keceplosan.
“nebeng siapa mi?” tanya Alice penasaran. Arumi bingung sendiri apalagi dia melihat Rico udah nyampe kelas.
“nebeng sama si udin iyaa udin.” Ucap Arumi asal.
“udin? Udin siapa” tanya Alice bingung. aduh Arumi bego.
“ehh udin. Udin tetangga gue. Baru pindah kemaren. Kerjanya deket sini, jadi dia nawarin nebeng. Jadi gue mau aja hehehe.” Jelas Arumi. Alice percaya aja.
“ENRICOOOO~~`” teriak Jesica dari depan kelas, Rico yang baru saja duduk di bangkunya terkejut melihat Jessica dateng lagi ke kelasnya.
“haduuhhh itu tante pagi-pagi udah dateng aja.” Omel Arumi.
Jesica berlari mendekati Rico dan duduk di sebelahnya.
“En Rico sayang akhirnya gue bisa duduk di sebelah lo lagi.” ucap Jessica manja dan mendekatkan tubuhnya ke Rico. Rico yang duduknya di deket tembok terjebak di antara tembok dan Jessica.
“lo ngapain ke sini lagi sihh.. pergi sana lo.” Rico mendorong-dorong Jessica dengan telunjuknya supaya pergi.
“lo jangan gitu dong enrico sayang. Gue pindah ke sini demi lo tau ga. Di sana tanpa lo hampa banget hidup gue.” Jessica semakin mendekatkan tubuhnya ke Rico. Rico bergidik ngeri. Tuhan tolong gue, batin Rico memohon.
TEEETTT~~`
Bel masuk berbunyi. Jessica langsung berdiri dan balik ke kelasnya Rico menghembuskan nafas lega. Rico bersyukur banget denger bel tadi, tapi Rico lagi-lagi harus berhadapan dengan Jessica begitu bel istirahat pertama berbunyi.
“aduhhh plisss deh jess. Jangan ganggu gue kenapa.” Rico bener-bener kesel ditempel-tempel Jessica terus. Tiba-tiba tercetus ide di otaknya.
“Jess jesa tuhh liat ada Justin bieber lewat.” Jessica langsung menolehkan kepalanya yang ditunjuk Rico. Kesempatan. Rico langsung kabur.
“mana ga ada ko ric…” ucap Jessica kaget begitu berbalik Rico sudah tidak ada di tempatnya.
“RICOOOO~~” teriak Jessica kesal membuat anak-anak yang mendengarnya harus menutup kuping serapat mungkin.