
Arumi langsung mengikuti Rico dari belakang begitu bel pulang sekolah berbunyi. Sampai di parkiran setelah Rico membuka kunci otomatis mobilnya Arumi langsung masuk ke mobil Rico sebelum Rico masuk.
"hehh lo ngapain masuk ke mobil gue." Teriak Rico kaget begitu masuk mobil melihat Arumi ada di dalam mobilnya, Arumi cuma nyengir.
"nebeng lagi ya hehehe, boleh yaa, soalnya gue mau nonton drama korea. Kalo gue naik bus udah keburu selese dulu dramanya." Pinta Arumi sambil menggosok gosokan tangannya memohon.
"emang gue pikirin. Cepet keluar sana lo." ucap Rico mendorong-dorong Arumi dengan telunjuknya.
"yah ric plisss, sekali ini doang." pinta Arumi lagi sambil terus memohon sampai kemudian kedua matanya melihat Jessica.
"ehh liat itu ada si tante, si tante menor yang suka kejar-kejar lo ric" ucap Arumi heboh sambil terus menunjuk keluar jendela ke arah Jessica. Rico yang melihatnya langsung panik dan tancap gas langsung. Arumi bersorak dalam hati. Makasih Jessica lo penyelamat gue hari ini, batin Arumi.
Sampai di rumah Rico, Arumi langsung turun dan lagi-lagi tanpa menatap Rico dan terima kasih. Rico mendengus. Arumi langsung berlari ke dalam rumah dan ngejongkrok di depan tv tanpa ganti seragam, dinyalakan TV dan langsung mencari channel drama Hotel Del Luna.
"yah tuhh kan udah tayang, untung cuma telat 10 menit." kesal Arumi dan langsung duduk di sofa. Rico yang melihatnya ikut duduk di sampingnya, merebut remote TV paksa dan mengganti channel TVnya.
"yahhh ricoo jangan digantii. Ini episode yang gue tunggu-tunggu, balikin remote nya." Arumi menggapai-gapai remote di tangan Rico. Sebenernya di kamar Rico juga ada TV, tapi sekali-kali ngerjain Arumi boleh dong haha.
"ga bisa, gue pengen nonton acara ini." Rico mengangkat tinggi-tinggi remotenya. Arumi menginjak kaki Rico tanpa ampun.
"aucchhhhh!" Rico mengerang kesakitan tangannya langsung memijit-mijit kakinya bekas diinjak Arumi tadi. Arumi langsung mengambil remotenya dari tangan Rico dan mengganti ke channel semula.
"sini remotenya hehh. Ini kan TV nya gue." Kata Rico berusaha menggapai remote yang dipegang Arumi.
"ga mau, minggir ga lo" ucap Arumi bersikeras. Bahkan remote-nya sudah diumpetin ga tau kemana. Rico akhirnya pasrah dan duduk saja karena bekas injakan Arumi tadi masih nyut-nyutan.
"lo ko suka nonton kaya gini sih, tuh liat cowonya, masih gantengan gue lah" ucap Rico pede, menunjuk Yeo Jin Goo di layar TV, Arumi tidak mendengarkan omongan Rico dan tetap focus ke layar TV.
"ihh itu ga masuk akal banget sih bisa liat hantu kaya gitu." ucap Rico lagi, Arumi tetap fokus ke layar TV tanpa menggubris omongan Rico.
"cowok yang itu jelek banget sih."
"cowo ko kaya banci gitu sih."
"wahh itu cewenya seksi amat duh bohai"
"wahh lo nontonya kaya gini yaa, ada kiss kissnya."
"wahh ga asik itu masa kaya gitu aja nangis."
Arumi menatap Rico murka. Lama-lama telinganya panas juga. lagi enak-enak nonton tapi manusia setengah setan di sampingnya ga bisa diem.
"Rico!" ucap Arumi murka "gue sumpel mulut lo pake kaos kaki baru tau rasa lo." Arumi mencopot kaos kakinya. Rico yang tau Arumi sudah kalap langsung kabur ke kamarnya.
"awasss lo yaa, gue panggil Jessica ke sini ntar." Arumi menatap kepergian Rico murka.
___****___
Arumi mencari ponselnya yang berbunyi terus menerus. Lagi enak-enak baca novel juga. siapa sih telfon malem-malem. Ganggu aja. ahhh itu dia di bawah bantal. Arumi langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa.
"hallo...." ucap Arumi "hehh elo ditelfon dari tadi lama banget sih jawabnya. Lagi molor pasti lo ya."ucap suara di seberang, Arumi langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon, Alice.
"ga usah teriak-teriak bisa kan non. Gue ga budek. Tapi habis ini gue harus cek ke dokter THT gara-gara lo." ucap Arumi jengkel.
"lagian elo jawabnya lama banget."
"yaa sorry gue lagi baca novel trus ponselnya tadi ga tau di mana hehe." balas Arumi setelah meletakan novelnya.
"lo di rumah ngga sih, gue udah di depan rumah lo ni, ko kaya sepi banget sih rumah lo." Ucap Alice kebingungan.
"APA!!!!" ucap Arumi kaget langsung berdiri dari duduknya "looo di depan rumah, guee?" Arumi menunjuk dirinya sendiri.
"iyaa, ko lo kaget gitu sih."
"ehhh enggaa ko lice hehe."ucap Arumi bingung, tubuhnya bolak balik kaya strikaan, digigit-gigit kuku jarinya untuk menghilangkan paniknya, "Aduh ko si Alice pake ke rumah segala sih" gerutu Arumi dalam hati
"ya udah cepet buka gerbangnya. Biasanya gue panggil-panggil juga bik Tum keluar atau lo kaya biasanya. Cepetan dingin nih." waduhh Arumi tambah panik dan bingung. Gimana ini.
"ehhh lice aduhh gimanaa ya eehhhh." ucap Arumi kaget karena Rico datang tiba-tiba dan merebut ponselnya.
"halloo..." sapa Rico ke Alice santai.
"lo ko suara cowo, mi lo di mana mi." tanya Alice bingung.
"gue Rico lice." Jawab Rico lagi, Arumi berusaha merebut ponselnya kembali tapi dengan cekatan Rico menghindari Arumi.
"Rico balikin ponsel gue...." Teriak Arumi menarik narik ujung baju Rico paksa.
"Rico? ko ponsel Arumi bisa ada sama lo, jangan-jangan..." Alice mulai berpikiran aneh. Arumi berhasil mendapatkan ponselnya kembali.
"haloo lice hallo... lo jangan salah paham dulu lice." jelas Arumi panik.
"lo harus jelasin semuanya besok. TITIK." Putus Alice, Arumi menatap ponselnya pasrah kemudian menatap Rico marah.
"maksud lo apaan sih tadi pake rebut ponsel gue segala hahhh." Arumi bener-bener murka sama Rico.
"gue cuma bantuin lo kok, lo tadi bingung mau jawab apa kan." Rico menjawabnya tanpa rasa bersalah. Arumi mengepalkan tangannya. Kalo diibaratkan di anime wajah Arumi merah mendidih dan keluar asep dari hidung dan telinganya.
"KELUAR DARI KAMAR GUE SEKARANG!!!" teriak Arumi, Rico langsung kabur sebelum kena lemparan Arumi dari semua benda yang bisa dijangkau tangannya.
___****___
Rico membuka kaca mobilnya saat melihat Arumi sedang mengeluarkan motornya dari parkiran. Kemaren sore Arumi pulang ke rumah sebentar untuk mengambil motornya.
"hehhh cewe anehh, lo ga nebeng gue lagi." Tawar Rico.
"ga perlu makasih." balas Arumi memalingkan muka.
"idihhh jutek amat. Cepet tua tau rasa lo."
"mau cepet tua kek, mau jutek kek emang urusan lo." Arumi menaiki motornya dan langsung tancap gas. Rico juga langsung tancap gas di belakang Arumi.
Sesampainya di sekolah~
Alice sudah menunggu Arumi di depan kelas dengan gelisah
"lo nungguin siapa sih lice, kaya setrikaan aja bolak balik." Tanya Kevin yang lama-lama pusing juga liat Alice.
"nunggu Arumi, lama bener sih tuh bocah datengnya." Alice menatap jam di tangannya. 7 kurang seperempat.
"emang kenapa sih lice. Biasanya juga ga kaya gini-gini amat."
"hemhh soalnya gue curiga sama si Arumi. Tadi malem gue ke rumahnya tapi rumahnya sepi trus gue telfon dia ehh yang jawab si Rico. Mana gue ga curiga coba." ucap Alice membuat Kevin membelalakan matanya kaget.
"yang bener lo lice."
"beneran vin. Makanya gue lagi nungguin dia mau minta penjelasan sejelas-jelasnya." ucap Alice, Kevin cuma manggut-manggut.
"ehh tuh Arumi dateng." Tunjuk Kevin.
"hai lice hehe... hai vin." Sapa Arumi kagok. Alice langsung menyeret Arumi ke dalem kelas.
"duduk. Jelasin ke gue kenapa tadi malem si Rico bisa ada sama lo." Arumi merasa diinterogasi.
"ehmm sebenernya semenjak kak Mikel magang gue, gue nginep sementara di rumah Rico." Jawab Arumi sambil memainkan jari-jarinya takut.
"apa! lo..nginep di..rumah Rico? Kok bisa." tanya Alice dengan dahi berkerut.
"kebetulan kakak sepupunya Rico tuh temen kak Mikel. Sepupunya Rico sendiri yang nawarin buat tinggal sementara di rumah tantenya. Kak Mikel juga maksa gue, awalnya gue juga ga tau temen kak Mikel itu sepupunya Rico, tapi lice kalo gue tau itu rumah Rico gue juga ga mau." Jelas Arumi panjang leabar.
"kenapa lo ga cerita ke gue mi." Alice menatap sedih ke Arumi.
"bukannya gue ga mau cerita ke lo lice, cuma gue ga mau anak-anak tau gue tinggal bareng Rico, kan bisa gawat."
"tapi lo harusnya tetep cerita ke gue mi."
"iyaa deh gue minta maaf." Ucap Arumi bersalah
"gue nyontek matematikanya dong." Pinta Alice tiba-tiba.
"apaa?" ucap Arumi bingung ko jadi matematika sih.
"gue tadi malem ke rumah lo mau tanya PR matematika. Karena kejadian tadi malem gue belum sempet ngerjain hehehe." ucap Alice kikuk.
"astaga lice lice.." Arumi membuka tasnya dan mengambil buku PR matematika.
___****___
Rico duduk di pinggir lapangan ngos-ngosan karena habis main futsal bareng yang lainnya. Kevin duduk di sebelahnya.
"ehh ric gue mau tanya sama lo." Tanya Kevin setelah meminum minumannya.
"tanya apaan." balas Rico sambil mengelap keringat di dahi dan lehernya.
"elo ada apa-apa sama Arumi?" ucap Kevin penasaran, Rico langsung menatap Kevin tertawa.
"gue? sama Arumi? engga lah, emang kenapa lo nanya gitu."
"tadi pagi Alice bilang lo yang jawab ponsel Arumi waktu Alice nelfon."
"ooh itu, soalnya Arumi tinggal di rumah gue." bisik Rico.
"apa!! Lo serius ric, kok bisaaa??" tanya Kevin kepo. Akhirnya Rico menceritakan kenapa Arumi bisa tinggal di rumahnya dan langsung mengancam Kevin untuk tidak menyebarkannya.
"Pas tadi malem si Alice nelfon Arumi, gue ga sengaja lewat depan kamar Arumi dan denger mereka ngomong, trus gue liat Arumi kaya panik bingung gitu yaudah gue langsung bantu jawab aja" ucap Rico, Kevin manggut-manggut dan menatap Rico berbinar.
"wahhh ko bisa kebetulan gitu ya broo, jangan-jangan lo jodoh lagi sama Arumi." Ucap Kevin jail.
"lo ngomong apa barusan, lo pengen gue .." Rico menggulung lengan kaosnya kaya mau ngajak berantem.
"becanda broo, becanda" Kevin mengangkat tangannya dengan wajah dibuat takut-takut.
___****___
Arumi memarkir motornya diikuti Rico 10 menit kemudian.
"ehh lo ko cepet banget sih nyampenya." ucap Rico menatap Arumi yang sudah duduk manis di ruang makan.
"jelas dongg, gue gitu, gue kan pembalap internasional. Salip salip teruss..." ucap Arumi sambil memeragakan nyalip nyalip motor dan mobil.
"pembalap apaan dah" balas Rico meremehkan, Arumi mendengus.
"ehh Rico udah pulang juga, nih tadi mamah abis bikin pudding." Ucap tante Ana datang membawa pudding.
"wahh kayanya enak tante. Kebetulan Arumi juga lagi laper hehehe." puji Arumi sambil mengusap-usap perutnya.
"tante potong-potong dulu yaa" tante Ana membaginya menjadi dua piring "ini buat Arumi, Ini buat Rico." ucap tante Ana meletakannya di depan Arumi dan Rico.
"wah maksih tante, Arumi seneng deh akhirnya bisa ngerasain kaya gini. Pulang sekolah dimasakin pudding sama tante, pasti enak banget pudingnya" Ucap Arumi spechlees.
"kamu bisa aja Arumi, Anggep aja tante kaya mamah kamu. Udah dimakan puddingnya." ucap tante Ana mengusap rambut Arumi lembut.
"enak banget puddingnya tante." Puji Arumi dan langsung menyendokan puding ke mulutnya lagi.
"lo ga pernah makan pudding yaa." ejek Rico.
"Rico kamu ga boleh gitu." ucap tante Ana kemudian balik lagi ke dapur.
"ehh mi. itu di belakang lo ada apaan." ucap Rico menunjuk ke belakang Arumi.
"manaaa? Apaan sih?" Arumi menoleh ke belakang bingung. Rico yang jail mengambil jatah pudding Arumi dan langsung memakannya.
"engga ada apa-apa ko ric." jawab Arumi menatap Rico, Rico hanya menggedikan bahunya asal, saat Arumi hendak memakan puddingnya lagi tapi udah...ilang.
"ko puddingnya ilang." Arumi menatap Rico yang cekikikan.
"pasti elo yaa yang ambil jatah pudding gue. Ngaku ga lo." tuduh Arumi ke Rico.
"whaahahahaha." Rico tidak bisa menahan tawanya lagi. Arumi jengkel.
"puas lo hahh udah bikin gue kesel." Arumi berdiri dan langsung pergi dari ruang makan. Rico masih terus tertawa.
Nyebelin banget sih si Rico. Udah tau lagi laper, padahal baru makan beberapa sendok ehh jatah puddingnya malah dimakan sama Rico. aduhh masih laper lagi. Rico kurang ajar. Arumi menghentak-hentakan kakinya jengkel. Ohh ya kayanya di deket sini ada alfamart deh. Gue beli jajan aja, batin Arumi. Arumi memutuskan untuk jalan kaki ke alfamart karena tidak begitu jauh, tapi udah hampir 500 meter kok alfamartnya belum keliatan juga, tau gini pake motor tadi, udah panas banget lagi. Setelah berjalan 200 meter lagi Arumi akhirnya sampai di alfamart, Arumi membeli roti, beberapa snack, sama minuman 3 botol. Gila haus banget, jalan dari rumah sampe Alfamart panas-panas gini bener-bener menguras tenaga. Arumi sampai rumah kaya abis mandi keringet badanya basah semua. Tiba-tiba dia pengen pipis jadinya jajanan yang tadi abis dibelinya digeletakin begitu aja di meja ruang depan. setelah selesai Arumi balik lagi untuk mengambil jajannya tapi kok... ga ada. Jajannya ilang. apa jatoh yaa, Arumi mencarinya ke kolong meja, kolong kursi tapi ga ada. Busyett masa ada maling sih siang bolong begini. Aduh udah beli jauh-jauh masa ilang gitu aja sih. Tiba-tiba Rico lewat di depannya sambil makan snack. Snack? Jangan-jangan...
"ric lo liat kresek yang tadi ada di sini ga. Yang isinya jajanan?" tanya Arumi menunjuk meja
"iyaa liat. Kenapa?"
"manaa?"
"tuhhh.." Rico menunjuk tempat sampah.
"tempat sampah. Ko bisaa?"
"iya soalnya tadi gue makan. Trus gue buang bungkusnya disitu."
"APA!!!!! Ricooo itu punya gue kenapa lo makan hahhh. Gue itu beli jauh-jauh ke alfamart sana." Jerit Arumi frustasi.
"mana gue tau itu punya lo. Kan ga ada tulisannya itu milik lo." ucap Rico
"huhuuhuu Ricoooo. Lo kurang ajar. Sebel gue sama lo. Sebel sebel sebel...udah jatah pudding gue lo makan. Jajanan yang gue beli jauh-jauh sampe gue basah keringet gini juga lo makan." Jerit Arumi histeris.
"hehehe." Rico cuma bisa nyengir..
"aahhhhh...." Arumi mengacak rambutnya jengkel.